
Anggota Aquilla berhasil meyakinkan Myllo yang putus asa, setelah mereka sama-sama mengetahui tentang
identitas aslinya.
Bersama-sama mereka menunggu kesempatan untuk mengalahkan Leonard, yang telah membunuh Tarruc dan seluruh anggota Taurus Party.
Sementara di saat yang bersamaan, Leonard memasuki ruangan khusus bersama Zophiel.
“*Bruk…”
“Lo di sini aja! Gue mau lo fokus untuk kendaliin Wind Dragon Princess itu, sekaligus semua Mahluk Abadi yang ada di sini! Kalo sampe lo gagal, jangan muncul lagi lo di hadapan gue, Zophiel!”
“B-Baik, Tuan Leonard. Hamba berjanji tidak akan kehilangan kendali atas Wind Dragon Princess.”
Jawab Zophiel, sebelum ditinggalkan oleh Leonard.
“…”
Leonard kemudian pergi ke tempat yang lebih dalam dari Lapisan Bawah. Ia melewati adanya Ryūhime yang terdiam di dalam penjara bersama beberapa Mahluk Abadi lainnya.
“*Krieeek…”
Ia kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia lainnya, yang bahkan tidak diketahui oleh Zophiel, budaknya.
“…”
Di dalam ruangan itu ia menatap seseorang yang terikat rantai, serta mulut dan matanya yang tertutup.
“*Shrak…”
“Puah! Huff! Huff! Huff!”
Ia membuka penutup mulut pria tersebut, agar bisa berbicara dengannya.
“L-Lepaskan saya! Siapapun! Cepat lepaskan saya! Saya adalah—”
“*BRUK!!!”
“Kuaaaaagh!”
Pria tersebut diinjak dengan keras kakinya oleh Leonard hingga hancur.
“*Splash…”
Kemudian Leonard menyiram kaki pria itu dengan Potion yang sangat kuat, yang bahkan membentuk kembali kaki pria itu hingga sempurna seperti sebelumnya.
“K-Keterlaluan! Siapa anda sebenarnya?! Mengapa anda—”
“Masih berani lo ngoceh?! Apa kurang cukup kaki lo gue hancurin?! Mau ngerasain yang lebih sakit daripada
itu?!”
“…”
Pria tersebut terdiam dengan takut ketika mendengar ancaman dari Leonard.
“Denger gue baik-baik, orang yang merasa dirinya paling terhormat!”
“*Phak!”
“Lo nggak perlu khawatir lagi, karena besok lo bisa bebas!”
Seru Leonard, sambil menampar pria itu.
“B-Bisa bebas, anda bilang?! Mengapa tidak sekarang saja—”
“Bebas yang gue maksud itu, bisa bebas dari dunia ini! Bukan dari tempat ini!”
“!!!”
Pria tersebut kembali merasa terancam oleh Leonard, setelah mengetahui maksud darinya.
“A-Apa tujuan anda yang sebenarnya?! Mengapa saya harus tertindas seperti ini!”
“Hmm…”
Leonard tersenyum dengan sinis, sebelum ia menjawab pertanyaan pria itu.
“Gue mau lo mati!”
“M-Menginginkan kematian saya…?! Tidakkah anda ingat, bahwa aku adalah—”
“Kalo lo mati, seenggaknya rumah lo yang disebut Centra Geoterra itu jadi lebih waspada sama gue! Lagipula kematian lo itu bisa jadi bukti ke dunia, kalo kalian, warga suci yang tinggal di Centra Geoterra, nggak lebih daripada orang biasa! Lo paham nggak, Alduist Michaelson?!”
Seru Leonard kepada Alduist Michaelson, yang merupakan salah satu penghuni pusat pemerintahan di Geoterra.
……………
Di tempat lain, di sekitar Chaos Island.
“Hiks! Hiks! Hiks!”
Sonda masih menangis di tengah hutan, setelah ia menyaksikan kematian sesama rekannya di tangan Leonard.
“*Srrkk…”
Tiba-tiba ia mendengar bunyi semak-semak, seakan ada yang ingin menghampirinya.
“*Krrrttt…”
Oleh karena itu ia menyiapkan busur dan panahnya untuk mengantisipasi kedatangan seseorang dari balik
semak-semak itu.
“*Puink, puink, puink…”
“H-Hah…?”
…tidak lain adalah Machinno, yang menghilang dari Paul dan rekan-rekan Myllo lainnya.
“L-Lo itu… Machinno—”
“*Tap, tap, tap…”
“Machinno… mengerti perasaan wanita berbusur.”
“…”
Karena kata-kata dan tepukan Machinno yang lembut…
“Huaaahaaa!!!”
“*Tap, tap, tap…”
…Sonda makin menangis dengan sekeras-kerasnya, sementara Machinno berusaha untuk menghiburnya.
“Cepet cari mereka! Pokoknya kita harus dapetin mereka semua!”
““Siap!””
Ketiga Executioners masih mencari para Petualang yang telah melarikan diri.
“Ayo kita pergi sekarang, mumpung mereka udah lewat!”
““…””
Sedangkan Paul dan rekan-rekannya masih bersembunyi dari kejaran mereka, dengan aba-aba dari Ervi, sebagai satu-satunya Observer dari antara mereka semua.
……………
Keesokan harinya, pada pagi hari.
“*Tuuuttt! Tuuuutt!”
““…””
Ketiga Executioners berada di sebuah dermaga untuk menyambut kedatangan tamu undangan Leonard.
“Kemanakah Leonard Sang Penakluk? Mengapa kalian—”
“Anda nggak perlu khawatir, Yang Mulia Raja. Ini pertunjukan paling penting yang ditunggu Bos Leonard. Makanya itu dia lagi ada di dalam Chaoseum, untuk persiapin semuanya.”
Jelas Marwell kepada salah satu raja suatu kerajaan, yang datang bersama dengan pasukannya.
Selain raja itu, terdapat beberapa raja lainnya, serta beberapa kaisar dan pemimpin negara lainnya.
Satu hal kesamaan dari para pemimpin negara itu…
“Ini adalah pajak rakyat, bukan?”
“Hm. Sepertinya uang rakyat yang kita bawa sangatlah sedikit.”
“Mereka miskin karena pajak yang berat yang saya tetapkan kepada mereka? Jangan salahkan saya! Salahkan saja kedua orang tuanya yang melahirkan mereka dengan keterbatasan ekonomi!”
…adalah tindakan kotor mereka, yang sama-sama tidak memperdulikan rakyatnya.
““…””
Para pemimpin negara itu melewati beberapa anggota Leo, yang sedang berpatroli.
“Hm? Apakah mereka sedang berpatroli? Jika tidak, apakah anda sekalian sedang mencari seseorang?”
“Nggak. Mereka cuma patroli aja, Yang Mulia Kaisar.”
Jawab Marwell kepada salah seorang kaisar, sambil mengantar mereka masuk ke dalam Chaoseum.
Tetapi ketika dalam perjalanan, Marwell berusaha menahan kekesalannya terhadap para pemimpin negara itu.
“Dasar pemimpin negara biadab! Andai aja gue bisa bunuh mereka semua!”
Pikir Marwell akan para pemimpin negara itu.
Sementara itu, di bagian timur Chaos Island, di mana terdapat sekumpulan orang yang datang dengan sembunyi-sembunyi.
“Apakah ini pulau yang bernama Chaos?”
“Ya, Tuan Muda. Sesuai dengan informasi yang kita dapatkan, tempat ini dikuasai oleh mantan Petualang yang bernama Leonard Rochdale. Pria itu telah membunuh warga kita yang telah lama hilang. Ia juga mengalahkan dan menangkap adik anda. Jika tidak karena salah seorang warga yang mampu bertahan hidup dan memberikan informasi ini, mungkin saja kita tidak akan pernah menemukan adik anda, Tuan Muda.”
“Baiklah. Waktunya kita membunuh pria bernama Leonard Rochdale itu, sebelum kita pergi menjemput adik saya Luvast kembali ke Vamulran Kingdom.”
““Siap, Tuan Muda Rivrith!””
Balas 6 prajurit High Elf, kepada Rivrith Vamulran, yang memiliki jabatan di Vamulran Kingdom sebagai Tangan Kiri Raja, serta salah satu kandidat kuat sebagai calon raja, menjadikannya sebagai saingan dari ayahnya sendiri.
Di sisi lain Chaos Island, yang berada di sisi barat daya pulau tersebut.
“Kalian udah siap?”
““Siap, Djinn!””
“Yaudah. Kalo gitu, waktunya kita gerak sekarang, sesuai rencana kita.”
Djinn telah tiba Chaos Island bersama rekan-rekannya dari Kumotochi.