
Besoknya, kita siap-siap untuk berangkat ke Penampungan terakhir di kota yang namanya Porzael.
“Ini makanan untuk kalian bertiga. Ini nggak banyak, tapi semoga aja cukup untuk isi perut kalian bertiga.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Kami sangat menghargai makanan ini, berapa pun kuantitasnya.”
“Terima kasih, Meldek. Semoga Dewa-Dewi Agung beserta kalian selama perjalanan.”
Semenjak di kasih makanan sama Bismont, kita pergi dari Calmisiu.
Gue kira semuanya lancar-lancar aja, ternyata ada hambatannya juga.
““Hrwaugh!””
“Ada 3 Goblin di hadapan kita!”
Ya, kita diserang 3 Goblin.
Tapi ada yang aneh dari omongannya mereka.
Bukan, bukan omongannya mereka. Guenya yang ngerasa aneh.
“Ka to chulaiq—bzzt—likan keluargaku!”
“!!!”
“Kembalikan anakku!”
Nggak tau kenapa, tiba-tiba gue bisa denger mereka ngomong apaan!
“Kemana kalian bawa keluarga—”
“Nyonya Styx! Tunggu!”
“*Shrak! (suara menebas)”
Ah… Styx langsung tebas mereka bertiga.
“Hm? Kalian berdua kenapa?”
“Ng-Nggak tau kenapa, gue bisa denger mereka ngomong apaan.”
“Sa-Saya juga mendengarnya, Tu—Djinn…”
“Hah?! Denger apa—”
“3 Goblin itu berkata…bahwa keluarganya dibunuh. Anda juga mendengar yang sama kan, Djinn?”
“Y-Ya.”
“Hah?! Kalian bisa Bahasa Monster?!”
“Se-Sejujurnya tidak bisa. Akan tetapi, entah mengapa saya paham apa yang mereka bicarakan…”
Oh! Monster itu bahasanya beda sama Mahluk Intelektual, ya?!
Pantesan gue denger Goblin-Goblin tadi ngomongnya agak aneh…
Tapi kok Ogre yang dijadiin anak sama Bismont itu bisa ngomong, ya?
……………
Kita lanjutin perjalanan lagi, walaupun Styx keliatannya masih merasa bersalah udah bunuh 3 Goblin tadi.
Kurang lebih butuh sekitar 2 hari 1 malem untuk sampe ke Penampungan terakhir, tapi kita berhenti tengah jalan waktu udah mau deket Penampungan terakhir.
“Kita istirahat dulu, sebelum serang Penampungan itu.”
“Baiklah, Styx.”
“…”
Gue cuma ngangguk doang.
Sambil kita istirahat, Styx juga bahas strategi untuk nyerang Penampungan terakhir.
Dia jelasin kalo Meldek ikut gue untuk jadi ‘umpan’ dari gue ke pasukan-pasukannya nanti. Makin banyak pasukan yang lari ngejar kita berdua, semakin bagus.
Sedangkan tugas dia sendiri itu kelilingin Penampungan untuk bebasin tahanan-tahanan yang ada di sana.
Intinya, Meldek itu umpan gue, sedangkan gue itu umpan dia.
“Jadi begitu kira-kira cara kita serang Penampungan terakhir. Ya… anggep aja peran kita semua dibalik-balik. Paham?”
“Sa-Saya paham. Akan tetapi… bagaimana dengan anda, Djinn?”
“Ba-Baiklah. Semoga saya tidak menjadi beban untuk anda.”
“Hm.”
Menurut gue masalahnya bukan di Meldek.
Justru masalahnya ada di Styx.
Nggak tau kenapa, gue punya firasat kalo dia cuma mau bebasin adeknya, terus kabur gitu aja.
Karena menurut gue sendiri, dari 5 Penampungan, di 2 Penampungan yang kita serang itu nggak ada adeknya.
Gue nggak tau gimana 2 Penampungan yang diserang temennya itu. Entah ada adeknya atau nggak.
Eh iya! Ngomong-ngomong soal siapa aja yang mungkin ada di sana…
“Kayaknya kita masuk jebakan.”
“Ya, saya berfirasat yang sama, Djinn.”
“Maksud kalian berdua?”
“Jika melihat 2 Penampungan yang kita serang, letak Penampungan tersebut berada di kawasan yang tidak begitu strategis. Sedangkan Penampungan yang akan kita serang nanti berada di tengah kota mati.”
“Iya sih, tapi—”
“Tidak hanya itu saja. Berdasarkan intel dari Duke Louisson, kita tidak menemukan adanya Kakak Besar. Berarti, ada kemungkinan semua Kakak Besar yang tersisa berada di Porzael City.”
Gue nggak ngerti poin pertama Meldek, tapi gue juga punya pikiran yang sama soal poin terakhir.
“Makanya itu, kita harus pastiin semua tahanan untuk pergi. Kalo pun ada Kakak Besar, jangan kita lawan. Mending kita lari untuk lapor ke Bismont.”
“Baiklah, saya percaya dengan strategi anda, Styx.”
“…”
“Djinn?”
“Woy, mau kemana lo?!”
“Cuma mau pergi sebentar. Gue mau latian.”
Gue nggak nyalahin naifnya Meldek. Gue cuma nggak percaya Styx aja.
Daripada debat, mending gue pergi aja dulu.
...............
Gue pun latian sebentar, cuma setengah jam aja.
Tapi waktu gue balik, mereka keliatannya lagi ngobrol serius.
“Apa bener ya. Mungkin gue ini Iblis. Kenapa gue tanpa ragu langsung bunuh 3 Goblin tadi?”
“Ja-Jangan berbicara seperti itu, Styx!”
“M-Meldek?”
“A-Anda hanya tidak mengerti Bahasa Monster saja! Jika pun anda mengerti bahasa tersebut, saya yakin anda tidak akan membunuh mereka secara langsung!”
“Ke-Kenapa lo yakin?”
“Saya mungkin hanya sebentar mengenal anda. Akan tetapi, saya percaya semua orang, ras, mahluk, bahkan Monster sekalipun terlahir dengan hati yang baik. Hanya saja faktor lingkungan dan budaya yang mempengaruhi seseorang untuk semakin kelam.”
Gue dari balik pohon cuma denger mereka berdua ngobrol aja.
“Me-Mel—”
“Maka dari itu, Styx. Anda menghentikan 3 Goblin itu bukan dengan niat jahat. Anda hanya ingin menyelamatkan kita saja. Saya yakin bahwa anda adalah wanita yang sangat ba—”
“*Phuk… (suara pelukan)”
“S-Styx?!”
Waktu gue ngintip, tiba-tiba Styx peluk Meldek.
“Se-Selama gue hidup, nggak banyak ada orang yang baik sama gue! Lo salah satu orang yang baik banget untuk gue, Meldek! Makasih ya karena udah banyak nolong gue!”
“Y-Ya. Se-Semoga kita semua tetap aman, Styx.”
“Ya.”
Hmm…mungkin gue aja yang terlalu berlebih sama Styx. Semoga aja omongan dia bener-bener tulus.