
““…””
Dalbert dan Berius saling menatap, sebelum menyerang satu sama lain.
“Gia, bawa Machinno pergi dari sini.”
“Ta-Tapi—”
“Biar gue yang tahan dia! Pokoknya lo harus jaga dia terus!”
“O-OK! Ayo ikut aku, Machinno!”
“Gruugh…”
Gia pun menarik Machinno dan melarikan diri bersamanya dari Berius.
Namun…
“Gruuugh! Grugh, grugh, grugh!”
…Machinno begitu mengkhawatirkan Dalbert.
“Ma-Machinno, Dalbert mau jagain kamu! Makanya itu—”
“Grugh! Grugh, grugh! Gruuuugh… Grugh!”
Balas Machinno, yang menjelaskan bahwa ia tidak mengkhawatirkan Dalbert yang akan terluka, melainkan senjata yang ia gunakan dapat menyakiti orang lain.
Mengerti maksud Machinno, Gia pun bisa merasakan kebaikan hati darinya.
“Dia begitu demi kamu, kok! Makanya itu, jangan jahat-jahat ya sama Dalbert?”
“Grugggh…”
Balas Machinno dengan gelisah.
Kembali ke pertarungan antara Dalbert melawan Berius.
““…””
Mereka berlari ke arah masing-masing.
Berius merubah lengan besinya menjadi pedang.
Sedangkan Dalbert merubah pistolnya menjadi pedang.
“*Chringggg… Chring, Chring, Chring…”
Mereka saling beradu senjata dan berusaha mencari momen yang tepat untuk menyerang.
“*Swush!”
“!!!”
Berius hampir berhasil melukai wajah Dalbert dengan senjatanya, walaupun Dalbert berhasil menghindarinya dengan langkah ke belakang.
Akan tetapi, momen seperti itulah yang sangat ditunggu oleh Berius.
Ia langsung mengubah lengan bajanya menjadi tombak yang sangat panjang dan hendak menusuk Dalbert.
Akan tetapi, Dalbert juga menyadari bahwa Berius akan langsung menyerangnya.
“*Prang!”
Ia merubah pedangnya menjadi perisai untuk menghentikan laju tombak dari Berius.
“Cih! Pinter juga nih Kasta Biru!”
Pikir Berius yang kesal.
Setelah gagal menyerang Dalbert, ia hendak mengembalikan wujud tombak panjang dari lengannya kembali seperti semula.
Akan tetapi…
“*Dor!”
“!!!”
…ia tidak menyangka bahwa Dalbert lebih cepat dalam merubah bentuk perisainya menjadi pistol.
Beruntung Berius masih bisa menghindarinya, walaupun bukan berarti situasi yang ia hadapi sudah aman.
“*Dor! Dor! Dor!”
Dalbert menembakinya dengan tanpa henti. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain baginya selain menjaga jarak
dari tembakan-tembakan pistol itu.
“Tembakan dia ngasal. Apa mungkin dia cuma mau nakut-nakutin gue doang?! Hmph! Kalo gitu doang sih, mending gue bales aja!”
Pikir Berius, sambil merapal sihir untuk menyerang balik Dalbert.
“*Bump! Bump!”
Berius merubah lengannya menjadi semacam pistol yang menembak bola-bola baja ke arah Dalbert.
“…”
Dalbert menghindari bola baja itu dengan mudah.
Namun…
“*Bung!”
“Urgh!”
…salah satu bola memantul dari pohon ke pohon dan melukainya dengan keras.
“*Bump! Bump! Bump!”
Dalbert pun berusaha untuk menghindari bola-bola baja itu yang terpantul ke sana dan kemari.
Melihatnya yang kesusahan untuk menghindari bola-bola yang ia ciptakan…
“Hruaaaargh!”
…Berius pun mengambil kesempatan untuk menyerangnya.
Akan tetapi, Dalbert dengan mudah memahami pola pantulan dari bola-bola baja itu. Ia juga mengetahui jika Berius akan maju dan menyerangnya.
Oleh karena itu, ia hanya perlu menghindari salah satu bola baja yang hendak bergerak ke arahnya agar bola tersebut terlontar ke arah Berius.
“Cih!”
Berius merasa kesal karena harus menghindari serangan ciptaannya sendiri.
“*Hup!”
Ia menangkap bola-bola yang terpantul dengan mudah.
Namun…
“Mana dia tuh orang?!”
…ia terlalu disibukkan dengan bola-bola bajanya, hingga tidak menyadari kepergian Dalbert.
“*Dor!”
“!!!”
Ia berhasil menghindari tembakan pistol.
“Dor! Dor! Dor!”
Ia terus menghindari tembakan pistol itu.
Namun yang tidak ia ketahui adalah…
“Dari mana dia nembak gue?!”
…adalah keberadaan penembak pistol itu.
……………
Di saat Dalbert masih menghadapi Berius, Gia masih berlari bersama Machinno untuk pergi melarikan diri.
“Gruuugh! Grugh, grugh?!”
“Te-Tenang aja, Machinno. Pasti Dalbert nggak kenapa-kenapa, kok.”
Balas Gia yang seakan mengerti apa yang dibicarakan olehnya.
Tidak lama kemudian, mereka berdua kedatangan seseorang.
“*Srrk, srrk…”
Mereka mendengar ada bunyi semak-semak.
“Siapa yang ada di sana?! Keluar sekarang!”
Seru Gia, yang memegang hulu World Quaker, tanpa mengeluarkan pedangnya tersebut dari sarungnya.
Mendengar seruannya itu…
“Ma-Ma-Maaf! Ini gue, Dre-Dreschya!”
…Dreschya menampakkan dirinya di hadapan mereka berdua.
“Gruuugh…”
Machinno pun mencoba bersembunyi di belakang Gia karena takut akan Dreschya.
“T-Tunggu! Tadi gue cuma mau jaga desa doang, kok!”
“Maksud kamu?”
“Ka-Karena “yang itu” nyerang desa, jadinya gue coba takut-takutin aja! Asli, nggak bohong!”
Jelas Dreschya yang mencoba meyakinkan mereka berdua.
“Tambah lagi, waktu gue liat ada singa yang mati di dalem desa, jadinya gue yakin kalo dia cuma mau balas dendam! Jadi…”
“*Druk…”
“To-Tolong maafin Clamista! Karena ada perburuan liar itu, jadinya “yang itu” harus kehilangan temennya!”
Seru Dreschya sambil sujud di hadapannya.
Namun, Gia justru merasa sedikit
jengkel.
“Kamu tau nggak sih?! Dia ini punya nama, loh! Namanya Machinno! Jangan sebut dia pake “yang itu!””
Seru Gia dengan kesal karena cara Dreschya memanggil Machinno.
Namun, Machinno justru memperlihatkan respon yang berbeda.
“*Phuk!”
“Grugh, grugh! Gruuuugh!”
Ia justru memeluk Dreschya dengan hangat sebagai bentuk permintaan maafnya.
Saat merasakan pelukan dari Machinno…
“Hiks! Hiks!”
“*Phuk!”
…ia membalas pelukan itu dengan tangisan.
“Kapan terakhir kali gue dipeluk begini? Mama… Papa…”
Pikir Dreschya sambil mengingat pelukan kedua orang tuanya.
Melihat mereka berdua, Gia justru takjub.
“Syukur, deh. Aku kira dia bakal jijik sama Machinno. Ternyata dia orang yang baik, ya.”
Pikirnya melihat Dreschya.
Setelah berpelukan, Dreschya pun menjelaskan maksud kedatangannya.
“Kamu mau cari abang kamu?”
“Iya! Dia ada di mana?!”
“Dia… masih di sana karena lagi lawan Dalbert.”
“!!!”
Dreschya pun terkejut.
“*Hup!”
“Grugh?!”
“Eh?! Dreschya?! Kita mau ke mana?!”
Tanya Machinno dan Gia secara bergantian, setelah Dreschya menarik mereka berdua.
“Ki-Kita harus selamatin mereka berdua!”
“Ya! Gue takut kalo Bang Berius mati karena pake sihir terlarang!”
““!!!””
Gia dan Machinno begitu terkejut mendengar penjelasan Dreschya.
“Tambah lagi…”
“Hm?”
“Gue sebagai fans berat Dalbert, nggak mau kehilangan dia!”
“…”
Gia merasa heran dengan penjelasan terakhir Dreschya.
“Maksud kamu apa, Dresch—”
“Biar gue jelasin tentang siapa Bang Berius!”
“Hm?”
“Dia itu dulunya Guildmaster! Bahkan dia itu dulunya Keeper Kasta Merah, sebelum akhirnya pensiun!”
“!!!”
Lagi, Gia dikejutkan dengan fakta yang keluar dari mulut Dreschya.
“Kalo misalkan Dalbert lawan Bang Berius, bisa-bisa dia…”
Dreschya tidak kuat untuk melanjutkan kalimatnya.
Akan tetapi, Gia tahu kata penutup dari kalimat Dreschya. Hanya saja, ia tidak mau menyebutkannya.
……………
“*Dor! Dor! Dor”
Dalbert terus menembak Berius yang mencarinya.
“Woy, pecundang! Tunjukin diri—”
“*Dor!”
“…”
Dalbert tidak memperdulikan cemooh dari Berius.
Ia terus menembaknya sambil bersembunyi dengan Obscure Cloak, jubah yang bisa membuat penggunanya kasat
mata.
“Oh, gitu ya? Artinya dia ubah Tubuh dia jadi nggak keliatan.”
Pikir Berius yang sadar akan cara Dalbert menyerangnya.
“Kalo gitu…”
“…”
Berius berlari ke suatu lokasi.
“Ah, ini di—”
“*Shruk!”
Ia tiba di lokasi tujuannya, yakni singa betina yang dibunuh oleh warga pemburu.
walaupun masih harus menghindari peluru yang tersasar ke suatu pohon.
Ia mengubah lengan bajanya menjadi sekop untuk mengambil darah dari jasad singa betina itu.
Setelah itu…
“*Crat!”
…ia mencipratkan darah itu ke sekitarnya, di mana terdapat sesuatu yang kasat mata, yang terciprat oleh darah singa yang ia cipratkan.
Tanpa basa-basi, ia pun langsung menghabisi Dalbert.
“*Shurk!”
“Gue akuin lo hebat. Sayang aja, lo cuma hebat kalo pake artifak aja.”
“…”
“Udah gue bilang kan? Lo nggak lebih dari Kasta Biru aja!”
Cemooh Berius kepada Dalbert.
Akan tetapi…
“…”
…tidak ada respon darinya.
Hal ini membuat Berius heran.
“Apa dia udah mati? Kenapa secepet itu matinya?”
Pikir Berius yang heran.
Hingga tiba-tiba, Berius melihat suatu kejanggalan dari Dalbert yang ia tusuk.
“…”
“!!!”
Ia begitu terkejut melihat tubuh Dalbert yang terurai di udara.
Dengan penampakan itu…
“Sialan! Orang itu bukan dia!”
…ia telat menyadari, bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Dalbert.
“*Shruk!”
“Argh!”
Jerit Berius setelah Dalbert menusuk pundaknya dari belakang dengan pisau biasa.
“Ke-Kenapa bi—”
“Haaah?! Kenapa bisa?! Maksud lo, kenapa bisa Kasta Biru yang cuma bisa pakai Artifact doang, bisa tusuk lo dari belakang?!”
Cemooh Dalbert yang membalas cemoohan Berius sebelumnya.
“Ja-Jangan lo pikir—”
“*Bhuk!”
“*Bruk…”
Berius pun tergeletak dan tidak bisa berdiri, setelah ia gagal menyerang Dalbert yang langsung memukulnya dengan ujung pisaunya.
“Ayo! Hina gue terus! Remehin gue terus!”
“…”
Berius heran dengannya yang senang dihina.
“Ke-Kenapa lo seneng dihina? Lo ini maso—”
“Karena pujian itu cuma bikin gue lengah doang! Makanya itu, apa yang lebih bagus daripada pujian?! Hinaan dan pandangan remeh! Karena kalo gue digituin, gue bisa buktiin kalo yang hina atau remehin gue itu salah besar!”
Seru Dalbert akan alasannya senang diremehkan.
Namun bagi Berius, daripada mempermasalahkan Dalbert yang menurutnya aneh, ia lebih mempermasalahkan
tentang caranya menyerang.
“Kenapa bisa… lo tiba-tiba di belakang gue?!”
Tanya Berius yang heran dengan keberhasilan Dalbert dalam menyerangnya.
“Hmph!”
Dalbert hanya tersenyum dengan angkuh, sebelum ia menjawab pertanyaannya.
“Liat jubah itu? Pasti lo pikir jubah itu Invisible Cloak, yang cuma bisa hilangin badan doang, kan?!”
“I-Iya—”
“Salah besar! Jubah itu tuh Obscure Cloak, yang bisa dipakai penggunanya untuk kecoh lawannya!”
“!!!”
Berius pun terkejut karena mengenal jubah yang Dalbert sebutkan.
“Makanya itu—”
“Lo buat semacam salinan Tubuh lo, terus lo pasangin Bracelet Armament supaya bisa tembakin gue. Gitu, kan?”
“!!!”
Kali ini, Dalbert yang dikejutkan dengan Berius yang mengetahui cara menyerangnya.
“Kalo emang gitu cara nyerang lo, artinya lo tau gue yang bakal bereaksi kalo diserang jarak jauh, tapi nggak bakal bereaksi kalo diserang jarak deket. Makanya itu, selama Obscure Cloak lo berhasil pancing perhatian gue, lo selalu jaga jarak lo sependek-pendeknya dari gue, supaya lo serang gue waktu gue lagi lengah. Bener, kan?”
“…”
“Lo diem doang. Artinya gue bener.”
Kata Berius sambil memandang Dalbert yang masih tidak percaya dengan dirinya yang bisa mengetahui cara menyerangnya dengan begitu rinci.
“Tapi…”
“…”
“Lo nggak bisa berhentiin gue begini aja, Kasta Biru!”
“!!!”
Dalbert pun langsung menyiapkan Bracelet Armament miliknya ketika mendengar seruan Berius.
“Gue harus… bunuh… eksperimen itu!”
Seru Berius sambil berusaha berdiri dan mempersiapkan suatu sihir terlarang, yang ditakuti oleh adiknya.
“Woy! Kenapa lo mau banget bunuh Machinno?!”
“…”
Berius hanya terdiam.
Hingga pada akhirnya…
“…aaaaaa…”
““!!!””
Mereka mendengar suatu teriakan yang mereka kenal.
“Suara itu…”
“Gawat! Itu suara Dreschya!”
Seru Berius sambil menghampiri suara itu.
Melihat Berius yang berlari tergesa-gesa, Dalbert pun mengejarnya dan bertanya.
“Woy! Adek lo nggak kenapa-kenapa, kan?! Dia nggak diserang Machinno, kan?!”
“Gue yakin nggak! Tapi bisa aja dia diserang sama yang lebih bahaya daripada sekedar monster itu doang!”
Jawab Berius.
“Yang lebih bahaya daripada Machinno?! Apa emang?!”
“…”
Kembali Berius terdiam ketika ditanya oleh Dalbert.
Aksinya membuat Dalbert gusar.
“Woy! Jawab gu—”
“Guild yang buat monster itu!”
“Guild?! Maksud lo Guild Petualang?!”
“Bukan Guild Petualang dari Centra Geoterra! Tapi…”
“…”
“Chemia Guild. Guild yang dipegang Petualang Keempat Terbaik di dunia. Yang juga…”
“Apa?!”
“Guild yang dulu gue bikin!”
“!!!”
Dalbert begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Berius adalah mantan Guildmaster dari Chemia Guild, Guild Terbesar Keempat di Geoterra.