Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 64. Our Next Challenge



“Djinn?! Kok lo ada di sini?!”


Lah, Myllo sama Gia kok tiba-tiba


muncul?!


“Tunggu, tunggu, tunggu! Kamu kok


tiba-tiba kencan sama orang lain?!”


“Kencan?! Orang kita lagi bahas


baju ini!”


“Oh… Untung aja. Kan kamu cuma


harus ada untuk a—”


“Bawel!”


“Cih! Jahat banget! Hmph!”


Dasar cewek aneh.


“Jadi, gimana kostum ini, Djinn?”


Hmm…


Bajunya tangan panjang, tapi gue


nggak ngerasa gerah. Abis itu, baju ini nggak gampang ancur karena bahannya


yang cukup kuat.


“Enak aja sih dipakenya. Harganya


berapa?”


“Hmm… 1 emas, 90 perak.”


Nah loh. Emasnya sih ada 2, tapi


peraknya nggak sebanyak itu.


“Gue ada segini doang. Gimana?”


“2 emas dan 10 perak, ya?


Hmm…kalo gini gimana?”


“…”


Dia tiba-tiba ngeluarin topeng?


“Saya terima 2 emas jika anda mau


dengan topeng ini.”


Hmm topeng, ya? Keren sih


desainnya. Tapi nutupinnya satu muka.


Kalo topeng yang gue pake


sekarang kan cuma bagian hidung sama mulut doang yang kebuka, jadinya makan


pake topeng pun masih bisa.


“Kayaknya saya tau anda bingung


apaan.”


“Eh? Emang muka gue kelia—”


“Biar saya praktekin.”


Tiba-tiba cewek ini pake topeng


itu, abis itu dia minum kopi yang dia pesen?!


“*Sluuurrp… (suara meminum kopi)”


Lah! Kok bisa nembus topeng


kopinya?!


“Saya udah coba praktekin.


Mungkin anda mau coba?”


“Y…Ya…”


Gue akhirnya ganti topeng di


toilet kedai ini, tapi…


“…”


…kok ada bekas lipstick?


Tuh cewek sengaja?


Akhirnya gue bersihin bekas lipstick­-nya,


terus gue balik lagi ke dia untuk coba minum kopi gue sambil pake topeng.


“*Sluuurrp… (suara meminum kopi)”


Lah iya! Kok bisa?!


“Topeng itu ada sedikit sentuhan


artefak yang dijual Petualang lain ke saya.”


Hah? Arte—


“Jadi gimana? 'Nikmat'


kan?”


“Hah? Apanya? Kopinya? Enak,


kok.”


“O…Oh…anda ternyata agak dongo,


ya?”


Hah?! Kok gue dibilang dongo?!


Maksudnya kopinya, kan?!


“Ahahaha! Dikatain dongo!”


“Bawel lo, dongo!”


“Lo dongo!”


“Lo!”


“Lo!”


“Lo!”


“Lo!”


“Lo—”


“Ih! Cukup! Malu-maluin banget


sih kalian berdua?!”


“Hahaha! Lo punya temen yang sama


uniknya sama lo ya, Myllo!”


Eh? Dia siapa? Kok kenal Myllo?


“Oh iya, Djinn! Kenalin, dia


Phonso! Dia itu Observer dari Aquilla, Party Kak Sylv dulu!”


Oh ternyata temennya kakaknya


Myllo, ya.


“Phonso! Ini Djinn! Gini-gini dia


dateng dari—”


““Myllo!!!””


“Ups, maaf.”


Nih orang gampang banget


kebablasan mulutnya!


Abis gue sama orang yang namanya


Alphonso ini kenalan, dia ceritain pengalaman dia sebagai Petualang dulu,


sebelum dia pensiun.


Nggak cuma pengalamannya aja, dia


juga ceritain kekonyolan Myllo waktu masih kecil juga.


“Aaaaaah! Jangan ceritain itu,


Phonso!”


“Yah! Udah terlanjur, Myl!”


““Hahaha!””


Terakhir, dia ceritain alesan dia


pensiun jadi Petualang.


“Jadi bener-bener pecah, ya?”


“Ya. Semenjak Sylv meninggal,


Orvo ninggalin kita. Karena ditinggal dua pimpinan Aquilla, makanya kita nggak


cuma salah-salahan aja. Kita bahkan berusaha bunuh-bunuhan secara


langsung. Apalagi…ada beberapa yang jadi benci sama lo, Myllo.”


“Oh, gitu…”


“Ya, lo beruntung lah karena Orvo


jauhin lo sama Styx dari kita semua. Bayangin aja kalo lo ada di sana, mungkin


ada yang mau bunuh lo.”


“Kayak Klavak, ya?”


“Klavak?”


Myllo pun ceritain kalo dia dapet


‘salam’ dari Klavak lewat Snake itu.


“Hmm… Gitu, ya?”


“Ya.”


“Hmm…Snake, ya? Gue nggak pernah


denger sih ada Petualang yang namanya dia.”


Bahkan Phonso pun nggak tau


tentang Snake?


Apa mungkin bener ya kalo dia itu


bukan Petualang?


“Phonso, ma…maafin gue karena


nggak bisa ban—”


“Jangan ngomong gitu, Myl. Sylv


percayain sepenuhnya sama lo. Semoga lo bisa jadi Kapten yang lebih baik, lebih


kuat, sama lebih berani daripada Sylv!”


“Makasih, Phonso.”


Ternyata bahkan di sekitar


temen-temen kakaknya aja banyak yang nggak suka sama Myllo, ya.


Gua penasaran gimana ceritanya,


tapi kayaknya terlalu sensitif kalo gue tanya.


“Oh ya, Nyonya. Tadi Tuan Muda mau


coba negosiasi sama Gia soal minuman dari desanya.”


“Dalton mau coba negosiasi?”


“Iya.”


Alphonso ceritain waktu dia


nemuin adeknya Dahlia yang, dari yang gue tangkep, mau coba bego-begoin Gia


sama Myllo.


“Haaah… Dasar bocil satu itu. Maafin


adik saya ya, para Petualang sekalian.”


“Hahaha… Tenang aja, Dahlia.”


“Tapi saya coba usahain untuk


jual minuman ini keluar negeri.”


“Hah? Maksudnya?”


“Kalo anda coba promosiin minuman


di negeri ini, pasti ujung-ujungnya nggak ada yang mau. Warga di negeri ini


sukanya produk-produk impor, makanya nggak begitu laku kalo minuman lokal.”


“O…Oh gitu, ya? Bener juga sih,


ujung-ujungnya minuman kakek aku juga nggak begitu laku dibanding minuman impor


di kedainya.”


Kayaknya di dunia lama gue juga


gitu. Bahkan gue selalu mikir produk impor lebih bagus daripada produk lokal.


“Ta…Tapi, saya juga mohon bantuan


dari kalian.”


“Bantuan?”


dari saya untuk kalian.”


Quest khusus? Emang bisa nggak


pake Guild Petualang kalo mau ngasih Quest?


“Anda pemimpinnya, kan?”


“Ya.”


“Karena anda kenal Alphonso,


mungkin saya bisa percayain permintaan ini ke kalian.”


Keliatannya Quest ini rahasia


banget.


“Ini adek saya. Namanya Dalbert.


Dia hilang sekitar 10 tahun yang lalu.”


“10 tahun yang lalu?!”


“Ya, saya yakin dia masih hidup!


Kalo pun udah nggak bernafas, seenggaknya saya mau tau keberadaannya!”


Artinya Quest yang dikasih ke


kita itu cari keberadaan adeknya yang hilang, ya?


“Sebelum ayah saya mati, dia


tiba-tiba menghilang gitu aja. Ayah saya pesen, supaya kita kakak beradik tetep


solid dan utuh sebagai keluarga. Makanya, saya perlu tau dia dimana!”


“Dahlia…”


Entah kenapa, gue ngerasa ada


yang aneh.


“Saya janji. Berapa pun kalian


minta, pasti saya ka—”


“Maaf ya, Dahlia. Sebelum kita


ngomongin Quest ini, gue penasaran sama beberapa hal.”


“Be…Beberapa hal?”


“Yang pertama, kenapa untuk cari


orang aja kesannya rahasia banget? Ini kasus udah 10 tahun yang lalu, loh. Dua,


kenapa nggak ke Guild Petualang aja untuk nyari adek lo?”


“…”


Kenapa dia gemeteran waktu gue


tanya?


“Karena itu—”


“…eh ada Baron Arcell di Guild


Petualang…”


“…dia kayaknya mau pasang


Quest…”


“…ayo kita kesana…pasti


komisinya gede…”


Kok rame banget suara orang dari


luar?


“…”


Duh, Si Dongo ini. Keliatan


banget dia bawaannya mau langsung lari ke Guild Petualang. Padahal kan lagi ada


klien di depannya…


“Myllo.”


“Eh! A…Apa?!”


“Pasti lo pengen tau Quest yang


dibilang orang-orang tadi, kan?”


“Ehehe… Agak penasaran, sih…”


Ya ampun, jadi nggak enak gue


natap Dahlia gara-gara kelakuan Kapten Dongo kayak Myllo.


“My…Myllo, tapi permintaan


Dahlia…”


“I…Iya! Lanjut, lanjut, lanjut!”


“…”


Kaki lo udah keliatan


goyang-goyang karena nggak bisa tenang gitu, Myl. Pasti lo mau lari ke Guild


secepetnya, kan?


“Hahaha!”


““Hm?””


“Nyonya.”


“Ada apa, Alph?”


“Adek saya yang satu ini baru aja


jadi Kasta Kuning. Makanya semangat dia menggebu-gebu banget untuk ambil Quest


yang makin sulit.”


Bener sih kata-katanya Alphonso.


Kalo Myllo emang pengen banget ngikutin jejak dari kakaknya, pasti dia pengen


banget untuk ambil Quest yang makin susah supaya bisa jadi kayak kakaknya.


“O…Oh… Gitu ya?”


“Tenang aja. Saya yakin Tuan


Dalbert baik-baik aja. Saran saya, mending tahan aja dulu permintaan dari


Nyonya. Saya yakin Myllo sama grupnya pasti selalu siap nolong untuk bantu


temennya. Ya kan, Myllo?”


“Ya! Tunggu gue ya, Dahlia!”


Mungkin kedengerannya aneh sih


waktu Alphonso bilang bantu temennya. Ya tapi karena yang diomongin itu Myllo,


pasti temen dari temennya juga dianggep temen sama dia.


Haha. Emang terlalu baik Si Dongo


ini.


Gue mungkin nggak mau terima


permintaan Dahlia karena terlalu janggal. Tapi apapun keputusan Myllo, gue


terima.


“Oh ya. Kalo kita udah selesai


Quest dari bangsawan itu, kita bisa temuin kalian di mana?”


“Hmm…saya nggak bisa pastiin sih.


Mungkin anda bisa terima Orb Call ini, Myllo. Tunggu aja panggilan dari kami,


ya?”


“OK, Dahlia!”


Waktu Myllo terima Orb Call itu,


kita langsung siap-siap untuk berangkat ke Guild Petualang.


“Phonso! Dahlia! Kita pergi dulu,


ya—”


“My…Myllo!”


“Hm? Kenapa Phonso?”


“Kalo Sylv liat lo sekarang,


pasti dia bangga sama lo, Myl!”


“Hehe! Thanks!”


Keliatan banget mata berkaca-kaca


dari Alphonso waktu kita bertiga pamitan sama mereka. Kesannya kayak ada


kebanggaan sendiri ngeliat Myllo.


Yang pasti, bisa gue jamin kalo


Alphonso itu salah satu orang yang baik sama Myllo dari antara temen-temen


kakaknya.


………………


Waktu kita mau keluar dari


kedainya Dahlia, tiba-tiba Myllo…


“Huaaaaahahaaaa…”


…nangis.


“Se…Seneng banget gue bisa ketemu


Phonso! Huaaaaa…”


Duh, gimana lagi gue tenanginnya—


“Myllo! Kamu jangan nangis, dong…Hiks!


Aku jadi terharu, tau!”


Ya ampun! Kenapa jadi


nangis-nangisan sih mereka berdua?!


Bingung sendiri gue harus gimana…


“Ehem!”


““…””


“Ka…Kalo gue sih lebih nangis


kalo ketinggalan Quest dari bangsawan itu!”


“Aha…ha! Hiks! Bener juga


lo, Djinn!”


Gu…Gue nggak salah kan ngerusak


momen Myllo?


“Ayo kita berangkat Djinn! Gia!”


““Ya!””


Akhirnya kita jalan ke Guild


Petualang.


………………


Tapi pas sampe di Guild


Petualang, tempatnya malah rame banget!


Waktu kita masuk ke dalem Guild,


Guildmaster brengsek itu berdiri di atas meja sambil ngejelasin Quest dari bangsawan


itu.


“Denger kalian semua! Quest ini


Joint Party! Minimal harus ada Party yang dipimpin sama Petualang Kasta Kuning,


atau harus ada sekitar 5 Petualang Kasta Kuning dalam Joint Party ini!”


Joint Party? Apaan itu?


“Djinn! Gia! Itu Quest-nya!”


Kata Myllo sambil nunjuk


Quest-nya.


Waktu gue baca, tulisannya…


“[Kuning] Investigasi serangan


Seekor Naga di Marklett Town!”


Hah?! Naga?!


“Djinn! Gia! Lo siap kan untuk


ikut Quest Kasta Kuning?!”


“Siap.”


“Siap, Myllo!”


Dan ini adalah awal mula gue,


Myllo, sama Gia ambil Quest Kasta Kuning ini. Walaupun ujung-ujungnya, ada


banyak banget rahasia atau misteri di balik Quest ini.