Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 160. Matter of Pride



Kita keluar dari Guild ini. Awalnya gue kira kita semua balik ke rumah Dreschya.


Nggak taunya…


“Eh? Bukannya kita mau balik ke rumah gue?”


“Nggak! Gue pusing! Gue mau minum dulu di kedai!”


…Si Dongo satu ini malah mau mabok!


“*Sianying*! Bukannya kita mau bahas—”


“Aaaaargh! Gue pusing! Gue mau minum dulu!”


“Djinn! Myllo teh—”


“Yaudah, nggak apa-apa. Nanti bisa kita bahas.”


“Hehe! OK, ayo kita ke kedai!”


Haaaaah… kalo nggak karena dia yang pusing, mungkin harusnya kita udah balik!


……………


Masalahnya, waktu kita sampe di kedai ini…


““Oooohh, gitu?””


“I-Iya… hicc!”


Myllo malah masuk ke versi “Pendongeng”-nya.


“Permisi, apakah kalian dari Aquilla?”


““…””


Siapa cewek satu i—


“Bener atuh, teteh geulis! Aing teh Kang Garry!”


Woy! Malah langsung perkenalan diri gitu Si Mesum!


“Kami dari Virgo. Namaku adalah Aegaly Chulmere.”


Virgo?


Itu nama Party mereka?


“Hey kalian para pemabuk! Buka jalan untuk Nyonya Piedda!”


Hah? Nyonya?


“Hey! Pergilah kalian!”


“Virgo hendak bertemu dengan para Petualang!”


“Jangan interupsi kami!”


Loh, loh, loh!


Kok malah diusir-usirin semua orang yang lagi denger cerita Myllo?!


“Ya elah! Kayak penting aja sih nih Party!”


“Cih! Belagu banget!”


“Yaudah deh! Cabut, cabut, cabut!”


Semuanya jadi pada pergi karena bete diusir-usir gitu sama mereka semua.


“Hey! Kalian semua! Pergi dari si—”


“Haaaaah?! Kalian kira kalian siapa?! Gue ini Paul Lemons, Wakil Kapten dari Lynx!”


Lynx?


Mereka juga Petualang, ya?


“Hey, kau! Pergilah dari sini!”


Bahkan Dreschya juga mau diusir?!


“O-OK kalo gi—”


“Dres, jangan sampe lo beranjak dari sini karena mereka!”


““…””


Mereka keliatannya nggak suka sama cara gue yang nahan Dreschya.


“T-Tapi mereka ini—”


“Djinn bener, Dreschya! Lo itu temen kita yang udah kasih tumpangan untuk kita! Nggak akan gue biarin temen kita diusir gitu aja!”


“Ya-Yaudah kalo gi—”


“*Dhum!”


Ada aura?


“Apakah kau yang disebut Myllo The Wind, benar?! Kami ada urusan denganmu! Maka dari itu kami tidak ingin diinterupsi dengan adanya—”


“*Dhum!”


““!!!””


Hmph! Mereka kira kita takut kali ya ada aura kayak gitu?!


“*Brak!”


“Denger gue, cewek-cewek brengsek!”


““!!!””


“Sekali ada dari kalian yang berani nantangin kita pake aura kayak gitu, jangan harap kalian masih bernyawa waktu keluar dari kedai ini! Paham?!”


““…””


Keliatannya mereka kesel waktu gue ngomong kayak gi—


“Apakah kau yang bernama Djinn Dracorion?”


Oh, itu ya Kapten-nya?


“Ya. Kena—”


“Hmph! Sepertinya nama Dracorion terlalu berlebihan bagi seorang pecundang yang menyembunyikan identitasnya!”


Oh! Berani nantangin ya cewek satu i—


“Lo Kapten yang namanya Piedda, ya?”


“Kapten? Jika yang kau maksud adalah Leader, maka artinya anda benar, Myllo The Wind.”


“Gue cuma mau ingetin aja, nih. Kalo gue jadi lo, gue nggak akan berani nantangin orang yang bunuh hampir semua Kaum Naga di Erviga.”


““!!!””


Hmph! Kaget lo waktu Myllo bilang kayak gitu!


“Baiklah. Maafkan kami yang meragukan serta mengganggu waktu kalian.”


“Yaudah. Artinya Dreschya bisa di sini, kan?”


“Sebenarnya kami tidak ingin ada gangguan. Namun, sebagai sesama Leader, alangkah baiknya jika berbicara bersama dengan dia.”


Hah?


Emangnya siapa orang itu?


“Saya percaya bahwa anda adalah Leader dari Lynx yang bernama Ollie Remington, benar?”


Hah?! Itu Kapten-nya?!


Kenapa dia ngumpet di bawah meja?!


“Haaaaah… Padahal gue mau tidur, tapi tiba-tiba direpotin kayak gini…”


Kenapa harus tidur di bawah meja, woy!


“Yaudah. Tapi jangan kelamaan!”


“Ah… Padahal gue mau ngomong hal yang sama, tapi udah ada yang ngomong duluan…”


“Baiklah, Myllo The Wind. Ollie Remington.”


Ujung-ujungnya Myllo ngobrol satu meja bareng dua pimpinan Party itu.


Sedangkan kita yang ada di sini…


““…””


…hening. Nggak ada yang mau buka suara sama seka—


“Woy, woy, woy!”


“*Brak!”


Hah? Ini kan orang yang ngaku-ngaku Wakil Kapten tadi.


Kenapa harus pukul meja?


“Lo yang namanya Djinn Dracorion, kan?!”


“Ya. Kenapa, emang?”


“Beneran lo hampir bunuh ratusan Kaum Naga?”


“…”


Kenapa nih orang tiba-tiba nanya-nanya—


“Iya, atuh!”


Woy, Garry!


“Dia teh—”


“Bacot lo, lemah!”


“Hiieeekh!”


Wah, anjing nih orang!


“…”


“Wah, wah, wah! Lo berani tarik baju gu—”


“Kalo lo masih berulah, bukan baju lo doang yang gue tarik. Tapi nyawa lo. Paham?”


“Haha! Asik nih yang kayak gini! Ayo kita—”


“PAUL! BISA DIEM NGGAK?!”


“!!!”


Nah kan, tiba-tiba diteriakin sama bos-nya.


“Cih! Maafin gue, bos!”


“…”


Dia balik gara-gara bos-nya, ya?


Sana lo balik ke “kandang” lo!


““…””


Temen-temennya pada ngeliatin gue?!


“Apa lo semua liat-liat?! An—”


“DJINN!!!”


“…”


Hmph!


Kalo nggak karena Myllo, mati tuh mereka semua!


“Ger[1], lo nggak apa-apa?”


“Ng-Nggak apa-apa atuh, Djinn.”


Keliatannya dia masih ketakutan sama orang yang namanya Paul tadi.


“I-Iya, Teh…”


“Jenna. Panggil saja aku Jenna.”


“I-Iya, Teh Jenna. Aing teh nggak apa-apa, apalagi diajak obrol teteh kayak gini, aing teh mendingan.”


“…”


Diajak ngobrol dikit sama cewek, nih bocah langsung cari kesempetan, ya!


Tapi cewek ini…


“…”


…entah kenapa gue bisa ngeliat ada aura yang keluar dari cewek ini. Kesannya kayak cewek yang namanya Jenna


ini jauh lebih kuat, bahkan daripada Kaptennya yang namanya Piedda itu. Yah, ujung-ujungnya aura kayak gitu belom tentu bisa buktiin dia lebih kuat dari Aquilla, sih.


Yaudah deh, nggak usah dipikirin. Mendingan gue bakar rokok aja du—


“M-M-Maaf!”


“Hah? Ada apa ya?”


“D-Di sini… dilarang merokok!”


“…”


Cih! Mau nggak mau gue harus ngerokok di luar, ya?!


“Ger, gue tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?!”


“Nggak apa-apa, Djinn! Sana, sana, sana!”


Sialan nih bocah! Kesannya kayak mau ngusir gue!


“*Kriiiekk…”


Yah, nggak usah terlalu dipikirin, deh.


Mending gue keluar dulu sebentar.


“*Cyis…”


“Fyuuuhh…”


Sambil ngerokok, mending gue pikir baik-baik dulu tentang Party yang namanya Virgo tadi.


Total masing-masing dari Virgo sama Lynx yang gue liat ada 5 sama 7 orang.


Kalo Virgo, sesuai nama Party-nya, semua anggota itu isinya cewek semua. Kapten mereka, Piedda, diperlakukan kayak Ratu, yang bahkan urusannya nggak boleh diinterupsi pihak yang nggak punya kepentingan. Walaupun gitu, ada kemungkinan kalo cewek yang namanya Jenna itu lebih kuat daripada anggota Virgo lainnya.


Sedangkan Lynx, semua anggota yang keliatannya barbar di mata gue, kecuali Kapten mereka yang namanya


Ollie itu. Tunggu, tiba-tiba gue keinget pesen Guildmaster tadi, yang bilang kalo udah ada Party yang siap untuk ikut Joint Party. Ya, kan?


Kalo sampe mereka ikut Joint Party, mending nggak usah diambil, deh!


Daripada—


“Aku mengenalmu.”


“!!!”


Siapa tuh yang ngomong?! Kok kayak ada yang bisik-bisik di kepala gue?!


“Aku mengingat suatu nubuat.”


Hah?! Nubuat apa—


“Jalanmu adalah kehancuran. Langkahmu adalah kematian. Tujuan akhirmu adalah malapetaka bagi dunia ini.”


Maksud lo apaan?!


“…”


Dia udah nggak bersuara?!


Siapa sih yang berani-beraninya telepati di—


“!!!”


Eh! Itu kan—


“*Krieeeekk…”


“Djinn! Ayo kita balik!”


Myllo tiba-tiba keluar?


“Mil, gimana bahasan lo sama—”


“Kita bahas aja di rumah Dreschya! Ayo kita ba—”


“Tunggu! Kopi gue belom a—”


“Nih, anying! Aing teh tadi minta pelayannya untuk dibungkus!”


“O-Ooooh… Thanks.”


Yaudah lah, yang penting kopi gue bisa diabisin di jalan.


……………


Sesampenya kita di dalem rumah Dreschya, Myllo langsung bahas apa yang dia omongin bareng Piedda.


Dari yang Myllo bahas, Joint Party itu isinya ada kita, Aquilla, Virgo, sama Lynx.


Investigasi tentang sarang Sea Serpent udah dijalanin sama Lynx, tapi cara mereka masuk itu katanya susah


banget. Makanya itu, Virgo punya cara alternatif untuk ke sarang itu.


Sedangkan kita berlima…


“Untuk jadi kekuatan utama, ya?”


“Ya. Dia bilang begitu.”


…diminta ikut karena reputasi kita di Erviga.


“Terus ke sananya?”


“Gue nggak tau persis sih caranya gimana. Yang pasti pake sihir.”


“Kalo itu mah aing ge tau, Myllo!”


Selanjutnya, Myllo jelasin kalo Ollie konfirmasi keberadaan Ocean Witch, yang kemungkinan jadi orang yang jagain


sarang uler laut itu, selama investigasi dia yang terakhir.


“Tunggu! Ada yang aneh!”


“Hm? Kenapa, Dreschya?”


“Ocean Witch yang jagain Sea Serpent?! Bukannya Sea Serpent itu kepunyaan Siren, ya?!”


“Ya. Gue juga tanya itu. Tapi Ollie pun liat ada dia di tengah-tengah sarang itu. Makanya mereka juga mau investigasi tentang siapa Ocean Witch sebenernya.”


Ada yang aneh.


Entah kenapa, gue ngerasa kalo kita dijebak lagi kalo terlibat Joint Party itu. Tapi kalo ngomongin soal Witch, gue juga penasaran maksud yang dia bahas lewat telepati tadi. Kalo ini ngomongin soal gue sebagai Pria Terjanji, mending yang lain nggak perlu tau, deh.


Makanya itu, gue perlu konfrontasi Ocean Witch itu tanpa libatin temen-temen gue, supaya mereka nggak kena imbasnya!


“Garry, menurut lo gimana? Perlu nggak kita ambil Quest ini?”


“Kalo mau ikutin hasrat mah, aing teh mau banget ambil Quest ini, Myllo. Selain sama banyak teteh geulis, ini teh pertama kalinya aing secara resmi jalankeun Quest, bukan?”


Ya, sesuai dugaan.


Walaupun awalnya dia nggak mau jadi Petualang, tapi dia sekarang jadi Petualang. Makanya itu, dia lagi di fase bangga-bangganya jadi Petualang.


“Djinn?”


“Mungkin ini bakal bikin Garry sakit hati, sih. Tapi menurut gue Quest ini banyak faktor jeleknya. Selain karena Gia sama Dalbert yang belom sadar, kita harus Joint Party sama orang-orang aneh itu. Tambah lagi, masih banyak hal janggal juga yang bisa celakain kita. Tapi…”


““…””


“…sekarang nama kita, Aquilla, lagi banyak pujian. Kalo kita tolak Quest yang ditawarin langsung sama Guildmaster, bisa-bisa nama kita langsung hancur.”


Ya, nggak cuma Garry aja. Gue juga punya rasa bangga sebagai Petualang, yang bahkan dikasih nama yang dibangga-banggain negara segede Erviga.


“Gue juga ngerasa kayak gitu. Karena yang kita serang itu monster yang ngerugiin sekitar desa ini, bukan kayak Witch baik yang diserang Kak Sylv.”


Dari pernyataan Myllo, gue ngerasa kalo dia juga tau kalo kita secara nggak langsung dijebak untuk ambil Quest itu.


“Cih! Jadi kita harus gimana?!”


““…””


Hening.


Kita bingung harus gimana.


Andai Gia sama Dalbert ba—


“A-Ambil aja, Myllo…”


Eh? Dalbert udah bangun?


“Dalbert! Sia teh masih nggak boleh banyak ge—”


“Djinn ada benernya… Myllo.”


“Maksud lo apa, Dalbert?”


“Kalo kita… tolak Quest yang ditawarin itu… sama aja kayak kita gagalin suatu Quest… yang kita ambil…”


Dalbert pun juga setuju ya sama gue?


“Makanya itu… ini bukan persoalan bahaya atau bukan lagi… tapi ini semua udah persoalan… harga diri sebagai Petualang…!”


“…”


Ya. Gue setuju sama Dalbert.


Entah kenapa, kata-kata dia keliatannya bisa ngeyakinin Myllo.


“Hmph. Lo bener juga, Dalbert. Makasih ya udah bikin gue nggak bingung. Tapi kalian berdua gima—”


“Gue… nggak masalah… kalo nggak ikut Quest yang kalian ambil itu. Entah kenapa… gue juga yakin… kalo Gia pasti ngerasa hal yang sama…”


“Kenapa lo yakin?”


“Karena… apapun yang lo lakuin itu… pasti untuk Aquilla, temen-temen lo juga… Myllo.”


Dia juga bener soal itu.


Kayak Luvast yang ambil Quest sendirian, secara nggak langsung dia udah bikin nama Aquilla makin dikenal baik.


“Ahahaha! Dasar sialan lo, Dalbert! Padahal gue khawatirin lo, tapi lo ngomong gitu!”


“Ja… Jangan puji-puji gu—”


“Myllo, artinya teh kita…”


“Ya. Kita ambil Quest Joint Party itu! Apapun bahayanya, gue harap kalian siap, Djinn! Garry!”


““Ya!””


Akhirnya gini ya keputusan akhirnya?


Ujung-ujungnya kita—


“*Prok, prok, prok…”


““…””


Kenapa nih cewek tiba-tiba tepuk tangan?


“Keren banget, Aquilla! Nggak sia-sia gue jadi fans berat kalian!”


““Y-Ya, makasih…””


Yaudah deh, mending kita bertiga siap-siap dulu aja sebelum berangkat ke Guildmaster.


—————————


[1]Ger adalah nama panggilan dari Djinn,


yang diambil dari nama Garry (dibaca Geri).