Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 333. The Trump Card



Garry masih berusaha sendirian menghadapi kelompok Petualang yang hendak menculik anggota Aquilla.


Kali ini, ia masih harus menghadapi pria bernama Kritach yang terus mengejar dan menyerangnya.


“*Vwumm!”


Kritach tetap menggunakan sihirnya untuk menyerang Garry yang terus berlari darinya.


“Cih! Dasar anying ieu orang, teh! Andai aing bisa pakai sihir aing, anying!”


Pikir Garry sambil terus menghindari serangan Kritach.


Hingga akhirnya…


“*BWUSH…”


“!!!”


…ia tiba di depan sungai yang deras, dengan air terjun di dekatnya.


“Anda tidak bisa pergi kemana-mana lagi, Garry Geri!”


“*VWUMMM!!!”


“!!!”


“Kali ini, saya akan benar-benar membunuh anda!”


Seru Kritach, dengan sebuah bola api yang sangat besar, yang tercipta dari ujung tongkatnya.


((Fire Magic…


“…”


…Sun Fall))


“*VWUMMM…”


Kritach pun melempar bola api raksasa itu ke arah Garry.


“Hieeekh!”


Dengan bimbang, Garry mengarahkan Habitat Maestro menuju Kritach.


Seketika…


“*VWUMMM!!!”


“!!!”


…bola api raksasa itu berbalik arah menuju Kritach.


“Sial! Mana saya habis! Saya tidak akan bisa—”


“Woy, Kritach! Dasar budek!”


“!!!”


Kritach terkejut dengan adanya Sonda yang datang bersama Purong.


“Hey, kalian! Minggirlah—”


“*BOOMMM!!!”


Seketika bola api raksasa itu meledak.


“Uhuk, uhuk, uhuk…”


Asap tebal mengelilingi mereka, hingga membuat dada mereka sesak.


Ketika asap tebal itu memudar…


““!!!””


…mereka semua dikejutkan dengan adanya anggota Tubuh Purong yang hanya tersisa bagian bawahnya saja, mulai dari pinggang hingga kaki.


““HYAAAAAA!!!””


Teriak Garry dan Sonda karena penampakan mengerikan dari sisa Tubuh Purong.


“GARRY GERI!!!”


“Hieekh!”


“SUDAH BERAPA BANYAK ORANG YANG ANDA BUNUH?!?! DASAR KETERLALUAN!!!”


Teriak Kritach dengan amarah yang


meluap-luap.


“…”


“Woy, Kritach! Tunggu!”


Teriak Sonda ketika ia melihat Kritach yang berlari menuju Garry.


“Mungkin Mana saya telah habis! Tetapi dengan energi kehidupan yang saya miliki saat ini, alangkah baiknya jika saya menyerangnya langsung tanpa menggunakan sihir!”


Pikir Kritach, sambil berlari ke arah Garry dan hendak menyerangnya.


“Graaaaagh!”


“*Swush!”


“!!!”


Kritach melompat untuk memukul kepala Garry. Akan tetapi Garry hanya perlu menunduk untuk menghindarinya.


Karena itu…


“*Bwush…”


“K-Kritach—”


“Aaaaaa…”


““!!!””


…Kritach terbawa arus sungai dan jatuh melalui air terjun.


“D-Dasar bocah tolol! Lagi-lagi dia nggak bisa kendaliin emosinya! Udah tau nggak bisa berenang!”


Seru Sonda dengan kesal, sambil menyaksikan Kritach yang jatuh.


“Hobart! Lo ada di mana?!”


“Gue masih belom pergi dari bawah sini—”


“Kalo lo masih ada di bawah sana, tolong cariin Kritach dong! Dia jatoh dari air terjun!”


“J-Jatoh dari air terjun?! Y-Yaudah! Gue cariin dia sekarang juga!”


Balas Hobart lewat Orb Call, yang kemudian langsung bergegas mencari Kritach.


“…”


Setelah menutup komunikasinya dengan Hobart, pandangan Sonda langsung mengarah kepada Garry.


“Hieeekh!”


“Woy tunggu, Garry Geri!”


Seru Sonda dengan terkejut ketika Garry langsung pergi berlari darinya.


“HYAAAAA!!! JANGAN PAKSA AING LAWAN TETEH GEULIS!!!”


Seru Garry karena tidak sanggup menyakiti wanita.


“Huff! Huff! Huff!”


Garry pun berlari menuju rekan-rekannya serta warga desa yang belum sadarkan diri.


Namun…


“*Vwumm!”


“Hieeekh!”


…ia dikejutkan dengan panah berapi, yang berasal dari Sonda.


“*Vwumm, wumm, wumm…”


“HYAAAAAA!!!”


Garry berusaha menghindari tembakan panah berapi dari Sonda, hingga ia berlari kembali menuju kedua rekannya yang masih belum sadar.


Namun ketika ia tiba…


“Et! Kenapa ada teteh geulis baru?!”


…ia mendapati adanya Mila yang sedang berada di dekat mereka.


“Cih! Jangan kebanyakan lari, dong!”


Seru Sonda dengan kesal, sambil bersiap menembaknya kembali.


“Cih! Panah gue sisa satu, ya?! Yaudah deh! Semoga yang ini kena!”


Pikir Sonda, yang langsung menembak Garry.


“*Vwumm!”


“HYAAAA!!! PANAAAASSS!!!”


Teriak Garry, setelah bokongnya tertembak oleh panah berapi dari Sonda.


Karena hal itu…


“HYAAAAA!!!”


“E-Eeeh?! Kamu mau ngapa—”


“*Phuk…”


“Angh…”


…dengan panik ia melompat ke arah Mila dan memeluknya, dengan wajahnya yang melandas tepat di dadanya.


“Et! Apa ieu teh? Kenapa empuk pisan?”


Tanya Garry yang masih tidak menyadari situasinya saat ini.


Hingga akhirnya ia telat menyadari tindakan konyolnya.


“WOW MESUM!!!”


“*DUNG!!!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


“JANGAN SEENAK-ENAKNYA ADA DI DADA PEREMPUAN!!!”


Teriak Mila, dengan sifat yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ia juga menyundul wajah Garry dengan sangat keras, hingga ia terlontar ke belakang. Bahkan bokongnya yang terbakar menjadi padam karena lontarannya di atas tanah.


“*Crat…”


“Urgh…”


Hidung Garry patah karena sundulan Mila. Ia pun mengalami pendarahan pada hidungnya.


“Waduh! Bahaya kalo sampe Mila udah di Sisi Galak-nya! Bisa-bisa dia bener-bener bunuh Garry Geri!”


Pikir Sonda dengan khawatir.


“Jadinya gue harus selamatin Kritach dulu, atau prioritasin keselamatan—”


“Woy, Garry Geri!”


“*Dhuk!”


“Adaw!”


“Cepet minta maaf ke semua cewek di dunia ini karena aksi mesum kamu! BURUAN!!!”


“H-Haaaaah?!”


Tanya Garry yang tidak mengerti maksud Mila.


“M-Maksud teteh teh a—”


“Masih berani nanya?!”


“Hieeekh!”


“…”


Dengan spontan, Garry mengarahkan tongkatnya ke wajah Mila.


“…”


Karena hal tersebut, Mila seketika terlihat seperti mematung dan diam saja.


“Et! Aing teh nggak ada maksud serang teteh geu…”


“…”


“Et! T-Teh geulis?!”


Tanya Garry yang heran dengan Mila, yang seketika berjalan menuju Sonda.


“M-Mila…? A-Ada apa—”


“*Phuk…”


“W-Woy! Kenapa lo tiba-tiba peluk gu—”


“*Krrttt…”


“M-Mila! B-Badan gue sakit! J-Jangan peluk gue sekeras ini!”


Seru Sonda sambil menahan sakit karena pelukan keras Mila.


“W-Woy, Garry Geri! C-Cepet lepasin di—”


“*Krrrttt…”


“*Krrrk…”


“Urgh…”


Pelukan dari Mila menjadi lebih keras, hingga meremukkan punggung Sonda.


“*Tap, tap, tap…”


“T-Teteh geu—”


““*Bruk…””


Seketika Mila melepaskan pelukan kerasnya dan jatuh tidak sadarkan diri bersama dengan Sonda, yang juga terjatuh dan tidak bisa berdiri karena merasakan punggungnya yang remuk.


“Punggung gue… sakit banget…!”


Pikir Sonda sambil menahan rasa sakit.


“Tapi gue nggak nyangka… kalo orang ini… berhasil kalahin kita semua… walaupun sendirian!”


“…”


Kembali pikirnya, sambil menyaksikan Garry yang berlari menuju Djinn.


“Duh punten atuh ya, teteh geulis! Sianying ieu teh prioritas aing! Makanya aing belom bisa sembuhkeun teteh geulis! Kalo sianying sembuh, aing teh udah nggak perlu bertarung lagi! Lagian mah aing yakin pisan, kalo semuanya belom selesai!”


Pikir Garry, sambil berusaha menyembuhkan Djinn dengan sekuat tenaga.


Dan sesuai yang ia duga, pertarungannya belum berakhir.


“*Bruk!”


““!!!””


Garry dan Sonda dikejutkan dengan adanya seorang pria bertopeng, yang datang dari dalam tanah.


“S-Slasher!”


“…”


Slasher hanya menatap Sonda yang terlihat kesakitan, serta Mila dan Lozrick yang tidak sadarkan diri.


“Sonda.”


“A-Apa—”


“Kritach, Purong, sama Hobart… ada di mana?”


“K-Kritach… jatoh dari air terjun. Purong… dibunuh orang itu. Tapi kalo Hobart… masih ada di bawah…”


“…”


“J-Jadi… kita harus gimana, Slasher…?”


“…”


“S-Sla…sher…?”


“…”


Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Slasher, semenjak ekspresi kemarahannya menjadi jawaban bagi Sonda.


“*SWUSH!!!”


“!!!”


Garry dikejutkan dengan gerakan Slasher yang sangat cepat, yang tiba di depan wajahnya.


“­S­-Sianying—”


“*Phak!”


“!!!”


Garry secara spontan mengarahkan tongkatnya ke hadapan Slasher. Namun Slasher dengan cepat langsung memukul tangannya, sehingga Habitat Maestro miliknya terlepas dari tangannya.


“*DHUK!!!”


“Ahakh…”


“*Bruk, bruk, bruk!”


Slasher langsung menendang perut Garry dengan keras, hingga ia terlontar dan menabrak sebuah Jamur Raksasa.


“Woy, jelek!”


“*SWUSH!”


“*Tap!”


“Berani-beraninya lo bunuh temen-temen gue!”


Seru Slasher, yang bergerak dengan cepat ke arah Garry dan menggenggam kepalanya.


“*SWUSH!!!”


“*Ssssrrrrttt…”


Ia kembali bergerak dengan cepat. Namun kali ini, ia bergerak sambil menyeret Garry di tanah.


“*Swush…”


“*Bruk!”


“Akh!”


Kemudian ia melempar Garry dengan keras menuju Jamur Raksasa lainnya.


“D-Dasar… a­—”


“*SWUSH!!!”


“*Bhuk!”


Slasher kembali bergerak dengan cepat dan memukul Garry.


“Gue nggak peduli sama orang lain yang lo bunuh!”


“*Bhuk!”


“Tapi kalo Kritach, Sonda, Lozrick, sama Mila yang lo bunuh…”


“*Bhuk!”


“…jangan harap ampun dari gue!”


Seru Slasher, sambil terus memukul Garry.


“*Crat, crat, crat…”


Garry pun berkucuran darah dari mulutnya karena Slasher.


Akan tetapi, hal tersebut tidak membuatnya menyerah.


“D-Dasar anying sia teh…”


“*Bhuk!”


“Jangan berani-beraninya panggil gue anjing!”


Seru Slasher, yang merasa kesal dengan hinaan dari Garry, sambil memukulnya.


“Sia kira teh… sia wae yang punya temen…? Aing teh… juga punya temen yang harus aing ja—”


“*Bruk!”


“Akh!”


Dengan semakin marah, Slasher membanting Garry.


“Lo kira kita juga mau kerjain hal kayak gini!”


“*Dhuk!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Seru Slasher, sambil kembali menendang Garry hingga terlontar-lontar.


“Urgh… Sianying—”


“*Bruk…”


Garry berusaha berdiri, akan tetapi ia tidak sanggup karena luka berat yang ia derita.


“…”


Kemudian ia melihat Habitat Maestro yang berada di sampingnya. Lalu ia hendak mengambil tongkat kecil tersebut.


Namun…


“*Dhuk!”


“*Krrrkkk…”


“Aaaaargh!”


…Slasher tiba dan langsung menghentakkan kakinya ke tangan kanan Garry yang hendak mengambil Artifact


tersebut. Oleh karena itu, tangan kanan Garry remuk dan ia merasakan sakit yang luar biasa.


“Gimana?! Sakit?!”


“*Dhuk!”


“…”


“Gue sama temen-temen gue juga sakit karena dipaksa untuk ngelakuin hal ini!”


Seru Slasher, sambil menendangnya hingga terguling-guling.


“Huff! Huff! Huff!”


Garry merasakan sakit dan letih secara bersamaan.


“…”


Melihat kondisinya, Slasher mulai memprovokasinya.


“Bukannya lo itu Keeper?! Ya kali lo nggak bisa sembuhin diri lo sendiri!”


“B-Bawel sia, a—”


“Woy! Kalo lo mati, bisa-bisa lo nggak bisa gue jadiin tawanan untuk negosiasi sama Kapten lo, Myllo Olfret!”


Potong Slasher ketika Garry hendak mencemoohnya.


“Hm?! Bukannya lo itu Shaman?! Ayo keluarin kekuatan lo!”


“K-Kenapa emangnya—”


“Karena gue nggak akan tenang kalo nggak lawan orang yang nggak keluarin kemampuannya!”


“­S-Sianying! Jangan sia kira… aing—”


“Anjing ini, anjing itu! Lo pikir lo bisa terus-terusan—”


“S-Slasher…! K-K-Kendaliin emosi lo…! Cukup Kritach aja… yang keliatan tolol… karena nggak bisa kendaliin


emosinya…!”


“…”


Slasher seketika menatap Sonda. Ia melihat rekannya yang masih berusaha untuk tetap sadar, walaupun merasakan sakit yang luar biasa pada punggungnya.


“Lo bener, Sonda. Seharusnya gue harus bisa kendaliin emosi gue.”


Jawab Slasher, sebelum melanjutkan provokasinya terhadap Garry.


“Garry Geri! Ternyata lo bukan Shaman?! Atau bahkan lebih parahnya, lo sebenernya cuma numpang nama doang di Aquilla Party?!”


Tanya Slasher dengan maksud mencemoohnya.


“M-Maksud sia teh… apa…?”


“Maksud gue tuh, lo cuma penghibur doang di Party lo karena lo nggak bisa apa-apa!”


Kembali cemooh Slasher kepada Garry.


Namun…


“…”


…Garry hanya tersenyum.


“Hm?! Kenapa lo senyum-senyum doang?! Artinya apa yang gue bilang tuh lucu?!”


Tanya Slasher dengan heran.


“S-Suka-suka sia mau sebut apa. Tapi aing… juga punya kartu as aing…”


“Hm?! Kartu as?! Lo bahkan nggak bisa tunjukkin kekuatan Shaman—”


“Sia teh mau liat kekuatan Shaman aing, bukan?!”


“Hm?”


“Biar aing tunjukkeun Shamanism aing… yang jadi kartu as aing!”


Seru Garry kepada Slasher.


Hingga akhirnya…


“*BHUK!!!!”


“Urgh…”


…datang seseorang, yang menjadi kartu as Garry, yang langsung melompat dari belakang Garry dan memukul Slasher dengan sangat keras.


“*Krrak!”


“!!!”


Bahkan ia juga terkejut dengan topengnya yang hancur karena pukulan keras yang ia terima.


“*Bruk, bruk, bruk…”


Ia jatuh terlontar-lontar karena pukulan keras itu, walaupun ia dapat kembali berdiri.


“Siapa lo?! Kenapa lo tiba-tiba—”


“Gue Djinn Dracorion! Wakil Kapten Aquilla, yang juga jadi kartu as temen gue yang namanya Garry!”


Seru Djinn yang kembali pulih dan mempersiapkan sikap bertarungnya untuk menghadapi Slasher.