Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 104. The Spar



“Djinn, kamu nggak akan lupain aku, kan?”


Ah, gue mimpi


ya?


Kalo nggak


salah, gue tidur di rumahnya Onro.


Mimpi ini…terakhir


kalinya Djinnardio ketemu temen kecilnya, ya?


Siapa namanya?


Duh, gue lupa


sendiri namanya.


“Iya. Aku nggak akan lupain kamu, kok!”


“Janji ya?!”


“…”


Loh, kok


Djinnardio diem aja—


“Djinn! Aku ngomong sama kamu!”


Hah?!


“Djinn!”


Dia ngomong sama


gue?!


Gimana cara gue


jawabnya—


“*Tap… (suara


menepuk pundak)”


“Djinn, tolong


a—”


“HAAAAH!”


Mi…Mimpi macem


apa itu?!


Si…Siapa itu


yang nepuk pundak gue?!


Kenapa yang


nepuk pundak gue tadi…berlumuran darah gitu badannya?!


“Huff… Huff…”


Jangan bilang…yang


nepuk pundak gue—


“Djinn! Ada


apa?!”


“…”


Huh, untung gue


langsung pake topeng gue, sebelum Onro masuk!


“Anda baik-baik


aja, kan?!”


“I…Iya. Gue cuma…mimpi


buruk aja.”


“Untung aja cuma


mimpi buruk. Saya kira anda kenapa-kenapa!”


Mimpi buruk itu,


bikin gue—


“…”


Eh?


Gue mimpi apa?!


Sialan! Kenapa


gue tiba-tiba lupa sama mimpi gue?!


Brengsek!


Gue mimpi a—


“Djinn, gimana


kalo kita sarapan dulu?”


“OK kalo gitu.”


Lupain aja, lah.


Mimpi cuma


sekedar mimpi, kan?


Mending makan


dulu aja bareng Onro.


……………


Waktu gue liat


dari jendala rumah Onro, keliatannya masih jam 5 atau jam 6 pagi.


“Ini sarapannya!


Maaf kalo nggak sesuai selera ya?! Ahahaha!”


“…”


Makanannya cuma


daging dibakar, ya?


Yaudah lah,


daripada nggak makan?


Seenggaknya


porsinya banyak.


“Onro, gue


keluar dulu ya.”


“OK, Djinn.”


Selesai gue


makan, gue keluar dari rumah Onro untuk latian.


“…”


Hm, lumayan sepi


tempatnya.


Mending latian


di sini aja deh.


Tapi sebelum


latian, gue coba tenangin pikiran gue dulu.


Nggak tau


kenapa, akhir-akhir ini ada banyak banget yang ganjel di pikiran gue.


Mulai dari apa


yang gue liat di dalem Hidden Dungeon, masalah di negara ini, debat gue sama


Myllo, perasaan untuk punya orang tua sebaik Onro, sampe mimpi yang tiba-tiba


gue lupain.


“Haaa…fuuh…”


Pikiran gue


masih belom tenang.


Tapi, daripada


kelamaan ilangin beban pikiran gue, mending mulai aja deh.


“*Swush! (suara


ayunan pukulan)”


“*Swush! (suara


ayunan tendangan)”


Gue sebenernya


nggak mau pikirin ini, tapi entah kenapa, sejauh ini gue ngerasa kalo


Monster-Monster ini lebih beradab daripada Manusia, khususnya penduduk Xia


Village.


Kalo gue


bandingin sama warga Xia, Monster-Monster di desa ini lebih keliatan Manusia di


balik wujud Monster-nya, sedangkan warga Xia bisa dibilang kebalikannya.


Apa mungkin kalimat yang gue baca di Hidden Dungeon


itu maksudnya ini, ya?


“Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua Malaikat Baik.”


Waktu itu,


Melchizedek juga bilang kalo Monster-Monster itu dasarnya juga baik, kan?


Kalo nggak


karena dewa yang namanya Sakhtice itu, mungkin nggak ada yang namanya Iblis di


dunia ini, kan?!


Bahkan Monster


nggak perlu kena diskriminasi kayak gini!


“*Swush! (suara


ayunan pukulan)”


“*Swush! (suara


ayunan tendangan)”


Ya, gue nggak


bisa bilang semua Monster itu baik sih. Kayaknya terlalu cepet untuk bilang


begitu.


Gue masih yakin


sama pendapat gue, kalo dasarnya semua itu abu-abu. Nggak ada yang putih, nggak


ada yang hitem.


“…”


Kayaknya ada


yang liatin gue.


Yang pasti, gue


sekarang lebih siap kalo dia dateng


tiba-ti—


“*Bhuk! (suara


pukulan beradu)”


“…”


Tuh, kan!


Pasti Lupherius


yang dateng!


Tapi kenapa dia


tiba-tiba nyerang gue?!


Tambah lagi…


“…”


…keras juga


pukulannya!


“Jangan kesel


sama gue, karena gue mau ikut latian bareng lo, Binn.”


“Djinn!”


“Ya.”


Gimana nggak


kesel kalo nama sependek itu masih salah nyebutnya?!


“Humph!”


“*Swush! (suara


ayunan pukulan)”


Gerakan dia


cepet banget.


Untung gue masih


bisa hindarin serangan cepetnya.


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Seenggaknya dia


terlalu fokus nyerang, sampe lupa jaga badannya—


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“!!!”


Cih! Cepet


banget gerakannya!


Bukannya sakit,


dia malah dapet celah untuk nyerang gue yang baru aja nyerang dia?!


“Hmph! Cepet


juga gerakan lo.”


“Lo juga,


walaupun udah tua!”


Kalo gitu, gue


harus lebih siap lagi untuk cegah gerakannya!


“*Bhuk! Dhuk!


Bhuk! Dhuk! (suara adu bela diri)”


Sialan, malah


sekarang gue nggak punya celah sama sekali untuk bales serangannya!


Sekarang dia


lebih banyak bertahan daripada nyerang gue. Giliran gue coba serang, dia nggak


ada niatan untuk serang balik!


Yah, seenggaknya


gue masih bisa liat gerakan dia yang lambat di mata gue, walaupun gerakan dia


nggak lebih lambat dibanding siapapun yang coba serang gue, kecuali Tarzyn.


““Huff… Huff…””


Keliatannya dia


capek karena banyak gerak.


Ya, gue sendiri


juga capek sih karena gagal terus serang dia.


“Gue baru


“Hm?”


“Pasti lo pake Extra Capacity, ya?”


Hah?


“Itu…apaan?”


“Lo bisa sihir


tapi nggak tau Extra Capacity?!”


“Gue aja baru


bisa pake sihir, waktu lawan Tarzyn!”


“!!!”


Kenapa dia


kaget?


“Oh, ternyata lo


nggak sadar ya kalo punya Extra Capacity?”


“Nggak…kayaknya.”


“Hm, kalo gitu…”


“*DHUMMM… (suara


tekanan aura yang mendalam)”


Kenapa dia


tiba-tiba ngeluarin aura—


“*SWUSH! (suara


gerakan sangat cepat)”


Brengsek!


Kenceng banget gerakannya!


“*Bhuk! (suara


menangkis pukulan)”


“*Dhuk! (suara


menangkis tendangan)”


Walaupun dia


jadi normal, untungnya gue masih bisa nahan serangan dia.


Tapi, normal-nya


dia tuh sekenceng ini?!


“Hmph! Ternyata


lo masih bisa nahan serangan gue, walaupun nggak pake Extra Capacity!”


Gue juga ngerasa


beruntung kalo gerakan dia masih bisa gue baca.


“Kalo gitu, gue


kasih tantangan.”


“Hm?”


“Kalo lo bisa


serang gue, nanti gue ajarin bela diri gue.”


Hm, menarik.


“…”


Dia udah siapin


kuda-kuda dia.


“*Swush, swush,


swush! (suara lompatan cepat)”


Dia


lompat-lompat?!


“*Bhuk! Bhuk!


Bhuk! (suara menangkis pukulan)”


Walaupun


gerakannya lebih cepet, seenggaknya gue masih bisa tahan serangan di—


“*Dhuk! (suara


tendangan)”


“Uhuk!”


Brengsek!


Gerakan apaan itu?!


Dia lompat


sana-sini, sambil pukul gue.


Tapi gue nggak


nyangka dia muter vertikal untuk nendang gue!


“Hm, jadi itu ya


kelemahan bela diri lo?”


Kelemahan Pencak


Silat?


“Nggak,


keliatannya bukan bela dirinya yang salah, tapi lo nggak sepenuhnya


kuasain bela diri itu.”


Ya, dia ada


benernya juga.


Lagian mana


mungkin ada anak kecil yang bisa kuasain bela diri selama beberapa bulan doang?!


“Artinya lo


terlalu ngandelin kekuatan keras lo dibanding bela diri lo, ya?”


“Ya, bisa


dibilang begitu.”


Kalo nggak


karena kekuatan ini, mungkin gue udah mati dari kapan tau!


“Masih berani


terima tantangannya?”


“Hmph! Siapa


takut?!”


“Hmph, gue suka


semangat lo.”


““*Swush! (suara


gerakan cepat)””


Gue


terus-terusan ngehindarin serangan dia, begitu juga dia.


“*Swush! (suara


menghindari serangan)”


“*Bhuk! Dhuk!


(suara pukulan dan tendangan)”


“Urgh…”


Sialan! Dia jadi


gampang banget ngehindarin serangan gue, tapi gue jadi lebih susah baca


serangan dia!


Ayo, Djinn!


Baca gerakan dia


baik-baik!


“*Bhuk! (suara


pukulan)”


“*Bruk, bruk,


bruk… (suara jatuh terpental)”


“Cih!”


Dia mentalin


gue, tapi dia nggak langsung maju untuk nyerang gue!


Dia lebih


hati-hati untuk analisa gerakan gue, dibanding nyerang agresif.


Oh, ya.


Karena kita


daritadi saling baca gerakan, gue mulai nyadar sesuatu.


Kalo gerakan dia


nggak bisa gue baca, kenapa juga harus gue baca?


Mending gue coba


serang yang diluar dugaan juga, kayak dia nyerang gue!


“*Swush! (suara


berlari)”


“Humph!”


“…”


Bagus, dia


hindarin serangan gue.


“…”


Dia terus


hindarin serangan gue.


Untuk percobaan


terakhir, gue mau pukul dia ke atas.


Karena lengan


gue yang ke atas, dia pasti mau coba pukul badan gue yang nggak dijagain!


“*Dhuk! (suara


menahan pukulan dengan kaki)”


“!!!”


Yes! Akhirnya!


Karena gue jaga


badan gue pake kaki kanan gue…


“*Hup! (suara


menggenggam lengan)”


…gue pegang


lengan dia yang mau pukul gue, terus gue tarik ke bawah, dan terakhir…


“*Dhuk! (suara


menendang dengan lutut)”


“Urgh!”


…gue tendang


kepala dia pake lutut kiri gue!


“Huff… Huff…”


Gila, ternyata


capek juga ya?!


“Haha, ternyata


lo sadar juga, ya?!”


“Sadar?”


“Sadar, kalo


nggak semua orang perlu dibaca


pergerakannya.”


Oh, ternyata itu


tujuan dia nantangin gue untuk bisa nyerang dia, ya?!


“Lo Kasta


Kuning, kan?!”


“Ya. Kenapa


emangnya?”


“Ini saran dari orang


yang udah jadi Petualang selama 20 tahun lebih, Jirr.”


“Djinn!”


“Inget ini


baik-baik. Semakin naik Kasta lo, pasti


lo ketemu lawan yang nggak cuma semakin kuat, tapi juga lawan yang semakin


pinter. Makanya itu nggak semua lawan bisa lo baca gerakannya.”


“…”


“Lo nggak bisa


cuma ngandelin kekuatan keras sama bela diri lo yang setengah-setengah itu.


Apalagi yang gue bilang tadi, nggak semua lawan bisa lo baca gerakannya. Jangan


sombong karena kekuatan yang udah lo punya.”


Mungkin dia ada


benernya juga.


Sejauh ini,


semua yang udah gue pernah lawan di dunia ini antara nggak sekuat itu, atau


mungkin kuat tapi nggak punya akal sehat.


“Daripada


ngebaca gerakan lawan, kenapa lo nggak latihan untuk semakin kuat?”


“Semakin…kuat?”


“Ya, supaya lo bisa jaga temen-temen lo, khususnya


Kapten lo sendiri.”


Untuk…jaga


temen-temen gue?


“Yah, paling itu


dulu lah latian hari ini.”


“Woy! Katanya lo


mau latih bela diri—”


“Gue kecapean.”


***** nih orang!


Tapi, entah


kenapa gue ngerasa ada maksud dibalik kalimat dia tadi.