Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 128. Call For Challenge



“*Boom! (suara ledakan)”


“Aaargh!”


“Ba…Bahaya! Semua tahanan


berhasil melarikan diri dari Penampu­—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“*Dor! (suara pistol)”


““Argh!””


Untung kita semua berhasil keluar


dari tempat ini!


Yang lebih untungnya lagi, Göhran


tiba-tiba muncul di depan kita!


Tapi nggak gue sangka, ternyata


Penampungan ini ada di—


“Si…Sial! Mereka terlalu kuat!”


“Jangan biarkan mereka menyentuh


luar kuburan ini!”


Ya, Penampungan ini ada di bawah


kuburan.


“BBE! Jangan mau kalah! Ayo kita


buktiin siapa kita di depan pengangguran yang hobi jalan-jalan ini!”


““OK, Bos!!!””


Oh ya, gue lebih nggak nyangka


ada bos dari bandit yang nyerang Joint Party waktu itu.


Sekarang sih kita udah sepakat


untuk kerja bareng, walaupun tadi prosesnya agak lama.


……………


“Göhran! Kok lo bisa ada di


tempat ini?!”


“Djinn! Dan kau itu…Zorlyan,


kah?!”


Awalnya gue agak seneng karena


Göhran yang tiba-tiba dateng.


Tapi yang bikin gue kaget tuh…


“Bos! Untung lo dateng, Bos!”


“Ma…Maafin kita karena cuma jadi


beban, bos!”


“Ja…Jangan minta maaf! Harusnya


gue yang minta maaf!”


…orang yang dateng bareng Göhran


itu dipanggil ‘Bos’ sama bandit-bandit ini.


“Kok mereka manggil dia Bos?!”


“Artinya dia itu…”


“Bos dari BBE?!”


“!!!”


Gue juga kaget banget waktu tau


orang ini bosnya BBE.


Tapi nggak sampe situ doang


kagetnya gue.


“Dasar brengsek!”


“Ternyata dia bos dari


bandit-bandit yang ngasih luka ini?!”


“Nggak akan gue maafin lo,


brengsek!”


Petualang lainnya jadi pada kesel


waktu tau siapa dia.


“Tunggu, Petualang sekalian! Saat


ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempermasalahkan perbedaan di antara kita!”


Gue sebenernya setuju sama


Göhran.


Masalahnya itu…


“Walaupun bandit, Dalbert adalah


orang baik yang dipercaya oleh Verdian!”


…gue sempet keinget sesuatu,


waktu Göhran nyebut namanya.


“Dalbert…?”


Gue sempet nginget nama itu


baik-baik. Walaupun ujung-ujungnya gue kenalan sama dia.


“…”


Gue buka tangan gue untuk


salaman.


“Gue Djinn. Semoga kita bisa


kerja sama selama bebasin mereka semua.”


“*Tap… (suara menyalam)”


“Gue Dalbert Dalrio, pimpinan dari


BBE. Salam ke—”


“…”


Waktu gue tau nama panjangnya,


gue langsung narik kerah baju dia ke atas.


Walaupun sebenernya…


“…”


…dia juga ngarahin pistol ke


kepala gue.


“A…Apa-apaan maksud lo, breng—?!”


“10 tahun lo ngilang, ternyata lo


jadi bandit?! Heh, brengsek! Lo nggak tau apa kalo kakak lo khawatir banget


sama—”


“Nggak usah sok tau lo, bego! Lo


kira gue kayak gini tuh demi siapa?!”


“???”


“Ya demi kakak gue, lah!”


Di situ gue nggak ngerti


maksudnya apa.


Yang jelas, gue yakin kalo ini


semua ada misteri baru dari serangkaian kejadian ini.


“Djinn! Dalbert! Cukup! Sudah


kubilang, bukan waktunya kita mempermasalahkan perbedaan di antara kita!


Sebaiknya kita semua pergi terlebih dahulu dari tempat ini!”


Karena diingetin Göhran, gue pun


lepas orang yang namanya Dalbert ini.


Gue nggak tau ada cerita apa


dibalik orang ini yang jadi bandit, yang pasti kata-kata Göhran ada benernya.


Mending kita semua pergi dulu secepetnya.


……………


Makanya itu, sekarang kita semua


ada di sini untuk bener-bener keluar dari kota ini.


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


“…”


“Orang-orang yang nyerang dari


jarak jauh udah pada tumbang! Sisanya tinggal yang ada di depan kita aja!”


““OK!””


Dalbert Dalrio.


Cara nyerang dia bikin gue inget


sama Bedrock, waktu gue masih ada di Joint Party.


Waktu kita semua diserang BBE di


tengah jalan, gue inget Bedrock yang bisa gonta-ganti senjata.


Kalo nggak salah, Bedrock


gonta-ganti senjatanya pake cincin. Beda sama orang ini, yang gonta-ganti


senjatanya pake gelang di tangan kanannya.


“Djinn! Ada serangan dari


belakangmu—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Akh!”


Sebenernya tanpa Göhran ingetin,


gue juga udah tau sih ada yang nyerang dari belakang gue.


“Huff…Huff…”


“Sial! Ada berapa sih mereka?!


Kok banyak banget?!”


Duh, beberapa tahanan udah nggak


ada yang kuat lagi, nih.


Cuma gue, Dalbert, sama Göhran


doang yang masih bisa berdiri!


Padahal masih ada 50 pasukan lagi


yang mau ke sini!


Awalnya sih gue ngira kalo Göhran


bisa langsung berubah untuk bawa kita semua dari sini.


Masalahnya itu, tempat ini


terlalu sempit. Makanya itu Göhran nggak bisa langsung berubah.


kota ini juga bisa jadi korban. Kalo dia tiba-tiba berubah wujud jadi Naga,


resikonya gede banget.


Karena dua alesan itu, makanya


Göhran nggak bisa—


““*Jlub! Jlub! Jlub! (suara


tertusuk duri)””


Eh? Yang lain pada ketusuk duri?


Jangan-jangan duri-duri itu dari…


“Hehe! Akhirnya gue sebagai


Keeper dapet panggung juga!”


Oh iya! Kan ada Zorlyan, ya?!


“Needle Magic: Revitalize!”


“Wah! Luka gue ilang lagi!”


“Haha! Stamina gue juga balik


lagi!”


Karena Zorlyan, hampir semua


tahanan jadi pada sembuh.


Walaupun…


“Haha…untung semua masih


bisa…sembuh…”


Keliatannya dia juga kecapean


untuk sembuhin orang-orang sebanyak ini.


“Gindres, lo bantu Petualang


itu!”


“OK, Bos!”


“*Ngunggg… (suara sihir


penyembuhan)”


“Tenang aja, gue bisa bantu


sembuhin lo, selama lo sembuhin yang lain.”


“Haha…thanks!”


Ternyata anggota banditnya


Dalbert ada juga ya yang bisa pake sihir penyembuhan.


Kalo gitu, artinya kita semua


udah aman untuk pergi dari sini—


“Semua sudah siap?!”


““SIAP!”””


“Serang sekarang!”


““Fire Dragon Magic: Flame


Destruction!””


“*BOOM! (suara bola api besar)”


Gila! Gede amat gabungan sihir


dari semua pasukan itu?!


“Hmph! Menggunakan Sihir Naga di


hadapan seorang Naga?! Lucu sekali mereka!”


Göhran tiba-tiba diri di depan


kita.


“Dragon Magic: Spell Nullifier!”


“…”


Buset! Bola api segede itu


tiba-tiba ilang karena sihir Göhran?!


“Mu…Mustahil!”


“Pria itu bisa…menggunakan Sihir


Naga?!”


“Artinya—”


“Judgement: Multi-Charge!”


“*Jgrum! (suara tersambar sihir


petir)”


““Aaaargh!””


Gue nggak bisa buang-buang


kesempatan. Mending langsung serang mereka pake sihir petir gue.


“Mu…Mustahil!”


“Dari 50 pasukan…hanya kita


bertiga saja yang selamat dari sihir pria bertopeng itu!”


“Le…Lebih baik kita semua la—”


“*Dor! Dor! Dor! (suara tembakan


pistol)”


““…””


Dalbert langsung pake sihirnya


untuk bikin pistol yang ditembak ke sisa pasukan yang gue serang.


“Djinn, Dalbert, sekarang kita


harus bagaimana?”


“Lari secepetnya dari sini,


sebelum pasukan yang lainnya dateng!”


“Akan tetapi, bagaimana dengan


warga penduduk Vigrias ketika mereka melihat semua tahanan ini?!”


“Biarin aja! Supaya mereka jadi


bukti busuk Erviga!”


Gue setuju sama Dalbert.


Ternyata orang ini jadi Bos nggak


cuma sekedar otot doang ya. Otaknya juga jalan.


Beda sama Si Dongo.


“Baiklah, kalau begitu. Mari kita


pergi secepatnya dari tempat ini!”


““YA!””


Akhirnya kita mau pergi dari


kuburan ini, sambil lewatin penduduk kota i—


“Hey, hey! Jangan pergi!”


“!!!”


Si…Siapa itu yang ngomong?!


Kenapa ada suara di kepala gue?!


“Kau pasti ingin menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, benar?!”


“Si…Siapa lo?!”


““???””


Ka…Kayaknya suara di kepala gue


ini cuma gue deh yang denger.


Bahkan Göhran pun bingung gue


ngomong sama siapa.


Kecuali…


“Huff…Huff…”


…Dalbert.


Anehnya, dia sampe keringet


dingin gitu.


Tapi, kenapa dia sampe ketakutan


kayak gitu?


“Hey, mengapa pikiranmu kemana-mana? Apa perlu kusebut bahwa aku adalah akar


dari semua masalah ini, agar kau mau menemuiku?”


Sialan!


Berani banget dia blak-blakan


begitu!


“Tunggu apa lagi? Ayo temui aku di dalam kastil!”


Oh, gitu?!


Sebenernya feeling gue nggak enak, tapi kesannya suara dari orang ini kesannya


kayak nantangin gue!


“Göhran, gue titip semua tahanan


ini keluar dari tempat ini, ya!”


“A…Apa maksudmu—”


“Gue mau ke kastil. Kemungkinan


orang yang ngendaliin Kaum Naga yang ada di negara ini tuh ada di sana!”


“Baiklah, Djinn—”


“Gue juga ikut lo ke sana!”


Dalbert pasti juga denger suara


tadi.


Walaupun dia keliatan takut


banget, tapi dia tetep berani ke sana?


“Bos! Kok lo—”


“Lo seriusan mau ke sana.”


“Y…Ya!”


Hmm…


Yaudah kalo dia emang tetep mau


ke sana.


“Gue sama orang ini ke sana


duluan, Göhran!”


“Baik, Djinn!”


Akhirnya gue bareng Dalbert misah


bareng yang lain untuk ke kastil.


Walaupun, ujung-ujungnya kita berdua hampir mati.