
Dalbert bersama Petualang yang tersisa berusaha untuk menghentikan Giant yang sedang dikendalikan oleh
Zophiel. Sementara Tetsuo dan Ryūtaro sedang berusaha untuk menghentikan Ryūhime yang terus menyerang siapapun yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Myllo dan Garry menemukan seorang wanita yang sedang terlelap di dalam Lapisan Bawah, setelah
wanita tersebut tidak sengaja diinjak oleh Myllo, akibat ruangan yang gelap dan tidak terlihat.
“Garry! Gimana keadaan cewek ini?!”
“Kondisinya teh masih sehat! Ieu teteh geulis teh keliatannya baik-baik wae, Myllo—”
“*Tung!”
“Baik sih baik! Tapi kenapa tangan lo pelan-pelan turun dari pundak ke dada?!”
“E-E-Et! Aing teh mau periksakeun detak jantungnya—”
“Ah! Lo ketauan bohongnya!”
“Si-Sianying teh sotoy pisan, gobloug!”
““…””
Mereka terus berdebat. Ketika perdebatan mereka berhenti, Myllo mencoba untuk membangunkan wanita itu.
“Oi, cewek!”
“*Tap, tap, tap!”
“Bangun, oi!”
“…”
Wanita tersebut tidak kunjung bangun, walaupun Myllo telah berteriak di telinganya sambil menepuk pipinya.
Karena itu, Myllo mengambil suatu kesimpulan.
“GARRY!!! JANGAN-JANGAN LO NGGAK SENGAJA BUNUH CEWEK INI—”
“*Tung!”
“Sianying! Mana mungkin teh aing bunuh teteh geulis!”
Seru Garry dengan kesal sambil memukul kepala Myllo yang menuduhnya.
“*Ngunggg…”
Garry pun berusaha menyembuhkan wanita itu, dengan maksud agar wanita itu terbangun. Tetapi hasilnya sama saja. Wanita tersebut tidak kunjung bangun.
“Myllo, terus teh kita harus gimana?! Nggak mungkin atuh kita harus tinggalkeun ieu teteh geulis!”
“…”
Myllo pun terheran dengan apa yang harus ia lakukan.
“Myllo. Saran Gue lo harus…”
“…”
“Myllo…?”
“…”
Myllo mengabaikan Zegin, yang hendak memberi saran kepadanya.
Walaupun merasa terabaikan, nyatanya Zegin justru sadar dengan tingkah laku Saint pilihannya.
“Haaaaah…! Andai Gue berani ngomong secara terus terang ke dia, mungkin dia nggak marah kayak gini! Dewi macem apa Gue, yang takut kalo Saint pilihan-Nya sendiri sakit hati?!”
Pikir Zegin, sebelum ia terlelap di dalam pikiran Myllo.
……………
Sementara itu, di arena Chaoseum.
{Kazedoryū: Seishi}
“*BHUK, DHUK, BHUK, DHUK…”
Tetsuo terus menyerang Ryūhime dengan teknik bela diri Kitsune.
“RUOAAAAARR—”
“*KRRRTTT…”
“(T-Tenanglah… Ryūhime-sama…! P-Pria tersebut… selalu berlatih… bersama-Mu… Ryūhime-sama…!)”
Sementara Ryūtaro berusaha membujuknya, sambil melilitkan Tubuh-nya pada Tubuh Ryūhime.
“HAAAAURP—”
“*DHUK!!!”
“RUOAAARR!!!”
Ryūhime hendak menggigit Ryūtaro. Tetapi Tetsuo melindungi Ryūtaro, dengan menendang muncung Naga milik Ryūhime.
“Ryūtaro-kun! Apa yang harus kita lakukan?!”
“(A-Akupun juga tidak tahu, Shogun-sama…! Aku… tidak sanggup menahannya lebih lama lagi…!)”
Balas Ryūtaro kepada Tetsuo.
“*BRUK!!! BRUK!!! BRUK!!!”
“Cih! Sekarang kita harus ngapain?!”
“Gue juga nggak tau! Satu-satunya yang bisa kita harapin cuma Myllo sama Garry doang! Karena dari antara kita,
cuma mereka berdua aja yang ada di Lapisan Bawah!”
Balas Dalbert kepada Zorlyan, sembari mereka bersama-sama menghindari ayunan pukulan dari Giant yang mereka hadapi.
……………
Kembali ke Lapisan Bawah, di mana Myllo dan Garry sama-sama berusaha membangunkan wanita yang ada di hadapan mereka.
“M-Myllo! Aing teh ada ide!”
“Wah! Apaan tuh?!”
“Mending teh sia gendong aing bareng ieu teteh geulis!”
“Enak aja! Lo kira gue gerobak?!”
Seru Myllo yang kesal dengan ide Garry.
“Et! Terus gimana atuh ieu teteh geulis—”
“Minggir, Garry! Gue tau harus ngapain!”
Seru Myllo kepada Garry, sambil memegang tongkatnya.
Kemudian…
“*TUK!!!”
“!!!”
…Myllo memukul kepala wanita itu dengan tongkatnya.
“*Tung!”
“Et! Sigobloug sia teh, anying! Kenapa dipukul kepala ieu teteh geulis?!”
“Nggak tau. Cuma insting aja.”
“Hah?! Insting?! Sianying! Jahat pisan insting sia—”
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
Seketika wanita tersebut terbangun karena pukulan tongkat Myllo.
“ET!!! KOK BISA BANGUN?!?!”
Tanya Garry dengan sangat terkejut.
“Hehe! Kan gue bilang—”
“D-Dimanakah… aku…? M-Mengapa… Jiwa-ku… terasa sangat jauh… di atas sana…?”
““Hm?””
Myllo dan Garry merasa heran dengan bisikan wanita itu, yang menunjuk ke atas.
“Woy, cewek! Nama gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Dunia!”
“Et! Sempet-sempetnya sia—”
“Nama lo siapa, cewek?!”
Tanya Myllo, tanpa memperdulikan Garry yang merasa heran dengannya.
“N-Namaku… adalah Ángroð. A-Aku adalah seorang Giant…”
““!!!””
Myllo dan Garry terkejut dengan fakta yang diungkapkan oleh wanita bernama Ángroð itu, tentang dirinya.
“Pria ini… adalah seorang Kaum Omega…?”
…mendapati siapa Myllo yang sebenarnya, hanya dengan menatap matanya saja.
Namun Ángroð merasa heran dengan pria yang berada di samping Myllo.
“Ada yang aneh. Pria ini—”
“G-Giant?! Kok bisa—”
“M-Myllo! Ieu teteh geulis teh pasti jadi salah satu korban dari umi sia, Myllo!”
Seru Garry kepada Myllo, ketika Ángroð sedang memperhatikan Garry yang ia dapati adanya keanehan darinya.
“Ya. Insting gue juga bilang begitu, waktu dia bilang—”
“I-Ibumu…? A-Apakah… ibu yang kau maksud itu… adalah Zophiel…?”
Tanya Ángroð, setelah mendengar diskusi antara Myllo dan Garry.
“Ya! Mungkin gue baru tau tadi malem! Bahkan gue nggak kenal dia! Tapi gue masih penasaran sama dia, yang
bisa-bisanya jadi budak Leonard—”
“I-Itu… bukanlah… kemauannya…”
Jelas Ángroð kepada Myllo.
“D-Dengar aku baik-baik… Kaum Omega…”
“…”
“M-Malaikat Sejati… adalah kaum yang kebebasannya… telah dirampas… sebagaimana seorang pilar yang hilang… mendikte takdir mereka menjadi seperti itu…”
“…”
“W-Walaupun… pilar tersebut sudah menghilang… tetapi takdir mereka tidak. O-Oleh karena itu… mereka akan
terus… mencari tuan yang baru… melayani tuan tersebut… dan mencari tuan yang baru… kala tuan mereka meninggalkan mereka…”
“…”
Myllo terus terdiam dan menyimak apa yang dijelaskan oleh Ángroð. Sementara Garry berusaha memulihkan
kondisinya.
“Makanya itu dia mau dibudak Leonard?”
“T-Tidak…”
“Hah? Maksudnya—”
“T-Tidak seperti Mahluk Abadi lainnya… Kaum Malaikat Sejati… tidak memiliki tempat… di dunia ini. K-Karena itu… mereka akan sangat setia… bagi seseorang… yang memberikan tempat… bagi mereka…”
Jelas Ángroð kepada Myllo.
“A-A-Andai saja… aku… bisa bertanya kepadanya…”
“Tanya apa—”
“Andai… aku bisa bertanya… terkait apa yang sebenarnya ia inginkan. Bukan keinginan takdirnya… tetapi keinginan hati nuraninya…”
“…”
Myllo terdiam ketika mendengar pertanyaan yang tidak bisa diutarakan Ángroð kepada Zophiel.
Setelah itu…
“Hehe!”
“Hm?”
…ia tersenyum, sehingga membuat Ángroð heran.
“Tenang aja, Ángroð! Karena gue udah tau harus bilang apa ke dia, kalo gue ketemu dia!”
“A-Apa maksudmu—”
“Gue ini Saint Kebebasan! Gue nggak boleh putus asa sama ibu gue yang masih diperbudak sama takdir! Ya kan,
Zegin?!”
“M-Myllo…!”
Sahut Zegin dengan tersenyum karena reaksi Myllo kepadanya.
“…”
Kali ini Ángroð yang terdiam, walaupun ada senyum di wajahnya.
“B-Baiklah… Saint pilihan… Dewi Zegin. Kalau begitu…”
“*Tap…”
“…aku mempercayakan kebebasannya… pada tanganmu…”
Bisik Ángroð, sambil menyentuh pipi Myllo.
“!!!”
Myllo seketika terkejut dengan sesuatu yang ia lihat pada matanya.
“A-Apa yang kau lihat… adalah jejak Mana milikku. M-Mungkin aku berhasil terlepas… oleh kendali Zophiel. T-Tetapi… tidak Jiwa-ku…”
“Hah?! Maksud lo—”
“M-Mungkin saat ini… darah dari Manifestasi Jiwa-ku… sedang dikendalikan olehnya. Oleh karena itu… kau
harus… menumpahkan Cawan… yang berisi darah dari Manifestasi Jiwa-ku… agar aku mendapatkan kembali… Jiwa-ku…”
“OK! Kalo gitu gue pergi sekarang!”
“Ya…! Semoga… kau bisa… membebaskannya…”
Balas Ángroð kepada Myllo yang meninggalkannya.
Walaupun…
“Woy! Kenapa gue harus gendong lagi!”
“B-Bawel sia, anying!”
…ia kembali dipersulit oleh Garry.
……………
Sementara itu, Leonard, yang sedang bersama Zophiel dan 3 Cawan yang harus ia jaga.
““…””
Mereka berdua sama-sama melihat ke arah pintu.
“T-Tuan Leonard…”
“Ya. Gue juga paham. Padahal gue sengaja tinggalin jejak Mana, supaya Myllo bisa cari gue. Tapi keliatannya yang mau ke sini bukan anak lo, Zophiel.”
Balas Leonard kepada Zophiel, sebelum dirinya…
“*CYUT!!!”
“*BRUK!!!”
…dengan tiba-tiba menghancurkan pintu ruangan tersebut, menggunakan tembakan bintang pada jarinya.
“…”
Leonard menatap seorang High Elf, yang datang dari balik pintu tersebut.
“*Vwumm…”
“Hoo…! Ternyata bisa pake Union Utuh ya?!”
Seru Leonard dengan semangat, setelah menyaksikan Tubuh dari High Elf tersebut, yang menyerupai sebuah
kobaran api.
“Siapa lo?! Keliatannya lo kuat juga! Apalagi dari tatapan lo di atas sana—”
“*DHUUUMMMMMMMMM………”
“Saya adalah Rivrith Vamulran! Seorang Pangeran dari Vamulran Kingdom! Kakak dari Luvast Vamulran yang anda
culik dengan paksa—”
“*DHUUUMMMMMMMMM………”
“Grahahaha! Ternyata lo bisa pake Union Domi juga ya?! Kalo gitu lo tinggal perlu buktiin seberapa besar kekuatan
lo ke gue, Rivrith Vamulran!”
Seru Leonard, setelah ia dan Rivrith sama-sama mengeluarkan Union Domi.
Dengan begitu, pertarungan antara seorang Penakluk melawan Tangan Kiri Raja dari Vamulran Kingdom, segera
dimulai.