
“Djinn, kamu nggak akan lupain aku, kan?”
Ah, gue mimpi
ya?
Kalo nggak
salah, gue tidur di rumahnya Onro.
Mimpi ini…terakhir
kalinya Djinnardio ketemu temen kecilnya, ya?
Siapa namanya?
Duh, gue lupa
sendiri namanya.
“Iya. Aku nggak akan lupain kamu, kok!”
“Janji ya?!”
“…”
Loh, kok
Djinnardio diem aja—
“Djinn! Aku ngomong sama kamu!”
Hah?!
“Djinn!”
Dia ngomong sama
gue?!
Gimana cara gue
jawabnya—
“*Tap… (suara
menepuk pundak)”
“Djinn, tolong
a—”
“HAAAAH!”
Mi…Mimpi macem
apa itu?!
Si…Siapa itu
yang nepuk pundak gue?!
Kenapa yang
nepuk pundak gue tadi…berlumuran darah gitu badannya?!
“Huff… Huff…”
Jangan bilang…yang
nepuk pundak gue—
“Djinn! Ada
apa?!”
“…”
Huh, untung gue
langsung pake topeng gue, sebelum Onro masuk!
“Anda baik-baik
aja, kan?!”
“I…Iya. Gue cuma…mimpi
buruk aja.”
“Untung aja cuma
mimpi buruk. Saya kira anda kenapa-kenapa!”
Mimpi buruk itu,
bikin gue—
“…”
Eh?
Gue mimpi apa?!
Sialan! Kenapa
gue tiba-tiba lupa sama mimpi gue?!
Brengsek!
Gue mimpi a—
“Djinn, gimana
kalo kita sarapan dulu?”
“OK kalo gitu.”
Lupain aja, lah.
Mimpi cuma
sekedar mimpi, kan?
Mending makan
dulu aja bareng Onro.
……………
Waktu gue liat
dari jendala rumah Onro, keliatannya masih jam 5 atau jam 6 pagi.
“Ini sarapannya!
Maaf kalo nggak sesuai selera ya?! Ahahaha!”
“…”
Makanannya cuma
daging dibakar, ya?
Yaudah lah,
daripada nggak makan?
Seenggaknya
porsinya banyak.
“Onro, gue
keluar dulu ya.”
“OK, Djinn.”
Selesai gue
makan, gue keluar dari rumah Onro untuk latian.
“…”
Hm, lumayan sepi
tempatnya.
Mending latian
di sini aja deh.
Tapi sebelum
latian, gue coba tenangin pikiran gue dulu.
Nggak tau
kenapa, akhir-akhir ini ada banyak banget yang ganjel di pikiran gue.
Mulai dari apa
yang gue liat di dalem Hidden Dungeon, masalah di negara ini, debat gue sama
Myllo, perasaan untuk punya orang tua sebaik Onro, sampe mimpi yang tiba-tiba
gue lupain.
“Haaa…fuuh…”
Pikiran gue
masih belom tenang.
Tapi, daripada
kelamaan ilangin beban pikiran gue, mending mulai aja deh.
“*Swush! (suara
ayunan pukulan)”
“*Swush! (suara
ayunan tendangan)”
Gue sebenernya
nggak mau pikirin ini, tapi entah kenapa, sejauh ini gue ngerasa kalo
Monster-Monster ini lebih beradab daripada Manusia, khususnya penduduk Xia
Village.
Kalo gue
bandingin sama warga Xia, Monster-Monster di desa ini lebih keliatan Manusia di
balik wujud Monster-nya, sedangkan warga Xia bisa dibilang kebalikannya.
Apa mungkin kalimat yang gue baca di Hidden Dungeon
itu maksudnya ini, ya?
“Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua Malaikat Baik.”
Waktu itu,
Melchizedek juga bilang kalo Monster-Monster itu dasarnya juga baik, kan?
Kalo nggak
karena dewa yang namanya Sakhtice itu, mungkin nggak ada yang namanya Iblis di
dunia ini, kan?!
Bahkan Monster
nggak perlu kena diskriminasi kayak gini!
“*Swush! (suara
ayunan pukulan)”
“*Swush! (suara
ayunan tendangan)”
Ya, gue nggak
bisa bilang semua Monster itu baik sih. Kayaknya terlalu cepet untuk bilang
begitu.
Gue masih yakin
sama pendapat gue, kalo dasarnya semua itu abu-abu. Nggak ada yang putih, nggak
ada yang hitem.
“…”
Kayaknya ada
yang liatin gue.
Yang pasti, gue
sekarang lebih siap kalo dia dateng
tiba-ti—
“*Bhuk! (suara
pukulan beradu)”
“…”
Tuh, kan!
Pasti Lupherius
yang dateng!
Tapi kenapa dia
tiba-tiba nyerang gue?!
Tambah lagi…
“…”
…keras juga
pukulannya!
“Jangan kesel
sama gue, karena gue mau ikut latian bareng lo, Binn.”
“Djinn!”
“Ya.”
Gimana nggak
kesel kalo nama sependek itu masih salah nyebutnya?!
“Humph!”
“*Swush! (suara
ayunan pukulan)”
Gerakan dia
cepet banget.
Untung gue masih
bisa hindarin serangan cepetnya.
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Seenggaknya dia
terlalu fokus nyerang, sampe lupa jaga badannya—
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“!!!”
Cih! Cepet
banget gerakannya!
Bukannya sakit,
dia malah dapet celah untuk nyerang gue yang baru aja nyerang dia?!
“Hmph! Cepet
juga gerakan lo.”
“Lo juga,
walaupun udah tua!”
Kalo gitu, gue
harus lebih siap lagi untuk cegah gerakannya!
“*Bhuk! Dhuk!
Bhuk! Dhuk! (suara adu bela diri)”
Sialan, malah
sekarang gue nggak punya celah sama sekali untuk bales serangannya!
Sekarang dia
lebih banyak bertahan daripada nyerang gue. Giliran gue coba serang, dia nggak
ada niatan untuk serang balik!
Yah, seenggaknya
gue masih bisa liat gerakan dia yang lambat di mata gue, walaupun gerakan dia
nggak lebih lambat dibanding siapapun yang coba serang gue, kecuali Tarzyn.
““Huff… Huff…””
Keliatannya dia
capek karena banyak gerak.
Ya, gue sendiri
juga capek sih karena gagal terus serang dia.
“Gue baru
“Hm?”
“Pasti lo pake Extra Capacity, ya?”
Hah?
“Itu…apaan?”
“Lo bisa sihir
tapi nggak tau Extra Capacity?!”
“Gue aja baru
bisa pake sihir, waktu lawan Tarzyn!”
“!!!”
Kenapa dia
kaget?
“Oh, ternyata lo
nggak sadar ya kalo punya Extra Capacity?”
“Nggak…kayaknya.”
“Hm, kalo gitu…”
“*DHUMMM… (suara
tekanan aura yang mendalam)”
Kenapa dia
tiba-tiba ngeluarin aura—
“*SWUSH! (suara
gerakan sangat cepat)”
Brengsek!
Kenceng banget gerakannya!
“*Bhuk! (suara
menangkis pukulan)”
“*Dhuk! (suara
menangkis tendangan)”
Walaupun dia
jadi normal, untungnya gue masih bisa nahan serangan dia.
Tapi, normal-nya
dia tuh sekenceng ini?!
“Hmph! Ternyata
lo masih bisa nahan serangan gue, walaupun nggak pake Extra Capacity!”
Gue juga ngerasa
beruntung kalo gerakan dia masih bisa gue baca.
“Kalo gitu, gue
kasih tantangan.”
“Hm?”
“Kalo lo bisa
serang gue, nanti gue ajarin bela diri gue.”
Hm, menarik.
“…”
Dia udah siapin
kuda-kuda dia.
“*Swush, swush,
swush! (suara lompatan cepat)”
Dia
lompat-lompat?!
“*Bhuk! Bhuk!
Bhuk! (suara menangkis pukulan)”
Walaupun
gerakannya lebih cepet, seenggaknya gue masih bisa tahan serangan di—
“*Dhuk! (suara
tendangan)”
“Uhuk!”
Brengsek!
Gerakan apaan itu?!
Dia lompat
sana-sini, sambil pukul gue.
Tapi gue nggak
nyangka dia muter vertikal untuk nendang gue!
“Hm, jadi itu ya
kelemahan bela diri lo?”
Kelemahan Pencak
Silat?
“Nggak,
keliatannya bukan bela dirinya yang salah, tapi lo nggak sepenuhnya
kuasain bela diri itu.”
Ya, dia ada
benernya juga.
Lagian mana
mungkin ada anak kecil yang bisa kuasain bela diri selama beberapa bulan doang?!
“Artinya lo
terlalu ngandelin kekuatan keras lo dibanding bela diri lo, ya?”
“Ya, bisa
dibilang begitu.”
Kalo nggak
karena kekuatan ini, mungkin gue udah mati dari kapan tau!
“Masih berani
terima tantangannya?”
“Hmph! Siapa
takut?!”
“Hmph, gue suka
semangat lo.”
““*Swush! (suara
gerakan cepat)””
Gue
terus-terusan ngehindarin serangan dia, begitu juga dia.
“*Swush! (suara
menghindari serangan)”
“*Bhuk! Dhuk!
(suara pukulan dan tendangan)”
“Urgh…”
Sialan! Dia jadi
gampang banget ngehindarin serangan gue, tapi gue jadi lebih susah baca
serangan dia!
Ayo, Djinn!
Baca gerakan dia
baik-baik!
“*Bhuk! (suara
pukulan)”
“*Bruk, bruk,
bruk… (suara jatuh terpental)”
“Cih!”
Dia mentalin
gue, tapi dia nggak langsung maju untuk nyerang gue!
Dia lebih
hati-hati untuk analisa gerakan gue, dibanding nyerang agresif.
Oh, ya.
Karena kita
daritadi saling baca gerakan, gue mulai nyadar sesuatu.
Kalo gerakan dia
nggak bisa gue baca, kenapa juga harus gue baca?
Mending gue coba
serang yang diluar dugaan juga, kayak dia nyerang gue!
“*Swush! (suara
berlari)”
“Humph!”
“…”
Bagus, dia
hindarin serangan gue.
“…”
Dia terus
hindarin serangan gue.
Untuk percobaan
terakhir, gue mau pukul dia ke atas.
Karena lengan
gue yang ke atas, dia pasti mau coba pukul badan gue yang nggak dijagain!
“*Dhuk! (suara
menahan pukulan dengan kaki)”
“!!!”
Yes! Akhirnya!
Karena gue jaga
badan gue pake kaki kanan gue…
“*Hup! (suara
menggenggam lengan)”
…gue pegang
lengan dia yang mau pukul gue, terus gue tarik ke bawah, dan terakhir…
“*Dhuk! (suara
menendang dengan lutut)”
“Urgh!”
…gue tendang
kepala dia pake lutut kiri gue!
“Huff… Huff…”
Gila, ternyata
capek juga ya?!
“Haha, ternyata
lo sadar juga, ya?!”
“Sadar?”
“Sadar, kalo
nggak semua orang perlu dibaca
pergerakannya.”
Oh, ternyata itu
tujuan dia nantangin gue untuk bisa nyerang dia, ya?!
“Lo Kasta
Kuning, kan?!”
“Ya. Kenapa
emangnya?”
“Ini saran dari orang
yang udah jadi Petualang selama 20 tahun lebih, Jirr.”
“Djinn!”
“Inget ini
baik-baik. Semakin naik Kasta lo, pasti
lo ketemu lawan yang nggak cuma semakin kuat, tapi juga lawan yang semakin
pinter. Makanya itu nggak semua lawan bisa lo baca gerakannya.”
“…”
“Lo nggak bisa
cuma ngandelin kekuatan keras sama bela diri lo yang setengah-setengah itu.
Apalagi yang gue bilang tadi, nggak semua lawan bisa lo baca gerakannya. Jangan
sombong karena kekuatan yang udah lo punya.”
Mungkin dia ada
benernya juga.
Sejauh ini,
semua yang udah gue pernah lawan di dunia ini antara nggak sekuat itu, atau
mungkin kuat tapi nggak punya akal sehat.
“Daripada
ngebaca gerakan lawan, kenapa lo nggak latihan untuk semakin kuat?”
“Semakin…kuat?”
“Ya, supaya lo bisa jaga temen-temen lo, khususnya
Kapten lo sendiri.”
Untuk…jaga
temen-temen gue?
“Yah, paling itu
dulu lah latian hari ini.”
“Woy! Katanya lo
mau latih bela diri—”
“Gue kecapean.”
***** nih orang!
Tapi, entah
kenapa gue ngerasa ada maksud dibalik kalimat dia tadi.