
“…”
Gue baru kelar kubur Shaylia yang
baru aja gue bunuh.
Sekarang, waktunya gue ambil Jiwa
Tarzyn.
“*Shruk… (suara menusuk)”
Mungkin di sini kan letak Jiwa?
Terus cara nyerep Jiwa gima—
“Urgh!”
Tangan gue mungkin nggak kebakar,
tapi kenapa rasanya panas banget, ya?!
Apa mungkin gue lagi nyerap
Jiwa-nya, ya?!
“…”
Pedang ini tiba-tiba makin terang
warnanya!
Tambah lagi, ada sinar-sinar
gitu!
Yang pasti, tangan gue kepanasan!
Ayo tahan, Djinn!
“…”
Panasnya langsung ilang?
“Kayaknya udah se…le…sai…”
“*Bruk… (suara terjatuh)”
Sialan, lagi-lagi gue pingsan.
……………
“Uhm…”
Kayaknya gue udah sadar.
Depan gue ada Gia bareng
anak-anaknya, sama Myllo yang masih belom sadar.
Nggak cuma mereka aja, di sini
juga ada Göhran, Rakhzar, Marquis Verde, beberapa suster, sama beberapa orang
yang pake baju zirah.
Tapi, kok gue kayak ada di kereta
kuda gitu?
Bukan, lebih tepatnya kayak
tronton!
Nggak mungkin kereta kuda
sepanjang i—
“Djinn!”
“*Puk! (suara memeluk erat)”
“Syukur kamu masih hidup!”
“Aduh, duh, duh! Sakit, woy!”
“Tenang. Kalo ceweknya secantik
aku pasti bikin sembuh kok pelukannya—”
“Gigi lo peang?! Minggir, woy!”
“Cih! Galak banget sama cewek!
Hmph!”
Dasar cewek sinting!
“Gia, ngomong-ngomong kita ada di
mana?!”
“Kereta Salamander milik Marquis
Verde. Kita nemuin kamu udah nggak sadar di deket jasad Tarzyn!”
“Terus, jasadnya gimana?”
“Jadi abu…”
Nggak tau kenapa, gue ngerasa
untung jasadnya kayak gitu.
Gue ngebayangin jasad segede gitu
dipake buat yang aneh-aneh.
“Terus, kita mau ke mana?”
“Di anter Marquis Verde balik ke
Riverfall.”
Syukur lah ada yang anterin.
Tapi sebelum gue mikir gitu…
“Gia, Myllo udah berapa lama
nggak sadar?”
“Semenjak dianter Göhran, dia
masih belum sadar.”
Myllo…
Jadi nggak enak gue minta dia
gerakin awan kayak gitu.
Oh ya, ada yang mau gue tanya ke
bangsawan ini.
“Marquis Verde, ada yang mau saya
tanya.”
“Hm?”
“House of Siegfried, kira-kira
mereka masih aktif nggak di Erviga?”
“Ya. Mereka adalah bangsawan yang
saya layani. Mengapa anda menanyakan itu kepada saya?”
Duh, gue jadi mikir jelasin ke
dia tentang—
“Apakah…anda mengetahui tentang
kebusukannya?”
Loh, kok dia nanya gitu?
“Tenang saja. Status hanyalah
sebatas status. Sudah saya bilang, bukan? Bahwa Bismont adalah teman saya.”
Hmm…mungkin nggak apa-apa gue
cerita ke dia.
Akhirnya gue ceritain semua
tentang Siegfried yang gue liat di ingetan masa lalunya Shaylia.
Waktu gue ceritain ke dia…
“Cih! Keterlaluan! Ternyata
mereka masih melakukan praktik tersebut, ya?!”
“Maksudnya?”
“Ketika saya pergi ke
kediamannya, saya melihat ada seorang Dragonewt yang melayaninya! Menurutnya,
Dragonewt itu adalah orang yang ia temukan ketika terlantar. Namun mendengar
cerita anda, saya mulai meragukan pernyataannya itu!”
Brengsek, artinya ada Dragonewt
yang dia budakin?!
“Aku juga mulai ingat akan
sesuatu mendengar nama itu. Namun, sepertinya Göhran lebih mengingat nama itu.”
“Ya, aku ingat. Siegfried adalah Manusia pertama
yang membunuh seorang Naga, atau yang lebih dikenal dengan nama Dracorion.
Namun tindakannya bukan tanpa dasar, mengingat ia adalah orang yang sangat
dicintai Putri Flamiza.”
““!!!””
Flamiza…suka sama Manusia?!
“Karena kematiannya itu…mulailah
Kaum Naga melaksanakan projek Dragonewt. Namun tidak kusangka keturunannya
menjadi keji seperti sekarang, mengingat Siegfried yang kukenal adalah
seseorang dengan hati lembut dan penyayang.”
Kalo itu Siegfried yang mereka
kenal, artinya udah ribuan tahun yang lalu.
Karena faktor lingkungan, belom
tentu juga pola pikir keturunan selurus sama pikiran nenek moyangnya.
“Djinn, saya hendak menyarankan
sesuatu berdasarkan firasat saya.”
“Apa?”
“Jangan anda sebut tentang
Dragonewt ketika melaporkan kejadian ini kepada Guild.”
“Kena—”
“Mereka…bertindak seperti itu
karena ulah nenek moyang kami. Maka dari itu, saya tidak kuasa jika ras mereka
semakin disalahkan karena kami semua. Dan lagi…sesuai dengan perkataan saya
sebelumnya, saya memiliki firasat tidak baik jika anda menyebut nama Dragonewt
ke Guild Petualang.”
Haaaah…politik emang ribet ya!
“Dan untuk anda berdua, Para Naga
yang selalu berada di samping Fire Dragon King Tarzyn, saya menyarankan agar
anda berdua, beserta Naga lainnya untuk segera menyembunyikan diri saja.”
“Menyembunyikan diri?! Hey,
Manusia! Anda pikir Mahluk Fana seperti anda bisa mengatasi Naga beserta
Dragonkin yang mengamuk?!”
“Ti…Tidak! Saya tidak bermaksud
meremehkan anda sekalian! Hanya saja…keberadaan anda sekalian sedang terancam!
Anda sekalian hanya akan diburu oleh para Mahluk Fana!”
Hmm…mungkin gue paham maksud
bangsawan ini.
“Rakhzar, mungkin maksud Marquis
Verde ini, supaya semua Naga dari dalem Hidden Dungeon itu nggak keluar dalam
wujud Naga. Bener kan, Marquis?”
“Ya. itu yang saya maksud.”
“Baiklah. Kami tidak akan
menampakkan diri dalam wujud Naga. Namun, kekacauan ini disebabkan oleh kaum
kami, maka kami tidak akan tinggal diam saja! Setidaknya kalian semua bisa mengizinkan
kami untuk menghentikan mereka, tidak?!”
“Ba…Baiklah.”
Untung mereka udah saling setuju.
Dari total 30 Naga yang ada di
dalem Hidden Dungeon, sekarang cuma sisa 9 aja, termasuk anak-anaknya Gia.
“Ma…Mama…”
“Iya anak-anak. Mereka nggak
perlu kalian denger, ya. Kalian pasti nggak ngerti.”
““Iyah, Mama…””
“Mending kita main tebak-tebakan
aja sama Mama!”
Enak ya jadi anak kecil, nggak
perlu mikir ribet kayak kita-kita ini.
“Haha! Tidak aku sangka ada
seorang Manusia yang mengasuh Naga!”
“Ya, kau benar Göhran!”
“Hahaha! Tindakan anda
mengingatkan akan seseorang!”
Pasti yang dimaksud Verde itu
Bismont, yang tau-tau ngasuh banyak mahluk Non-Manusia.
Ah, ngerokok aja ah.
Pusing sendiri gue mikir kayak
gini.
“Gue ke ujung kereta dulu, ya.”
“Anu, Tuan Djinn. Anda tidak
boleh banyak berge—”
“Gapapa, gue mau ngerokok dulu.
Takutnya di sini—”
“Justru itu! Sebaiknya anda tidak
boleh mero—”
“Biarkan saja, Suster.”
“Ba…Baiklah.”
Waktu gue mau gerak, emang berasa
lemes banget badan gue.
Untungnya sih gue masih bisa
bergerak.
“*Cis… (suara membakar rokok)”
“Fyuh…”
Shaylia…
Gimana cara gue jalanin janji gue
ke dia?
Tapi sebelum itu, gue lebih
mikirin gimana cara jelasin ke yang lain supaya terbuka sama tindakan yang
mungkin dia sesalin.
Apalagi, gimana respon Miraela
kalo dia tau Shaylia itu siapa sebenernya?
Haaah…
Pusing sendiri kalo gue pikirin.
Andai ada kopi untuk nemenin
rokok gue.
……………
Waktu kita sampe di Riverfall,
ada beberapa mayat Wyvern yang udah dihajar sama Alphonso, temen kakaknya
Myllo.
Sekarang udah dua hari semenjak
kita nyampe Riverfall.
Tadinya kita mau balik ke Guild
untuk kasih laporan Quest kita, sekalian nungguin Myllo sembuh.
Masalahnya, bocah ini tiba-tiba
ilang!
Kalo diculik, keliatannya nggak
mungkin.
Jadi satu-satunya tempat itu…
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Adudududuh!!!”
“Ngehe lo, Dongo! Udah yakin deh
gue kalo lo ada di sini!”
…ke Humpar Tavern, supaya dia
bisa minum!
“Woy! Kalo udah sembuh, harus
minum alkohol dulu baru—”
“Kasih tau dulu kalo mau pergi,
Dongo!”
“Haaaah?! Emangnya lo Guildmaster
yang harus dikasih lapo—”
“Ngomong lagi kamu, Myllo!”
“Ah, maaf…”
Untung Gia galak ke dia, biar tau
rasa Si Dongo satu ini!
“Haaaah! Kita kira dia ke mana,
nggak taunya malah minum!”
“Nggak disangka…ternyata dia segila
minum itu.”
“A…Anda senang sekali minum ya,
Myllo… Haha…”
Nggak cuma gue sama Gia aja yang
khawatir, bahkan Zorlyan, Maha, Royce, sama Winona juga panik ikut nyariin
Myllo.
Dasar ngerepotin nih bocah!
“Mending kita laporan dulu
tentang Quest kita.”
“Haaaaah?! Emangnya kalian belom
kasih laporan?!”
“Belom, lah! Kan kita nungguin
lo! Lagian kan semenjak Erkstern pergi, lo yang jadi pemimpin Joint Party!”
“Hah?! Emang iya, ya—”
“Myllo?!?!”
“I…Iya, iya, iya!”
Nah loh.
Untung aja belom digepengin Gia
tuh otak dongo lo itu.
Tapi sebelum kita jalan, kayaknya
ada yang harus gue sampein dulu deh.
“Oh ya, kalian nggak buru-buru
kan?”
““Hm?””
“Ada yang harus…gue sampein,
sebelum kita pergi ke Guild.”
““???””
Karena cerita ini bener-bener
rahasia, kita pun cari tempat aman supaya ceritanya aman.
Akhirnya kita pergi ke ruang
khusus tamu besar dari pemilik kedai ini.
……………
Waktu kita sampe, gue ceritain
semua yang gue ‘liat’ semenjak gue lawan Tarzyn.
Mulai dari gue dapet kekuatan
ini, masa lalu Tarzyn, sampe tentang Shaylia.
Yang paling berat itu…
“Ja…Jadi…papa aku itu…”
“Y…Ya.”
“O…OK, aku ngerti.”
…ceritain tentang ayahnya Winona.
Jujur aja, gue sendiri agak nggak
tega liat Winona yang kebanjiran air mata.
Bahkan gue mikir:
Ini tindakan yang bener nggak sih
cerita kayak gini?
Karena mikir gitu, gue pun nggak
cerita sepenuhnya.
Mending gue keep aja untuk
Myllo sama Gia.
“Artinya…ada bangsawan yang
senajis itu, ya…?”
“Ya. Makanya itu kita harus
waspada sama House of Siegfried itu, selama kita ada di negara ini.”
“Djinn benar, teman-teman. Bahkan
kakek aku pilih angkat kaki dari hierarki bangsawan karena mereka, walaupun
waktu itu dia seorang Duke.”
Gila.
Bahkan bangsawan aja pilih mundur
daripada—
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Keterlaluan! Berani-beraninya
mereka tindas penduduk asli negara ini sekejam itu!”
Udah gue duga.
Pasti Myllo yang paling kesel
denger ini semua.
“Myl, saran gue kita harus
kabarin ke Bismont soal ini.”
“Iya sih, tapi kabarinnya pake
apa?!”
Bener juga ya…
Andai kita bisa kabarin Bismont
kayak kita telfonan sama Luvast.
“Djinn, kira-kira ada yang mau
disampein lagi, nggak?”
“Gue rasa itu aja.”
“OK! Waktunya kita pergi ke
Guild!”
““Ya.””
“Selesai dari Guild, WAKTUNYA
KITA PESTA BESAR!!!”
““YA!!!””
Eh, berisik banget semuanya!
Pada nggak inget ya kita minjem
ruangan ini?!