
Akhirnya kita pergi ke ruangan yang ditunjuk Tetsuo.
Di sini Ayasaki langsung ngejawab pertanyaan Gia.
“Kaum Omega adalah mereka yang memiliki campuran antara Keabadian dan Kefanaan pada darahnya. Berdasarkan ramalan kuno, mereka dianggap sangat berbahaya. Karena salah satu dari antara mereka akan menjadi Sang Omega, sebuah entitas yang akan mengakhiri semesta ini.”
“M-Mengakhiri semesta ini?! Pantas saja jika Hakuya menerima intimidasi dari Kaum Beastfolk di tempat ini!”
“Hakuya kah namanya? Akhirnya aku mengetahui namanya.”
Oh iya ya. Kan Ayasaki nggak pernah tau nama anaknya sendiri.
“Ekor Hijau.”
“Lagi-lagi kau memanggilku—”
“Hakuya itu… anak lo, kan?”
“Ya. Kau benar, Myllo. Aku dengan sengaja menciptakan pria Darah Omega, karena aku berharap bahwa anakku bisa membunuhku.”
““!!!””
Ya. Pastinya mereka kaget dengernya.
“Oi, Ekor Hijau! Kok lo—”
“Mungkin reaksi gue sama kayak kalian. Tapi gue sendiri maklumin sama apa yang dia bilang. Lagipula, Melchizedek bilang gini ke gue.”
““…””
“Mahluk Fana mau Keabadian. Mahluk Abadi mau Kefanaan. Budak pasti selalu jadi budak untuk tuan lainnya.
Ya kurang lebih kayak gitu deh.”
Sekarang gue udah paham sama semua yang dibilang Melchizedek. Jadinya—
“M-M-Melchizedek…?! Apakah yang kau maksud adalah… Pahlawan Pertama Melchizedek, Djinn…?!”
“Y-Ya—”
“Bagaimana bisa seorang legenda berbicara kepadamu?!”
Luvast masih belom tau gue sebagai Pria Terjanji, ya?
““…””
Karena pertanyaan Luvast, gue sama Ayasaki jelasin semuanya tentang Pria Terjanji ke dia.
“M-Mustahil…! Apakah… kau harus menangung beban seberat itu, Djinn…?”
“Gue juga nggak mau sih. Bahkan gue pernah secara sukarela segel kekuatan gue. Tapi ujung-ujungnya mereka semua dibawa Leonard secara paksa. Makanya itu gue ambil balik kekuatan gue ini.”
““Djinn…””
Ya.
Mau jadi dewa atau apapun itu, seenggaknya gue harus bisa lindungin temen-temen gu—
“A-Apakah… Apakah kakek mengetahui tentang takdirmu sebagai seorang Pria Terjanji…?”
Bivomüne ya, maksudnya.
“Harusnya sih tau. Lagipula, sekarang jabatan Great Sage itu ada di dia.”
“!!!”
Lagi-lagi Luvast rekasinya sama kayak gue, waktu baru tau itu juga.
“Aneh. Padahal aku merasa sangat dekat dengannya. Namun hari demi hari aku merasa bahwa dirinya sangat misterius.”
Hm? Hari demi hari?
Eh iya. Daripada mikirin itu, ada yang mau gue tanya ke Ayasaki.
“Saki, gue mau tanya dong. Tentang Sakh—”
“Janganlah menyebut namanya, Djinn. Alangkah baiknya jika kau menyebutnya sebagai Ia Yang Terlupakan.”
Eh buset! Ribet banget panggilnya!
“E-Emangnya kenapa—”
“Jika kau menyebut namanya, semesta akan teringat kembali oleh keberadaannya.”
Hah?! Itu hiperbola atau beneran?!
“Emangnya kenapa kalo semesta tau lagi, Saki…?”
“Hari Penghakiman… akan terjadi lagi.”
““!!!””
Gila! Berarti musibah paling besar sepanjang sejarah itu… karena di—
“Apa yang hendak kau tanyakan tentangnya, Djinn?”
“Gue cuma penasaran aja. Apa mungkin gue ini… reinkarnasi dari dia?”
““Hm?””
Gue tau yang lain pada penasaran sama yang gue bilang. Tapi—
“Apa kau merasa seperti itu?”
“Ya. Mungkin gue belom liat semua tentang dia. Tapi kalo gue perhatiin siapa dia sama kekuatan dari Jiwa yang gue
punya, keliatannya agak masuk akal juga kalo gue reinkarnasi darinya.”
“Reinkarnasi, kah? Sejujurnya, reinkarnasi itu memiliki banyak arti.”
B-Banyak arti…?
“Ada yang reinkarnasi karena ia mengingat masa lalu pada diri sebelumnya. Ada yang reinkarnasi karena Jiwa yang ia miliki dari diri sebelumnya. Ada juga reinkarnasi dengan Roh dan Jiwa yang sama dari diri sebelumnya.”
“B-Berarti—”
“Melchi pernah berkata, bahwa pada dasarnya semua kembali kepada kepercayaan orang tersebut. Apakah ia adalah reinkarnasi dari diri sebelumnya atau tidak.”
I-Intinya semua balik ke sugesti,
ya?
Kalo gitu sih, gue juga nggak mau percaya kalo gue itu reinkarnasi Sakhtice! Tapi kalo diikutin pake logika, ada
kemungkinan besar kalo kekuatan gue ini mirip sama kekuatannya!
“Ny-Nyonya Ayasaki…? Eh, maksud aku, Ayasaki-sama…?”
“Hahaha! Kau tidak perlu ragu, Margia-chan. Tidak ada salahnya jika kau memanggilku dengan Ayasaki. Apa ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?”
“Aku jadi inget cerita Djinn tentang Pahlawan Alfgorth Vamulran sama Ocean Witch Syllia Laguna, yang diliat
Djinn.”
“Kira-kira gimana ya nasib mereka—”
“Hey, Gia. Hati-hatilah dengan pertanyaanmu. Bisa saja Nyonya Kazedori teringat akan masa lalunya—”
“Tenanglah, Luvast-chan. Aku bisa menjawab pertanyaannya, walaupun tidak banyak yang bisa kujelaskan.”
“…”
Mungkin Ayasaki ngomong gitu. Tapi tangannya gemeteran waktu mau jawab Gia.
“Sama seperti Flamiza, Syllia adalah korban dari Hari Penghakiman. Sementara Alfgorth, pria yang pertama
kali menemani Melchi, jugalah pria yang paling pertama meninggalkan dirinya. Itu semua adalah ungkapan kekecewaannya kepada Melchi. Bahkan semenjak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya.”
“Ayasaki…”
Duh, jadi kasian gue sama Ayasaki karena harus—
“Oh ya, Djinn. Lo pernah ceritain kan tentang senjata Myllo sama Gia, yang lo bilang mirip sama senjatanya… siapa
namanya?”
Untung aja Dalbert ingetin tentang itu!
Gara-gara Gia yang tiba-tiba tanya tentang Kaum Omega, tiba-tiba pertanyaan yang gue simpen di kepala gue
jadi buyar semua!
“Dalbert, apakah maksudmu senjata mereka berdua adalah senjata yang sama dengan senjata Melchi dan Feyroq?”
“Ya. Maksud gue begitu—”
“Hahahaha! Tentu saja berbeda!”
O-Oh…
Ternyata beda, ya…?
Gue kira mereka juga punya Ancient Armament—
“Pedang besar milik Margia tidak lebih dari sekedar fundamental dari senjata milik Feyroq yang bernama Dimension Shaker. Tetapi berbeda dengan tongkat Myllo, yang tidak lebih dari sekedar simbol saja.”
“Simbol…? Maksudnya…?”
“Dahulu kala, Melchi juga menggunakan sebuah tongkat besi biasa yang ia gunakan sebagai senjatanya.
Tetapi, tidak seperti semua Ancient Armament yang mengalir dengan kekuatan Dewa dan Dewi, tongkat tersebut tidak memiliki hal yang sama dengan senjata kami. Melchi sengaja melakukan hal itu karena satu alasan.”
“Satu alasan?”
“Ia terlalu kuat. Bahkan 1% kekuatannya mampu menghancurkan satu pulau. Karena itu ia menggunakan tongkat besi yang mampu membatasi kekuatannya.”
“O-Oh gitu—”
“Namun berbeda bagi setiap orang yang pada akhirnya menggunakan tongkatnya. Tidak ada kekuatan mereka yang dibatasi oleh senjata tersebut.
Karena itu ia mewariskan tongkatnya kepada penerusnya. Penerusnya juga mewariskannya kepada calon penerusnya juga. Uniknya, setiap orang yang diwariskan tongkat tersebut dianggap dunia sebagai seorang Pahlawan.”
““!!!””
Berarti siapapun yang punya tongkat itu, pasti jadi Pahlawan?!
“Enak aja! Emangnya kalo punya tongkat ini harus jadi Pahlawan?!”
“Tentu saja tidak, Myllo. Karena pada akhirnya, tongkat tersebut tidak lebih dari sekedar senjata yang digunakan
untuk latihan saja. Karena pada akhirnya mereka yang menggunakan tongkattersebut akan memiliki senjata baru yang lebih kuat dari tongkat itu.”
Oh, ternyata Melchizedek emang beneran pake tongkat itu sebelum Hari Penghakiman!
Pantes aja dia nggak keliatan pake tongkat itu, waktu di Kronovik atau waktu dia temuin Phoenix Party di—
“Hmm. Aku penasaran dengan kalian.”
“Hah? Ada apa, Ekor Hijau?”
“Dari beberapa Petualang yang bertemu denganku di dalam Hidden Dungeon of Breath, hampir mereka semua
bertanya kepadaku mengenai Titan Heart.”
““!!!””
“Anehnya, kalian sama seperti Greymore Landcross dan Sylvia Starfell. Tidak ada satupun dari antara
merekayang bertanya tentang lokasi Final Dun—”
“Nggak! Jangan kasih tau kita tentang itu!”
“Hm? Mengapa, Myllo? Bukankah kau juga—”
“Karena kalo langsung dikasih tau kayak gitu, gue ngerasa curang! Bukannya semua Petualang juga sama-sama usaha sekuat tenaga untuk temuin harta karun itu?!”
“M-Myllo! Tapi teh—”
“Semua Petualang selain Aquilla itu saingan gue! Gue mau bersaing secara adil! Karena itu salah satu cara gue
untuk jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!”
Ya. Bener yang Myllo bilang.
Lagian, kalo emang semua Hidden Dungeon sama Final Dungeon itu diciptain untuk gue, gue nggak mau dapetin
semuanya secara buru-buru!
“Hahaha! Baguslah, Myllo! Kukira selama tiga tahun belakangan, kau sudah melupakan janjimu pada Sylvia! Ternyata tidak juga!”
“Hehe! Cowok jantan itu harus bisa jawab tantangan! Karena Kak Sylv tantang itu ke gue, jadinya gue siap
untuk jawab tantangan dari dia! Nggak apa-apa kan, kalian semua?!”
Dia nanya gitu ke kita?
“Ya! Gue nggak masalah, Mil! Lagian kalo dapetin langsung jawabannya, yang ada kita malah nggak jelajahin
semua yang ada di Geoterra!”
“Aku juga setuju, Myllo! Aku juga ingin menjelajahi dunia bersama dengan kalian, sembari menjadi seorang
Swordsmage yang semakin kuat!”
“Ya! Aku juga setuju! Mungkin aja masih ada banyak cowok ganteng di dunia ini!”
“T-Teh Gia…?! Jangan lupakeun aing! Et, tapi teh aing juga mau teteh geulis lainnya atuh, ya…”
“Belom lagi Pegasus yang masih mau gue temuin!”
“Machinno… setuju.”
Untung deh kita semua juga setuju sama Myllo.