Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 102. Familiar Accent



“Huff… Huff…”


“Myl?!”


“Hah…?”


Oh, kirain dia


pingsan.


Nggak, pingsan


sih masih mending.


Gue lebih takut


kalo dia mau—


“Eh! Ada…apaan


itu…?!”


“…”


“Myllo!”


Halaaaah! Kenapa


malah lari sih, Si Dongo ini?!


“…”


Dia kayaknya


ngeliatin sesuatu.


“Zzzzz…”


“Hm…?”


“Zzzz…”


Hm? Ada yang


tidur di depan hutan ini?


“Ini…orang,


kan?”


“Zzzz…”


“Hmmm?!”


Je…Jelas-jelas


itu orang!


Kenapa diliatin


sedeket itu?!


“Dia…masih hidup


nggak sih—”


“*Splash! (suara


gelembung pecah)”


“Oh! Dia masih


hi—”


“HYAAAAARRGGGH!”


“Ting… (suara


*********** tertendang)”


“Adaaaaawwww!!!”


Halaaaah! Udah


sakit malah makin sakit deh tuh orang!


“…”


Tapi, siapa yang


nih orang?


Badannya agak


pendek, mukanya dicoret-coret, rambutnya cepak.


“Sianying! Padahal teh aing maunya cewek yang bangunin! Malah sianying yang dateng!”


Hah?


Itu kan—


“Myllo! Kamu


nggak kenapa-kenapa?!”


“Nggak apa-a—”


“TETEH


GEULIIIIISSSSS!!!”


HAH?!


“Hah?! Kamu


ngomong a—”


“Anying! Teteh geulis-nya ada dua, euy!”


HAAAAAAAAAAAHHHHH?!?!


KOK NGOMONGNYA


PAKE LOGAT SUNDA?!?!


“Umph!”


“Djinn, mengapa


Engkau mencubit pipimu?”


“…”


Ini bukan mimpi,


kan?!


“Oh iya! Ehem!”


““…””


“Nama aing teh Garry Geri, penjaga hutan


ini!”


““Hah…?””


Bahkan mereka


semua juga bingung sama bahasa dia.


“Woy, Larry.”


“Garry, anying!”


“Ya. Lo ngomong


bahasa apaan?!”


“Ah, aing teh digedein sama orang dari luar


ini! Kalo nggak salah teh nama


tempatnya—”


“Indonesia?”


“Ih, sok tau sianying! Padahal mah namanya Bandung, atuh!”


Itu di Indonesia


juga, *****!


Eh, tunggu!


Artinya…ada yang


satu negara juga sama gue?!


“Siapa nama


orang—”


“Garry! Kita mau


masuk tempat i—”


“Op, op, op!”


““Hah?””


“Selain dua teteh geulis ini, kalian teh nggak boleh masuk!”


““Haaaah?!””


Kenapa tiba-tiba


mereka berdua doang yang boleh masuk?!


“Kenapa…aku sama


Yssalq aja yang boleh masuk?”


“Karena geulis!”


Najis!


Mesum nih orang!


“Woy!”


“Hah?!”


“Naha batur teu bisa asup? (Kenapa yang


lain nggak bisa masuk?)”


““HAH?!””


Duh, jadi malu


sendiri gue ngomongnya.


“*Sia*teh ngomong apa?”


GUE KIRA BISA


BAHASA SUNDA!


TERNYATA


LOGATNYA AJA YANG SUNDA!


“Djinn…?


Kamu…ngomong apa…?”


AAAAAAHHHHH!


MALU SENDIRI GUE KARENA SOTOY!


“Kenapa yang


lain nggak boleh masuk?!”


“Karena… *Sia*teh jelek!”


“Haaaaah?! Gue


jelek?!”


“Ya! Terus, sia teh kolot! Udah ada orang kolot di dalem! Jangan kebanyakan orang kolot!”


“Cih, maksud lo


apa gue tu—”


“Terakhir! *Sia*teh terlalu bahaya! Paling nggak


boleh masuk!”


Hah?


Paling bahaya…?


“Uhm…Garry ya,


namanya?”


“Eh, iya *teh*geulis!”


“Mereka


temen-temen aku, loh.


Eh, eh, eh!


Si Genit kenapa


nempel-nempel orang itu?!


“Boleh ya,


biarin mereka masuk.”


“Akh…akh…”


“Kalo biarin


kita masuk, nanti aku cium pipi kamu, yaaa…”


“…”


Loh, loh, loh!


Kok dia


mimisan?!


“I…I…I…”


“Hm?”


“I…Iya, *teh*geulis.”


“Hihi!”


“*Cup! (suara


kecupan di pipi)”


“Makasih ya,


Ga—”


“*Bruk… (suara


terjatuh)”


“Eh?! Garry?!”


“Ahaha… Akhirnya…selama


18 tahun…*aing*teh ada yang nyium…”


““…””


Me…Mesum banget


nih orang…


“Haha…


Gia…akhirnya…ada yang bisa…lo…goda…”


“*Bruk… (suara


terjatuh)”


““Myllo!””


“Et, et, et! Ada


yang pingsan, euy! Ayo masuk sini, atuh!”


namanya Garry itu akhirnya bangun lagi.


Akhirnya Myllo


gue tenteng bareng Lupherius.


Kita berlima


ikutin orang yang namanya Garry ini ke dalem hutan.


Tapi waktu kita


sampe hutan…


“Garry! Stop!”


““*Drap! (suara


banyak hentakan kaki)””


““!!!””


…tiba-tiba


banyak Monster yang muncul, sambil pegang senjata!


“Hah? Kenapa?”


“Kenapa kamu


bawa sekumpulan Mahluk Intelektual?!”


“Orang ini teh sekarat! Aing teh mau bawa dia ke Kepala Suku!”


Orang ini…kenal


sama Monster-Monster ini?


“Kepala Suku?!


Suruh mereka urus sendiri soal itu! Lebih baik kamu bawa mereka keluar, cepat—”


“Oi, oi, oi… *Sia*teh masih benci sama Mahluk


Intelektual?”


“Je…Jelas saja!


Mereka udah bikin banyak masalah ke—”


“Artinya teh sia benci sama Kang Wilfred, kitu?!”


Kang Wilfred?


“Te…Tentu saja


tidak! Hanya saja—”


“Kalo gitu *teh*aing bawa mereka ke—”


“Maju selangkah


lagi, kamu yang saya tembak, Garry!”


““…””


Waduh, kok jadi


tegang gini?


“Guhzrak,


Guhzrak, Guhzrak.”


“Ke…Kepala Su—”


“Kamu teh kenapa galak kayak gitu, atuh?”


Kepala Suku-nya


juga ngomong pake logat Sunda!


“Ka…Karena Garry


mau coba bawa Mahluk Intelektu—”


“Et, et, et…


Nggak apa-apa, atuh. Kali aja mereka


baik, kayak Kang Wilfred!”


Kalo gue


denger-denger lagi sih, nggak terlalu Sunda juga logatnya.


Buktinya ‘F’


nggak berubah jadi ‘P’ sama sekali…


Tapi daritadi


mereka sebut-sebut nama Wilfred itu.


Apa mungkin


orang yang namanya Wilfred yang lahir di Bandung, ya?


“Oi, Garry.”


“Apa, Kepala


Suku?”


“*Sok*atuh bawa mereka ke tempat saya.”


“Siap!”


Akhirnya kita


ikutin Garry ke tempatnya Kepala Suku ini.


Kalo gue


liat-liat lagi, Kepala Suku ini badannya agak kecil dari Monster-Monster


lainnya, yang artinya dia itu Goblin.


Kalo Monster


yang sok galak tadi badannya agak gede dari Monster lainnya, tapi lebih kecil


dari anaknya Bismont yang disebut Troll. Mungkin dia yang disebut Orc.


Di rumahnya


Kepala Suku ini, kita duduk lesehan. Mejanya bukan meja kayu kayak yang


udah-udah, tapi mejanya ini meja rajutan.


Di sini, ada


beberapa Monster yang sediain kita minum.


Mungkin ini


salah satu dari beberapa tempat yang mana gue jadi tamu. Tapi entah kenapa, di


sini jauh lebih ramah daripada tempat-tempat yang kita kunjungin.


Kalo kedai nggak


gue itung, karena kita jadi pelanggan, bukan tamu. Di sana kita mesen menu,


bukan disuguhin kayak gini.


Sambil kita


nikmatin teh yang ada di depan kita, Kepala Suku sama bocah yang namanya Garry itu


periksa kondisi Myllo.


“Garry, jangan


kamu atuh ya yang sembuhin. Biar saya aja.”


“Cih, sianying.”


Kayaknya Garry


juga bisa sembuhin orang.


Mungkin karena


Kepala Suku ini lebih jago untuk nyembuhin orang, makanya dia yang sembuhin


Myllo.


“Ke…Kepala Suku,


gimana kondisi Myllo?!”


“Hmm… Bahaya, euy.”


“Ba…Baha—”


“Punten, sebelumnya. Orang ini teh Saint, ya?”


“I…Iya.”


“Waduh, kayaknya


berat ini mah.”


Duh, gara-gara


Si Dongo ini yang nggak tau kapasitasnya!


Orang jadi


bingung sendiri kan sembuhinnya gimana!


“Kalo gitu mah saya harus minta izin dulu, atuh!”


“Minta izin—”


“Humph!”


““!!!””


Buset!


Kok dipegang


kayak gitu kepala Myllo?!


“Punten, Dewi yang ada di—”


“…”


“Iya, Dewi


Zegin. Saya teh mau sembuhin badan orang ini. Mohon izin, yak?”


“…”


“*Hatur*nuhun.”


Kayaknya…dia


baru aja ngomong sama dewanya Myllo.


“Spirit


Summoning!”


““!!!””


Hm?


Kenapa yang lain


pada kaget?


“Derry.”


“Sianying! Udah aing bilang nama aing Garry!”


“Ya. Gue mau


tanya. Kepala Suku itu…Shaman?”


“Iya. *Aing*teh juga Shaman, atuh. Kenapa emang?”


Shaman?


Maksudnya…dukun…?


“Bukankah


praktik Shamanism itu sudah terlarang?”


“I…Iya. Yang aku


tau, Shamanism itu terlarang karena main-main sama Roh!”


“!!!”


Main-main sama


Roh?!


Kalo nggak salah


kata Rakhzar itu, Roh dari Tubuh yang udah mati itu pergi ke Sirkulasi Roh,


kan?!


Kok mereka bisa


main-main sama Roh?!


“Woy Barry, kalian


itu main-main sama Roh yang gagal ke Sirkulasi Roh, ya?”


Hah?! Gagal?!


“Eits! *Sia*teh salah besar!”


“Hm?”


“Daripada mereka


jadi Roh yang dimanfaatin Iblis, atau jadi Mana  yang dimanfaatin aneh-aneh, mending


mereka berguna untuk sembuhin orang kayak gini, atuh!”


“Hm…masuk akal


sih.”


“Jelas lah!


Daripada sia yang salah nama mulu!”


“Ah, sorry.”


Nah kan, kena


sendiri deh di—


“Yaudah, atuh! Mending kalian semua teh keluar aja dari sini!”


“Loh, kok kita


diusir?!”


“Eits! *Neng*geulis sekalian mah nggak ada yang


diusir, euy!”


“Artinya…”


“Bener! Hush, hush, hush!”


Lah, kok kita


berdua doang yang diusir—


“Tenang aja,


Djinn. Aku sama Yssalq tetep pantau Myllo! Semoga dia nggak kenapa-kenapa!”


“Ya…Yaudah.”


Haaaah…mau nggak


mau gue sama Lupherius keluar dari sini, deh.


Semoga aja


sembuh deh Si Dongo itu.