
“…”
Gue balik dari dalam kesadarannya Delolliah.
Masalahnya waktu gue balik…
“…”
…keliatannya dia belom sadar.
“Oi, Del!”
“*Tap, tap, tap…”
“Oi! Lo belom sa—”
“Djinn…?”
Oh, ternyata dia udah sadar, walaupun banjir air matanya.
“Yang kulihat tadi… bukanlah sekedar mimpi, benar?”
“Bukan. Itu semua nyata.”
“Te-Terima kasih, Djinn. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku tidak mengetahui apa yang telah kuperbuat, menyesalinya, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”
“Ya, sama-sama.”
“…”
Dia cuma senyum doang.
“Oi, Djinn! Lo nggak apa-apa?!”
“Djinn! Biar aing sembuhkeun teteh geulis itu!”
““…””
Oalah. Yang di sini udah selesai semua, ya?
Kalo gitu…
““…””
…tinggal mereka berdua.
“Djinn. Biar aku saja yang menghadapinya.”
Hah? Dia yang lawan?
“Del, lo seri—”
“Et! Teteh teh nggak boleh berantem dulu, atuh! Mending aing sembuhkeun dulu!”
Garry bener.
Luka dia keliatannya serius banget.
“Tenang saja, Djinn, Garry.”
“Et! Teteh teh kenal a—”
“Lagipula, aku harus bertanggung jawab akan amarah adikku, bukan?”
““!!!””
Ah iya, Myllo sama Garry masih belom tau, ya?
“Oi! Maksud lo a—”
“Nanti gue jelasin. Itu semua berhubungan sama…”
“…”
“…Hidden Dungeon!”
“HAAAAAAAH?! SERIUS?!”
“Serius!”
Kenapa harus teriak, sih?! Padahal gue ngomongnya aja bisik-bisik!
“Masih bisa berdiri, kah? Ya, sudah kuduga bahwa membunuhmu tidak semudah itu!”
Jennania masih mau bunuh dia, ya?
Bahaya nih!
“Del! Lo—”
“Kemarilah!”
Woy! Lo serius nantangin adek lo?!
"*Bwushwushwush..."
...Taladrar>
Buset!
Lengan dia dilapisin air yang bentuknya kayak mesin pembor gitu!
“Matilah kau, pembunuh!”
“*Swush!”
“Hyaaaaagh!”
“*Bwush!”
““!!!””
Perutnya bolong karena lengan bor Jennania! Tapi harusnya dia bisa hindarin itu!
“Woy, Del! Kenapa lo diem a—”
“*Phuk…”
Dia… malah peluk adeknya yang bunuh dia?
Bahkan lengan bor itu pun masih nyangkut di perutnya yang udah bolong…
“A… Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau memeluk musuhmu sendi—”
“Je… Jennania…”
“!!!”
Dia keliatannya sekaget itu waktu Delolliah sebut namanya.
“A… Apakah kau memanggilku?! Sepertinya kau salah menyebut na—”
“Ma… Ma… Maafkan kakakmu yang bodoh ini, adikku…”
“A… Adikmu?! Kau pikir aku—”
“Pasti… hatimu sangat hancur karena diriku, bukan?”
“…”
“Aku… Aku telah merenggut nyawa… pria yang sangat kau sayang.”
“…”
“Jika… membunuhku bisa membawa… kedamaian bagi dirimu… maka aku—”
“*Tap!”
“Urgh…”
Brengsek! Kok dia malah dorong kakaknya, sih?!
Nggak cuma peluk dia aja, bahkan kakaknya itu rela mati dibunuh dia, loh!
“Ka… Kau sebut dirimu sebagai kakakku?!”
“…”
“Tidak mungkin kakakku seorang pembunuh!”
“…”
Dia juga nangis, ya?
Tapi nggak tau juga sih itu nangis karena sedih atau nangis karena udah marah banget.
“Namun kau ada benarnya, pembunuh.”
“…”
“Membunuhmu pastinya akan membawa kedamaian terbesar bagiku!”
Duh, dia udah siapin serangannya yang baru, lagi!
Sebenernya ini udah urusan internal mereka, tapi bawaannya gue mau turun tangan untuk sadarin Jennania yang—
“Nama lo siapa?”
“De… Delolliah…”
“…”
Ujung-ujungnya harus Myllo yang turun tangan, ya?
“Sebelumnya, ijinin gue untuk turun tangan. Nggak apa-apa, kan?”
“Tu… Turun ta—”
“…”
“Tu…Tunggu!”
Padahal belom diijinin, tapi Myllo udah maju duluan.
“Apa yang kau lakukan, Myllo Olfret?!”
“…”
“Minggir!”
“…”
Myllo nggak peduli sama anceman dia. Dia tetep jalan untuk deketin Jennania.
“Kau… Kau masih berani menghampiriku?!”
“…”
“*Bwush!”
“*Crat, crat, crat…”
Karena nggak pake tongkatnya, Myllo bisa diserang gitu aja! Makanya sekarang berdarah-darah!
Tapi kok dia nggak ada niatan untuk hindarin serangan Jennania?!
“Myllo! Sia teh—”
“Ger! Siap-siap sembuhin Myllo sama Delolliah!”
“Si-Siap!”
Kalo emang Myllo masih jalan untuk nyamperin Jennania, bahkan sampe darahnya abis, artinya nggak ada yang bisa gangguin dia lagi! Makanya itu, mending nanti fokus sembuhin dia aja, daripada berhentiin dia sekarang!
“M-Myllo Olfret—”
“Hyaaaaat!”
“*Bhuk!”
“Akh!”
““!!!””
Bahkan orang kayak Myllo juga berani pukul cewek, ya?
“Uhuk, uhuk!”
“*Crat…”
Jennania juga sampe batuk berdarah karena pukulan Myllo.
Mungkin yang lain kaget ngeliat Myllo yang mukul Jennania. Tapi gue nggak kaget sama sekali.
Ya untunglah bukan gue doang yang berani pukul cewek.
Selama cewek-cewek di dunia ini bisa pake sihir untuk nyerang orang lain, jangan anggep gue ini cowok yang nggak jantan karena berani hajar cewek.
“He-Hentikan! Jangan sakiti—”
“Diem dulu, Del. Biar Kapten gue yang urus.”
“…”
Ya. Biar dia aja yang urus.
Karena gue yakin, dia pasti punya cara untuk bikin damai mereka berdua.
“Keuk… Myllo Olfret—”
“Pukulan gue… sakit, nggak?”
“A… Apa yang akan kau laku—”
“Sesakit-sakitnya yang lo rasain, masih lebih sakit apa yang dirasain kakak lo, yang kehilangan ingetan! Apalagi dia mau dibunuh sama adeknya sendiri! Lo nggak punya hak untuk bunuh dia!”
“Ti-Tidak punya hak?! Apa yang kau bicarakan?!”
“Kalian berdua itu kakak beradik, bukan?! Dia udah minta maaf, Jenna!”
“Kau pikir maaf cukup?! Ia telah membunuh pria yang kucintai!”
“Mau mati dibunuh, kek! Mau mati karena sakit, kek! Semua orang pasti bakal ngerasain kehilangan, Jenna!”
Gue setuju sama Myllo, walaupun kata-katanya “sentil” kepala gue.
“Liat gue! Liat Djinn! Kita berdua kehilangan kakak yang kita sayang!”
“Di-Diam, My—”
“Tapi selama kita punya orang-orang yang ada di deket kita, kita berdua pasti manfaatin kesempatan itu untuk buat kenangan indah! Kalo pun ada kenangan buruk, kita usahain untuk tutup itu pake kenangan indah!”
“Ja-Jangan hasut a—”
“Lo masih punya kakak lo, Jenna! Kenapa lo harus bunuh kakak lo, kalo lo bisa sayang kakak lo?!”
“Hentikan, Myllo Ol—”
“*Bhuk!”
“*Bruk…”
“Butuh berapa pukulan lagi, sampe lo sadar atas apa yang udah lo perbuat ke kakak lo?!”
Myllo pukul dia lagi.
“…”
Keliatannya dia udah nggak kuat untuk berdiri. Tapi dia bukan nggak kuat berdiri karena pukulan dari tangan Myllo.
“Hiks! Hiks! Hiks!”
Lebih tepatnya dia nggak bisa berdiri karena pukulan dari kata-kata Myllo.
“Djinn!”
“OK.”
Entah kenapa gue tau maksud Myllo apa.
“Del, lo masih bisa gerak, kan?”
“Djinn! Teh Delolliah teh belom boleh—”
“Bisa, Djinn.”
“Et?!”
Karena dia yang keliatannya masih luka-luka, jadinya gue jalan sambil nuntun dia ke Myllo sama Jennania.
“Jenna! Di depan lo udah ada kakak lo! Lo tau kan harus ngomong apa?!”
““…””
Delolliah ada di depan Jennania.
“Je-Jennani—”
“*Phuk…”
“Ma-Maafkan aku, Kakak Delloliah! Hiks!”
“Jennania…?”
“A-Aku tahu kau termakan oleh amarah karena kematian Kakak Euphonia! Aku pun juga merasakan hal yang sama dan ingin membunuh—”
“Ya. Aku tahu. Maafkan aku, adikku.”
“Ka-Kakak… hiks!”
Ya, seenggaknya mereka udah damai, deh.
Tapi karena Myllo sebut-sebut kakak dia atau kakak gue…
“…”
…entah kenapa gue jadi keinget gue masih kecil, yang nangis-nangis sambil pelukan sama Kak Eka, waktu gue liat dua kakak beradik ini pelukan sambil nangis-nangis.
“Huaaaahh… Sedih, anying!”
““Hiks, hiks, hiks…””
Woy! Kenapa semua yang ada di sini jadi pada nangis-nangisan?!
Jangankan Garry, bahkan orang-orangnya Lynx juga pada nangis-nangisan!
“Permaisuri Delolliah.”
““*Druk…””
““Maafkan kami atas tindakan kami!””
Eh iya! Mereka ini juga dari Hidden Dungeon, ya?!
“…”
Gue kira Jennania doang!
……………
Waktu semuanya udah mulai tenang, mau Delolliah atau semua anggota Virgo tunjukin ke kita semua siapa mereka
semuanya.
“Tu-Tunggu! Dari bentuk badan kalian…”
“Ya. Kami semua adalah Siren. “
““!!!””
Ya, gue juga udah yakin!
Tambah lagi, kalo Delolliah sebagai Permaisuri itu kakaknya Jennania, pasti Jennania juga Permaisuri. Makanya itu sebelumnya Piedda manggil dia Nyonya.
“Dan untuk identitas kami…”
“A-Aku adalah Pielloda.”
“Aku Aegaly.”
“Nautina.”
“Dan Kailinophe.”
Artinya identitas mereka palsu semua ya?
Gue nggak bisa nyalahin, sih. Karena identitas gue yang paling asli juga gue sembunyiin.
Mereka juga jelasin, kalo mereka berlima dateng ke Geoterra sekitar 3 atau 5 tahun yang lalu.
Semenjak dateng, mereka langsung tau siapa yang disebut Ocean Witch sama warga sekitar. Makanya itu mereka jadi Petualang yang punya tujuan untuk bunuh Ocean Witch itu sendiri.
Sambil dengerin penjelasan yang panjang…
“*Ngung…”
…Garry sembuhin mereka semua.
“Mu-Mustahil!”
“Kami ini… adalah Mahluk Abadi! Mengapa kau bisa menyebuhkan kami begitu sempurna?!”
“Bahkan bekas luka dari Nyonya Delolliah pun sembuh…”
“Hehe! Jangankan kalian! Garry bahkan bisa sembuhin Naga, loh!”
““!!!””
Jangankan mereka yang kaget! Gue pun juga!
Abis Garry sembuhin, kita tetep lanjut dengerin penjelasan mereka semua, walaupun penjelasan-penjelasan yang ada di sini nggak selama yang kita kira.