
“*Ciysss…”
“Fuuuhhh…”
Sekarang gue lagi ngerokok, sambil nungguin Dreschya bareng bocah-bocah sialan itu siap-siap. sebelum kita keliling-keliling desa ini lagi.
Tadi malem, kita udah sempet bahas panjang lebar tentang Witch. Padahal, waktu pertama kali denger nama Witch, yang gue bayangin itu tuh semacem nenek-nenek tua, yang terbang-terbangan pake sapu lidi.
Ya bisa dibilang persis kayak nenek-nenek[1] yang ada di dalem goa waktu itu, di mana gue pertama kali ketemu Meldek. Tapi semenjak kita berempat bahas tentang Witch, entah kenapa jadi nggak begitu berasa ada yang ngikutin lagi, sih.Ya. Emang nggak ada tanda-tanda Witch ngikutin, tapi tetep aja ada yang nguping topik
bahasan kita berempat. Yang nguping itu orang yang nggak tau diri ini, yang namanya Berius.
“…”
“Apa lo liat-liat?!”
“Hah?! Suka-suka gue, tolol! Kan yang punya mata gue!”
“Hmph! Berani lo ngomong gitu?! Lo lupa ya numpang tidur di mana?!”
“Lo juga lupa siapa yang sembuhin lo?!”
“Hmph! Lo pikir gue butuh?! Lagian, yang nyelamatin gue kan temen lo, bukan lo!”
“Lah! Kalo gitu, yang ngasih tumpangan kan adek lo! Bukan lo!”
“Rumah adek gue kan rumah gue ju—”
“OK, OK, OK! Cukup!”
““…””
Cih!
Kalo nggak ada Myllo, udah gue buntungin deh tuh tangan dia yang satu lagi!
“Bang Berius! Malu-maluin aja, sih!”
“Hmph!”
““…””
Dia masuk ke dalem rumahnya lagi.
“Yuk kita keliling-keliling lagi, Aquilla!”
““Ayuk!””
Myllo sama Garry masih semangat untuk kelilingin desa ini.
Sedangkan gue sendiri sebenernya udah nggak begitu mood karena abangnya Dreschya tadi. Apalagi gue jadi khawatir kalo Gia sama Dalbert diapa-apain orang sialan itu.
“Djinn, maafin abang gue ya untuk kejadian ta—”
“Nggak usah minta maaf, Dres.”
“Dres…?”
“Harusnya bukan lo yang minta maaf, tapi—”
“*Tung!”
Aduh, sialan nih Si Dongo!
Kok gue ditempeleng?!
“Tenang aja, Dreschya! Pasti dimaafin, kok!”
Hah?! Kok dia—
“…”
Dia natap tajem gue.
“…”
Haaaah… Yaudah lah, lupain aja.
“Ya, ya, ya!”
“OK! Ayo kita keliling-keliling! Ngihihihi!”
Kalo nggak karena Si Dongo satu ini, mungkin gue masih kesel kali sama abangnya Dreschya. Tapi yaudah lah, lupain aja.
……………
Kita keliling-keliling desa ini, untuk belanja-belanja.
Masalahnya…
“Kang Garry mau apa lagi?”
“Aing teh mau yang itu juga!”
“Yang ini juga?”
“Nah eta!”
“Terus?”
“Sama ieu!”
…Si Mesum satu ini boros banget!
“*Tung!”
“Adaw! Sianying—”
“Jangan boros.”
“Hah?! Kan aing—”
“Jangan…”
“I-Iya, iya, iya!”
Haaaaah… kalo nggak diberhentiin, mungkin aja uang kita udah abis duluan gara-gara bocah satu
ini!
“Eh iya! Dreschya, Petualang yang lain ada di mana?! Kok selama ini kita nggak liat
adanya Petualang?!”
Eh, bener juga.
Kok perasaan cuma kita bertiga doang yang ada di sini?
“Oh untuk itu, mereka tinggal di sana tuh.”
““…””
Hah?! Mereka tidur di tenda?!
“Kok mereka tidur di tenda?!”
“Ya semua sih karena Shelldrop yang ada di desa ini terbatas. Mau nggak mau, pilihan mereka itu antara tidur di tenda yang disediain Kepala Desa, atau numpang di rumah penduduk. Ahaha…”
Buset. Berarti kita berlima (Aquilla) termasuk beruntung dong, ya?
“Dreschya, Dreschya, Dreschya! Tempat itu kan…”
“Ya! Itu Guild Petualang!”
Oh di sana ya Guild Petualang-nya?
“Myllo! Hayu atuh kita cari Quest—”
“Jangan dulu.”
““…””
Jangan dulu?
Kayaknya gue tau kenapa.
“Kenapa atuh kita nggak cari—”
“Gia sama Dalbert masih nggak tau kondisinya gimana! Sampe mereka udah sadar, kita langsung cari Quest!”
Tuh kan. Pasti Myllo bakal ngomong kayak gitu.
Kalo dipikir-pikir sih, emang harusnya begitu. Kita ini udah jadi Party. Jangan sampe kita pisah-pisah kerjain Quest-nya. Cukup Luvast aja yang begitu.
Masalahnya…
“Iya sih, tapi *teh *aing butuh Quest untuk pertama kalinya…”
…Garry yang baru pertama kali jadi Petualang lagi semangat-semangatnya untuk ambil Quest baru. Gue pun ngerti rasanya jadi Garry, karena gue juga ngerasain hal yang sama waktu pertama kali jadi Petualang.
“Garry, gue tau rasanya mau punya Quest pertama kali. Tapi—”
“Eh sorry, mau nanya.”
Hm? Siapa nih orang?
“Lo itu Myllo The Wind, ya?!”
Myllo The Wind?
Oh iya, itu julukan Myllo yang baru ya?
“Hehe! Ya! Gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di—”
“Wuuaaah! Nggak nyangka ketemu Aquilla di sini!”
“Artinya ini Djinn Dracorion, ya?!”
“Kalo yang pendek ini, pasti Garry Geri!”
Hah?!
S-Seterkenal itu ya kita?!
“Woy! Gue lagi perkena—”
“Nah eta! Kalian teh bener! Panggil aing Kang Garry! Muehehehe!”
Ka-Kayaknya tadi Myllo kesel tuh gara-gara perkenalan dirinya dipotong lagi…
“Oh, gitu?! Kita ini juga Petualang, Kang Garry!”
“Semoga kita jadi terkenal kayak kalian, ya!”
“Ngihihihi! Semangat ya kalian semua!”
Tiba-tiba dia senyum ke Petualang-Petualang ini.
“Aquilla pasti mau ambil Quest berburu Sea Serpent juga, ya?!”
““Hm?””
Berburu Sea Serpent? Emangnya Quest yang ada di sini cuma berburu Sea Serpent doang, ya?
“Iya, Myllo! Kata kakak satu ini bener!”
“Hmmmm…….”
Dia keliatannya bingung harus gimana.
“Djinn, menurut lo gimana?”
Menurut gue, ya?
“Mungkin ini perasaan gue doang sih, Mil.”
“Perasaan?”
“Ya. Kayaknya sih kalo kita masuk ke dalem, ujung-ujungnya kita harus jalanin Quest yang ada di sana. Mau itu full-team atau nggak.”
“Ya. Insting gue juga bilang gitu.”
Pikiran kita sama, ya?
“Myllo! Myllo! Myllo!”
“Kenapa, Garry?”
“Kita cek dulu wae, atuh! Kalo kata Teh Dreschya mah, kita bisa selesaikeun lain kali!”
““…””
Jangankan gue, Myllo pun makin bingung.
“Djinn?”
“Lo yang tentuin aja, Mil. Kan lo Kapten kita semua.”
“Haaaah… Yaudah! Ayo kita masuk ke dalem!”
“Yes! Quest baru!”
Mau nggak mau kita masuk ke dalem untuk cek Quest yang ada. Tapi liat Garry yang semangat kayak gini, semoga aja nggak ada penyesalan untuk masuk ke dalem.
……………
“Eh, itu kan…”
“Iya! Itu Aquilla!”
“Ternyata mereka juga ada di sini, ya?!”
Buset deh.
Kalo bisik-bisik kenapa sampe kedengeran kayak gitu, sih?
“Selamat datang di Clamista Village, Aquilla. Saya adalah Dyewien, Guildmaster dan Kepala Desa di tempat ini.”
Oh, ibu-ibu ini ya Kades-nya, yang juga Guildmaster di Guild ini?
“…”
Hmm… Tinggi juga nih ibu-ibu…
“Halo, Guildmaster! Gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Dunia!”
“Halo, Tuan My—”
“WUOOAAAAHHH!!!”
Aduh, pasti Si Mesum mau berulah lagi, nih…
“Aing teh nggak sangka, kalo Kepala Desa di kota ini geulis pisan! Tambah lagi, body-nya mantap pisan! Aing teh semakin—”
“Udah, udah, udah! Nanti Guildmaster-nya risih sendiri dengerin lo!”
“Sianying!”
“*Cut…”
“Aduh!”
Sialan nih Si Mesum! Kok gue dicubit?!
“Ahahaha! Terima kasih atas pujiannya, Tuan Garry. Dan anda adalah…”
“Dracorion. Djinn Dracorion.”
“Ternyata anda adalah Tuan Dracorion, kah? Namun sepertinya anda sekalian…”
““…””
Kayaknya Guildmaster yang namanya Dyewien ini tau kalo anggota kita lagi nggak lengkap, deh.
“Ya. Kita lagi nggak lengkap, Dyewien. Dua anggota kita masih belom sadar. Tambah lagi satu anggota kita lagi terpisah.”
“Hmm… Seperti itu, ya? Padahal saya hendak menawarkan Quest yang menarik kepada anda
sekalian.”
Quest yang menarik?
“Emangnya apa Quest-nya, Dyewien?”
“Inilah Quest untuk anda sekalian.”
Quest Kuning?
“[Kuning] Quest: Serpent Raid.”
Untuk rinciannya…
“Quest: Serpent Raid.
Sarang Sea Serpent berhasil ditemukan. Dengan adanya fakta ini, kami harap agar Para Petualang bisa menyerang Sea Serpent hingga tidak tersisa, demi keselamatan Clamista Village!
Syarat: Joint Party, dengan setidaknya 5 Petualang Kasta Kuning.”
…kayak gitu.
“Quest ini Joint Party?”
“Ya. Mungkin menurut saya pribadi, seharusnya ada minimal 1 Petualang Kasta Jingga. Akan tetapi, berdasarkan keputusan pusat, persyaratan berubah menjadi seperti yang tertera.”
Joint Party, ya?
Entah kenapa, gue jadi keinget paling terakhir dapet Joint Party, di mana ada pengkhianat[2].“Sejauh ini, sudah ada dua Party yang sudah siap untuk bergabung dalam Joint Party. Di Joint Party tersebut terdapat 1 Observer Kasta Kuning, 1 Frontliner Kasta Kuning, serta 1 Striker Kasta Kuning.”
Udah ada yang siap, ya?
“Jadi, apakah anda dan rekan-rekan anda siap untuk mengambil Quest ini, Tuan Olfret?”
“…”
Myllo keliatannya bingung.
“Mil, mending kita bahas dulu aja di rumah Dreschya.”
“Ya. Gue juga kepikiran kayak gitu.”
Bagus, deh.
Seenggaknya dia bisa—
“Mohon maaf sebelunya, Tuan Olfret. Semoga anda bisa memutuskan secepatnya.”
Hah?! Kok tiba-tiba didesak gini?!
“Kenapa harus cepet-cepet, Dyewien?!”
“Anda harus mengambil keputusan secepatnya, karena Quest tersebut akan dilaksanakan pada pagi hari, saat matahari mulai terbit, dengan semua anggota Joint Party berkumpul di depan Guild ini.”
““!!!””
Bahkan jalannya pagi?!
“Tunggu, Dyewien. Gue mau nanya.”
“Silakan, Tuan Dracorion.”
“Kenapa tiba-tiba mulainya pagi?! Kan persyaratannya belom cukup! Emangnya bisa?!”
“…”
Dia nunduk doang. Keliatannya dia mau jawab tapi ragu-ragu.
“Mungkin ini adalah batas yang harus saya langgar, Tuan Dracorion.”
“Maksudnya?”
“Dikarenakan sarang Sea Serpent diketahui berada di bawah laut, maka waktu yang paling tepat untuk melaksanakan Quest ini adalah esok pagi. Hal tersebut disebabkan oleh gelombang laut sedang dalam keadaan
tenang pada esok pagi.”
“Terus untuk persyaratannya?”
“Saya… akan menggunakan nama Petualang yang “menghilang” untuk mengisi persyaratan tersebut.”
Lah! Curang, dong?!
“Mil! Kalo gitu—”
“Yaudah. Kalo kita bertiga nggak ada di Guild ini setelah matahari terbit, artinya kita nggak ambil Quest ini.”
“Baiklah, Tuan Olfret.”
Eh! Gila, ya?!
“Djinn, Garry, ayo kita balik dulu.”
“Ya, Myllo.”
Bahkan dia tiba-tiba buru-buru balik?!
“Mil! Tunggu! Kenapa kita tiba-tiba—”
“Ternyata kayak yang kita pikirin, Djinn.”
Hah?
“Maksudnya?!”
“Sekalinya kita masuk, ujung-ujungnya kita harus ambil Quest itu, mau lengkap atau nggak.”
Dia bener juga.
Haaaah… Harusnya tadi nggak usah masuk aja nggak sih?
Andai kita nggak masuk, mungkin nggak perlu ada dilema kayak gini, deh!
————————
[1]: Quito (Chapter. 2)
[2]: Erkstern dan Morri (Chapter. 65)