
“Ruoaaaar!”
“*Boom! (suara ledakan)”
““Aaargh!””
Semua Petualang yang menjalankan
Quest pengawalan masih berkutat melawan 10 Naga yang datang tiba-tiba.
“*Prang! (suara pedang besar)”
“Rrrr…”
“Huff… Huff…”
Gia berhasil mengalahkan salah
satu Naga dengan bantuan beberapa Petualang lainnya.
Walaupun mereka berhasil
mengalahkan satu Naga, stamina dan Mana mereka benar-benar menipis.
“Gia, kamu nggak apa-apa?!”
“Aku…nggak apa-a—”
“Tenang, biar aku sembuhin!”
Seru seoarng Keeper yang langsung
menghampiri Gia untuk menyembuhkannya.
Wanita itu bernama Malora Rikkia,
seorang Petualang Kasta Hijau, yang merupakan anggota dari Ferrum yang dipimpin
oleh Nelzei Kleivnier.
“Huff… Makasih ya, Ma—”
“Ruoaaar!”
Naga lain hendak menyerang Gia
dan beberapa Petualang lainnya, ketika ia sedang disembuhkan.
“Cih! Nggak ada habisnya mereka!”
“Gi…Gimana cara kita bisa selamat
dari—”
“Tenang, aku yang jagain kalian!”
“Gia, jangan! Kamu masih belum—”
“…”
“Gia!”
Gia mengacuhkan panggilan Malora
dan berjalan ke depan untuk menjaga Petualang lainnya.
“Aku nggak akan biarin…kejadian
itu ke-ulang lagi!”
Pikir Gia, sambil mengingat
kejadian di mana ia merasa gagal menjadi seorang Frontliner ketika Bedrock dan
Shawn mati dibunuh oleh Erkstern.
Di hadapannya, ada Naga yang
ukurannya lebih besar dari Naga lainnya. Naga itu memiliki batu-batu yang
menyelimuti punggungnya.
“Heaaaagh!”
“Ruoaaaaar!”
Gia dan Naga itu berlari ke arah
masing-masing.
“*Prang! (suara serangan pedang
besar)”
Gia berhasil memukul cakar Naga
tersebut yang juga hendak menyerangnya, hingga mundur sedikit ke belakang.
“*Dor! (suara tembakan senapan)”
“*Shruk! (suara tertembak)”
“Itu kelemahannya! Ayo serang
dia!”
Sahut seorang Observer yang
bernama Jenri Curlos, Petualang Kasta Hijau, yang menembak perut Naga itu
setelah perut itu tertampak.
“Firebolt!”
“*Boom! (suara sihir api)”
“…”
“Kenapa dia—”
“Jangan serang pake sihir alam!
Nggak akan mempan sihir kita lawan Naga!”
Jelas Jenri kepada seorang
Striker Kasta Kuning yang merupakan seorang Elf yang bernama Chalwyn Trislant.
“Iron Crusher!”
“*PRANG! (suara keras serangan
pedang besar)”
“Ruoaar!’
“Nice, Gia!”
Gia berhasil menyerang Naga
tersebut dengan sihir pedangnya.
Namun…
“Ruoar!”
“*Bruk! (suara tertabrak)”
“Urgh!”
“Gia!”
“*Bruk, bruk, bruk… (suara
terpental)”
…Naga itu langsung melakukan
serangan balik ke arah Gia dengan kepalanya, hingga ia terpental jauh.
“Ma…Maafin aku…karena nggak cukup
kuat…serang Naga i—”
“Ti…Tidak! Justru saya yang seharusnya
minta maaf karena tidak bisa menyerang Naga itu dengan sihir saya!”
Balas Chalwyn kepada Gia.
““…””
Mereka sama-sama menyaksikan Naga
itu berdiri dan hendak menyerang mereka dengan sihirnya.
“Rrrrr!”
Namun, ketika Naga itu sedang
bersiap menyerang mereka…
“Zegin Blow!”
“*Fwush! (suara hembusan angin)”
“Ruoaaarr!”
…Myllo datang dan langsung
menyerang Naga itu.
“Gia!”
“My…Myllo…”
“Gia—”
“Tenang! Biar aku yang sembuhin
dia!”
“OK!”
Seru Myllo kepada Malora.
“Kalo gitu, gue pergi du—Uhuk!”
“Hm?”
“Nggak apa-apa, gue cuma keselek
aja tiba-tiba.”
Kata Myllo, sambil menyembunyikan
batuk berdarahnya dari Malora.
……………
Myllo pun meninggalkan Gia yang
sudah tidak sadarkan diri.
Ia berlari ke arah Naga lainnya,
walaupun…
“Urgh…”
…ia menahan rasa sakit yang luar
biasa.
“Myllo! Jangan paksain diri
lo!”
Seru Zegin dari dalam pikirannya.
“Jangan paksain diri?! Terus
gimana caranya kita bertahan dari Naga-Naga ini—”
“Seenggaknya…lo bisa
disembuhin dulu, supaya bisa lawan Naga-Naga ini semua!”
“Terus siapa yang mau lawan
Naga-Naga ini kalo gue harus istirahat—”
“Kan masih ada Petualang yang lain—”
“Cuma beberapa yang masih mau
bangun, Zegin! Liat sendiri!”
Teriak Myllo, sambil
memperlihatkan semua Petualang yang sedang melawan Naga-Naga itu.
“Gi…Gimana cara kita…lawan mereka semua…?”
“Hiks…Hiks… A…Aku nggak kuat…lawan mereka semua…”
“Huff…Huff… Sialan, gue udah nggak sanggup…lagi!”
Dari yang Zegin lihat dari mata
Myllo, sebagian besar Petualang sudah kehilangan semangat untuk melawan 10 Naga
yang sedang mereka hadapi.
“Lo liat sendiri kan, Zegin?!”
“…”
“Makanya itu, nggak ada kata
istirahat, sebelum mereka kalah! Seenggaknya gue bisa bantu Petualang yang
masih bisa lawan mereka!”
Tegas Myllo kepada Zegin.
Namun, dibalik pernyataan Myllo,
Zegin justru merasa ada niat yang tersembunyi darinya.
“Lo mau keliatan kuat, kayak kakak
lo, kan?”
“…”
“Gue nggak ada maksud untuk nyalahin lo kalo emang lo ada niat begitu,
tapi inget kata temen lo itu, Myllo! Lo harus tau kondisi—”
“Apa gunanya Kapten kalo cuma bisa berdiri dibalik anggotanya sendiri, Zegin?!”
Kembali tegas Myllo kepada Zegin.
“OK kalo itu pilihan lo. Kalo lo kenapa-kenapa, jangan salahin Gue yang
udah ingetin lo, Myllo.”
“Hehe! Tenang aja!”
“Yaudah. Kalo emang mau jor-joran, gue kasih 10% kekuatan Gue.”
“OK!”
Seru Myllo, yang terbang ke medan
pertempuran.
……………
“Huff… Huff…”
Padomus kelelahan menghadapi Naga
yang ada di depannya, yang telah sekarat.
“Ruoaar!”
“Arrow Missiles!”
““*Syut! (suara banyak panah)””
“Ruoaa—”
“*Boom! (suara ledakan)”
Ia menembak Naga itu dengan
panahnya yang mengikuti pergerakannya, hingga Naga itu dikalahakan.
“Haaaah… Mana gue kayaknya
udah mau habis, tapi masih ada 7 Naga lagi yang harus dikalahin!”
di depannya.
Tanpa ia sadari…
“Ruoaaaar!”
…ada Naga lain yang hendak
menyerangnya dari belakang.
“Sialan—”
“Zegin Blow: Bahorok!”
“*FWUSH! (suara angin topan)”
Beruntung Myllo telah tiba di
belakangnya untuk menyerang Naga itu, sebelum Naga itu menyerangnya.
“Thanks karena udah jaga belakang gue, Kuning!”
“Woy! Nama gue Myllo, Kuda!”
“Haaaaah?! Kok lo rasis, sih?!”
“Lagian lo sebut nama gue pake
Kasta!”
“Pake Kasta! Bukan pake—”
“Fokus dulu, kalian berdua!”
Saat mereka berdua sedang
berdebat, tiba-tiba Nelzei berseru.
““Hah?!””
“Masih banyak Naga-Naga yang
harus kita lawan! Tambah lagi…”
“Huff… Huff…”
Mereka bertiga pun melihat August
yang sangat terluka karena melawan Naga.
“Woy! Liat Naga itu!”
““…””
Mendengar perkataan Myllo, mereka
pun dengan bersama-sama melihat salah satu Naga yang terbang dengan tinggi.
“Ke…Kenapa Naga itu—”
“RUOOOAAAAAAAARRRRRRRR!!!”
““…””
Naga yang terbang itu menggunakan
Dragon Cry, hingga semua yang ada di sana langsung gemetar ketakutan.
Di saat semua yang berada di sana
gemetar ketakutan, tiba-tiba hampir semua Naga hendak menyerang mereka secara
bersamaan.
Hingga pada akhirnya…
“ZEGIN SWING!!!”
“*Swung, wung, wung… (suara
ayunan tongkat)”
“TUK, TUK, TUK… (suara pukulan
tongkat yang sangat keras)”
…Myllo melempar tongkatnya yang
dialiri kekuatan Zegin, hingga ukurannya menjadi sangat panjang.
Dengan kekuatan itu, ia melempar
tongkatnya sangat keras, hingga berputar dan memukul Naga-Naga yang hendak
menyerang mereka semua.
“Huh… U…Untung ada yang
berhentiin Naga-Naga itu!”
“Gu…Gue kira…gue udah mau mati!”
“Gi…Gila! Kuat juga serangan
itu!”
Hampir semua Petualang yang
berada di sana merasa terselamatkan karena serangan Myllo.
“Te…Teriakan macem apa i—”
“Dragon Cry. Cuma itu doang
jawaban paling logis.”
Balas Nelzei kepada Padomus.
Di saat semua sedang berusaha
melawan rasa takut mereka…
“My…Myllo, makasih udah tahan
serangan Naga-Naga i—”
“*Bruk… (suara tergeletak)”
“Myllo!”
…Myllo tiba-tiba terjatuh.
“Uhok!”
Saat ia terjatuh, ia mengularkan
batuk dengan darah yang sangat banyak.
Tidak hanya itu saja…
“O…Oi! Mata lo kenapa?!”
“Kok…badan lo pucet?!”
…matanya penuh dengan lingkaran
biru, serta tubuh yang pucat. Seakan-akan ia akan mati.
“Te…Tenang…gue…masih
bisa…ber…di—”
“Jangan paksain diri lo, Myllo!”
“Bener! Lo nggak akan sanggup
kalo—”
“Hehe! Gue…baru aja mulai!”
““…””
Mereka hanya bisa diam saja
ketika melihat Myllo masih berusaha untuk bangun melawan Naga-Naga itu.
Melihat tekad dan semangat Myllo
yang tidak gentar, hanya ada satu hal yang terlintas dipikiran mereka.
““Gue malu karena kalah sama Kasta Kuning.””
Namun, ketika memperhatikan
Myllo, ada sesuatu yang datang tanpa mereka sadari.
“Ruoaaaar!”
“*Hup! (suara tangkapan Naga)”
“Urgh!”
““Myllo!””
Seekor Naga tiba-tiba menangkap
dan membawa Myllo terbang.
Tidak hanya Myllo saja…
“*Hup! (suara tangkapan Naga)”
“Gi…Gia!”
…Naga itu juga menangkap Gia yang
masih tidak sadarkan diri.
Setelah menculik Myllo dan Gia,
Naga itu menyerang semua Naga yang masih hidup.
“Ruoooar!”
“*Jgrum! (suara petir)”
“Rrrr!”
“*Jgrum! (suara petir)”
“Ruoaar!”
Para Petualang pun heran dengan
tindakan Naga tersebut.
“I…Itu…Sky Dragon…?”
“Keliatannya sih gitu. Ternyata
badannya itu bukan asap, tapi awan mendung!”
Kata Padomus dan August yang
memperhatikan Naga itu, yang pergi melarikan diri dengan membawa Myllo dan Gia.
Di tengah dirinya hampir yang
tidak sadar, Myllo melihat seseorang di dalam mulut Naga itu.
“Dji…Djinn…?”
Sahut Myllo setelah melihat Djinn
yang berada di dalam mulut Naga tersebut.
“Djinn…kok lo a—”
“Diem, dongo! Nanti gue jelasin!”
Tegas Djinn yang ikut dibawa
kabur oleh Naga itu.
Saat mereka sedang pergi dari
wilayah pertempuran, tiba-tiba…
“Lycan Thrust!”
“*Shruk! (suara tusukan dengan
cakar)”
“Ruoaaaar!”
…Lupherius menusuk Naga tersebut.
Namun, alih-alih berhenti
terbang, Naga tersebut tetap terbang dengan cepat.
“Cih! Naga ini keras kepala juga,
ya—”
“Woy! Pak Tua!”
“Hm? Kok lo—”
“Jangan apa-apain Naga ini! Kita
sengaja untuk—”
“Apa hubungan lo sama Naga i—”
“Ceritanya panjang! Nanti gue
jelasin!”
“…”
Lupherius hanya diam mendengar
peringatan Djinn, yang menandakan ia setuju untuk mendengar penjelasan Djinn.
Dengan ini, mereka berempat
melarikan diri dari pertempuran bersama dengan Smoke Dragon yang bernama
Yssalq.
Kembali ke medan pertempuran
antara para Petualang melawan Naga…
““Ruoaaaar!””
“Ke…Kenapa Naga-Naga itu…”
“Mereka…juga pergi…?”
“Kok mereka kabur gitu aja…?”
Pikir beberapa Petualang lainnya,
setelah melihat semua Naga itu pergi begitu saja.
Dengan kejadian ini, semua
Petualang yang berada di sana mengalami luka yang sangat berat akibat
pertempuran mereka melawan para Naga.
Dari 20 Petualang yang mengambil
Quest ini, 16 di antaranya masih dalam keadaan hidup, walaupun mengalami luka
yang berat. Sedangkan 4 di antara mereka dinyatakan menghilang.
Dari 10 Naga yang menyerang
mereka, terdapat 3 Naga yang berhasil mereka kalahkan, sedangkan satu Naga berhasil
melarikan diri.
Namun…
“Gi…Gimana Baron sama alat yang
mau dia bawa?”
“Se…Semuanya ada dalam keadaan
aman.”
“…”
Padomus terdiam mendengar
pernyataan Malora karena merasakan suatu kejanggalan.