
Sebelum Djinn dan rekan-rekannya berada di tengah peperangan, beberapa hari yang lalu.
“Hiks! Hiks! Hiks!”
“Bisa diem, nggak?!”
“Ma-Ma-Maaf…”
Para anggota kelompok yang menyerang Gazomatron Federation masih menyandera seluruh isi kota Voxhaben Point. Mereka sengaja menyandera seluruh warga tidak bersalah itu dengan satu tujuan.
“Kapten. Kita jadinya gimana?”
“Kita tunggu respon dari Dandur! Pokoknya, prioritas utama kita itu sanak saudara kita!”
Jawab Kapten tersebut, yang bertujuan untuk membebaskan sanak saudara yang ditahan oleh Dandur Bonesteel.
“Bella, jadi kita harus gimana?”
“Panggil semuanya, Devania. Biar gue jelasin tentang rencana kita selanjutnya.”
“OK, Bella.”
Jawab wanita yang bernama Devania kepada Bella.
Dengan begitu, Bella memimpin rapat singkat bersama dengan seluruh anggota kelompoknya secara langsung, maupun dengan Orb Call.
“Gimana? Udah ada yang terima jawaban dari Snellsham?”
Tanya Bella kepada seluruh anggotanya.
“Belum, Kapten.”
“Kami juga belom, Kapten.”
Jawab seluruh anggota kelompok tersebut.
“…”
“Bella?”
Tanya Devania, ketika meihat Bella yang diam saja.
“Kita kirim surat ancaman lagi! Sampe nggak ada satupun respon dari Gazomatron, artinya kita semua serang tiga kota lainnya!”
““!!!””
Semua terkejut ketika mendengar perintah Bella.
“Kapten! Serius kita mau serang mereka secara terbuka?!”
“Itu sama aja bunuh diri, Kapten!”
“Kalo kita serang mereka…”
“Kita bisa kalah karena jumlah mereka sama teknologi yang mereka punya!”
Seru seluruh anggota kelompok yang mempertanyakan perintah Bella.
“Kalian semua, denger gue!”
““…””
“Percaya sama kekuatan kalian! Gue tau kalian takut sama kekuatan kalian! Tapi kalo kalian nggak pake itu sekarang juga, bisa-bisa usaha kita sia-sia!”
Seru Bella yang berusaha untuk meyakinkan seluruh anggotanya.
“Gue tau kalo kekuatan kita ini bahaya! Tapi demi saudara-saudara kita, mau nggak mau kita harus pake kekuatan kita ini!”
““…””
Semua diam tertegun ketika mendengar seruan Bella.
Sementara Bella masih berusaha meyakinkan mereka semua, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suatu kedatangan yang tidak mereka sangka.
“*Boom!”
““*Drap! Drap! Drap!””
Setelah terdengar suara ledakan dari jauh, beberapa anggota kelompok tersebut dikejutkan dengan kedatangan beberapa unit yang unik.
“La-Lapor, Kapten!”
“A-Ada Gazobot yang masuk kota ini!”
““!!!””
“*Ngungg…”
“Kepada kelompok yang menyerang Voxhaben! Kalian semua akan kami tangkap! Serahkan diri kalian, atau mati di tangan kami!”
Seru salah satu unit yang memimpin seluruh unit Gazobot.
Mendengar pernyataan tersebut, seluruh anggota kelompok tersebut sudah memiliki satu jawaban yang pasti.
“Bella, artinya ini…”
“Mau nggak mau, kita harus perang terbuka.”
Balas Bella, yang sama yakinnya dengan seluruh anggota kelompok, bahwa tidak ada pilihan lain.
“Semua! Denger gue baik-baik!”
““…””
“Serang semua Gazobot yang serang kita! Tapi jangan kalian macem-macem sama warga awam negara ini!”
““Siap, Kapten!””
Seru seluruh anggota kepada Bella.
……………
Mereka pun berperang selama kurang lebih satu hari melawan pasukan Gazobot.
“Ba-Bahaya! Kita tidak akan—”
“*Vwumm!”
“Aaaargh!”
Satu unit terakhir berhasil dikalahkan oleh beberapa anggota kelompok tersebut.
Namun, bukan berarti serangan tersebut tanpa pengorbanan.
“Lapor, Kapten Bella!”
“Apa?”
“Dari total 300 anggota kita, ada sekitar 70 orang yang luka ringan, 14 luka berat, 6 meninggal dunia!”
Lapor salah satu anggota tersebut kepada Bella.
“Devania, gimana kabar yang luka-luka?”
“Sebentar lagi mereka sembuh, Bella! Nanti mereka siap untuk ikut ke lapangan lagi!”
“Bagus, Tim Medis!”
Seru Bella kepada Devania, selaku pimpinan Tim Medis.
“…”
Bella terdiam sejenak karena memikirkan strategi selanjutnya.
“Dari 300, 6 udah mati. Artinya masih ada 294 orang lagi, ya?”
Pikir Bella, sebelum memaparkan strateginya.
“Denger, kalian semua!”
““…””
“Sekarang jumlah kita masih ada 294! Gue mau kita semua dibagi jadi 3 grup! Pertama, Grup Brichaudry, yang dipimpin Bhryndo! Selanjutnya, Grup Snellsham, yang dipimpin Devania! Terakhir, Grup Duskmere, yang gue pimpin!”
Jelas Bella kepada mereka semua.
“Kapten! Tujuan perang ini…”
“Ya. Nggak perlu sandera lagi! Siapapun yang halangin jalan kita, mau nggak mau kita lawan! Kita perang untuk saudara-saudara kita! Karena udah ada korban jiwa dari pihak kita, jangan kasih ampun! Paham kalian semua?!”
“Siap, Kapten!”
Sahut seluruh anggota, sambil berjalan untuk menyerang seluruh kota lainnya, tanpa memikirkan beberapa hal tidak terduga yang menghadang jalan mereka.