
“Djinn?! Kok lo ada di sini?!”
Lah, Myllo sama Gia kok tiba-tiba
muncul?!
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kamu kok
tiba-tiba kencan sama orang lain?!”
“Kencan?! Orang kita lagi bahas
baju ini!”
“Oh… Untung aja. Kan kamu cuma
harus ada untuk a—”
“Bawel!”
“Cih! Jahat banget! Hmph!”
Dasar cewek aneh.
“Jadi, gimana kostum ini, Djinn?”
Hmm…
Bajunya tangan panjang, tapi gue
nggak ngerasa gerah. Abis itu, baju ini nggak gampang ancur karena bahannya
yang cukup kuat.
“Enak aja sih dipakenya. Harganya
berapa?”
“Hmm… 1 emas, 90 perak.”
Nah loh. Emasnya sih ada 2, tapi
peraknya nggak sebanyak itu.
“Gue ada segini doang. Gimana?”
“2 emas dan 10 perak, ya?
Hmm…kalo gini gimana?”
“…”
Dia tiba-tiba ngeluarin topeng?
“Saya terima 2 emas jika anda mau
dengan topeng ini.”
Hmm topeng, ya? Keren sih
desainnya. Tapi nutupinnya satu muka.
Kalo topeng yang gue pake
sekarang kan cuma bagian hidung sama mulut doang yang kebuka, jadinya makan
pake topeng pun masih bisa.
“Kayaknya saya tau anda bingung
apaan.”
“Eh? Emang muka gue kelia—”
“Biar saya praktekin.”
Tiba-tiba cewek ini pake topeng
itu, abis itu dia minum kopi yang dia pesen?!
“*Sluuurrp… (suara meminum kopi)”
Lah! Kok bisa nembus topeng
kopinya?!
“Saya udah coba praktekin.
Mungkin anda mau coba?”
“Y…Ya…”
Gue akhirnya ganti topeng di
toilet kedai ini, tapi…
“…”
…kok ada bekas lipstick?
Tuh cewek sengaja?
Akhirnya gue bersihin bekas lipstick-nya,
terus gue balik lagi ke dia untuk coba minum kopi gue sambil pake topeng.
“*Sluuurrp… (suara meminum kopi)”
Lah iya! Kok bisa?!
“Topeng itu ada sedikit sentuhan
artefak yang dijual Petualang lain ke saya.”
Hah? Arte—
“Jadi gimana? 'Nikmat'
kan?”
“Hah? Apanya? Kopinya? Enak,
kok.”
“O…Oh…anda ternyata agak dongo,
ya?”
Hah?! Kok gue dibilang dongo?!
Maksudnya kopinya, kan?!
“Ahahaha! Dikatain dongo!”
“Bawel lo, dongo!”
“Lo dongo!”
“Lo!”
“Lo!”
“Lo!”
“Lo!”
“Lo—”
“Ih! Cukup! Malu-maluin banget
sih kalian berdua?!”
“Hahaha! Lo punya temen yang sama
uniknya sama lo ya, Myllo!”
Eh? Dia siapa? Kok kenal Myllo?
“Oh iya, Djinn! Kenalin, dia
Phonso! Dia itu Observer dari Aquilla, Party Kak Sylv dulu!”
Oh ternyata temennya kakaknya
Myllo, ya.
“Phonso! Ini Djinn! Gini-gini dia
dateng dari—”
““Myllo!!!””
“Ups, maaf.”
Nih orang gampang banget
kebablasan mulutnya!
Abis gue sama orang yang namanya
Alphonso ini kenalan, dia ceritain pengalaman dia sebagai Petualang dulu,
sebelum dia pensiun.
Nggak cuma pengalamannya aja, dia
juga ceritain kekonyolan Myllo waktu masih kecil juga.
“Aaaaaah! Jangan ceritain itu,
Phonso!”
“Yah! Udah terlanjur, Myl!”
““Hahaha!””
Terakhir, dia ceritain alesan dia
pensiun jadi Petualang.
“Jadi bener-bener pecah, ya?”
“Ya. Semenjak Sylv meninggal,
Orvo ninggalin kita. Karena ditinggal dua pimpinan Aquilla, makanya kita nggak
cuma salah-salahan aja. Kita bahkan berusaha bunuh-bunuhan secara
langsung. Apalagi…ada beberapa yang jadi benci sama lo, Myllo.”
“Oh, gitu…”
“Ya, lo beruntung lah karena Orvo
jauhin lo sama Styx dari kita semua. Bayangin aja kalo lo ada di sana, mungkin
ada yang mau bunuh lo.”
“Kayak Klavak, ya?”
“Klavak?”
Myllo pun ceritain kalo dia dapet
‘salam’ dari Klavak lewat Snake itu.
“Hmm… Gitu, ya?”
“Ya.”
“Hmm…Snake, ya? Gue nggak pernah
denger sih ada Petualang yang namanya dia.”
Bahkan Phonso pun nggak tau
tentang Snake?
Apa mungkin bener ya kalo dia itu
bukan Petualang?
“Phonso, ma…maafin gue karena
nggak bisa ban—”
“Jangan ngomong gitu, Myl. Sylv
percayain sepenuhnya sama lo. Semoga lo bisa jadi Kapten yang lebih baik, lebih
kuat, sama lebih berani daripada Sylv!”
“Makasih, Phonso.”
Ternyata bahkan di sekitar
temen-temen kakaknya aja banyak yang nggak suka sama Myllo, ya.
Gua penasaran gimana ceritanya,
tapi kayaknya terlalu sensitif kalo gue tanya.
“Oh ya, Nyonya. Tadi Tuan Muda mau
coba negosiasi sama Gia soal minuman dari desanya.”
“Dalton mau coba negosiasi?”
“Iya.”
Alphonso ceritain waktu dia
nemuin adeknya Dahlia yang, dari yang gue tangkep, mau coba bego-begoin Gia
sama Myllo.
“Haaah… Dasar bocil satu itu. Maafin
adik saya ya, para Petualang sekalian.”
“Hahaha… Tenang aja, Dahlia.”
“Tapi saya coba usahain untuk
jual minuman ini keluar negeri.”
“Hah? Maksudnya?”
“Kalo anda coba promosiin minuman
di negeri ini, pasti ujung-ujungnya nggak ada yang mau. Warga di negeri ini
sukanya produk-produk impor, makanya nggak begitu laku kalo minuman lokal.”
“O…Oh gitu, ya? Bener juga sih,
ujung-ujungnya minuman kakek aku juga nggak begitu laku dibanding minuman impor
di kedainya.”
Kayaknya di dunia lama gue juga
gitu. Bahkan gue selalu mikir produk impor lebih bagus daripada produk lokal.
“Ta…Tapi, saya juga mohon bantuan
dari kalian.”
“Bantuan?”
dari saya untuk kalian.”
Quest khusus? Emang bisa nggak
pake Guild Petualang kalo mau ngasih Quest?
“Anda pemimpinnya, kan?”
“Ya.”
“Karena anda kenal Alphonso,
mungkin saya bisa percayain permintaan ini ke kalian.”
Keliatannya Quest ini rahasia
banget.
“Ini adek saya. Namanya Dalbert.
Dia hilang sekitar 10 tahun yang lalu.”
“10 tahun yang lalu?!”
“Ya, saya yakin dia masih hidup!
Kalo pun udah nggak bernafas, seenggaknya saya mau tau keberadaannya!”
Artinya Quest yang dikasih ke
kita itu cari keberadaan adeknya yang hilang, ya?
“Sebelum ayah saya mati, dia
tiba-tiba menghilang gitu aja. Ayah saya pesen, supaya kita kakak beradik tetep
solid dan utuh sebagai keluarga. Makanya, saya perlu tau dia dimana!”
“Dahlia…”
Entah kenapa, gue ngerasa ada
yang aneh.
“Saya janji. Berapa pun kalian
minta, pasti saya ka—”
“Maaf ya, Dahlia. Sebelum kita
ngomongin Quest ini, gue penasaran sama beberapa hal.”
“Be…Beberapa hal?”
“Yang pertama, kenapa untuk cari
orang aja kesannya rahasia banget? Ini kasus udah 10 tahun yang lalu, loh. Dua,
kenapa nggak ke Guild Petualang aja untuk nyari adek lo?”
“…”
Kenapa dia gemeteran waktu gue
tanya?
“Karena itu—”
“…eh ada Baron Arcell di Guild
Petualang…”
“…dia kayaknya mau pasang
Quest…”
“…ayo kita kesana…pasti
komisinya gede…”
Kok rame banget suara orang dari
luar?
“…”
Duh, Si Dongo ini. Keliatan
banget dia bawaannya mau langsung lari ke Guild Petualang. Padahal kan lagi ada
klien di depannya…
“Myllo.”
“Eh! A…Apa?!”
“Pasti lo pengen tau Quest yang
dibilang orang-orang tadi, kan?”
“Ehehe… Agak penasaran, sih…”
Ya ampun, jadi nggak enak gue
natap Dahlia gara-gara kelakuan Kapten Dongo kayak Myllo.
“My…Myllo, tapi permintaan
Dahlia…”
“I…Iya! Lanjut, lanjut, lanjut!”
“…”
Kaki lo udah keliatan
goyang-goyang karena nggak bisa tenang gitu, Myl. Pasti lo mau lari ke Guild
secepetnya, kan?
“Hahaha!”
““Hm?””
“Nyonya.”
“Ada apa, Alph?”
“Adek saya yang satu ini baru aja
jadi Kasta Kuning. Makanya semangat dia menggebu-gebu banget untuk ambil Quest
yang makin sulit.”
Bener sih kata-katanya Alphonso.
Kalo Myllo emang pengen banget ngikutin jejak dari kakaknya, pasti dia pengen
banget untuk ambil Quest yang makin susah supaya bisa jadi kayak kakaknya.
“O…Oh… Gitu ya?”
“Tenang aja. Saya yakin Tuan
Dalbert baik-baik aja. Saran saya, mending tahan aja dulu permintaan dari
Nyonya. Saya yakin Myllo sama grupnya pasti selalu siap nolong untuk bantu
temennya. Ya kan, Myllo?”
“Ya! Tunggu gue ya, Dahlia!”
Mungkin kedengerannya aneh sih
waktu Alphonso bilang bantu temennya. Ya tapi karena yang diomongin itu Myllo,
pasti temen dari temennya juga dianggep temen sama dia.
Haha. Emang terlalu baik Si Dongo
ini.
Gue mungkin nggak mau terima
permintaan Dahlia karena terlalu janggal. Tapi apapun keputusan Myllo, gue
terima.
“Oh ya. Kalo kita udah selesai
Quest dari bangsawan itu, kita bisa temuin kalian di mana?”
“Hmm…saya nggak bisa pastiin sih.
Mungkin anda bisa terima Orb Call ini, Myllo. Tunggu aja panggilan dari kami,
ya?”
“OK, Dahlia!”
Waktu Myllo terima Orb Call itu,
kita langsung siap-siap untuk berangkat ke Guild Petualang.
“Phonso! Dahlia! Kita pergi dulu,
ya—”
“My…Myllo!”
“Hm? Kenapa Phonso?”
“Kalo Sylv liat lo sekarang,
pasti dia bangga sama lo, Myl!”
“Hehe! Thanks!”
Keliatan banget mata berkaca-kaca
dari Alphonso waktu kita bertiga pamitan sama mereka. Kesannya kayak ada
kebanggaan sendiri ngeliat Myllo.
Yang pasti, bisa gue jamin kalo
Alphonso itu salah satu orang yang baik sama Myllo dari antara temen-temen
kakaknya.
………………
Waktu kita mau keluar dari
kedainya Dahlia, tiba-tiba Myllo…
“Huaaaaahahaaaa…”
…nangis.
“Se…Seneng banget gue bisa ketemu
Phonso! Huaaaaa…”
Duh, gimana lagi gue tenanginnya—
“Myllo! Kamu jangan nangis, dong…Hiks!
Aku jadi terharu, tau!”
Ya ampun! Kenapa jadi
nangis-nangisan sih mereka berdua?!
Bingung sendiri gue harus gimana…
“Ehem!”
““…””
“Ka…Kalo gue sih lebih nangis
kalo ketinggalan Quest dari bangsawan itu!”
“Aha…ha! Hiks! Bener juga
lo, Djinn!”
Gu…Gue nggak salah kan ngerusak
momen Myllo?
“Ayo kita berangkat Djinn! Gia!”
““Ya!””
Akhirnya kita jalan ke Guild
Petualang.
………………
Tapi pas sampe di Guild
Petualang, tempatnya malah rame banget!
Waktu kita masuk ke dalem Guild,
Guildmaster brengsek itu berdiri di atas meja sambil ngejelasin Quest dari bangsawan
itu.
“Denger kalian semua! Quest ini
Joint Party! Minimal harus ada Party yang dipimpin sama Petualang Kasta Kuning,
atau harus ada sekitar 5 Petualang Kasta Kuning dalam Joint Party ini!”
Joint Party? Apaan itu?
“Djinn! Gia! Itu Quest-nya!”
Kata Myllo sambil nunjuk
Quest-nya.
Waktu gue baca, tulisannya…
“[Kuning] Investigasi serangan
Seekor Naga di Marklett Town!”
Hah?! Naga?!
“Djinn! Gia! Lo siap kan untuk
ikut Quest Kasta Kuning?!”
“Siap.”
“Siap, Myllo!”
Dan ini adalah awal mula gue,
Myllo, sama Gia ambil Quest Kasta Kuning ini. Walaupun ujung-ujungnya, ada
banyak banget rahasia atau misteri di balik Quest ini.