Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 237. Incarnation of Doom



“*ZHUMMM……”


““!!!””


Semua yang berada di dalam Hidden Dungeon of Whisper merasakan aura Iblis yang sangat menakutkan.


“…”


Charvelle yang memegang kepala Djinn seketika gemetar ketakutan.


Tidak hanya rasa takut saja yang ia rasakan.


“*Crat!”


Ia bahkan merasakan kematiannya berada di depan mata.


“A-A-Apaan itu?! Gue kira gue udah mati!”


Pikir Charvelle dengan takut.


Tanpa ia sadari…


“…”


…Djinn menatapnya dengan sangat tajam.


Dengan rasa takut yang disertai dengan insting untuk melarikan diri secepatnya, Charvelle pun hendak melepas tangannya yang menggenggam kepala Djinn.


Namun…


“*Krrrtttt…”


“!!!”


…Djinn menggenggam lengannya yang memegang kepalanya dengan sangat keras, yang bahkan…


“*Krrrrkkk…”


“Aaaaargh!”


…meremukkan lengannya.


“Da-Dasar brengsek!”


Seru Charvelle sambil mengeluarkan pedangnya. Walaupun pada akhirnya, usahanya sia-sia.


“*Bruk!”


Djinn membanting kepalanya ke tanah.


Lalu…


“*Brukbrukbrukbrukbruk…”


“*Krak!”


…ia membanting kepalanya berkali-kali tanpa henti, bahkan hingga tanduknya hancur.


“Woy. Udah mati?”


“…”


Charvelle tidak menanggapi jawaban dari Iblis yang menguasai Tubuh Djinn.


Walaupun tidak ada tanggapan…


“*DHUKDHUKDHUKDHUK…”


…Iblis itu menendang kepalanya berkali-kali tanpa henti. Lebih parahnya lagi, aksi yang ia lakukan bahkan membuat wajah Charvelle hampir tidak dikenali. Bahkan kepalanya hampir tidak berbentuk karenanya.


Jika bukan karena tekad yang kuat, mungkin saja Charvelle telah meregangkan nyawanya saat itu juga.


““…””


Semua melihat aksi Djinn, yang tanpa sepengetahuan mereka telah dikuasai oleh Iblis. Namun, melihat apa yang terjadi pada Charvelle, mereka hanya bisa menyaksikannya.


““…””


Itu semua karena mereka hanya merasakan ketakutan yang luar biasa mengerikan ketika melihat aksinya itu.


Namun, berbeda dengan Myllo.


“…”


Walaupun tidak ada rasa takut, namun dirinya menjadi bimbang.


“Itu Djinn…? Atau bukan…? Siapa lo sebenernya, Djinn…?”


Bisik Myllo dengan heran.


Myllo dan siapapun yang melihat aksi Djinn menjadi penasaran.


Siapa sebenarnya pria tersebut?


Apakah ia adalah Djinn yang mereka kenal?


Namun, tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk mengetahui siapa yang sedang mereka lihat.


“…”


Iblis tersebut menatap tajam Frostbite yang jatuh dari genggaman Charvelle.


“Di sini ada pedang yang biasa aja. Sedangkan di saku kecil ini, ada pedang yang bunuh beberapa Iblis sampah ribuan tahun yang lalu. Gue mau pake pedang ini, tapi keliatannya bahaya buat gue.”


Pikir Iblis itu ketika ia harus memilih antara Ark Blade atau Frostbite.


Oleh karena itu, ia memilih Frostbite.


“*Trang!”


“*Shruk!”


Ia menghentakkan kakinya pada Frostbite, yang lalu terlontar ke atas dan menusuk lengannya.


Walaupun ia bisa menangkap pedang tersebut, ia lebih memilih untuk membiarkan lengannya tertusuk.


Itu semua karena…


“Hooo… Ternyata emang spesial ya Tubuh anak biadab ini!”


…ia ingin menguji Tubuh Djinn.


“*Shrak!”


Ia melepas Frostbite yang menusuk lengannya.


“*Shrrrrrak… Shrrrraaakkk…”


Lalu ia menyayat dahinya.


“*Shrrrrrraaak…”


Setelah itu, ia menyayat punggungnya secara vertikal.


Dengan luka sayatan yang ia ciptakan…


“*Shrrrrak!”


“*Krrrrkk… Fwup!”


…seketika keluar sepasang tanduk dari sayatan di dahi dan kepalanya, serta sayap hitam elegan yang panjang dari sayatan di punggungnya.


Karena aksinya tersebut, semua menyadari siapa sosok Djinn yang mereka saksikan.


““Iblis!””


Pikir mereka semua.


“…”


Iblis itu berjalan perlahan-lahan ke arah mereka.


“*ZHUMMM……”


Ia kembali mengeluarkan aura menakutkannya yang sangat besar.


Namun…


“*Shrrrkk…”


…perlahan-lahan tangannya membeku karena Frostbite yang ia genggam.


“Untung aja pedang murahan ini cuma bisa bekuin tangan gue. Bayangin aja kalo pedang brengsek ini yang gue pake.”


Bisik Iblis itu, yang membandingkan antara Frostbite dengan Ark Blade.


“…”


Ia menatap orang-orang yang ada di hadapannya.


Lalu…


“*SWUNNG!!!”


…ia melempar Frostbite ke arah siapapun yang berada di depannya.


““!!!””


Mereka semua menghindari pedang tersebut.


Ketika mereka menghindari Frostbite…


“*SHRRRRKKK!!!”


““!!!””


Mereka semua kembali dikejutkan dengan koral besar yang langsung membeku.


“…”


Iblis itu memperhatikan orang-orang yang ada di hadapannya.


“Ada beberapa Mahluk Abadi, satu orang yang punya kekuatan Zegin, sama… Duh, yang satu itu paling bahaya. Tapi, kalo pun bahaya, harusnya dia bisa jadi sekutu gue.”


Pikir Iblis itu, yang memilah orang-orang yang menurutnya berbahaya.


Sementara yang lainnya…


“Hmph! Ternyata sisanya serangga doang, ya?!”


…dianggap remeh olehnya.


“Hahaha…! T-Tidak saya sangka, bahwa pada akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang kuat!”


“Hey, Iblis!”


“…”


“Terima ini!”


Seru Moalkin, sambil mempersiapkan senjatanya.


((Blast Magic: Raising Inferno))


“*BOOMMM!!!”


“…”


Iblis itu menerima serangan Moalkin tanpa ada niatan untuk menghindar.


Walaupun terdapat ledakan dahsyat dari serangan sihirnya…


“Hmph!”


….namun pada kenyataannya Iblis itu terlihat biasa-biasa saja.


“Segitu doang kekuatan lo?! Jangan sok kuat di depan gue! Dasar kadal sampah!”


“Ba-Bagaimana mungkin—”


“Biar gue kasih tau cara kerja serangan lo!”


“*Crat!”


“AAAARGH!”


Iblis itu menarik paksa lengan Moalkin hingga terlepas darinya.


Setelah melepas tangannya, ia langsung menyiapkan serangan sihir yang begitu mengejutkan Moalkin.


((Blast Magic…


“!!!”


…RAISING INFERNO))


“*BOOOOMMMMMM!!!!!!!”


““!!!!!””


Semua dikejutkan dengan Iblis yang menggunakan lengan Moalkin sebagai pedangnya, lalu menciptakan serangan sihir yang persis dengan Moalkin.


Anehnya, efek ledakan darinya sepuluh kali lebih besar daripada Moalkin sendiri.


Namun, Iblis itu telat menyadari…


“…”


“Huff! Huff! Huff!”


…bahwa Gadlu berhasil membawa pergi Moalkin dari hadapannya.


“Mo-Moalkin! A-Anda nggak apa-a—”


“GADLU!!! BELAKANG ANDA!!!”


Teriak Moalkin, ketika Iblis itu dengan sangat cepat berada di belakang Gadlu.


“Sial—”


“*DHUK!!!”


“Urgh!”


“*SWUNG… BRUK, BRUK, BRUK…”


Iblis itu menendang Gadlu dengan sangat kencang, hingga ia terpental sangat jauh dan menabrak beberapa koral.


Parahnya, sayap yang sangat keras milik Gadlu…


“N-Nggak mungkin…!”


…berlubang karena tendangannya.


“Dasar serangga! DASAR SERANGGA!!!”


Teriak Iblis itu dengan amarah yang meluap-luap karena Gadlu telah menyelamatkan korban selanjutnya.


“GA-GADLU—”


“*DHUKDHUKDHUKDHUK…”


Iblis itu terus menghentakkan kakinya dengan sangat keras dan tiada henti ke Moalkin yang mengkhawatirkan Gadlu.


“AYO!!! KHAWATIRIN TERUS TEMEN LO!!!”


Teriak Iblis itu, sambil terus menghentakkan kakinya kepada Moalkin.


Tidak lama kemudian, bala bantuan yang sia-sia datang bagi Moalkin.


“*Bwush…”


“…”


Iblis itu menatap Klavak yang menyerang dirinya dengan Water Magic.


“…”


Tubuh Klavak gemetar ketakutan ketika ia berusaha menyelamatkan rekannya.


Sementara Iblis itu…


“HAH!!! Lo nyerang gue pake cipratan air itu?!?!”


…hanya meremehkannya.


Walaupun telah menyerangnya, beberapa orang yang berada di dekat Klavak tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.


“I-Itu…”


“K-Kau bisa… menggunakan Wavebringer…?”


Bisik Delolliah dan Nemesia, sambil diliputi dengan rasa takut karena Iblis itu.


Dengan Wavebringer yang ada di genggamannya, Klavak berusaha menyerang Iblis itu.


((Sirena: Ráfaga))


“*BWUSH!”


Dengan Sihir Siren, Klavak menyerang Iblis itu.


Dan lagi…


“…”


…Iblis itu membiarkan serangan sihir menghampirinya, tanpa ada usaha untuk menghindar atau menangkal.


“*Fwup, fwup, fwup…”


Iblis itu mengepakkan sayapnya.


Lalu…


“*SWUSH!!!”


…ia terbang dengan sangat cepat dan menghampiri Klavak.


“Heh, tolol!”


“!!!”


“Gini cara pake sihir yang bener!”


Cemooh Iblis itu, sambil mengarahkan lengan Moalkin yang ia genggam.


((SIRENA: RÁFAGA))


“*BWWUUUSSSHHHH!!!!”


Dari lengan Moalkin, seketika muncul Sihir Siren yang sepuluh kali lipat lebih besar daripada yang Klavak gunakan.


Namun…


“!!!”


…Iblis itu dikejutkan dengan Myllo yang menyelamatkan Klavak dari serangannya.


“Myllo…?”


Bisik Klavak, dengan gemetar ketakutan dan tidak percaya jika dirinya masih bisa hidup dengan selamat.


Tidak lama kemudian, semua pihak yang berada di dalam Hidden Dungeon of Whisper menghampiri lokasi kejadian.


“…”


Iblis tersebut hanya menatap kedatangan Angela dan rekan-rekan, anggota Chemia maupun Serpentis yang


tersisa, yang datang bersama para Siren.


“Kita berempat… baru saja menghadapi dua Petualang yang kuat, bukan?! Lalu, apa yang sekarang harus kita


hadapi?!”


Sahut Pielloda, yang datang bersama anggota Virgo, yang baru saja mengalahkan Brandt dan Thelial.


“Angela… Apakah itu…”


“Ya. Itu adalah… Iblis!”


Sahut Angela ketika Eìmgrotr bertanya.


Dengan datangnya semua pihak, maka Iblis itu harus menghadapi mereka sendirian.


Akan tetapi…


“Haha! HAHAHAHAHA!!!!!”


““!!!””


“Yang kayak gini nih yang bikin semangat! Ayo sini maju kalian! Dasar sampah kalian! Kaum Geoterra!”


…ia tertawa dengan sangat puas karena kedatangan begitu banyak calon korban di hadapannya.