
“Djiiiinnnn! Oi! Bangun!”
“M-Mengapa ia sangat sulit dibangunkan?”
“Ya gitu deh, Luvast! Dia paling susah tidur, tapi paling susah dibangunin!”
“Et! Tapinya mah kalo Djinn karena ketiduran wae! Beda atuh sama Dalbert! Bahkan dari Chaoseum teh eta sianying belum bangun—”
“Bawel banget… kalian semua…! Ada apaan sih nih…?!”
“Hore. Dalbert… sudah bangun.”
“Uhm…”
Kok pada berisik sih? Baru aja tidur sejam aja. Tapi udah disuruh bangun…
“Ah! Dia juga udah bangun!”
“Djiiinnn!!! Kita udah mau sampe ke Kumotochi!”
Oh iya ya. Kan kita udah pada pergi dari Chaos Island. Makanya sekarang kita balik ke Kumotochi lagi, untuk
anter balik Tetsuo sama Bocil Naga. Selain itu, kita juga bawa sisa jasad Ryūtaro sama Giant yang namanya Ángroð.
“…”
Di belakang kapal kita juga ada kapalnya Andromeda sama Lynx. Mereka juga mau ikut ke Kumotochi.
Hmm… Kalo gue inget-inget lagi, semua bermula 6 hari yang lalu, sebelum kita pergi berlayar dari Chaos Island.
……………
“…”
Waktu itu gue kebangun. Gue liat Chaoseum udah rame lagi karena para Petualang udah balik.
“Myllo! Serius kamu nggak kenapa-kenapa?!”
“Hehe! Tenang aja, Gia! Gue udah…”
“*Bruk…”
““M-Myllo!””
“Ahaha… ternyata gue capek juga…”
Gue liat Myllo dikelilingin Luvast, Gia, sama Machinno.
“*Ngunggg…”
“Djinn! Sia teh udah sembuh, belum?! Aing harus ke Myllo secepetnya!”
“Lo mau sembuhin Myllo—”
“Para teteh geulis teh lagi pada di sana! Aing harus—”
“Masih sempet-sempetnya lo mesum!”
Waktu gue bangun, Garry udah ada di samping gue.
“Zorlyan! Alethra!”
“Ah…! Kalian semua… untung baik-baik aja…!”
Andromeda Party udah kumpul lagi.
“Bos! Untung aja lo belom mati!”
“S-Sialan lo… Evri…! Maksudnya… lo mau gue mati…?”
Lynx Party juga udah.
“Sonda! Lo nggak apa-apa?!”
“Gue… cuma kecapean kok…”
Walaupun udah nggak ada Taurus Party, seenggaknya Sonda bisa ketemu lagi sama Slasher.
Tapi kita yang sama-sama kumpul bareng, juga punya berita buruk.
“Eh iya! Siapapun! Tolong sembuhin Royce!”
“Ada apa sama Royce, Maha?!”
“D-Dia… paksain dirinya untuk pake Union…! Jadinya—”
“Y-Yaudah! Gue sembuhin dia secepetnya!”
Waktu itu Maha kepanikan karena kondisi Royce. Sama kayak Dalbert, dia juga belom sadar sama sekali.
“K-K-Kornell…”
“Daphine. Kalo lo butuh temen, gue ada di sini ya.”
Daphine harus kehilangan Kornell, yang selalu bareng dia dari Party lama mereka, sebelum dipaksa untuk ikut Leo
Guild.
“G-Gimana kondisi Ryūhime…?”
“Ia belum sadar. Tetapi Aku tidak bisa membayangkan apa respon dari-Nya, jika ia mengetahui diri-Nya sebagai
pembunuh Ryūtaro-kun.”
Bahkan Bocil Naga juga belom sadar, sehabis dia dikontrol Zophiel.
“Myllo, bagaimana dengan ibumu?”
“…”
“Baiklah. Kamu tidak perlu menjawab. Aku sudah mengerti apa yang terjadi.”
Myllo juga harus kehilangan Zophiel.
Jujur aja, gue sebenernya mau ketemu Zophiel. Ada banyak yang mau gue tanya ke dia tentang 5,000 tahun yang
lalu.
“L-Luvast…! Lengan kamu…”
“Aku baik-baik saja, Gia. Mungkin bekas luka ini tidak akan hilang untuk selamanya. Tetapi aku harap luka ini
bisa menjadi pengingat bagiku untuk tetap berlatih semakin kuat.”
Ya. Satu lagi lengan Luvast yang nggak bisa disembuhin.
“Vas…”
“Djinn! Apakah kamu baik-baik sa—”
“Lengan lo…”
“Tidakkah sudah kubilang, saudaraku? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan luka pada lenganku. Selama aku
masih bisa hidup dan menggunakan pedang dan sihir, maka aku pasti baik-baik saja.”
“…”
Mungkin dia bilang begitu. Tapi gue bisa liat dia yang sedih sama kondisi lengannya.
“Semuanya! Hati-hati! Ada orang Centra Geoterra yang mau dateng!”
““…””
Tiba-tiba Daphine ngomong kayak gitu. Nggak lama kemudian orang Centra Geoterra dateng. Kalo nggak salah grup mereka itu namanya Control Unit, di mana mereka mantau semua aktivitas yang dilakuin Petualang.
“Woy, Druetung! Ngapain lo di si—”
“Tunggu sebentar.”
““…””
Waktu dia nyamperin kita, Petualang, tiba-tiba dia buka Orb Call. Abis itu dia ngobrol lagi sama Myllo.
“Sepertinya kita bertemu lagi, Myllo Olfret.”
“Hmph! Emangnya gue mau ketemu lo la—”
“Apakah kalian yang bernama Zorlyan Qolinc dan Ollie Remington?”
“Woy! Jangan diemin gue!”
“…”
Druettus abis itu nyampein tujuan kedatangan dia ke kita.
Pertama, mereka sebenernya mau diem-diem pantau kegiatan Leonard di Chaos Island. Nggak taunya Leonard udah dikalahin. Jadi dia nggak perlu diem-diem lagi.
Kedua…
“Kepala Unit! Kami menemukan Tuan Alduist Michaelson!”
“Syukurlah kalian datang! S-Saya sangat khawatir dengan diri saya yang bisa terluka di tempat ini!”
…karena orang aneh dari Centra Geoterra itu.
“Baiklah. Sepertinya hanya itu saja yang kami lakukan di tempat ini. Alangkah baiknya kami pergi dari tempat
“Kira-kira kebohongan macem apa lagi yang mau lo sampein ke dunia, Druetung?!”
“Kebohongan? Apakah anda sedang membicarakan tentang semua yang terjadi di Dreaded Borderland, Myllo Oldret?”
“Hah?! Apa perlu gue tanya lagi tentang i—”
“Tenang saja. Jika popularitas yang anda inginkan, maka saya bisa memberikannya kepada anda. Tidak hanya anda saja, tetapi semua Petualang yang ada di tempat ini. Lagipula anda sekalian berhasil mengalahkan seorang Penakluk. Sepertinya tidak ada gunanya bagi saya untuk berbohong.”
“Emangnya gue langsung setuju gitu aja sama—”
“Ah ya. Karena pencapaian kalian dalam mengalahkan Penakluk, kalian bisa mengambil hadiah yang akan dikelola
oleh Centra Geoterra kepada kalian, pada setiap Guild Petualang yang akan kalian hampiri.”
“…”
Abis ngomong gitu, Druettus pergi bareng anggotanya, sambil bawa anggota Centra Geoterra itu, sekaligus tangkep Leonard.
Anehnya, gue nggak liat Velka sama sekali.
Kira-kira ke mana ya dia? Bukannya dia itu juga anggota Control Unit?
“Huh! Untung aja gue udah rasain beberapa orang yang juga mau ke sini!”
Ya. Kalo nggak ada Daphine, mungkin kita semua udah ketauan.
Khususnya Tetsuo, Bocil Naga, sama Giant yang namanya Ángroð.
“Apakah orang-orang yang berbicara dengan kalian telah pergi?”
“Ya. Mereka udah pergi. Untung aja ada Daphine yang tau mereka dateng! Bayangin aja kalo mereka tau ada
kalian, Tetsuo! Bisa-bisa Kumotochi dipantau terus sama mereka!”
“Kau benar, Daphine-san. Terima kasih sebelumnya karena telah mengingatkan kami.”
“Ya. Seenggaknya itu salah satu cara gue minta maaf ke kalian.”
Intinya semua udah selesai di Chaos Island.
Tapi sebelum kita pergi, kita sama-sama kubur semua Petualang yang jadi korban peperangan. Mereka kita kubur
di deket makamnya Tarruc, yang ada di utara pulau ini.
“Hiks! Hiks! Hiks! K-Kapten Tarruc…! Semuanya…!”
“K-Kornel…! M-Maafin gue kalo gue ada salah… Kornel…!”
““…””
Selesai kita kubur mereka semua, kita pergi dari Chaoseum.
……………
Sekarang, kita udah mau sampe Kumotochi.
“Kami-sama! Saint-sama!”
“Terpujilah Zegin-sama! Tanpa-Nya, mereka semua tidak akan bisa kembali dengan selamat!”
““…””
Padahal kita masih ada di perahu. Tapi kita udah disambut kayak prajurit yang pulang dari peperangan.
“Semuanya! Sambutlah Shogun-sama!”
““*Druk!””
““Selamat datang kembali, Shogun-sama!””
Nggak cuma warga aja yang dateng. Bahkan semua prajurit pun juga ikut sujud di depan kita.
“Wahai warga Kumotochi yang Kukasihi! Terima kasih karena menunggu kedatangan kami! Tanpa doa yang kalian
panjatkan kepada Zegin-sama, mungkin kami tidak akan bisa keluar dari tempat yang kacau balau itu dengan selamat! Mungkin ada korban dari antara kami, tetapi kami bisa—”
“Oi, Tetsuo! Lama banget sih?!”
“Eh…? S-Saint-san…?”
Eh buset! Parah banget Si Dongo satu ini! Kan orang lagi—
“Kenapa kita nggak langsung pesta besar-besaran aja!”
“Baiklah! Seperti yang disarankan Saint-san! Mari kita adakan Jiyū Omatsuri!”
““HOREEEEEE!!!!!!!””
““…””
D-Dasar Kapten kurang ajar…! Kan pimpinan negara lagi pidato!
“M-Myllo! Apakah sepantasnya kamu—”
“Hehe! Kalian pasti juga nggak sabar kan untuk lepas penat lewat pesta di negara ini?! Lagipula, pesta di
Kumotochi tuh seru banget, loh!”
“T-Tetapi—”
“Luvast. Nyerah aja, deh. Kalo Myllo udah nggak sabar untuk pesta sambil minum, dia pasti udah nggak bisa
ditahan lagi!”
“Teh Gia teh bener pisan, Teh Luvast! Eta sianying teh paling keras kepala dari antara kita! Udah susah mau dibilang gimana wae!”
“Ya gitulah Kapten lo itu, Luvast.”
“Machinno… setuju.”
Bener kata Gia, Garry, Dalbert, sama Machinno. Percuma aja Luvast mau bilang kayak gimanapun ke Myllo. Bahkan gue cuma bisa geleng-geleng kepala.
“Hihihihi! Maafin gue yang keras kepala ini! Tapi gue emang udah nggak sabar minum! Oh ya! Sebelum kita mulai
pesta bareng yang lain…”
““Hm?””
“Luvast! Selamat gabung balik bareng Aquilla! Akhirnya kita bisa kumpul sama-sama lagi! Hihihi!”
“Oh iya! Selamat datang lagi, Luvast!”
“Horeee! Akhirnya tambah satu teteh geulis di ieu Party!”
“Semoga sabar aja ya kalo petualangan bareng Myllo sama sodara lo!”
“Machinno… senang bertemu Luvast.”
Bener juga ya! Kan kita—
“Woy, Djinn! Parah banget! Kan Luvast sodara lo! Sampein sesuatu, kek!”
“Iya, iya! Bawel lo, dongo!”
“Hey, Djinn! Hormat sedikit dengan Kapten-mu!”
“M-Maaf…”
Malah digalakin Luvast deh gue!
“Luvast.”
““…””
“Selamat bergabung di Party aneh ini!”
G-Gue nggak tau mau nyampein apa, tapi cuma itu yang bisa gue—
“Woy! Kurang ajar! Masa lo bilang Party gue ini aneh?!”
“Emang iya! Apalagi Kapten-nya dongo kayak lo!”
“Djinn! Sudah kubilang! Hormatilah Kapten—”
“Haaaaah…! Di sini tuh udah biasa yang kayak gitu, Luvast!”
“Ah! Sabodo teuing sama mereka, Teh Luvast! Yang penting mah, ada teteh geulis baru di sini!”
“Party aneh?! Hmph! Padahal Si Bego yang paling aneh dari antara kita semua!”
“Hah?! Lo mau ribut, brengsek?!”
“Hah?! Siapa yang lo panggil brengsek, bego?!”
Nyambut balik sih, nyambut balik.
Tapi tetep aja Party aneh ini kacau kalo udah saling nyaut satu sama lain.
Walaupun begitu…
““Hahahaha!!!””
…gue yakin kalo Luvast pasti betah di Aquilla Party!