
“Baiklah! Sekarang kita sudah tiba kembali di Hokutōkaze Village! Dulu tempat ini adalah Markas Perlawanan!
Tetapi sekarang telah menjadi desa yang harus kujaga! Dan di tempat inilah kau akan menemukan panggilan Jiwa-mu, seperti Winona-kun dan Royce-kun, Dalbert-kun!”
Bener juga. Waktu itu katanya ada dua Petualang yang dilatih Nakatoki. Tapi gue nggak nyangka kalo murid dia itu
Winona sama Royce.
Apalagi gue nggak ketemu mereka langsung, karena gue udah nyelinap masuk Bakufu bareng Garry sama Machinno, walaupun gue harus buang Fratta Pouch gue gara-gara muntahnya Garry!
Tapi karena ketemu Winona sama Royce, pastinya gue tanyain ke mereka tentang anggota lama gue di BBE, Alethra.
“M-Maafin kita, Dalbert. K-Karena kita terlalu lemah, dia harus… kehilangan tangannya…!”
Mungkin Winona ngomong kayak gitu.
Tapi gue percaya, kalo Alehtra pasti baik-baik aja! Walaupun… gue juga sedikit khawatir—
“Dalbert-kun! Fokus!”
“Y-Ya! Maafin gue, Nakatoki—”
“Kali ini panggil aku Sensei!”
“S-Siap! Nakatoki-Sensei!”
Latihan kali ini, gue harus ada di bawah air terjun.
Masalahnya…
“*BWUSHHHH…”
“…”
…punggung gue yang patah ini udah siap belom ya?
“Mengapa?! Apakah engkau takut?!”
“Ng-Nggak sih, cuma—”
“Jangan ragu dengan keputusanmu! Jika ada keraguan sedikitpun di hatimu, kau justru akan terkena imbasnya,
khususnya ketika menghadapi air terjun itu! Paham?!”
“Paham!”
“Baiklah! Pergilah menuju air terjun itu! Rasakan baik-baik air terjun itu!”
“…”
Gue jalan ke air terjun ini.
“*BWUSHHHH…”
Bener juga.
Gue nggak ngerasain sakit apa-apa di punggung gue, walaupun air terjun ini deras banget hantam badan gue.
“Duduklah di batu itu, lalu pejamkan matamu!”
“…”
“Atur pernapasanmu, lalu rasakan baik-baik air terjun yang menghujam Tubuh-mu!”
“…”
“Rasakanlah setiap tetes air terjun itu! Mulai dari kepalamu…”
Ya. Gue bisa rasain tetesan air di kepala gue.
“…yang mengalir ke bawah dan melewati wajahmu…”
Gue bisa rasain setiap tetesan yang ada di wajah gue.
“…kemudian ada tetesan air yang langsung kembali ke sungai, ada juga tetesan air yang mengalir menuju lehermu
dan Tubuh-mu, sebelum menuju sungai.”
Gue bisa rasain ada tetesan air yang ngalir di leher gue. Bahkan gue bisa rasain tetesan air yang pecah karena
langsung jatoh ke sungai.
“Tarik napasmu pelan-pelan. Mengalirlah seperti air terjun. Hampirilah Jiwa-mu, seperti dua tetes air yang mengalir
dari kepalamu.”
“…”
“Apakah engkau akan menghampiri Jiwa-mu, seperti tetesan air yang terjun langsung ke dalam sungai, atau
seperti tetesan air yang perlahan-lahan mengalir dari Tubuh-mu, sebelum menuju sungai. Itu adalah pilihanmu.”
“…”
Kok tiba-tiba… gue ada di ruang yang gelap ini…?
“…”
Bola raksasa yang ada di depan gue ini… Jiwa gue, kan…?
Berarti gue temuin Jiwa gue, ibarat tetesan air terjun yang langsung ke dalam sungai.
“…”
Di tengah-tengah Jiwa gue ini, ada warna putih polos. Sedangkan di sekitarnya ada warna hitam yang gelap.
“…”
Hmm…
Kalo… gue sentuh…?
“*Tap…”
Ternyata nggak ada apa-apa—
“Hm?!”
Eh…?! Kok…!
“!!!”
Kok nggak nggak bisa gue lepas?!
Justru gue malah ditarik masuk ke dalem Jiwa gue—
“Dalbert-dono!”
“Huuuufff!!!”
K-Kok gue tiba-tiba balik lagi ke air terjun?!
“…”
Terus kok tiba-tiba ada semua Kepala Komisi di sini?!
“Apakah anda baik-baik saja, Dalbert-dono?!”
Hah? Baik-baik aja?
“G-Gue… nggak tau. Tadi gue ngerasa kayak dihisap Jiwa gue.”
“Syukurlah! Jika saya telat sedikit, mungkin anda sudah berada di dalam bayangan anda, tanpa bisa keluar, Dalbert-dono!”
“M-Maksudnya…?”
“Barusan saja, bayangan di bawah Tubuh anda bergerak secara acak dan hendak menyerang Ērukuma-dono!”
B-Bayangan gue mau nyerang Nakatoki?!
Apa mungkin… karena tadi gue sentuh Jiwa gue…?
“Sepertinya kau terlihat baik-baik saja, Dalbert-kun! Jika bisa kutebak, pasti kau menyentuh Jiwa-mu! Bukankah begitu?!”
“Y-Ya…”
“Baiklah! Ingatlah sensasi itu, Dalbert-dono! Karena sekarang, anda bisa lanjut ke tahap latihan selanjutnya!”
“Yes!”
Gue nggak tau harus seneng atau nggak. Tapi karena tau bisa lanjut secepet ini, artinya gue bisa selesain latihan ini secepetnya!
……………
Ternyata nggak juga.
Gue udah latihan selama 5 hari di sini.
Semenjak gue diselamatin Katanaka, gue langsung selesain tahap latahin lawan Yasukata sama Toshiko di hari yang sama.
Masalahnya sekarang, udah 4 hari gue gagal terus lawan Katanaka!
“*Swush!”
“!!!”
“(Jangan menghindari serangan saya, Dalbert-dono! Seharusnya anda menggunakan bayanganmu untuk mencegah serangan saya, yang juga terbuat dari bayangan! Ingatlah pelajaran tentang pertahanan dari Yasukata!)”
Cih! Dia sih ngomongnya gampang!
Masalahnya…
“…”
…gue masih kesusahan untuk gerakin bayangan gue, karena geraknya lama banget! Apalagi ngebentuk sesuatu
untuk hadang serangan dia!
Tambah lagi…
“*Fwup, fwup, fwup…”
…dia sekarang lagi pake Tengu Form yang dia punya!
“(Dengarlah ini, Dalbert-dono!)”
“…”
“(Jangan andalkan diri anda sendiri! Jika anda hanya mengandalkan diri anda sendiri, itu sama saja dengan anda yang hanya mengandalkan Tubuh dan Roh anda! Tidak dengan Jiwa anda!)”
“Terus gue harus gimana?!”
“(Rasakan Jiwa anda!)”
Cih! Nasehatnya sama terus!
Masalahnya gue nggak tau cara rasain Jiwa gue—
“(Baiklah, Dalbert-dono.)”
“*Shringgg…”
S-Sialan! Kalo dia udah keluarin pedangnya, yang paling bahaya dari semua senjatanya, artinya dia bener-bener
mau bunuh gue!
“(Kali ini saya benar-benar akan membunuh anda! Bersiaplah kehilangan nyawa anda!)”
W-Woy! Ini cuma latihan kan?!
“*SWUSH!!!”
“(Cepat gunakan bayangan anda, Dalbert-do—)”
“*Prang…”
“!!!”
E-Eh?!
Kok tiba-tiba… bayangan gue keluar sendiri—
“(((Shadow Shield)), kah? Bagus, Dalbert-dono! Karena anda telah menggunakan Jiwa anda untuk bertahan! Tetapi kita belum selesai, Dalbert-dono!)”
“*SWUSH!!!”
“(Pertahankan perisai itu!)”
“*Prang, prang, prang…”
G-Gila…!
Untung aja ada bayangan ini yang tiba-tiba berubah jadi perisai…!
Kalo nggak ada… mungkin aja kepala gue udah hilang dipenggal Katanaka…!
……………
“Huff, huff, huff…”
G-Gila…! H-Hampir seharian gue dilatih Katanaka… sampe secapek ini…!
“Minumlah, Dalbert-dono.”
“M-Makasih banyak… Katanaka-Sensei…”
“*Gluk, gluk, gluk…”
Walaupun gue udah latihan seharian penuh, entah kenapa gue ngerasa kurang banget!
Mungkin gue udah bisa pake Union Zona. Tapi gue cuma bisa pake itu untuk bertahan doang! Sedangkan nyerang
Katanaka, gue harus pake pedang tumpul ini!
“Sebelumnya, maafkan saya yang terlihat seperti seseorang yang akan membunuh anda, Dalbert-dono.”
“Ng-Nggak apa-apa. Kalo nggak kayak gitu, mungkin gue—”
“Dulu, ayah saya juga berbuat hal yang sama kepada Martha-san.”
“S-Sama ibu gue?!”
“Ya. Pada awalnya, saya merasa gusar dengan aksi ayah saya. Tetapi, saya mengetahui alasan di balik hal tersebut.”
E-Emang alesannya apa…?
“Dalbert-dono, anda sangatlah mirip dengan ibu anda. Kalian berdua harus merasakan kematian yang
datang menjemput kalian. Karena merasakan hal itu, kalian baru merasakan gejolak Jiwa milik kalian, yang kemudian datang membantu kalian.”
P-Pantesan dia keliatan kayak mau bunuh gue! Gue kira dia beneran mau bunuh gue!
Tapi gue nggak nyangka, ternyata ibu juga ngerasain hal yang sama.
“Jika itu memang cara agar anda lebih peka dengan Jiwa anda, sepertinya saya bisa membayangkan kehidupan macam apa yang telah anda jalani.”
“M-Maksudnya…?”
“Mungkin saya pernah mendengar tentang perjalanan anda sebelum tiba di tempat ini. Tetapi jika saya boleh menebak, anda hampir kehilangan nyawa anda berkali-kali, bukan?”
“Ya.”
“Benar, kah? Mungkin saya hidup jauh lebih lama dibandingkan anda, tetapi asya penasaran dengan perjalanan
hidup anda. Biaskah saya mendengar kisah hidup anda?”
“…”
Gue ceritain semua pengalaman gue.
Mulai dari hampir mati karena harus lompat dari air terjun, terus harus hidup sendirian di tengah hutan selama kurang lebih setahun, lawan Malaikat yang namanya Narciel, hampir dimakan Ghoul-Trigger, hampir mati kena ledakan dari Centra Geoterra, sama hampir mati karena jamur beracun.
“M-Menakjubkan…! Bahkan saya di usia 10 tahun hanya bisa berlatih dan bermain bersama Nagamichi dan Yasukata-kun! Tetapi anda bisa menciptakan ikatan bandit pada usia itu?!”
“Ya gitu lah kira-kira. Kalo nggak karena kepikiran untuk bikin BBE, mungkin gue masih tinggal di tengah hutan. Bahkan mungkin aja gue udah nggak hidup sampe sekarang.”
Ya. Kalo gue nggak temuin kereta kuda Riorio Merchant, mungkin gue—
“Ah, saya hampir lupa, Dalbert-dono.”
“A-Ada apa, Katanaka-Sensei?”
“Terimalah ini.”
“…”
Oh iya!
Karena udah berhari-hari latihan, gue sampe lupa sama Bracelet Armament ini!
“Karena saat ini anda hanya mampu menggunakan Union untuk mempertahankan diri anda, alangkah baiknya jika anda gunakan Bracelet Armament ini.”
“…”
Kok… keliatannya ada yang beda ya dari Bracelet Armament ini?
“Apakah anda menyadari perbedaannya?”
“Y-Ya. Entah kenapa, lingkaran kecil di gelang gue ini lebih banyak.”
“Tentu saja. Karena saya telah mengkonfigurasi ulang Bracelet Armament anda, agar lebih banyak senjata yang
tertampung di dalam gudang senjata anda itu. Tetapi… ada dua senjata yang tidak akan bisa anda gunakan kembali. Saya mohon maaf terkait hal tersebut.”
A-Ada satu senjata?!
Duh! Semoga aja bukan elang gue!
((Eagle))
“Chaaaaakk…”
Huh! Untung aja masih bisa!
“…”
Gue coba terus semua yang pernah gue pake. Ternyata yang udah nggak ada tuh pedang sama dua pisau gue.
Tapi…
((Bracelet Armament: Dual Sai))
““*Shringg…””
((Bracelet Armament: Katana))
“*Shringgg…”
…dua senajata gue sebelumnya udah diganti dua senjata khas di sini!
((Dual Sai)) gantiin ((Dual Knife)) gue, sedangkan ((Katana)) gantiin ((Blade)) gue!
Selain dua senjata itu, Katanaka juga kasih gue 2 senjata lainnya!
((Nunchaku))
“*Swush, swush, swush…”
((Tonfa))
“*Bruk…”
K-Keren juga dua senjata ini…! Semoga aja bisa gue pake di lain waktu…!
“Makasih banyak, Katanaka-Sensei!”
“Ya. Senang bisa membantu anda, Dalbert-dono. Semoga—”
“Anu, Pak Katanaka. Anda dicariin Miyako-Sensei.”
Hm? Siapa cewek ini? Kok gue baru liat?
“Daphine-san. Bagaimana kabar anda?”
“S-Saya sama temen-temen saya baik-baik aja, Pak Katanaka.”
“Bagaimana latihan anda sekalian bersama Miyako-sama?”
“Y-Ya… gitu deh.”
Hm? Dia sama temen-temennya dilatih Miyako?
“Ah, Dalbert-dono. Mungkin ini baru pertama kalinya anda bertemu dengan Daphine-san. Ia dan teman-temannya
merupakan mantan anggota Leo yang diselamatkan oleh Kazedori Ayasaki-sama.”
“M-Maksudnya—”
“Biar saya yang jelasin aja, Pak Katanaka.”
“…”
Gue dengerin penjelasannya cewek yang namanya Daphine ini, sambil jalan bareng untuk makan malem.
“Oh ternyata lo itu juga orang yang dipaksa Leonard ya. Emang sebelum masuk Leo, lo itu dari Party atau Guild
mana?”
“M-Mungkin lo nggak pernah nama Party ini sih. Tapi dulu nama Party gue sama Kornell itu Gemini Party—”
“Hah?! Party kalian itu… yang dipimpin Si Kembar Klemens, kan?!”
“Eh?! Kok lo tau?!”
“Karena…”
Sekarang giliran gue yang cerita tentang Si Kembar itu ke dia.
Tapi gue agak nyesel…
“Cih…! D-Dasar cowok tolol…!”
…kalo dia ini ternyata pacar yang dia ditinggalin Charlie.
A-Agak ribet juga ya kalo ada hubungan intim di dalam satu Party.
Pantes aja Myllo larang semua anggota Aquilla untuk pacaran.
“Pokoknya di Party kita nggak boleh ada yang pacaran?!”
“Ih! Terus aku gimana—”
“Kali ini gue serius, Gia!”
Bahkan Gia pun sampe nggak bisa ngomong apa-apa…
Eh iya. Ngomong-ngomong gimana ya kabar Si Bego itu di dalam Hidden Dungeon?