
“Huff… Huff…”
“Myl?!”
“Hah…?”
Oh, kirain dia
pingsan.
Nggak, pingsan
sih masih mending.
Gue lebih takut
kalo dia mau—
“Eh! Ada…apaan
itu…?!”
“…”
“Myllo!”
Halaaaah! Kenapa
malah lari sih, Si Dongo ini?!
“…”
Dia kayaknya
ngeliatin sesuatu.
“Zzzzz…”
“Hm…?”
“Zzzz…”
Hm? Ada yang
tidur di depan hutan ini?
“Ini…orang,
kan?”
“Zzzz…”
“Hmmm?!”
Je…Jelas-jelas
itu orang!
Kenapa diliatin
sedeket itu?!
“Dia…masih hidup
nggak sih—”
“*Splash! (suara
gelembung pecah)”
“Oh! Dia masih
hi—”
“HYAAAAARRGGGH!”
“Ting… (suara
*********** tertendang)”
“Adaaaaawwww!!!”
Halaaaah! Udah
sakit malah makin sakit deh tuh orang!
“…”
Tapi, siapa yang
nih orang?
Badannya agak
pendek, mukanya dicoret-coret, rambutnya cepak.
“Sianying! Padahal teh aing maunya cewek yang bangunin! Malah sianying yang dateng!”
Hah?
Itu kan—
“Myllo! Kamu
nggak kenapa-kenapa?!”
“Nggak apa-a—”
“TETEH
GEULIIIIISSSSS!!!”
HAH?!
“Hah?! Kamu
ngomong a—”
“Anying! Teteh geulis-nya ada dua, euy!”
HAAAAAAAAAAAHHHHH?!?!
KOK NGOMONGNYA
PAKE LOGAT SUNDA?!?!
“Umph!”
“Djinn, mengapa
Engkau mencubit pipimu?”
“…”
Ini bukan mimpi,
kan?!
“Oh iya! Ehem!”
““…””
“Nama aing teh Garry Geri, penjaga hutan
ini!”
““Hah…?””
Bahkan mereka
semua juga bingung sama bahasa dia.
“Woy, Larry.”
“Garry, anying!”
“Ya. Lo ngomong
bahasa apaan?!”
“Ah, aing teh digedein sama orang dari luar
ini! Kalo nggak salah teh nama
tempatnya—”
“Indonesia?”
“Ih, sok tau sianying! Padahal mah namanya Bandung, atuh!”
Itu di Indonesia
juga, *****!
Eh, tunggu!
Artinya…ada yang
satu negara juga sama gue?!
“Siapa nama
orang—”
“Garry! Kita mau
masuk tempat i—”
“Op, op, op!”
““Hah?””
“Selain dua teteh geulis ini, kalian teh nggak boleh masuk!”
““Haaaah?!””
Kenapa tiba-tiba
mereka berdua doang yang boleh masuk?!
“Kenapa…aku sama
Yssalq aja yang boleh masuk?”
“Karena geulis!”
Najis!
Mesum nih orang!
“Woy!”
“Hah?!”
“Naha batur teu bisa asup? (Kenapa yang
lain nggak bisa masuk?)”
““HAH?!””
Duh, jadi malu
sendiri gue ngomongnya.
“*Sia*teh ngomong apa?”
GUE KIRA BISA
BAHASA SUNDA!
TERNYATA
LOGATNYA AJA YANG SUNDA!
“Djinn…?
Kamu…ngomong apa…?”
AAAAAAHHHHH!
MALU SENDIRI GUE KARENA SOTOY!
“Kenapa yang
lain nggak boleh masuk?!”
“Karena… *Sia*teh jelek!”
“Haaaaah?! Gue
jelek?!”
“Ya! Terus, sia teh kolot! Udah ada orang kolot di dalem! Jangan kebanyakan orang kolot!”
“Cih, maksud lo
apa gue tu—”
“Terakhir! *Sia*teh terlalu bahaya! Paling nggak
boleh masuk!”
Hah?
Paling bahaya…?
“Uhm…Garry ya,
namanya?”
“Eh, iya *teh*geulis!”
“Mereka
temen-temen aku, loh.
Eh, eh, eh!
Si Genit kenapa
nempel-nempel orang itu?!
“Boleh ya,
biarin mereka masuk.”
“Akh…akh…”
“Kalo biarin
kita masuk, nanti aku cium pipi kamu, yaaa…”
“…”
Loh, loh, loh!
Kok dia
mimisan?!
“I…I…I…”
“Hm?”
“I…Iya, *teh*geulis.”
“Hihi!”
“*Cup! (suara
kecupan di pipi)”
“Makasih ya,
Ga—”
“*Bruk… (suara
terjatuh)”
“Eh?! Garry?!”
“Ahaha… Akhirnya…selama
18 tahun…*aing*teh ada yang nyium…”
““…””
Me…Mesum banget
nih orang…
“Haha…
Gia…akhirnya…ada yang bisa…lo…goda…”
“*Bruk… (suara
terjatuh)”
““Myllo!””
“Et, et, et! Ada
yang pingsan, euy! Ayo masuk sini, atuh!”
namanya Garry itu akhirnya bangun lagi.
Akhirnya Myllo
gue tenteng bareng Lupherius.
Kita berlima
ikutin orang yang namanya Garry ini ke dalem hutan.
Tapi waktu kita
sampe hutan…
“Garry! Stop!”
““*Drap! (suara
banyak hentakan kaki)””
““!!!””
…tiba-tiba
banyak Monster yang muncul, sambil pegang senjata!
“Hah? Kenapa?”
“Kenapa kamu
bawa sekumpulan Mahluk Intelektual?!”
“Orang ini teh sekarat! Aing teh mau bawa dia ke Kepala Suku!”
Orang ini…kenal
sama Monster-Monster ini?
“Kepala Suku?!
Suruh mereka urus sendiri soal itu! Lebih baik kamu bawa mereka keluar, cepat—”
“Oi, oi, oi… *Sia*teh masih benci sama Mahluk
Intelektual?”
“Je…Jelas saja!
Mereka udah bikin banyak masalah ke—”
“Artinya teh sia benci sama Kang Wilfred, kitu?!”
Kang Wilfred?
“Te…Tentu saja
tidak! Hanya saja—”
“Kalo gitu *teh*aing bawa mereka ke—”
“Maju selangkah
lagi, kamu yang saya tembak, Garry!”
““…””
Waduh, kok jadi
tegang gini?
“Guhzrak,
Guhzrak, Guhzrak.”
“Ke…Kepala Su—”
“Kamu teh kenapa galak kayak gitu, atuh?”
Kepala Suku-nya
juga ngomong pake logat Sunda!
“Ka…Karena Garry
mau coba bawa Mahluk Intelektu—”
“Et, et, et…
Nggak apa-apa, atuh. Kali aja mereka
baik, kayak Kang Wilfred!”
Kalo gue
denger-denger lagi sih, nggak terlalu Sunda juga logatnya.
Buktinya ‘F’
nggak berubah jadi ‘P’ sama sekali…
Tapi daritadi
mereka sebut-sebut nama Wilfred itu.
Apa mungkin
orang yang namanya Wilfred yang lahir di Bandung, ya?
“Oi, Garry.”
“Apa, Kepala
Suku?”
“*Sok*atuh bawa mereka ke tempat saya.”
“Siap!”
Akhirnya kita
ikutin Garry ke tempatnya Kepala Suku ini.
Kalo gue
liat-liat lagi, Kepala Suku ini badannya agak kecil dari Monster-Monster
lainnya, yang artinya dia itu Goblin.
Kalo Monster
yang sok galak tadi badannya agak gede dari Monster lainnya, tapi lebih kecil
dari anaknya Bismont yang disebut Troll. Mungkin dia yang disebut Orc.
Di rumahnya
Kepala Suku ini, kita duduk lesehan. Mejanya bukan meja kayu kayak yang
udah-udah, tapi mejanya ini meja rajutan.
Di sini, ada
beberapa Monster yang sediain kita minum.
Mungkin ini
salah satu dari beberapa tempat yang mana gue jadi tamu. Tapi entah kenapa, di
sini jauh lebih ramah daripada tempat-tempat yang kita kunjungin.
Kalo kedai nggak
gue itung, karena kita jadi pelanggan, bukan tamu. Di sana kita mesen menu,
bukan disuguhin kayak gini.
Sambil kita
nikmatin teh yang ada di depan kita, Kepala Suku sama bocah yang namanya Garry itu
periksa kondisi Myllo.
“Garry, jangan
kamu atuh ya yang sembuhin. Biar saya aja.”
“Cih, sianying.”
Kayaknya Garry
juga bisa sembuhin orang.
Mungkin karena
Kepala Suku ini lebih jago untuk nyembuhin orang, makanya dia yang sembuhin
Myllo.
“Ke…Kepala Suku,
gimana kondisi Myllo?!”
“Hmm… Bahaya, euy.”
“Ba…Baha—”
“Punten, sebelumnya. Orang ini teh Saint, ya?”
“I…Iya.”
“Waduh, kayaknya
berat ini mah.”
Duh, gara-gara
Si Dongo ini yang nggak tau kapasitasnya!
Orang jadi
bingung sendiri kan sembuhinnya gimana!
“Kalo gitu mah saya harus minta izin dulu, atuh!”
“Minta izin—”
“Humph!”
““!!!””
Buset!
Kok dipegang
kayak gitu kepala Myllo?!
“Punten, Dewi yang ada di—”
“…”
“Iya, Dewi
Zegin. Saya teh mau sembuhin badan orang ini. Mohon izin, yak?”
“…”
“*Hatur*nuhun.”
Kayaknya…dia
baru aja ngomong sama dewanya Myllo.
“Spirit
Summoning!”
““!!!””
Hm?
Kenapa yang lain
pada kaget?
“Derry.”
“Sianying! Udah aing bilang nama aing Garry!”
“Ya. Gue mau
tanya. Kepala Suku itu…Shaman?”
“Iya. *Aing*teh juga Shaman, atuh. Kenapa emang?”
Shaman?
Maksudnya…dukun…?
“Bukankah
praktik Shamanism itu sudah terlarang?”
“I…Iya. Yang aku
tau, Shamanism itu terlarang karena main-main sama Roh!”
“!!!”
Main-main sama
Roh?!
Kalo nggak salah
kata Rakhzar itu, Roh dari Tubuh yang udah mati itu pergi ke Sirkulasi Roh,
kan?!
Kok mereka bisa
main-main sama Roh?!
“Woy Barry, kalian
itu main-main sama Roh yang gagal ke Sirkulasi Roh, ya?”
Hah?! Gagal?!
“Eits! *Sia*teh salah besar!”
“Hm?”
“Daripada mereka
jadi Roh yang dimanfaatin Iblis, atau jadi Mana yang dimanfaatin aneh-aneh, mending
mereka berguna untuk sembuhin orang kayak gini, atuh!”
“Hm…masuk akal
sih.”
“Jelas lah!
Daripada sia yang salah nama mulu!”
“Ah, sorry.”
Nah kan, kena
sendiri deh di—
“Yaudah, atuh! Mending kalian semua teh keluar aja dari sini!”
“Loh, kok kita
diusir?!”
“Eits! *Neng*geulis sekalian mah nggak ada yang
diusir, euy!”
“Artinya…”
“Bener! Hush, hush, hush!”
Lah, kok kita
berdua doang yang diusir—
“Tenang aja,
Djinn. Aku sama Yssalq tetep pantau Myllo! Semoga dia nggak kenapa-kenapa!”
“Ya…Yaudah.”
Haaaah…mau nggak
mau gue sama Lupherius keluar dari sini, deh.
Semoga aja
sembuh deh Si Dongo itu.