
“Garry!”
Ah, mimpi ini lagi, anying.
“Kang Wilfred, kenapa atuh nama aing Garry
Geri, gitu?”
“Nggak apa-apa, cuma lucu aja! Ngiahahaha!”
“Haaaah?! Nama aing teh cuma buat becandaan aja,
kitu*?!*”
“Nggak dong, atuh!Sia teh aing kasih nama lucu karena aing yakin kalo sia
teh bisa bikin orang lain ketawa! Ngiahahaha!”
Kang Wilfred…
Kenapa sia teh ninggalin aing?
“Garry, aing titipkeun
atuh ya Para Monster ini.”
“Kang Wilfred! Sia teh mau
ke ma—”
“Maafkeun aing*\, Garry.*”
……………
“Uhmm…hoaaaaam!”
Oh, untuk aing bisa hidup—
“Urgh…”
Anying! Sakit banget badan aing!
“…”
Kenapa badan aing diperban kieu?!
“Et, et, et! Jangan bangun dulu,
atuh!”
Kepala Suku teh ada di
sini, rupanya.
“Anda teh kenapa pake
sihir kayak gitu! Bahaya, euy!”
“Bawel! *Sia*teh udah tau
jarang ada teteh geulis di sini, malah larang-larang aing untuk nolongkuen teteh i—”
“Anda teh belum sekuat
itu! Mana mau atuh Kang Wilfred liat kamu sia-siain nyawa kitu!”
Ah, dasar Kepala Suku anying.
Lagi-lagi dia sebut nama Kang
Wilfred.
“Ya, ya, ya, bawel! *Sia*teh bikin aing—”
“Garryyyy!!!”
Sianying satu ini…
Harusnya mah dia nggak boleh—
“Et, et, et! Anda teh nggak boleh lari-lari dulu, atuh!”
“Haaaaaah?! Kan gue pengen ketemu
dia yang baru sadar!”
Kenapa dia pengen ketemu aing?
“Garry! Makasih udah bantu Djinn
sama Gia! Nggak di sangka lo bisa sembuhin semua orang yang di hutan kayak
tadi!”
“Hmph! Aing teh juga bisa
pake sihir! Tapi kata Kepala Suku mah aing nggak boleh sering-sering
pake sihir! Makanya itu—”
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Garry. Gue mau lo ikut gue
jadi Petua—”
“Nggak!”
Hmph, Petualang.
Buat apa atuh aing harus tinggalkeun Monster-Monster yang Kang Wilfred titip?
“Ga…Garry…tumben pisan anda
nggak mau ambil kesempatan keluar dari hutan ini…”
Hah?
Kenapa Kepala Suku malah nanya kitu ke aing?
Kirain mah dia malah cegat aing.
“Hah? Nggak mau ambil kesempatan
keluar dari hutan ini?”
“I…Iya, Myllo! Padahal mah dia
selalu pengen keluar dari hutan!”
Emang aing pengen keluar
dari hutan ini, untuk nyari Kang Wilfred.
Tapi kok…ada yang aneh atuh ya dari Kepala Suku?
“*Sia*teh biasanya
cegat aing keluar dari hutan ini! Tumben amat atuh sia malah minta ke aing!”
“Itu mah…karena
saya takut anda malah bertindak nggak senonoh atuh di daerahnya Mahluk
Intelektual!”
““HAH?!””
Sianying! Aing kira teh dia nggak biarin aing keluar karena nggak
sanggup jaga hutan ini sendirian!
“Oh! Gue ada
ide!”
““Hm?””
“Garry! Kalo
lo jadi Petualang, lumayan tuh bisa godain cewek genit kayak Gia terus-terusan!”
“Et, et, et! Anda teh udah kayak jual temen sendiri!”
“Haaaaah?!
Jual temen?! Ya nggak lah! Kan sama-sama untung! Dia bisa godain Gia, Gia bisa
godain Gia!”
Teh Gia, ya?
Uwooohh! Geulis
pisan!!!
Eh, bentar…
“Kepala Suku, Teh
Gia sama Teh Yssalq teh ke mana?!”
“Lagi mandi di
danau belakang sama Monster-Monster lainnya—”
“TAPAK
MESUM!!!”
““*Phak!
(suara dua tamparan)””
““Urgh…””
Sianying mereka duaan!
Kenapa nggak
ngomong kalo lagi pada mandi?!
“Et, et, et!
Kurang ajar kamu mah!”
“Kok gue ikut
ditampar?!”
“Bawel! *Aing*teh harus cepet-cepet ke danau sebelum pada pergi!”
Aing nggak boleh buang-buang waktu lagi di sini!
“*Crattt…
(suara hidung mimisan)”
“Huaaaaghaghahga!”
“Garry Mesum!
Jangan main lari aja, atuh!”
“Garry! Idung
lo mimisan!”
……………
“Ahahaha! Jangan
siram-siram, dong!”
“Hihiii!
Airnya hangat sekali!”
“…”
Uwoooohhh!
Walaupun Monster, tapi body-nya mantap pisan, anying!
Ah, tapi mah aing udah keseringan liat body Monster!
Tapi ke mana
ya Teh Gia?
“Enak banget
ya ada air hangat di danau begini!”
“Iya, kak!
Tambah lagi, air ini nggak pernah kotor!”
“!!!”
I…Itu Teh Gia!
Tapi aing
teh kehalangan Monster lainnya! Minggir atuh, woy! Jangan halangkeun Teh Gia dong, anying!
Kan aing nggak bisa liat Teh Gia!
“Kok bisa sih
airnya nggak kotor?!”
“Betul! Ini
semua karena sihirnya Kang Wilfred!”
Ehehehe!
Sukurin *sia*teh, Kang Wilfred!
Giliran ada teh
geulis di hutan ini, *sia*teh malah cabut!
““…””
Duh, kenapa
malah makin nggak keliatan Teh Gia-nya?
Tambah lagi,
mereka lagi ngomong apa, atuh? Kenapa malah makin gak kedengeran?
Ah, jangan
peduliin obrolannya!
Yang penting
gimana caranya—
“Garry? Apa
yang sedang kau lakukan di tempat ini?”
Hiiieeekh!!!
Yssalq malah dateng ke sini?!
“E…Eh, Teteh
Yssalq! Be…Belom mandi…?”
“Aku sudah
mandi sebelum yang lain datang.”
“O…Oooh…ki—”
“Garry,
bukankah tempat mandi pria ada di danau yang ada di sana?”
“!!!”
Ja…Jangan
disebut, atuh!
“I…Itu—”
“Dia mau
ngintip tempat ini.”
“Gia, ternyata
kau telah selesai mandi?”
HIIIEEEEEKKKH!!!!
TETEH GIA
TIBA-TIBA SELESAI MANDI, ANYING!!!
“Ha…Halo,
Teteh Gi—”
“DASAR
MESUM!!!”
“Ting… (suara
*********** tertendang)”
“ADAAAAW!”
Sakit pisan, ditendang selakangan aing!
“Mau aku
tendang lagi?!”
“Ma…Mau, teh!”
“HAH?!”
“Ma…Ma…Maksudnya
nggak, teh!”
Hiiiih! Untung teteh geulis yang tendang! Jadi enak—
“Kamu nggak
mikirin hal kotor, kan?!”
“Ng…Nggak, teh!”
Ga…Galak euy, anying!
……………
Ujung-ujungnya teh aing balik bareng Teh Yssalq sama Teh Gia ke rumah Kepala Suku,
tapi…
“Ahahahaha!
Kenapa lo babak belur gitu?!”
“Bawel, anying!”
…aingbabak belur karena dipukul Teh Gia.
Untung geulis si teteh.
“Teh Gia, maafkeun Garry ya!”
“I…Iya, Kepala
Suku. Aku juga minta maaf karena kelewatan.”
“Gia, Gia,
Gia! Hati-hati dong sama calon anggota baru kita!”
“I…Iya,
Myl…HAH?! ANGGOTA BARU?!?!”
“Ngihihihi!”
Sianying!
Kenapa dia teh masih *keukeuh*pisan ngajak aing jadi Petualang?!
“Ta…Tapi
sebelum itu, aku hendak bertanya…”
“Sok tanya aja, atuh.”
“Mengapa
kalian semua dan para Monster terlihat biasa saja denganku?! Aku tadi hampir
membunuh kalian!”
“…”
Kenapa atuh Kepala Suku ngeliatin aing?!
Maksudnya teh aing yang jawab, kitu?!
“…”
Bales wae pake geleng-geleng.
“Karena…kita
semua teh nggak percaya kalo Teh Yssalq jahat, kitu.”
“Hah…?”
“Saya mah percaya kalo Teh Yssalq aslinya teh Naga yang baik. Nggak mungkin atuh tiba-tiba ngamuk.”
“A…Akan
tetapi—”
“Tenang aja,
Yssalq. Gue awalnya juga takut kalo lo bakal diincer sama warga Monster di
hutan ini. Ternyata Monster-Monster ini sebaik itu, ya!”
Teh Yssalq…
Aing teh jadi kasian sama teteh ini. Apalagi yang ngontrol dia teh—
“Pantes aja
orang mesum kayak Garry betah di sini! Ihihihi!”
Sianying!
Sempet-sempetnya ngatain aing—
“Garry.”
“Hah?! Apaan?!”
“Anda teh ngeliat
apa di dalem Tubuh-nya Teh Yssalq?”
Hmm…
Gimana atuh cara jelasinnya?
“Jujur…aing nggak tau.”
“Hah? Kok
nggak ta—”
“Yang pasti mah,
dia bilang begini…”
““…””
“Aku
menemukanmu…”
Abis itu teh
aing jelaskeun kalo aing ngeliat Roh Teh Yssalq lagi dirantai
sama orang yang ngomong kalimat tadi.
“Te…Ternyata
seperti itu, ya…”
“*Phuk… (suara
pelukan)”
“Te…Terima
kasih, Garry! Kau telah rela bertaruh nyawa demiku!”
“…”
Ehehehe…
Empuk pisan da—
“Ih! Mesum!”
“Ahahaha! Liat
mukanya senyum-senyum sampe mimisan!”
“Heh, Garry!
Jadi orang teh kenapa mesum pisan?!”
“Ba…Bawel!
Orang Teh Yssalq yang peluk aing!”
Ah, jangan pikirkeun yang lain!
Mending nikmatin wae dulu!
……………
Kita teh ngobrol bareng
tentang Teh Yssalq yang masih ngerasa bersalah. Kelarnya, semuanya mau lanjutin
aktifitas masing-masing.
“Garry.”
“Hah? Apa?”
“…”
Lah! Malah diem sianying!
“Nggak, *saya*teh penasaran
aja.”
Penasaran?
“Apaan?”
“Kalo anda perhatiin Petualang
yang namanya Myllo itu, anda teh keinget seseorang, nggak?”
Keinget seseorang, ya?
Kayaknya *mah*aing tau
maksud Kepala Suku teh siapa.
“Sia teh mau aing jawab Kang Wilfred, bukan?”
“Bener. Saya teh juga
keinget orang yang sama.”
Emang bener.
Kelakuannya teh sama-sama
konyol, otaknya sama-sama hampir nggak ada, tapi mereka teh orang yang
baik karena perhatian sama sekitarnya.
“Garry, kamu teh bener-bener
nggak mau keluar dari hutan ini—”
“Bawel, anying.”
Bukannya aing nggak mau
keluar dari hutan. Semua teh karena Kang Wilfred udah janji ke aing untuk jaga kalian, Para Monster.
Tapi kalo aing ngomong kitu,
pasti mah Kepala Desa bilang kalo Monster nggak perlu dijagain.
Ah, nggak. Itu mah alesan wae.
Di sini teh karena ada
banyak kenangan bareng Kang Wilfred. Bahkan nggak ada Kang Wilfred pun, kehadirannya teh tetep berasa untuk semua yang ada di sini.
Makanya itu aing nggak
berani keluar dari hutan ini, karena takut lupa Kang Wilfred.