Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 110. Don't Want to Leave



“Garry!”


Ah, mimpi ini lagi, anying.


“Kang Wilfred, kenapa atuh nama aing Garry


Geri, gitu?”


“Nggak apa-apa, cuma lucu aja! Ngiahahaha!”


“Haaaah?! Nama aing teh cuma buat becandaan aja,


kitu*?!*”


“Nggak dong, atuh!Sia teh aing kasih nama lucu karena aing yakin kalo sia


teh bisa bikin orang lain ketawa! Ngiahahaha!”


Kang Wilfred…


Kenapa sia teh ninggalin aing?


“Garry, aing titipkeun


atuh ya Para Monster ini.”


“Kang Wilfred! Sia teh mau


ke ma—”


“Maafkeun aing*\, Garry.*”


……………


“Uhmm…hoaaaaam!”


Oh, untuk aing bisa hidup—


“Urgh…”


Anying! Sakit banget badan aing!


“…”


Kenapa badan aing diperban kieu?!


“Et, et, et! Jangan bangun dulu,


atuh!”


Kepala Suku teh ada di


sini, rupanya.


“Anda teh kenapa pake


sihir kayak gitu! Bahaya, euy!”


“Bawel! *Sia*teh udah tau


jarang ada teteh geulis di sini, malah larang-larang aing untuk nolongkuen teteh i—”


“Anda teh belum sekuat


itu! Mana mau atuh Kang Wilfred liat kamu sia-siain nyawa kitu!”


Ah, dasar Kepala Suku anying.


Lagi-lagi dia sebut nama Kang


Wilfred.


“Ya, ya, ya, bawel! *Sia*teh bikin aing—”


“Garryyyy!!!”


Sianying satu ini…


Harusnya mah dia nggak boleh—


“Et, et, et! Anda teh nggak boleh lari-lari dulu, atuh!”


“Haaaaaah?! Kan gue pengen ketemu


dia yang baru sadar!”


Kenapa dia pengen ketemu aing?


“Garry! Makasih udah bantu Djinn


sama Gia! Nggak di sangka lo bisa sembuhin semua orang yang di hutan kayak


tadi!”


“Hmph! Aing teh juga bisa


pake sihir! Tapi kata Kepala Suku mah aing nggak boleh sering-sering


pake sihir! Makanya itu—”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Garry. Gue mau lo ikut gue


jadi Petua—”


“Nggak!”


Hmph, Petualang.


Buat apa atuh aing harus tinggalkeun Monster-Monster yang Kang Wilfred titip?


“Ga…Garry…tumben pisan anda


nggak mau ambil kesempatan keluar dari hutan ini…”


Hah?


Kenapa Kepala Suku malah nanya kitu ke aing?


Kirain mah dia malah cegat aing.


“Hah? Nggak mau ambil kesempatan


keluar dari hutan ini?”


“I…Iya, Myllo! Padahal mah dia


selalu pengen keluar dari hutan!”


Emang aing pengen keluar


dari hutan ini, untuk nyari Kang Wilfred.


Tapi kok…ada yang aneh atuh ya dari Kepala Suku?


“*Sia*teh biasanya


cegat aing keluar dari hutan ini! Tumben amat atuh sia malah minta ke aing!”


“Itu mah…karena


saya takut anda malah bertindak nggak senonoh atuh di daerahnya Mahluk


Intelektual!”


““HAH?!””


Sianying! Aing kira teh dia nggak biarin aing keluar karena nggak


sanggup jaga hutan ini sendirian!


“Oh! Gue ada


ide!”


““Hm?””


“Garry! Kalo


lo jadi Petualang, lumayan tuh bisa godain cewek genit kayak Gia terus-terusan!”


“Et, et, et! Anda teh udah kayak jual temen sendiri!”


“Haaaaah?!


Jual temen?! Ya nggak lah! Kan sama-sama untung! Dia bisa godain Gia, Gia bisa


godain Gia!”


Teh Gia, ya?


Uwooohh! Geulis


pisan!!!


Eh, bentar…


“Kepala Suku, Teh


Gia sama Teh Yssalq teh ke mana?!”


“Lagi mandi di


danau belakang sama Monster-Monster lainnya—”


“TAPAK


MESUM!!!”


““*Phak!


(suara dua tamparan)””


““Urgh…””


Sianying mereka duaan!


Kenapa nggak


ngomong kalo lagi pada mandi?!


“Et, et, et!


Kurang ajar kamu mah!”


“Kok gue ikut


ditampar?!”


“Bawel! *Aing*teh harus cepet-cepet ke danau sebelum pada pergi!”


Aing nggak boleh buang-buang waktu lagi di sini!


“*Crattt…


(suara hidung mimisan)”


“Huaaaaghaghahga!”


“Garry Mesum!


Jangan main lari aja, atuh!”


“Garry! Idung


lo mimisan!”


……………


“Ahahaha! Jangan


siram-siram, dong!”


“Hihiii!


Airnya hangat sekali!”


“…”


Uwoooohhh!


Walaupun Monster, tapi body-nya mantap pisan, anying!


Ah, tapi mah aing udah keseringan liat body Monster!


Tapi ke mana


ya Teh Gia?


“Enak banget


ya ada air hangat di danau begini!”


“Iya, kak!


Tambah lagi, air ini nggak pernah kotor!”


“!!!”


I…Itu Teh Gia!


Tapi aing


teh kehalangan Monster lainnya! Minggir atuh, woy! Jangan halangkeun Teh Gia dong, anying!


Kan aing nggak bisa liat Teh Gia!


“Kok bisa sih


airnya nggak kotor?!”


“Betul! Ini


semua karena sihirnya Kang Wilfred!”


Ehehehe!


Sukurin *sia*teh, Kang Wilfred!


Giliran ada teh


geulis di hutan ini, *sia*teh malah cabut!


““…””


Duh, kenapa


malah makin nggak keliatan Teh Gia-nya?


Tambah lagi,


mereka lagi ngomong apa, atuh? Kenapa malah makin gak kedengeran?


Ah, jangan


peduliin obrolannya!


Yang penting


gimana caranya—


“Garry? Apa


yang sedang kau lakukan di tempat ini?”


Hiiieeekh!!!


Yssalq malah dateng ke sini?!


“E…Eh, Teteh


Yssalq! Be…Belom mandi…?”


“Aku sudah


mandi sebelum yang lain datang.”


“O…Oooh…ki—”


“Garry,


bukankah tempat mandi pria ada di danau yang ada di sana?”


“!!!”


Ja…Jangan


disebut, atuh!


“I…Itu—”


“Dia mau


ngintip tempat ini.”


“Gia, ternyata


kau telah selesai mandi?”


HIIIEEEEEKKKH!!!!


TETEH GIA


TIBA-TIBA SELESAI MANDI, ANYING!!!


“Ha…Halo,


Teteh Gi—”


“DASAR


MESUM!!!”


“Ting… (suara


*********** tertendang)”


“ADAAAAW!”


Sakit pisan, ditendang selakangan aing!


“Mau aku


tendang lagi?!”


“Ma…Mau, teh!”


“HAH?!”


“Ma…Ma…Maksudnya


nggak, teh!”


Hiiiih! Untung teteh geulis yang tendang! Jadi enak—


“Kamu nggak


mikirin hal kotor, kan?!”


“Ng…Nggak, teh!”


Ga…Galak euy, anying!


……………


Ujung-ujungnya teh aing balik bareng Teh Yssalq sama Teh Gia ke rumah Kepala Suku,


tapi…


“Ahahahaha!


Kenapa lo babak belur gitu?!”


“Bawel, anying!”


…aingbabak belur karena dipukul Teh Gia.


Untung geulis si teteh.


“Teh Gia, maafkeun Garry ya!”


“I…Iya, Kepala


Suku. Aku juga minta maaf karena kelewatan.”


“Gia, Gia,


Gia! Hati-hati dong sama calon anggota baru kita!”


“I…Iya,


Myl…HAH?! ANGGOTA BARU?!?!”


“Ngihihihi!”


Sianying!


Kenapa dia teh masih *keukeuh*pisan ngajak aing jadi Petualang?!


“Ta…Tapi


sebelum itu, aku hendak bertanya…”


“Sok tanya aja, atuh.”


“Mengapa


kalian semua dan para Monster terlihat biasa saja denganku?! Aku tadi hampir


membunuh kalian!”


“…”


Kenapa atuh Kepala Suku ngeliatin aing?!


Maksudnya teh aing yang jawab, kitu?!


“…”


Bales wae pake geleng-geleng.


“Karena…kita


semua teh nggak percaya kalo Teh Yssalq jahat, kitu.”


“Hah…?”


“Saya mah percaya kalo Teh Yssalq aslinya teh Naga yang baik. Nggak mungkin atuh tiba-tiba ngamuk.”


“A…Akan


tetapi—”


“Tenang aja,


Yssalq. Gue awalnya juga takut kalo lo bakal diincer sama warga Monster di


hutan ini. Ternyata Monster-Monster ini sebaik itu, ya!”


Teh Yssalq…


Aing teh jadi kasian sama teteh ini. Apalagi yang ngontrol dia teh—


“Pantes aja


orang mesum kayak Garry betah di sini! Ihihihi!”


Sianying!


Sempet-sempetnya ngatain aing—


“Garry.”


“Hah?! Apaan?!”


“Anda teh ngeliat


apa di dalem Tubuh-nya Teh Yssalq?”


Hmm…


Gimana atuh cara jelasinnya?


“Jujur…aing nggak tau.”


“Hah? Kok


nggak ta—”


“Yang pasti mah,


dia bilang begini…”


““…””


“Aku


menemukanmu…”


Abis itu teh


aing jelaskeun kalo aing ngeliat Roh Teh Yssalq lagi dirantai


sama orang yang ngomong kalimat tadi.


“Te…Ternyata


seperti itu, ya…”


“*Phuk… (suara


pelukan)”


“Te…Terima


kasih, Garry! Kau telah rela bertaruh nyawa demiku!”


“…”


Ehehehe…


Empuk pisan da—


“Ih! Mesum!”


“Ahahaha! Liat


mukanya senyum-senyum sampe mimisan!”


“Heh, Garry!


Jadi orang teh kenapa mesum pisan?!”


“Ba…Bawel!


Orang Teh Yssalq yang peluk aing!”


Ah, jangan pikirkeun yang lain!


Mending nikmatin wae dulu!


……………


Kita teh ngobrol bareng


tentang Teh Yssalq yang masih ngerasa bersalah. Kelarnya, semuanya mau lanjutin


aktifitas masing-masing.


“Garry.”


“Hah? Apa?”


“…”


Lah! Malah diem sianying!


“Nggak, *saya*teh penasaran


aja.”


Penasaran?


“Apaan?”


“Kalo anda perhatiin Petualang


yang namanya Myllo itu, anda teh keinget seseorang, nggak?”


Keinget seseorang, ya?


Kayaknya *mah*aing tau


maksud Kepala Suku teh siapa.


“Sia teh mau aing jawab Kang Wilfred, bukan?”


“Bener. Saya teh juga


keinget orang yang sama.”


Emang bener.


Kelakuannya teh sama-sama


konyol, otaknya sama-sama hampir nggak ada, tapi mereka teh orang yang


baik karena perhatian sama sekitarnya.


“Garry, kamu teh bener-bener


nggak mau keluar dari hutan ini—”


“Bawel, anying.”


Bukannya aing nggak mau


keluar dari hutan. Semua teh karena Kang Wilfred udah janji ke aing untuk jaga kalian, Para Monster.


Tapi kalo aing ngomong kitu,


pasti mah Kepala Desa bilang kalo Monster nggak perlu dijagain.


Ah, nggak. Itu mah alesan wae.


Di sini teh karena ada


banyak kenangan bareng Kang Wilfred. Bahkan nggak ada Kang Wilfred pun, kehadirannya teh tetep berasa untuk semua yang ada di sini.


Makanya itu aing nggak


berani keluar dari hutan ini, karena takut lupa Kang Wilfred.