Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 90. For Their Justice



“…”


Gue baru kelar kubur Shaylia yang


baru aja gue bunuh.


Sekarang, waktunya gue ambil Jiwa


Tarzyn.


“*Shruk… (suara menusuk)”


Mungkin di sini kan letak Jiwa?


Terus cara nyerep Jiwa gima—


“Urgh!”


Tangan gue mungkin nggak kebakar,


tapi kenapa rasanya panas banget, ya?!


Apa mungkin gue lagi nyerap


Jiwa-nya, ya?!


“…”


Pedang ini tiba-tiba makin terang


warnanya!


Tambah lagi, ada sinar-sinar


gitu!


Yang pasti, tangan gue kepanasan!


Ayo tahan, Djinn!


“…”


Panasnya langsung ilang?


“Kayaknya udah se…le…sai…”


“*Bruk… (suara terjatuh)”


Sialan, lagi-lagi gue pingsan.


……………


“Uhm…”


Kayaknya gue udah sadar.


Depan gue ada Gia bareng


anak-anaknya, sama Myllo yang masih belom sadar.


Nggak cuma mereka aja, di sini


juga ada Göhran, Rakhzar, Marquis Verde, beberapa suster, sama beberapa orang


yang pake baju zirah.


Tapi, kok gue kayak ada di kereta


kuda gitu?


Bukan, lebih tepatnya kayak


tronton!


Nggak mungkin kereta kuda


sepanjang i—


“Djinn!”


“*Puk! (suara memeluk erat)”


“Syukur kamu masih hidup!”


“Aduh, duh, duh! Sakit, woy!”


“Tenang. Kalo ceweknya secantik


aku pasti bikin sembuh kok pelukannya—”


“Gigi lo peang?! Minggir, woy!”


“Cih! Galak banget sama cewek!


Hmph!”


Dasar cewek sinting!


“Gia, ngomong-ngomong kita ada di


mana?!”


“Kereta Salamander milik Marquis


Verde. Kita nemuin kamu udah nggak sadar di deket jasad Tarzyn!”


“Terus, jasadnya gimana?”


“Jadi abu…”


Nggak tau kenapa, gue ngerasa


untung jasadnya kayak gitu.


Gue ngebayangin jasad segede gitu


dipake buat yang aneh-aneh.


“Terus, kita mau ke mana?”


“Di anter Marquis Verde balik ke


Riverfall.”


Syukur lah ada yang anterin.


Tapi sebelum gue mikir gitu…


“Gia, Myllo udah berapa lama


nggak sadar?”


“Semenjak dianter Göhran, dia


masih belum sadar.”


Myllo…


Jadi nggak enak gue minta dia


gerakin awan kayak gitu.


Oh ya, ada yang mau gue tanya ke


bangsawan ini.


“Marquis Verde, ada yang mau saya


tanya.”


“Hm?”


“House of Siegfried, kira-kira


mereka masih aktif nggak di Erviga?”


“Ya. Mereka adalah bangsawan yang


saya layani. Mengapa anda menanyakan itu kepada saya?”


Duh, gue jadi mikir jelasin ke


dia tentang—


“Apakah…anda mengetahui tentang


kebusukannya?”


Loh, kok dia nanya gitu?


“Tenang saja. Status hanyalah


sebatas status. Sudah saya bilang, bukan? Bahwa Bismont adalah teman saya.”


Hmm…mungkin nggak apa-apa gue


cerita ke dia.


Akhirnya gue ceritain semua


tentang Siegfried yang gue liat di ingetan masa lalunya Shaylia.


Waktu gue ceritain ke dia…


“Cih! Keterlaluan! Ternyata


mereka masih melakukan praktik tersebut, ya?!”


“Maksudnya?”


“Ketika saya pergi ke


kediamannya, saya melihat ada seorang Dragonewt yang melayaninya! Menurutnya,


Dragonewt itu adalah orang yang ia temukan ketika terlantar. Namun mendengar


cerita anda, saya mulai meragukan pernyataannya itu!”


Brengsek, artinya ada Dragonewt


yang dia budakin?!


“Aku juga mulai ingat akan


sesuatu mendengar nama itu. Namun, sepertinya Göhran lebih mengingat nama itu.”


“Ya, aku ingat. Siegfried adalah Manusia pertama


yang membunuh seorang Naga, atau yang lebih dikenal dengan nama Dracorion.


Namun tindakannya bukan tanpa dasar, mengingat ia adalah orang yang sangat


dicintai Putri Flamiza.”


““!!!””


Flamiza…suka sama Manusia?!


“Karena kematiannya itu…mulailah


Kaum Naga melaksanakan projek Dragonewt. Namun tidak kusangka keturunannya


menjadi keji seperti sekarang, mengingat Siegfried yang kukenal adalah


seseorang dengan hati lembut dan penyayang.”


Kalo itu Siegfried yang mereka


kenal, artinya udah ribuan tahun yang lalu.


Karena faktor lingkungan, belom


tentu juga pola pikir keturunan selurus sama pikiran nenek moyangnya.


“Djinn, saya hendak menyarankan


sesuatu berdasarkan firasat saya.”


“Apa?”


“Jangan anda sebut tentang


Dragonewt ketika melaporkan kejadian ini kepada Guild.”


“Kena—”


“Mereka…bertindak seperti itu


karena ulah nenek moyang kami. Maka dari itu, saya tidak kuasa jika ras mereka


semakin disalahkan karena kami semua. Dan lagi…sesuai dengan perkataan saya


sebelumnya, saya memiliki firasat tidak baik jika anda menyebut nama Dragonewt


ke Guild Petualang.”


Haaaah…politik emang ribet ya!


“Dan untuk anda berdua, Para Naga


yang selalu berada di samping Fire Dragon King Tarzyn, saya menyarankan agar


anda berdua, beserta Naga lainnya untuk segera menyembunyikan diri saja.”


“Menyembunyikan diri?! Hey,


Manusia! Anda pikir Mahluk Fana seperti anda bisa mengatasi Naga beserta


Dragonkin yang mengamuk?!”


“Ti…Tidak! Saya tidak bermaksud


meremehkan anda sekalian! Hanya saja…keberadaan anda sekalian sedang terancam!


Anda sekalian hanya akan diburu oleh para Mahluk Fana!”


Hmm…mungkin gue paham maksud


bangsawan ini.


“Rakhzar, mungkin maksud Marquis


Verde ini, supaya semua Naga dari dalem Hidden Dungeon itu nggak keluar dalam


wujud Naga. Bener kan, Marquis?”


“Ya. itu yang saya maksud.”


“Baiklah. Kami tidak akan


menampakkan diri dalam wujud Naga. Namun, kekacauan ini disebabkan oleh kaum


kami, maka kami tidak akan tinggal diam saja! Setidaknya kalian semua bisa mengizinkan


kami untuk menghentikan mereka, tidak?!”


“Ba…Baiklah.”


Untung mereka udah saling setuju.


Dari total 30 Naga yang ada di


dalem Hidden Dungeon, sekarang cuma sisa 9 aja, termasuk anak-anaknya Gia.


“Ma…Mama…”


“Iya anak-anak. Mereka nggak


perlu kalian denger, ya. Kalian pasti nggak ngerti.”


““Iyah, Mama…””


“Mending kita main tebak-tebakan


aja sama Mama!”


Enak ya jadi anak kecil, nggak


perlu mikir ribet kayak kita-kita ini.


“Haha! Tidak aku sangka ada


seorang Manusia yang mengasuh Naga!”


“Ya, kau benar Göhran!”


“Hahaha! Tindakan anda


mengingatkan akan seseorang!”


Pasti yang dimaksud Verde itu


Bismont, yang tau-tau ngasuh banyak mahluk Non-Manusia.


Ah, ngerokok aja ah.


Pusing sendiri gue mikir kayak


gini.


“Gue ke ujung kereta dulu, ya.”


“Anu, Tuan Djinn. Anda tidak


boleh banyak berge—”


“Gapapa, gue mau ngerokok dulu.


Takutnya di sini—”


“Justru itu! Sebaiknya anda tidak


boleh mero—”


“Biarkan saja, Suster.”


“Ba…Baiklah.”


Waktu gue mau gerak, emang berasa


lemes banget badan gue.


Untungnya sih gue masih bisa


bergerak.


“*Cis… (suara membakar rokok)”


“Fyuh…”


Shaylia…


Gimana cara gue jalanin janji gue


ke dia?


Tapi sebelum itu, gue lebih


mikirin gimana cara jelasin ke yang lain supaya terbuka sama tindakan yang


mungkin dia sesalin.


Apalagi, gimana respon Miraela


kalo dia tau Shaylia itu siapa sebenernya?


Haaah…


Pusing sendiri kalo gue pikirin.


Andai ada kopi untuk nemenin


rokok gue.


……………


Waktu kita sampe di Riverfall,


ada beberapa mayat Wyvern yang udah dihajar sama Alphonso, temen kakaknya


Myllo.


Sekarang udah dua hari semenjak


kita nyampe Riverfall.


Tadinya kita mau balik ke Guild


untuk kasih laporan Quest kita, sekalian nungguin Myllo sembuh.


Masalahnya, bocah ini tiba-tiba


ilang!


Kalo diculik, keliatannya nggak


mungkin.


Jadi satu-satunya tempat itu…


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Adudududuh!!!”


“Ngehe lo, Dongo! Udah yakin deh


gue kalo lo ada di sini!”


…ke Humpar Tavern, supaya dia


bisa minum!


“Woy! Kalo udah sembuh, harus


minum alkohol dulu baru—”


“Kasih tau dulu kalo mau pergi,


Dongo!”


“Haaaah?! Emangnya lo Guildmaster


yang harus dikasih lapo—”


“Ngomong lagi kamu, Myllo!”


“Ah, maaf…”


Untung Gia galak ke dia, biar tau


rasa Si Dongo satu ini!


“Haaaah! Kita kira dia ke mana,


nggak taunya malah minum!”


“Nggak disangka…ternyata dia segila


minum itu.”


“A…Anda senang sekali minum ya,


Myllo… Haha…”


Nggak cuma gue sama Gia aja yang


khawatir, bahkan Zorlyan, Maha, Royce, sama Winona juga panik ikut nyariin


Myllo.


Dasar ngerepotin nih bocah!


“Mending kita laporan dulu


tentang Quest kita.”


“Haaaaah?! Emangnya kalian belom


kasih laporan?!”


“Belom, lah! Kan kita nungguin


lo! Lagian kan semenjak Erkstern pergi, lo yang jadi pemimpin Joint Party!”


“Hah?! Emang iya, ya—”


“Myllo?!?!”


“I…Iya, iya, iya!”


Nah loh.


Untung aja belom digepengin Gia


tuh otak dongo lo itu.


Tapi sebelum kita jalan, kayaknya


ada yang harus gue sampein dulu deh.


“Oh ya, kalian nggak buru-buru


kan?”


““Hm?””


“Ada yang harus…gue sampein,


sebelum kita pergi ke Guild.”


““???””


Karena cerita ini bener-bener


rahasia, kita pun cari tempat aman supaya ceritanya aman.


Akhirnya kita pergi ke ruang


khusus tamu besar dari pemilik kedai ini.


……………


Waktu kita sampe, gue ceritain


semua yang gue ‘liat’ semenjak gue lawan Tarzyn.


Mulai dari gue dapet kekuatan


ini, masa lalu Tarzyn, sampe tentang Shaylia.


Yang paling berat itu…


“Ja…Jadi…papa aku itu…”


“Y…Ya.”


“O…OK, aku ngerti.”


…ceritain tentang ayahnya Winona.


Jujur aja, gue sendiri agak nggak


tega liat Winona yang kebanjiran air mata.


Bahkan gue mikir:


Ini tindakan yang bener nggak sih


cerita kayak gini?


Karena mikir gitu, gue pun nggak


cerita sepenuhnya.


Mending gue keep aja untuk


Myllo sama Gia.


“Artinya…ada bangsawan yang


senajis itu, ya…?”


“Ya. Makanya itu kita harus


waspada sama House of Siegfried itu, selama kita ada di negara ini.”


“Djinn benar, teman-teman. Bahkan


kakek aku pilih angkat kaki dari hierarki bangsawan karena mereka, walaupun


waktu itu dia seorang Duke.”


Gila.


Bahkan bangsawan aja pilih mundur


daripada—


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Keterlaluan! Berani-beraninya


mereka tindas penduduk asli negara ini sekejam itu!”


Udah gue duga.


Pasti Myllo yang paling kesel


denger ini semua.


“Myl, saran gue kita harus


kabarin ke Bismont soal ini.”


“Iya sih, tapi kabarinnya pake


apa?!”


Bener juga ya…


Andai kita bisa kabarin Bismont


kayak kita telfonan sama Luvast.


“Djinn, kira-kira ada yang mau


disampein lagi, nggak?”


“Gue rasa itu aja.”


“OK! Waktunya kita pergi ke


Guild!”


““Ya.””


“Selesai dari Guild, WAKTUNYA


KITA PESTA BESAR!!!”


““YA!!!””


Eh, berisik banget semuanya!


Pada nggak inget ya kita minjem


ruangan ini?!