Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 266. Choices About Fate



“S-S-Semuanya… saya ada… informasi terbaru… dari Duskmere Point…”


““…””


“L-Lephta… kemungkinan besar… sudah… Hiks! Hiks! Hiks!”


““…””


Semua yang berada di luar Duskmere mendengar tangisan Angela, lewat burung gagak di pundak mereka.


“L-Lephta…”


“…”


Zhivreeg tidak bisa menahan kesedihannya karena, sementara Eìmgrotr hanya terdiam mendengar berita dari Angela.


““*Vwumm…””


““Aaargh!!!””


Sementara di Gazomatron, semua Mistyx masih terbakar dengan api hitam, sebagai proses awal untuk menjadi Iblis sepenuhnya.


“*Graaaawww!!!”


“Bagus! Seharusnya nggak ada yang bisa berhentiin ki—”


“*TUK!!!”


“Cih! Mereka bener-bener mau bantai warga negara ini, ya?!”


Di Snellsham Point, Myllo menghadapi ratusan anggota Children of Purgatory dan warga Gazomatron yang masih dalam wujud Ghoul.


Sama seperti rekan-rekannya, ia juga merasakan kesedihan yang mendalam akibat kehilangan Lephta, yang ia anggap sebagai seorang teman. Oleh karena itu ia hendak menyibukkan dirinya, sebagai bentuk pelariannya.


“*Boom! Boom! Boom!”


“Myllo! Izinkan kami untuk membantu anda untuk—”


“Bego! Bukannya lo harus jagain warga—”


“Kami tidak punya pilihan lain! Lebih baik kami memajukan garis pertahanan, supaya ada ruang bagi warga Gazomatron!”


Seru salah satu pengendara unit Gazobot yang datang membantu Myllo menghadapi gelombang serangan dari Children of Purgatory.


Bantuan pun tidak datang dari mereka saja.


“*Vwumm!”


““Aaargh!””


““Graaaw!””


“Styx?! Kok lo baik-baik aja?!”


Tanya Myllo yang terkejut dengan kedatangan sahabat kecilnya yang langsung menyerang anggota Children of


Purgatory maupun Ghoul.


“…”


Styx hanya menatapnya dengan tajam, sambil menghampirinya.


“Styx! Kok lo—”


“*Phak!”


“…”


Ia menampar Myllo, dengan ekspresi kecewa.


“Woy! Kenapa lo nampar gue?! Kita lagi nggak bercan—”


“Gue yang seharusnya ngomong gitu, Myllo!”


“Hah?! Maksud lo—”


“Kenapa lo nggak pakai kekuatan Dewi Zegin?! Cepet pake kekuatan dia!”


“Nggak!”


“*Phak!”


Styx menamparnya kembali dengan keras karena kecewa dengan keras kepalanya.


“Kenapa… Kenapa lo nggak mau pakai kekuatan Dewi Zegin?!”


“Karena gue… mau—”


“*Wruk…”


Ia menggenggam kerah baju Myllo.


“Ini hidup dan mati! Jangan lo keras kepala dengan alasan harga diri lo! Jangan lo keras kepala karena apa yang dialamin Kak Sylv!”


“!!!”


Myllo terkejut dengan seruan Styx yang menyebut nama kakak asuhnya. Karena kata-kata darinya, Myllo pun tertunduk dengan gelisah.


“Myllo, gue mohon. Sekali ini aja, tolong pakai kekuatan Dewi Zegin! Momen kayak gini, kita butuh kekuatan Dia, Myllo!”


“…”


Myllo masih ragu dengan permohonan Styx. Permohonan darinya membuat dirinya teringat kembali dengan apa yang menimpa Sylvia, 5 tahun yang lalu.


“Myllo.”


Sahut Zegin dari dalam pikirannya.


“Kapanpun lo minta, Gue siap.”


“Keuk!”


Myllo menggertak giginya dengan marah dan gelisah.


Di dalam kegelisahannya, ia teringat akan sebuah nasihat dari Sylvia.


“Mungkin Petualang itu punya harga diri. Tapi sebagai Kapten, kadang-kadang kita harus telan bulat-bulat harga diri kita demi orang lain. Paham kan, Myllo?”


“Kak Sylv…”


Bisik Myllo yang membisikkan nama wanita yang sangat ia hormati dan ia cintai.


“Hey kalian! Kami benar-benar membutuhkan pertolongan! Cepatlah!”


Seru salah satu pengendara unit Gazobot kepada Myllo dan Styx.


“Myllo, kalo lo nggak mau pakai kekuatan Dewi Zegin, mending lo di belakang aja! Biar gue yang—”


“*Fwush…”


Myllo seketika langsung menggunakan kekuatan Zegin sebelum menghadapi gelombang serangan dari Children of Purgatory.


Melihat mereka berdua yang mulai melancarkan serangannya, beberapa pengendara unit Gazobot merasa ada suatu kejanggalan dari Styx.


“W-Wanita itu… bukankah ia adalah seorang Mistyx?”


“Mengapa dirinya terlihat baik-baik saja, seakan tidak ada Iblis di dalam dirinya?”


“Jika ia tidak mengalami proses ambil alih Iblis, apa mungkin masih ada Mistyx yang tidak akan diambil alih?”


Sahut beberapa pengendara unit Gazobot yang bertanya-tanya dengan kondisi Styx yang baik-baik saja.


“Semuanya! Saya ada informasi terbaru!”


“Angela! Ada apa?!”


Tanya Myllo kepada burung di pundaknya.


“Saat ini, Sage Maghroz sedang berusaha sekuat tenaga untuk memperlambat proses ambil alih Iblis! Alangkah baiknya anda sekalian mengamankan para Mistyx yang sedang tidak berdaya!”


““!!!””


“Baiklah! Untuk semua unit Gazobot! Amankan para Mistyx!”


““Ya!””


Beberapa pengendara unit Gazobot mulai menjaga para Mistyx yang tersebar di beberapa lokasi yang berada di


Gazomatron.


Sementara itu, di kediaman Klan Mistyx, di Duskmere.


“*Shrruttt…”


Maghroz dikelilingi oleh begitu banyak gulungan kertas yang berserakan di sekitar ruangannya. Sambil duduk bersila dan memejamkan matanya, ia sedang melakukan ritual untuk menghambat kendali Iblis atas para Mistyx.


Di saat ia sedang konsentrasi penuh, ada seseorang yang memanggil dirinya.


“Yang mulia Sage Maghroz. Apakah anda yakin bisa menahan selama itu?”


Tanya seorang Iblis yang bersemayam di dalam pikirannya.


“Ya, Dronnith. Tanpa bantuan anda, saya tidak akan bisa menahan Iblis yang berusaha untuk mengambil alih Tubuh para Mistyx. Terima kasih banyak atas bantuan anda.”


“Jangan seperti itu, Sage Maghroz. Anda adalah pria yang menjinakkan saya, menerima saya, dan memberi identitas kepada saya yang tidak bernama.”


Jawab Iblis yang bernama Dronnith itu kepada Maghroz, walaupun ia merasa cemas dengan pria yang ia layani.


“Maafkan saya sebelumnya, Sage Maghroz. Walaupun anda mampu melakukan ritual yang berat seperti itu, namun saya rasa Tubuh anda tidak akan kuat.”


“Ya, anda benar. Tubuh saya yang renta ini sepertinya sulit untuk melakukan ritual ini…”


Balas Maghroz, dengan darah yang mulai menetes di sekujur lengannya.


Di tengah dirinya yang masih merapal mantra, burung gagak dari Angela, yang selalu berada di sampingnya, mulai khawatir dengannya.


“Tuan Maghroz Mistyx! Mengapa anda terluka seperti itu?! Apakah anda baik-baik saja?! Tidakkah anda—”


“Tenangkan diri anda, Angela Meadow. Saya tahu apa rasanya kehilangan seorang kerabat, saudara, atau sahabat. Tetapi kita tidak boleh kehilangan ketenangan kita, khususnya di saat yang genting seperti ini.”


Kata Maghroz, yang berusaha menguatkan Angela, atas kejadian yang Lephta alami.


“M-Maafkan saya, Tuan Maghroz Mistyx. S-Saya hanya khawatir… jika kami harus kehilangan seseorang lagi…”


“…”


Maghroz hanya menganggukkan kepalanya, sebelum kembali fokus untuk menghambat para Iblis yang hendak mengambil alih Mistyx.


“Sage Maghroz, sepertinya pria yang sedang anda hadapi menggunakan sebuah pusaka gelap, yang mengalirkan kutukan kepada Undead Dragon yang mengelilingi negara ini.”


“Jadi jika kita menghancurkan Undead Dragon, maka kutukan yang tersebar ke seluruh Klan Mistyx akan berakhir?”


“Anda benar, Sage Maghroz.”


Jawab Dronnith kepada Maghroz.


“Angela Meadow, saya hendak meminta tolong kepada siapapun.”


“Apa yang bisa kami bantu, Tuan Maghroz Mistyx?”


“Sebelum saya mati karena ketidaksanggupan saya untuk menahan Iblis yang hendak mengambil alih Tubuh milik Klan Mistyx, saya harap agar anda sekalian menghancurkan seluruh Undead Dragon yang berada mengelilingi Gazomatron!”


“Baiklah! Akan saya sampaikan kepada pihak aliansi!”


Balas Angela, sambil memberi kabar kepada seluruh pihak Aliansi lewat burung gagaknya.


“…”


Ia menjelaskan semuanya, namun keadaan tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


“K-Kami masih harus menghadapi Acolyte ini, Ange—Uhuk, uhuk, uhuk!”


“A-Aing teh juga direpotkeun Ghoul-Trigger yang ngamuk, Teh Angela!”


Sahut Eìmgrotr dan Garry, yang masing-masing sedang disulitkan dengan keadaan mereka.


“Yang masih berada di Duskmere Point pun juga masih disulitkan dengan adanya Acolyte! Tambah lagi… Lephta…”


Pikir Angela atas rekannya.


“Bagaimana ini?! Apakah tidak ada lagi pilihan lain bagi kita?!”


Pikirnya kembali dengan sangat cemas.


“Andai saja aku memiliki kemampuan untuk menyerang Undead Dragon terse—”


“Angela! Biarkan Delolliah dan Jennania yang menyerang seluruh Undead Dragon itu!”


““!!!””


Angela, Delolliah, dan Jennania terkejut dengan Nemesia.


“P-Permaisuri Nemesia Laguna! Tetapi anda sedang menghadapi Acolyte yang ada di hadapan anda!”


“Ia benar, Kakak Nemesia! Alangkah baiknya kita menyelesaikan secepatnya, sebelum membantu semua yang membutuhkan!”


“Bukan kami meremehkanmu, Kakak Nemesia! Tetapi kau juga mengetahui, bahwa mustahil untuk melawan Insectant tersebut sendirian!”


Seru Angela, Delolliah, dan Jennania secara bergantian.


“Jangan takut! Delolliah! Jennania!”


““…””


“Kematian adalah akhir dari perjalanan setiap mahluk hidup! Bahkan Mahluk Abadi juga akan bertemu dengan


akhir perjalanan mereka! Oleh karena itu, jika aku mati saat ini juga, biarlah aku mati dengan melakukan hal baik!”


Seru Nemesia kepada kedua adiknya.


“Kakak Nemesia…”


“…”


Tidak ada argumen yang dikeluarkan oleh adik-adiknya setelah mendengar kata-katanya.


“Pergilah! Hentikan seluruh Undead Dragon itu! Lagipula, sebelum mereka menjadi najis karena ulah sekte ini, mereka juga Mahluk Abadi seperti kita, bukan?!”


“Baiklah, Kakak Nemesi—”


“*Phuk…”


Delolliah seketika memeluk Nemesia.


“Janganlah mati, Kakak Nemesi—”


“*Phuk…”


Jennania juga ikut memeluk kedua kakaknya.


“Semoga kita baik-baik saja!”


“Ya. Kalian juga, adik-adikku.”


Balas Nemesia, sambil menyaksikan kepergian dua adiknya.


“Udah selesai perpisahannya?!”


Sahut Chyrra yang menyaksikan tiga Siren bersaudari tersebut.


“Terima kasih telah menunggu kami, penyembah Iblis.”


“…”


“(Namun perpisahan kami bukan berarti akhir bagi kami!)”


Seru Nemesia, sambil berubah dalam bentuk Grand Form.