Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 325. The Kidnappers



Saat ini, di sekitar Hazhroom Forest.


“…”


“Aku telah membuat pria ini terlelap! Bagaimana dengan kondisi Djinn Dracorion?!”


“Kepalanya teh ada pendarahan! Aing harus sembuhkeun heula secepetnya, Teh Ambrolis!”


“Bagaimana dengan Machinno?!”


“Kalo Machinno teh kondisinya udah stabil! Sekarang prioritas aing teh sianying satu kieu, Teh Ambrolis!”


“…”


Djinn tidak sadarkan diri, setelah salah seorang warga Mushmush yang memukulnya dengan balok kayu besar. Karena kejadian tersebut, Garry dan Ambrolis menjadi resah karena kehilangan sesosok pemimpin yang dipercaya oleh Myllo.


……………


Sedangkan di sisi lain, di Mushmush Village.


“Semuanya udah siap berpatroli?!”


“Siap, Purong!”


“Baiklah. Kita jalan sekarang!”


““…””


Purong bersiap untuk memimpin regunya untuk berpatroli mengelilingi Hazhroom Forest.


“Ah, mereka udah pergi ya?!”


“Semoga aja mereka bisa temuin warga desa yang hilang, deh!”


“Daripada harapin Petualang yang dibayar Pak Kepala Desa, mending Purong yang sayang sama kita semua!”


“Bener juga, sih! Kan semua Petualang yang dibayar Pak Kepala Desa sama semua! Ujung-ujungnya mereka udah nyerah duluan, terus pergi tinggalin pulau ini!”


Sahut beberapa warga desa, ketika menyambut kepergian regu yang dipimpin Purong.


Namun dari antara mereka semua, ada satu orang yang merasakan suatu kejanggalan dari momen tersebut.


“Hey, nanti anda tolong…”


“Siap, Pak Kepala Desa!”


Balas salah seorang warga yang bekerja untuk Sashruu Mushmush, Kepala Desa Mushmush Village, sebagai pria yang merasakan kejanggalan tersebut.


Setelah Purong pergi bersama ragu yang ia pimpin, semua warga Mushmush melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.


“Jamurnya udah bagus, nih. Udah siap panen.”


“Bagus, deh. Kalo gitu, tolong bawain jamur ini ya, Farah.”


“Baik, bibi!”


Jawab seorang anak kecil bernama Farah, sambil mengangkat sebuah keranjang berisi jamur yang telah dipetik oleh bibinya.


“…”


Ia pun membawa keranjang tersebut ke salah seorang pedagang yang berada di Mushmush Village.


“Ini ya uangnya, Farah! Sekaligus paman kasih Bir Stroberi dari Xia Village[1] untuk bibi kamu! Salam ya untuk dia!”


“Hihi! Makasih, paman!”


Balas Farah dengan riang, yang langsung bergegas kembali menuju rumahnya, sambil membawa botol alkohol tersebut.


Akan tetapi, keriangannya hanya bersifat sementara.


“Bibi Fika! Aku udah pu…”


“Halo, Farah. Udah dikasih uangnya ke—”


“*Chrang…”


Farah sangat terkejut, ketika mendapati adanya Sashruu dan beberapa warga desa yang berada bersama bibinya yang bernama Fika. Ia sangat terkejut, hingga menjatuhkan botol alkohol tersebut.


“…”


“Eh?! F-Farah?!”


Sahut Fika, ketika ia melihat Farah yang langsung berlari meninggalkan rumahnya.


“Maaf ya, Bu Fika. Tapi saya harus bicara dua mata sama anak kecil itu.”


“E-Eeeh?! A-Ada apa sama keponakan saya, Pak Kepala De—”


“Cepet tangkep anak kecil itu!”


““Siap, Pak Kepala Desa!””


Balas beberapa warga desa yang berada di rumah Farah bersama Sashruu.


“Pak Kepala Desa! Bisa dijelasin ke saya urusan bapak sama keponakan sa—”


“Maaf sebelumnya, Bu Fika. Sama kayak ibu, saya juga butuh jawaban dari keponakan ibu, yang tiba-tiba lari begitu waktu liat kami.”


Jawab Sashruu kepada Fika.


“Huff, huff, huff…”


Farah terus berlari dengan ketakutan.


“Eh, adek kecil! Tunggu dulu!”


“Kita nggak ada maksud untuk berbuat jahat!”


Balas beberapa warga yang mengejar Farah.


“Eh, ada apa tuh?!”


“Bukannya mereka kerja untuk Pak Kepala Desa?!”


“Kenapa mereka ngejar anak kecil itu?!”


Sahut beberapa warga yang menyaksikan kejadian tersebut.


Hingga akhirnya…


“*Bruk…”


“Aduh!”


…Farah terjatuh karena tersandung.


“Adek kecil!”


“*Tap!”


“Kenapa lari dari kita, adek kecil?!”


Tanya seorang warga yang berhasil menangkap Farah.


“Kita nggak ada maksud untuk—”


“Jangan! Aku nggak mau kehilangan bibi! Aku nggak mau kehilangan nyawa aku!”


““!!!””


Teriak Farah, yang membuat warga yang mengejarnya terkejut dengan heran.


““…””


Sashruu yang datang bersama Fika mendengar teriakannya.


“Hey, kalian! Bawa anak itu ke tempat saya! Buat pengawalan seketat-ketatnya!”


““Siap, Pak Kepala Desa!””


Balas beberapa warga, yang langsung membawa Farah bersama Fika menuju kediaman milik Sashruu.


Setelah itu, hampir seluruh warga yang bekerja untuk Sashruu pergi menuju rumahnya untuk menjaga tempat tersebut, baik dari luar maupun dalam.


“Hiks, hiks, hiks…”


“Jadi Dek Farah udah kehilangan kedua orang tuanya, ya?”


“Ya. Abang dan kakak ipar saya meninggal karena keracunan Jamur Raksasa, sewaktu mereka lagi patroli bareng Purong, Pak Kepala Desa.”


Jelas Fika kepada Sashruu.


“Dek Farah.”


“…”


“Kenapa adek takut waktu liat saya di rumah adek?”


“…”


Farah tidak menjawab. Ia masih gemetar ketakutan.


Hal tersebut membuat mereka yang berada di ruangan milik Sashruu merasa heran, termasuk bibinya.


“Farah…”


“…”


“Ditanyain Pak Kepala Desa, tuh. Tolong jawab aja ya, nak.”


“…”


Masih belum ada jawaban dari Farah.


“Farah, kenapa kamu—”


“K-Kalo aku jelasin… nanti kita dibunuh, bi!”


““!!!””


Semua terkejut dengan penjelasannya.


“M-Maksud kamu apa, nak—”


“Aku nggak mau kehilangan bibi! Cukup mama papa aja yang—”


“Nak, denger bibi.”


“*Phuk…”


“Sampai kamu dewasa dan bisa hidup sendiri, bibi janji untuk nggak kehilangan nyawa bibi atau kehilangan


kamu. Bibi udah janji begitu kan, sebelumnya?”


“…”


Karena pelukan dan kata-kata dari bibinya, Farah pun mulai berani untuk menjelaskan semuanya.


“M-Ma… Mama papa meninggal bukan karena keracunan Jamur Raksasa…”


““!!!””


Lagi, semua yang mendengar Farah dikejutkan dengan fakta baru yang keluar dari mulutnya.


“A-Aku waktu itu mau tau pekerjaan mama papa. Ja-Jadinya aku ikutin mereka berdua, yang jadi anggota patroli warga yang hilang.”


“Ikutin mereka berdua?! Kenapa kamu nekat ikutin—”


“Bu, tolong tenang dulu. Biarin keponakan anda jelasin semuanya.”


Potong Sashruu, ketika Fika memotong penjelasan keponakannya.


“A-Abis itu… aku liat kalo kostum mereka… dilepas!”


“Di-Dilepas?!”


“Pantes aja mereka keracunan!”


“Kan seragam itu bikin kebal dari polusi dari jamur-jamur itu!”


Seru beberapa warga yang berada di dalam ruangan milik Sashruu, setelah mendengar penjelasan Farah.


Karena itu…


“Bisa diam nggak, kalian berdua?!”


“Hiieekh!”


…Sashruu pun marah kepada mereka.


“Dek Farah bilang, kostum orang tua adek dilepas, ya? Siapa yang lepas?”


“…”


Farah semakin takut untuk menjawab pertanyaan Sashruu.


Karena hal itu…


“…”


“Tenang ya, Farah. Kamu bisa jawab, kok.”


…Fika mengelus-elus kepalanya untuk menenangkannya.


“Y-Yang lepas kostum mama papa itu…”


““…””


“Pemimpin patroli dari desa ini…”


Jawab Farah.


Dan lagi…


“Hah?! Purong?!”


“Kok bisa Purong yang lepasin kostum mereka?!”


“Kalo bener dia, artinya dia udah buat tindakan kriminal!”


…hal itu mengejutkan mereka semua, khususnya warga yang mendengarnya.


“K-Kamu serius, Farah…?”


“M-Maafin aku, bi—”


““*Tap!””


“KENAPA KAMU NGGAK NGOMONG DARI SEBELUMNYA?!”


Teriak Fika, sambil menggenggam lengan Farah dengan keras.


“Huaaaa! Bibi! Maafin aku!”


“KALO KAMU NGOMONG DARI SEBELUMNYA, MUNGKIN—”


“Bu! Tenang sedikit! Lepasin tangan ibu dari Dek Farah!”


“M-Maaf. Maafin bibi, Farah… hiks!”


Tangis Fika karena menyesali perbuatannya kepada keponakannya.


Hingga akhirnya…


“Hey! Tunjukkin diri anda!


Sekarang!”


““???””


…mereka semua diherankan dengan seruan dari Sashruu.


“Pak Kepala Desa…? Ada apa, pak—”


“*Shringg…”


““!!!””


Kembali warga yang berada di ruangan tersebut terkejut dengan adanya sesosok mahluk asing, yang tanpa mereka semua sadari telah mengarahkan dua buah pisau ke leher Farah dan bibinya.


“M-M-Mahluk itu…”


“G-G-G-Goblin?!”


“Ke-Kenapa ada tiba-tiba Goblin itu?!”


“Dateng dari mana dia?!”


Seru beberapa warga, sambil menatap Goblin tersebut.


“…”


Sashruu berusaha untuk tetap tenang. Ia sedang menganalisa Goblin tersebut.


“Goblin itu tuh… kalo dari laporan di Quest, pasti dia itu Mahluk langka yang punya satu gigi menjulang ke atas! Eh, kalo diperhatiin lagi, mahluk ini bukan Goblin! Tapi Hobgoblin! Pantesan jejak kakinya beda dari Goblin biasa!”


Pikir Sashruu terhadap Goblin tersebut, yang sesuai dengan lembaran Quest.


“Ayo kita hajar—”


“Jangan ada yang gerak, atau gue bunuh dua orang ini!”


Teriak Hobgoblin tersebut kepada para warga yang hendak mengambil senjata mereka.


Mereka semua terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.


Kecuali, Sashruu.


“Duh, dek kecil! Kenapa juga harus dijelasin! Tinggal diem aja, kok! Karena dedek, jadinya gue nggak cuma


harus bunuh dedek sama bibi ini aja! Tapi gue juga harus bunuh—”


“Bunuh siapa? Saya?”


“…”


Goblin tersebut menatap Sashruu dengan tajam.


Tetapi tatapannya bukanlah tatapan yang mengancam, karena ia justru takut dengan Sashruu.


“M-Mungkin nggak ya gue selamat dari Manusia Jamur itu?! Kalo nggak bisa selamat… apa bedanya sama di Chaoseum, yang mana gue cuma diadu sama Petualang?!”


Pikir Hobgoblin tersebut, sambil menyembunyikan kegelisahannya.


“Heh, Manusia Jamur. Lo masih berani macem-macem? Emangnya lo bisa a—”


“Apa anda bilang? Saya Manusia Jamur?”


“Hah? Bukannya emang i—”


((Mushroom Spread))


“!!!”


Hobgoblin tersebut terkejut dengan adanya sangat banyak jamur yang tumbuh merambat, mulai dari sikutnya, hingga ke seluruh tubuhnya.


Karena hal tersebut…


“Urgh…”


“*Bruk…”


““*Trang, tang, trang…””


…ia pun terjatuh dengan lemas.


“K-Kenapa… gue lemes ba—”


“Energi kehidupan sama Mana anda saya serap lewat jamur-jamur itu!”


“K-Kenapa bisa—”


“Karena sikut anda nyentuh mereka berdua, di mana saya udah “tanam” jamur di mereka berdua!”


Jelas Sashruu tentang kekuatan sihirnya.


Oleh karena penjelasannya…


“Hah?! Jamur?!”


“Oh! Ada jamur di pundak aku!”


…Fika dan Farah langsung memeriksa sekitar Tubuh mereka.


“Pak Kepala Desa!”


“Jangan bunuh Goblin itu dulu!”


“Dia masih—”


“Ah. Dia udah mati.”


Jawab Sashruu, seakan ia terlihat menyesal.


“Eh?! Kenapa dibunuh, pak?!”


“Cukup mereka (Aquilla) aja yang hina saya Manusia Jamur! Jangan ada lagi yang berani hina saya kayak gitu!”


Kembali jawab Sashruu kepada salah seorang warga.


“Lagipula, saya udah curiga tentang Purong! Khususnya laporan terakhir dia!”


“Laporan terakhir?”


“Ya. Laporan terakhir dia tentang Aquilla yang kita kira para penculik itu!”


“Maksud Pak Kepala Desa?”


“Kemungkinan besar, Purong sadar kalo mereka itu Aquilla! Tapi dia tetap anggap mereka penculiknya!”


Jelas Sashruu tentang Purong, walaupun masih ada satu hal yang membuatnya heran.


“Kalo gitu, apa tujuan Purong tangkep mereka?! Supaya mereka mati dibunuh?! Atau lebih parahnya lagi, supaya


mereka dijadiin tumbal ke Kaum Jamur?!”


Pikir Sashruu dengan heran.


……………


Di sisi lain Hazhroom Forest, yang berada agak jauh dari kemah Djinn dan rekan-rekannya.


“…”


“Lo udah di sini, Purong? Bukannya lo masih harus patroli?”


“Tenang saja, Slasher. Regu saya sedang beristirahat. Mereka juga tahu kalau saya suka menyendiri.”


Jawab Purong ketika ia menghampiri seseorang yang ia panggil Slasher.


“Jadi, gimana rencana selanjutnya?”


“Djinn Dracorion bisa ngalahin Kepala Desa lo itu, artinya dia sama Aquilla udah siap dibawa ke turnamen. Tapi sekarang dia lagi nggak sadar. Sedangkan Garry Geri sama cewek yang nggak dikenal itu keliatannya lemah.”


“…”


“Karena mereka keliatan lemah, tambah lagi Djinn Dracorion masih nggak sadar, kita bisa pake mereka semua untuk disandera, supaya Myllo Olfret mau ikut ke turnamen itu!”


Jelas Slasher kepada Purong, sambil memantau Djinn dan rekan-rekannya dari jauh.


“Lalu, bagaimana janji anda kepada saya?”


“Tenang aja. Gue pasti bakal penuhin keinginan lo yang mau keluar dari pulau ini untuk jadi anggotanya Leonard. Tapi untuk penuhin keinginan lo, kita harus berhasil bawa mereka untuk ikut di turnamen.”


“…”


Purong hanya tersenyum saja ketika mendengar penjelasan Slasher.


Hingga akhirnya…


“*Pret…”


“Woy, Slasher! Bau, brengsek!”


“Bisa-bisanya kentut sembarangan!”


…ia dan rekan-rekan Slasher terpaksa dibuat tidak nyaman karena ulahnya.


_______________


[1]Bir yang diciptakan oleh Fred Dolscher, kakek dari Gia, yang disebarluaskan oleh Riorio Merchant yang dipimpin oleh Dahlia Dalrio, kakak kandung Dalbert (Chapter 57; Chapter 63).