Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 100. Overheat



“Ruoaaaar!”


“*Boom! (suara ledakan)”


““Aaargh!””


Semua Petualang yang menjalankan


Quest pengawalan masih berkutat melawan 10 Naga yang datang tiba-tiba.


“*Prang! (suara pedang besar)”


“Rrrr…”


“Huff… Huff…”


Gia berhasil mengalahkan salah


satu Naga dengan bantuan beberapa Petualang lainnya.


Walaupun mereka berhasil


mengalahkan satu Naga, stamina dan Mana mereka benar-benar menipis.


“Gia, kamu nggak apa-apa?!”


“Aku…nggak apa-a—”


“Tenang, biar aku sembuhin!”


Seru seoarng Keeper yang langsung


menghampiri Gia untuk menyembuhkannya.


Wanita itu bernama Malora Rikkia,


seorang Petualang Kasta Hijau, yang merupakan anggota dari Ferrum yang dipimpin


oleh Nelzei Kleivnier.


“Huff… Makasih ya, Ma—”


“Ruoaaar!”


Naga lain hendak menyerang Gia


dan beberapa Petualang lainnya, ketika ia sedang disembuhkan.


“Cih! Nggak ada habisnya mereka!”


“Gi…Gimana cara kita bisa selamat


dari—”


“Tenang, aku yang jagain kalian!”


“Gia, jangan! Kamu masih belum—”


“…”


“Gia!”


Gia mengacuhkan panggilan Malora


dan berjalan ke depan untuk menjaga Petualang lainnya.


“Aku nggak akan biarin…kejadian


itu ke-ulang lagi!”


Pikir Gia, sambil mengingat


kejadian di mana ia merasa gagal menjadi seorang Frontliner ketika Bedrock dan


Shawn mati dibunuh oleh Erkstern.


Di hadapannya, ada Naga yang


ukurannya lebih besar dari Naga lainnya. Naga itu memiliki batu-batu yang


menyelimuti punggungnya.


“Heaaaagh!”


“Ruoaaaaar!”


Gia dan Naga itu berlari ke arah


masing-masing.


“*Prang! (suara serangan pedang


besar)”


Gia berhasil memukul cakar Naga


tersebut yang juga hendak menyerangnya, hingga mundur sedikit ke belakang.


“*Dor! (suara tembakan senapan)”


“*Shruk! (suara tertembak)”


“Itu kelemahannya! Ayo serang


dia!”


Sahut seorang Observer yang


bernama Jenri Curlos, Petualang Kasta Hijau, yang menembak perut Naga itu


setelah perut itu tertampak.


“Firebolt!”


“*Boom! (suara sihir api)”


“…”


“Kenapa dia—”


“Jangan serang pake sihir alam!


Nggak akan mempan sihir kita lawan Naga!”


Jelas Jenri kepada seorang


Striker Kasta Kuning yang merupakan seorang Elf yang bernama Chalwyn Trislant.


“Iron Crusher!”


“*PRANG! (suara keras serangan


pedang besar)”


“Ruoaar!’


“Nice, Gia!”


Gia berhasil menyerang Naga


tersebut dengan sihir pedangnya.


Namun…


“Ruoar!”


“*Bruk! (suara tertabrak)”


“Urgh!”


“Gia!”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara


terpental)”


…Naga itu langsung melakukan


serangan balik ke arah Gia dengan kepalanya, hingga ia terpental jauh.


“Ma…Maafin aku…karena nggak cukup


kuat…serang Naga i—”


“Ti…Tidak! Justru saya yang seharusnya


minta maaf karena tidak bisa menyerang Naga itu dengan sihir saya!”


Balas Chalwyn kepada Gia.


““…””


Mereka sama-sama menyaksikan Naga


itu berdiri dan hendak menyerang mereka dengan sihirnya.


“Rrrrr!”


Namun, ketika Naga itu sedang


bersiap menyerang mereka…


“Zegin Blow!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“Ruoaaarr!”


…Myllo datang dan langsung


menyerang Naga itu.


“Gia!”


“My…Myllo…”


“Gia—”


“Tenang! Biar aku yang sembuhin


dia!”


“OK!”


Seru Myllo kepada Malora.


“Kalo gitu, gue pergi du—Uhuk!”


“Hm?”


“Nggak apa-apa, gue cuma keselek


aja tiba-tiba.”


Kata Myllo, sambil menyembunyikan


batuk berdarahnya dari Malora.


……………


Myllo pun meninggalkan Gia yang


sudah tidak sadarkan diri.


Ia berlari ke arah Naga lainnya,


walaupun…


“Urgh…”


…ia menahan rasa sakit yang luar


biasa.


“Myllo! Jangan paksain diri


lo!”


Seru Zegin dari dalam pikirannya.


“Jangan paksain diri?! Terus


gimana caranya kita bertahan dari Naga-Naga ini—”


“Seenggaknya…lo bisa


disembuhin dulu, supaya bisa lawan Naga-Naga ini semua!”


“Terus siapa yang mau lawan


Naga-Naga ini kalo gue harus istirahat—”


“Kan masih ada Petualang yang lain—”


“Cuma beberapa yang masih mau


bangun, Zegin! Liat sendiri!”


Teriak Myllo, sambil


memperlihatkan semua Petualang yang sedang melawan Naga-Naga itu.


“Gi…Gimana cara kita…lawan mereka semua…?”


“Hiks…Hiks… A…Aku nggak kuat…lawan mereka semua…”


“Huff…Huff… Sialan, gue udah nggak sanggup…lagi!”


Dari yang Zegin lihat dari mata


Myllo, sebagian besar Petualang sudah kehilangan semangat untuk melawan 10 Naga


yang sedang mereka hadapi.


“Lo liat sendiri kan, Zegin?!”


“…”


“Makanya itu, nggak ada kata


istirahat, sebelum mereka kalah! Seenggaknya gue bisa bantu Petualang yang


masih bisa lawan mereka!”


Tegas Myllo kepada Zegin.


Namun, dibalik pernyataan Myllo,


Zegin justru merasa ada niat yang tersembunyi darinya.


“Lo mau keliatan kuat, kayak kakak


lo, kan?”


“…”


“Gue nggak ada maksud untuk nyalahin lo kalo emang lo ada niat begitu,


tapi inget kata temen lo itu, Myllo! Lo harus tau kondisi—”


“Apa gunanya Kapten kalo cuma bisa berdiri dibalik anggotanya sendiri, Zegin?!”


Kembali tegas Myllo kepada Zegin.


“OK kalo itu pilihan lo. Kalo lo kenapa-kenapa, jangan salahin Gue yang


udah ingetin lo, Myllo.”


“Hehe! Tenang aja!”


“Yaudah. Kalo emang mau jor-joran, gue kasih 10% kekuatan Gue.”


“OK!”


Seru Myllo, yang terbang ke medan


pertempuran.


……………


“Huff… Huff…”


Padomus kelelahan menghadapi Naga


yang ada di depannya, yang telah sekarat.


“Ruoaar!”


“Arrow Missiles!”


““*Syut! (suara banyak panah)””


“Ruoaa—”


“*Boom! (suara ledakan)”


Ia menembak Naga itu dengan


panahnya yang mengikuti pergerakannya, hingga Naga itu dikalahakan.


“Haaaah… Mana gue kayaknya


udah mau habis, tapi masih ada 7 Naga lagi yang harus dikalahin!”


di depannya.


Tanpa ia sadari…


“Ruoaaaar!”


…ada Naga lain yang hendak


menyerangnya dari belakang.


“Sialan—”


“Zegin Blow: Bahorok!”


“*FWUSH! (suara angin topan)”


Beruntung Myllo telah tiba di


belakangnya untuk menyerang Naga itu, sebelum Naga itu menyerangnya.


“Thanks karena udah jaga belakang gue, Kuning!”


“Woy! Nama gue Myllo, Kuda!”


“Haaaaah?! Kok lo rasis, sih?!”


“Lagian lo sebut nama gue pake


Kasta!”


“Pake Kasta! Bukan pake—”


“Fokus dulu, kalian berdua!”


Saat mereka berdua sedang


berdebat, tiba-tiba Nelzei berseru.


““Hah?!””


“Masih banyak Naga-Naga yang


harus kita lawan! Tambah lagi…”


“Huff… Huff…”


Mereka bertiga pun melihat August


yang sangat terluka karena melawan Naga.


“Woy! Liat Naga itu!”


““…””


Mendengar perkataan Myllo, mereka


pun dengan bersama-sama melihat salah satu Naga yang terbang dengan tinggi.


“Ke…Kenapa Naga itu—”


“RUOOOAAAAAAAARRRRRRRR!!!”


““…””


Naga yang terbang itu menggunakan


Dragon Cry, hingga semua yang ada di sana langsung gemetar ketakutan.


Di saat semua yang berada di sana


gemetar ketakutan, tiba-tiba hampir semua Naga hendak menyerang mereka secara


bersamaan.


Hingga pada akhirnya…


“ZEGIN SWING!!!”


“*Swung, wung, wung… (suara


ayunan tongkat)”


“TUK, TUK, TUK… (suara pukulan


tongkat yang sangat keras)”


…Myllo melempar tongkatnya yang


dialiri kekuatan Zegin, hingga ukurannya menjadi sangat panjang.


Dengan kekuatan itu, ia melempar


tongkatnya sangat keras, hingga berputar dan memukul Naga-Naga yang hendak


menyerang mereka semua.


“Huh… U…Untung ada yang


berhentiin Naga-Naga itu!”


“Gu…Gue kira…gue udah mau mati!”


“Gi…Gila! Kuat juga serangan


itu!”


Hampir semua Petualang yang


berada di sana merasa terselamatkan karena serangan Myllo.


“Te…Teriakan macem apa i—”


“Dragon Cry. Cuma itu doang


jawaban paling logis.”


Balas Nelzei kepada Padomus.


Di saat semua sedang berusaha


melawan rasa takut mereka…


“My…Myllo, makasih udah tahan


serangan Naga-Naga i—”


“*Bruk… (suara tergeletak)”


“Myllo!”


…Myllo tiba-tiba terjatuh.


“Uhok!”


Saat ia terjatuh, ia mengularkan


batuk dengan darah yang sangat banyak.


Tidak hanya itu saja…


“O…Oi! Mata lo kenapa?!”


“Kok…badan lo pucet?!”


…matanya penuh dengan lingkaran


biru, serta tubuh yang pucat. Seakan-akan ia akan mati.


“Te…Tenang…gue…masih


bisa…ber…di—”


“Jangan paksain diri lo, Myllo!”


“Bener! Lo nggak akan sanggup


kalo—”


“Hehe! Gue…baru aja mulai!”


““…””


Mereka hanya bisa diam saja


ketika melihat Myllo masih berusaha untuk bangun melawan Naga-Naga itu.


Melihat tekad dan semangat Myllo


yang tidak gentar, hanya ada satu hal yang terlintas dipikiran mereka.


““Gue malu karena kalah sama Kasta Kuning.””


Namun, ketika memperhatikan


Myllo, ada sesuatu yang datang tanpa mereka sadari.


“Ruoaaaar!”


“*Hup! (suara tangkapan Naga)”


“Urgh!”


““Myllo!””


Seekor Naga tiba-tiba menangkap


dan membawa Myllo terbang.


Tidak hanya Myllo saja…


“*Hup! (suara tangkapan Naga)”


“Gi…Gia!”


…Naga itu juga menangkap Gia yang


masih tidak sadarkan diri.


Setelah menculik Myllo dan Gia,


Naga itu menyerang semua Naga yang masih hidup.


“Ruoooar!”


“*Jgrum! (suara petir)”


“Rrrr!”


“*Jgrum! (suara petir)”


“Ruoaar!”


Para Petualang pun heran dengan


tindakan Naga tersebut.


“I…Itu…Sky Dragon…?”


“Keliatannya sih gitu. Ternyata


badannya itu bukan asap, tapi awan mendung!”


Kata Padomus dan August yang


memperhatikan Naga itu, yang pergi melarikan diri dengan membawa Myllo dan Gia.


Di tengah dirinya hampir yang


tidak sadar, Myllo melihat seseorang di dalam mulut Naga itu.


“Dji…Djinn…?”


Sahut Myllo setelah melihat Djinn


yang berada di dalam mulut Naga tersebut.


“Djinn…kok lo a—”


“Diem, dongo! Nanti gue jelasin!”


Tegas Djinn yang ikut dibawa


kabur oleh Naga itu.


Saat mereka sedang pergi dari


wilayah pertempuran, tiba-tiba…


“Lycan Thrust!”


“*Shruk! (suara tusukan dengan


cakar)”


“Ruoaaaar!”


…Lupherius menusuk Naga tersebut.


Namun, alih-alih berhenti


terbang, Naga tersebut tetap terbang dengan cepat.


“Cih! Naga ini keras kepala juga,


ya—”


“Woy! Pak Tua!”


“Hm? Kok lo—”


“Jangan apa-apain Naga ini! Kita


sengaja untuk—”


“Apa hubungan lo sama Naga i—”


“Ceritanya panjang! Nanti gue


jelasin!”


“…”


Lupherius hanya diam mendengar


peringatan Djinn, yang menandakan ia setuju untuk mendengar penjelasan Djinn.


Dengan ini, mereka berempat


melarikan diri dari pertempuran bersama dengan Smoke Dragon yang bernama


Yssalq.


Kembali ke medan pertempuran


antara para Petualang melawan Naga…


““Ruoaaaar!””


“Ke…Kenapa Naga-Naga itu…”


“Mereka…juga pergi…?”


“Kok mereka kabur gitu aja…?”


Pikir beberapa Petualang lainnya,


setelah melihat semua Naga itu pergi begitu saja.


Dengan kejadian ini, semua


Petualang yang berada di sana mengalami luka yang sangat berat akibat


pertempuran mereka melawan para Naga.


Dari 20 Petualang yang mengambil


Quest ini, 16 di antaranya masih dalam keadaan hidup, walaupun mengalami luka


yang berat. Sedangkan 4 di antara mereka dinyatakan menghilang.


Dari 10 Naga yang menyerang


mereka, terdapat 3 Naga yang berhasil mereka kalahkan, sedangkan satu Naga berhasil


melarikan diri.


Namun…


“Gi…Gimana Baron sama alat yang


mau dia bawa?”


“Se…Semuanya ada dalam keadaan


aman.”


“…”


Padomus terdiam mendengar


pernyataan Malora karena merasakan suatu kejanggalan.