
Peperangan antara Perlawanan dengan Bakufu berhenti. Itu semua karena Ryūhime yang datang menampakkan dirinya di hadapan mereka semua.
“A-Apakah Ia adalah—”
“T-Tidak salah lagi, Tanzō-dono! Ia adalah Ryūhime-sama!”
“Oh! Dia udah dateng, ya?!”
““…””
Semua menyaksikan kedatangan Ryūhime, dengan tidak percaya ketika melihatnya dalam rupa anak kecil.
“Cih! Kenapa dia malah balik lagi—”
“Tunggu, Djinn!”
“…”
Djinn pun menghentikan langkahnya, ketika Myllo memintanya untuk berhenti.
“Jadi kita harus gimana?”
““…””
Semua anggota Kagebuntai terdiam sejenak ketika salah seorang Kitsune bertanya. Kemudian salah seorang Kitsune lainnya menjawab pertanyaannya.
“Penangkapan Ryūhime itu urusan para prajurit Bakufu. Sedangkan kita di sini untuk basmi ancaman paling berbahaya yang ada di tempat ini.”
“Berarti…”
“Ya. Tiga orang itu (Myllo, Djinn, dan Dalbert) harus kita bunuh sekarang juga!”
““…””
Dengan adanya pernyataan itu, maka seluruh anggota Kagebuntai hendak menghampiri Myllo, Djinn, dan Dalbert, dengan maksud membunuh mereka.
Akan tetapi…
“H-Hentikan!”
““…””
…para Kepala Komisi, yang terdiri dari Nagamichi, Yasukata, dan Hirosuke, berlutut di hadapan mereka, dengan maksud untuk menghadang jalan mereka.
“Ngapain kalian di sini—”
“Ryūhime… telah menyerahkan diri. Jika kita melanjutkan pertarungan di tempat ini—”
“*DHUMMM!!!”
““!!!””
Seketika salah seorang Kitsune mengeluarkan aura yang besar, hingga mengejutkan semua yang berada di sekitar Kochi Village.
Termasuk Djinn.
“A-Anjing…! B-Badan gue… nggak bisa bergerak…! Kalo gue masih punya kekuatan gue… mungkin gue nggak perlu takut kayak gini…!”
Pikirnya dengan kesal, karena tidak bisa berbuat apa-apa ketika merasakan aura tersebut.
““…””
Ketiga Kepala Komisi tidak bergerak. Mereka tetap berlutut di hadapan mereka.
“Minggir.”
“T-Tidak akan…! J-Jika hamba beranjak dari sini… maka akan ada pertumpahan darah lagi…!”
Seru Nagamichi, dengan gemetar ketakutan.
“Haaaaah…! Kalo lo emang takut ada pertumpahan darah lagi…”
“*Shringgg…”
“…seenggaknya lo harus berani bayar permintaan lo, pake darah lo.”
Sahut salah seorang Kitsune kepada Nagamichi, sambil menghunuskan pedangnya.
“T-Ti-Tidak…! N-Nagamichi! Yasukata! Pergilah dari—”
“*Tap…”
“Hentikan… Tanzō-dono…! Jangan membuat keadaan semakin kacau…!”
Bisik Nakatoki kepada Katanaka, sambil menahan pundaknya.
Karena apa yang diperbuat Nakatoki…
“Keuk…! Mungkin mereka adalah lawan…! Tetapi mereka… jugalah teman masa kecil saya…!”
…Katanaka tidak berdaya, selagi menyaksikan teman-temannya yang akan dibunuh.
“*Swush…”
Kitsune tersebut mengayunkan pedangnya pada leher Nagamichi.
Akan tetapi…
“*Trang!”
“!!!”
…seorang Kitsune datang dan mematahkan pedang tersebut.
“L-Lo itu—”
“Ara…? Bisa ya kamu bicara nggak sopan ke Leluhur Klan?”
Bisik Kitsune wanita itu kepada Kitsune yang hendak membunuh Nagamichi.
““*Druk…””
““Miyako-sama!””
Seru seluruh anggota Kagebuntai kepada Miyako, yang tiba-tiba datang di tengah peperangan.
“E-Ehem!”
“Kepada seluruh anggota Bakufu! Ryūhime telah kalian tangkap! Tunggu apa lagi?! Cepat pergi dari tempat ini!”
““Baik! Kazedori-sama!””
“Kepada Kagebuntai! Alangkah baiknya jika kalian juga pergi dari tempat ini secepatnya! Tidak ada baiknya
jika membuat warga Kochi semakin ketakutan!”
““Baik! Leluhur Klan!””
Semua pihak Bakufu mulai menjalankan perintah Miyako. Mereka bersama-sama menangkap Ryūhime dan pergi secepatnya dari Kochi Village.
“R-Ryūhime-sama…!”
“M-Maafkan saya… yang gagal jaga Anda…!”
“…”
Ryūhime hanya menatap Ryūtaro dan Shinikichi yang mengkhawatirkannya.
“Ayah benar-benar kecewa dengan anak sepertimu, Tsuruki!”
“Hmph! Emangnya gue ini lo anggep anak?! Bukannya gue ini nggak lebih dari sekedar prajurit?!”
Seru Tsuruki kepada Yasukata, ayahnya. Sebagai seorang yang mengkhianati Bakufu, Tsuruki pun dibiarkan untuk menetap bersama anggota Perlawanan.
“…”
“A-Aniue…!”
Bisik Nekomi dengan kesal, sambil menyaksikan kakaknya, Yukiari, berjalan bersama anggota Bakufu.
Dengan kepergian anggota Bakufu, maka dapat disimpulkan, bahwa Perlawanan memenangkan pertarungan, tetapi kalah dalam peperangan.
““…””
Anggota Aquilla hanya bisa meratapi konklusi dari peperangan di Kochi Village.
“M-Myllo… terus kita harus gimana—”
“Hm? Kamu yang disebut Myllo Olfret-kun, ya?”
“Hah?”
Gumam Myllo dengan heran, ketika Miyako yang datang menghampirinya, saat Gia sedang bertanya kepadanya.
“Hmm…”
“…”
“Badan kamu ramping juga, ya. Walaupun Jiwa kamu nggak aktif, ternyata kamu bisa punya kekuatan besar untuk pakai {Kazedoryū}.”
Bisik Miyako, sambil mengelilingi Myllo.
“Kok kamu bisa sekuat itu, Myllo-kun?”
“Hehe! Kan gue adeknya Kak Sylv! Tambah lagi, Ekor Hijau juga guru gue! Dia kuat banget!”
“Hm…?! Maksud kamu tuh, aku?”
“Hah?! Ya nggak, lah! Eh, kalo dipikir-pikir, ekor lo juga sama-sama hijau kayak Ekor Hijau! Ahahaha!”
Jawab Myllo, dengan ditutup dengan tawa.
“Yaudah. Mungkin itu aja yang mau aku cari tau. Kalo gitu, aku pergi dulu ya, Myllo-kun.”
Kata Miyako, sebelum pergi meninggalkan Myllo dan Aquilla.
Tetapi sambil berjalan bersama para pihak Bakufu lainnya…
“Nggak salah lagi. Pasti dia yang ajarin Manusia itu!”
…Miyako menemukan identitas asli dari wanita yang Myllo sebut Ekor Hijau.
““…””
Seluruh pihak Bakufu telah pergi dengan membawa Ryūhime.
“S-S-Sial…!”
“Terus… apa yang akan terjadi jika Ryūhime-sama ditangkap…?”
“Jika Ryūhime-sama tertangkap… maka keseimbangan kekuatan antara Wind Dragon dan Kitsune… menjadi tidak stabil…!”
“Dengan kata lain… Bakufu akan menjadi semakin menguasai Kumotochi… dan menjadi lebih semena-mena…! Sementara warga Kumotochi… akan semakin sengsara…!”
““…””
Seluruh warga Kumotochi, baik warga Kochi Village, anggota Perlawanan, maupun Ryūtaro, menjadi putus asa dengan kondisi saat ini.
Namun dengan kondisi yang mereka rasakan saat ini…
“Hehe!”
…Myllo justru tertawa.
“Jadi, ini semua udah sesuai sama rencana lo kan, Djinn?!”
“Gue cuma mikir kalo ada kemungkinan kayak gini. Tapi yang punya cara untuk antisipasi kejadian kayak gini tuh, Dalbert.”
Balas Djinn sambil tersenyum.
“Myllo! Djinn! Kalian yakin kalo mereka baik-baik aja?!”
Tanya Gia yang khawatir dengan rencana yang Djinn bicarakan.
“Kalo itu sih, kemungkinan besar mereka baik-baik aja. Tapi yang penting itu, mereka harus berhasil untuk jalanin rencana selanjutnya.”
Balas Djinn kepada Gia.
“Terus… gimana cara mereka berhasil…?”
“Machinno. Dia kuncinya.”
Jawab Djinn dengan sedikit khawatir terhadap Machinno.