Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 119. Sorry and Thanks



““*Boom! (suara banyak ledakan)””


““Aaaargh!””


“Ayo serang pria i—”


“HEEAAAARGH!!!”


“*Jgrummmm!!! (suara sambaran


petir)”


““Aeaeaeagh!””


Dasar brengsek!


Gara-gara pasukannya, dia jadi


kabur di depan gue!


““Flame Dragon Throw!””


““*Vwumm… (suara banyak kobaran


api)””


Sialan! Bisa barengan gitu mereka


sembur apinya!


“*Crrrk… (suara kilatan petir)”


““*Boom! (suara ledakan)””


Mereka nggak ada yang belajar


ya?!


Udah tau kalo api kena listrik


pasti meledak!


Sekarang tuh yang jadi masalah…


““*Vwum! (suara banyak bola


api)””


“Cih! Anjing!”


Pasukan-pasukan yang


terbang-terbang ini!


Sihir petir gue pun nggak bisa


jangkau mereka!


“Pasukan Louisson yang masih bisa


berdiri! Serang Siegfried! Waktunya kita Perang Bangsawan!”


““Siap, Yang Mulia!””


Bismont tiba-tiba perintahin


pasukannya buat lawan Siegfried ini?!


“Serang sayapnya!”


“Blade Slash!”


““*Swush! (suara ayunan banyak


pedang)””


““*Shrak! (suara banyak


tebasan)””


““Aaargh!””


Karena pasukan dia, jadi bisa


dikalahin Pasukan Terbang-nya Siegfried.


Emang sih gue kebantu, tapi—


“Djinn, ijinin gue untuk—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“…”


Dia diem aja waktu gue pukul.


“Gue nggak butuh bantuan lo,


anjing.”


“…”


“Lo kira gue nggak tau kalo tadi


lo itu lawan Myllo?!”


“Ya. Gue—”


“Denger ini, brengsek. Kalo sampe


temen gue kenapa-kenapa, lo yang gue incer. Paham?”


“Ya. Gue paham. Gue nggak


ngeharapin pengampunan lo. Gue cuma mau bales apa yang dibuat bangsawan biadab


itu ke gue.”


Oh, ada yang nggak gue tau, ya?


“Lapor! Pasukan Terbang hanya


tersisa 20 anggota saja!”


“Pasukan Darat tersisa 50


anggota!”


Mereka ngasih laporan?!


“Baiklah! Semua, kita mundur!”


Anjing! Kok dia bisa ngomong la—


“Yang Mulia! Bagaimana dengan


Kaum Non-Manusia—”


“Tinggalkan saja! Kita sudah


mendapatkan lebih dari apa yang kita harapkan! Lebih baik kalian menutup portal


ini secepatnya!”


““Baik, Yang Mulia!””


Brengsek! Dia kira dia bisa kabur


gitu aja?!


Mending gue coba serangan lain!


“*Crrr… (suara kilat)”


“Judgement: Charged Shot!”


“*Jgrum! (suara tembakan sihir


petir)”


“Ke…Keterlaluan! Pria itu masih


bisa menembak—”


“*Bzzztt… (suara tersetrum


petir)”


“Aaaaaa…”


Brengsek!


Kenapa gue baru kepikiran pake


serangan itu?!


Padahal gue sempet pake teknik


serangan sihir itu waktu lawan High Elf yang nyamar jadi Konnor tadi!


Karena gue telat pake sihir itu,


makanya Siegfried berhasil kabur dari hutan ini, sambil beberapa Petualang Non-Manusia


sama beberapa Monster!


“*Bruk! (suara memukul tanah)”


“BRENGSEK!”


Gue kesel banget!


Andai gue masih di sini, mungkin


kita masih ada perlawanan ka—


“Myllo!”


Oh ya! Myllo!


“My…Myllo!”


“…”


Dia pucet kayak mayat lagi!


Padahal kemarin udah sembuh


total, kan—



Oh iya…dia aja dilarang untuk


turun tangan sama Kepala Suku.


“…”


Kalo gue perhatiin lagi di


sekitar sini…


“A…AUGUUUUSTTT!!!”


“Ka…Kapten! Jangan mati, Kapten!”


Beberapa anggotanya August


ditangkep, sedangkan dia sendiri sekarat kayak gitu.


“Ka…Kapten Padomus…tertangkap


ya…?”


“Bos Nelzei! Hiks!”


Padomus ketangkep, sedangkan


Nelzei mati.


“Ya…Yang Mulia…i…ini adalah benda


yang sering ia simpan. Benda ini a…a…adalah hadiah ulang tahun dari anaknya…”


“Biar gue aja yang pegang.”


“Hiks… Baiklah. Maafkan


saya, Yang Muli—”


“Ja…Jangan minta maaf.


Harusnya…gue yang minta maaf!”


Gue mungkin perlu tau latar


belakang Bismont yang tiba-tiba ikut pertempuran ini, karena di mata gue dia


kesannya juga korban dari Siegfried.


Apalagi, dia harus tanggung jawab


sama kematian pasukan-pasukannya.


“Teh Yssalq! Teh Yssalq teh ke mana?!”


Bahkan Yssalq pun juga diangkut


mereka semua.


Ternyata…ini ya yang namanya


perang.


Gue nggak tau perang itu kayak


gimana, tapi gue yakin kalo perang ini bahkan bisa dibilang skalanya kecil.


Gimana kalo perang yang skalanya


lebih besar, ya?


Berapa korban yang—


“I…Istri! Anda baik-baik aja,


kan?!”


“!!!”


Itu suaranya Onro kan?!


Kok dia—


“!!!”


“*Drapdrapdrap… (suara berlari)”


“O…Onro!”


“Djinn! Syukurlah anda masih


sela—”


“Gi…Gimana kabar istri lo?!”


“Dia masih sadar.”


Bukan soal itunya, Onro!


Lo nggak liat perut istri lo


ketusuk panah?!


Kan istri lo lagi hamil!


“Uhm…Suami…Djinn…”


“Istriiii! Syukurlah anda masih


hidup!”


“Saya masih hidup, Suami. Tapi Anak—”


“Maafin saya karena nggak bisa


jaga Anak, Istri!”


“Maafin saya juga karena nggak


bisa jaga Anak, Sua—”


“Hiks…Hiks…”


“Dji…Djinn…?”


Ke…Kenapa gue nangis?


Kenapa gue sedih?


Mungkin gue bingung kenapa gue


sedih.


Tapi, yang pasti gue marah bang—


““*Puk… (suara saling


berpelukan)””


Kenapa…mereka peluk gue?


“Terima kasih karena sedih untuk


Anak, Djinn.”


“Maafin kami karena nggak bisa


jaga Anak, Djinn.”


“Hiks! Y…Ya.”


Andai gue ada di sini, mungkin


gue bisa jagain Onro sama keluarganya.


“Djinn.”


“Ke…Kepala Suku?! Syukurlah anda


masih selamat!”


Kepala Suku…


Lukanya banyak banget.


“Kamu teh kesel kan sama


orang itu?”


“Pastinya!”


“Saya teh juga kesel.


Monster-Monster teh di bawa pergi begitu aja! Mereka teh keterlaluan!”


Ya, pasti dia jauh lebih kesel


daripada gue.


“Tunggu sebentar ya, Djinn.”


“Tunggu? Emangnya ma—”


“*Drup… (suara bersujud)”


Eh?! Kenapa dia tiba-tiba sujud?!


“Saya teh mohon, supaya


kamu mau ngejar mereka! Saya mah sebenernya mau ngejar mereka, tapi


Monster-Monster lainnya teh nggak bisa saya tinggal! Makanya itu—”


“Ya. Kita berdua bakal kejar


mereka, Kepala Suku.”


Tiba-tiba muncul lagi nih orang!


“Lu…Lupherius?!”


“Gue janji untuk bebasin semua


penghuni hutan ini, Kepala Suku.”


“Ha…*Hatur*Nuhun,


Lupherius!”


“Lo gimana, Djinn?”


Serius dia nanya gitu?


Pasti dia udah tau dong


jawabannya apa!


“Ya, gue juga janji untuk bebasin


semuanya!”


Ya gue ngomong gitu.


Masalahnya…


“Cara kita ke sana…gimana?”


“Tenang! Tadi teh saya


udah hapalkeun pola sihir portal tadi. Makanya itu, saya teh butuh waktu untuk bikin portal!”


Buset! Dia bisa niru sihir tadi?!


“Djinn. Mending lo ke sana dulu.


Keliatannya dia udah agak sadar sedikit.”


“Ke Myllo ya?”


“Ya. Dia itu Kapten lo, makanya


lo harus minta izin sama minta arahannya.”


“OK kalo gitu.”


Sesuai arahan Lupherius, makanya


gue jalan ke—


“Lo nggak lupa kan harus bilang


apa?!”


“Ya.”


“Bagus.”


“Hmph.”


Gue cuma senyum aja, sambil jalan


ke arah Myllo.


Waktu gue sampe, gue bisa liat


ada Gia yang nggak sadar di sampingnya.


“My…Myllo…”


“Ah, sialan…”


Hah…?


“Lo masih bisa berdiri kayak


gitu…sedangkan gue udah terbaring lemah kayak gi—”


“*Bruk! (suara kepala menghantam


tanah)”


“O…Oi! Kenapa lo sujud di depan—”


“Maafin gue, Myl! Andai gue bisa bantu


lo, mungkin lo nggak akan luka-luka begini!”


“Dji…Djinn…”


“Maafin gue juga untuk semua


tindakan gue! Gue…cuma nggak tega ngeliat kondisi lo kayak begini!”


“I…Itu salah gue, Dji—”


“Lo itu salah satu temen pertama


gue, makanya gue nggak tau cara berinteraksi sama temen sendiri. Makanya itu,


maafin gue kalo tindakan gue terlalu kasar sama—”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Ahahaha…gue nggak nyangka lo


punya sifat begini.”


“…”


“Hehe…makasih ya karena udah


selalu ingetin gue Djinn. Gue juga minta maaf kalo gue terlalu egois selama


ini.”


“Myl…”


Dia cuma senyum doang, walaupun


kondisinya udah sekarat ka—


“*Vwrung… (suara portal kebuka)”


“Djinn, portal udah kebuka! Ayo


kita berangkat!”


Oh iya.


Gue harus ngejar mereka semua!


“Myl, gue mau pergi sama


Lupherius untuk bebasin semua tahanan yang ada di sana! Menurut lo—”


“Kenapa lo harus nanya? Lo udah


tau kan jawabannya apa?”


Haha…


Ternyata nggak perlu basa-basi ya


sama orang ini.


“OK! Kalo gitu gue pergi dulu,


Kapten!”


“Hehe! OK, Djinn! Tunggu gue di


sana! Gue bakal nyusul!”


“Hmph!”


Akhirnya gue berangkat bareng


Lupherius untuk lawan bebasin semua Kaum Non-Manusia.


Untungnya, perasaan gue udah lega


karena udah damai sama Myl—


“*Dug, dug… (suara detak


jantung)”


“Hm? Kenapa lo tiba-tiba diem


begitu, Djinn? Ayo kita masuk.”


“Y…Ya…”


Padahal tadi perasaan gue udah


lega, tapi nggak tau kenapa gue punya firasat jelek banget sebelum masuk portal


ini.