
“Huaaaa! Ada Mistyx!”
“Lari, lari, lari!”
““Aaaarrgghh!””
Sebagian besar penduduk lari karena ada Styx yang dateng.
“Hey, hey, hey! Mengapa kau tidak lari dari tempat ini?!”
“Lari?! Terus kalo saya lari, warga tempat ini pada kena, dong?!”
“A…Anda tenang saja! Ada seseorang yang mengurus—”
“Maaf Pak Flippus! Saya nggak bisa liat itu anak kecil dikorbanin sama orang itu!”
Sebenernya jarak gue agak jauh dari mereka berdua, tapi anehnya gue bahkan bisa denger bisikan dari Kades itu ke Styx.
Eh, bentar!
Artinya… Kades itu tau dong ada Styx di sini?!
“Hoo… Ternyata anda sedang menyembunyikan—”
“Diem lo, Vertolio!”
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
“Hiiekh!”
“Kalo nggak karena lo, mungkin gue nggak akan ketangkep sama pasukan dari Goldiggia!”
Oh iya!
Bangsawan itu yang diceritain Styx, waktu dia ketangkep!
Pantes aja gue pernah denger namanya!
“Ka-Kalian merasakan Aura Iblis itu, bukan?! Tunggu apa lagi?! Cepat serang dia!”
““Ba-Baik, Yang Mulia!””
Aura Iblis?
Emang sih gue ngerasain sesuatu dari dia, tapi gue baru tau kalo itu Aura Iblis.
“…”
Denger perintah kayak gitu, tiba-tiba ada sekitar empat prajurit maju untuk nyerang Styx.
Tapi, nggak tau kenapa Styx cuma diem aja sambil tutup mata.
““Hraaaaggh!””
Waktu Styx buka mata…
“…”
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
““…””
Tiba-tiba semua pasukan yang mau nyerang dia jadi nggak bisa bergerak karena gemeteran!
“Mengapa kalian semua masih di sini?! Cepat masuk ke dalam!”
““Y-Ya, Kepala Desa!””
Oh, iya juga. Ngapain juga malah nontonin mereka?! Giliran kena aja, baru tau rasa deh warga-warga sini!
Kalo gitu, gue juga—
“Tunggu, Tuan Muda!”
“Mel! Biarin gue—”
“Tidak! Pasti Styx bisa menyelesaikannya tanpa kita berdua!”
Hah? Masa sih?
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara banyak pukulan)”
Waktu prajurit yang nyerangnya lagi gemeteran, Styx pukul mereka sampe pingsan.
“Hiiikh! Da…Dasar—”
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
“VERTOLIO!!! APA HUBUNGAN LO SAMA KAKAK TERTUA?!?!”
“A-Apa maksud anda?! Beraninya anda menuduh—”
“Nggak usah lo cuap-cuap aneh lagi! Ngaku lo sekarang! Sebelum lo gue bunuh!”
Tuh kan, gue juga udah curiga.
Kok dia tiba-tiba bisa tau ada Styx di desa ini?
Padahal Styx sendiri pun baru ketauan dia siapa waktu barusan muncul.
“Hm?! Anda mau membunuh saya?! Anda lupa dengan salah satu Priest yang saya bawa?!”
Priest? Maksudnya pendeta?
“…”
Tiba-tiba muncul pendeta sambil nunggang kuda.
“Cih! Brengsek! Lo la—”
((Holy Light: Counter-Darkness))
“*Shringgg… (suara sinar)”
Eh?! Itu sinar apa—
“Tidak! Styx!”
Hah? Mel—
“Aaaarrrggghhh!!!”
“Jyihihihi! Rasakan itu, Wanita Iblis!”
“Urgh… Aarrgh!”
Kok Styx kayak kesakitan gitu?!
Nggak, lebih tepatnya kayak kerasukan gitu dia.
“Hargh… Verto… lio!”
“Ce-Cepat tancap Anti-Demon Stake kepadanya!”
“Baik, Yang Mulia!”
“*Jlub! (suara tertusuk pasak)”
“…”
Eh?! Itu ditusuk apaan?! Kok tiba-tiba Styx diem gitu aja?!”
“Ga-Gawat! Ia ditusuk oleh pasak itu!”
“Pasak?! Emangnya kalo ditusuk pasak itu—”
“Jika ia tertusuk pasak itu, maka ia tidak akan bisa bergerak selama tidak dilepas!”
Hah?! Kok bi—
“Tu—Djinn.”
“Hah? Apa—”
“Berjanjilah kepada saya! Jangan sampai anda menampakkan diri di depan mereka!”
“Maksud lo—”
“…”
“Me-Meldek!”
Kenapa dia malah lari ke sana?!
Apa gue bener-bener harus diem aja?!
“Cepat bawa Wanita Iblis i—”
"*Bruk! (suara tabrakan)"
“Urgh!”
“Si-Siapa anda?!”
Nggak tanggung-tanggung, dia bahkan nabrak prajurit yang mau bawa Styx!
“Urgh!”
“He-Hey! Apa yang anda lakukan, Meldek?!”
“Ka-Kalau pun ia seorang Mistyx, se-setidaknya… ia terlahir seperti itu… bukan karena kemauannya!”
“Sa-Saya mengerti, Meldek! Akan tetapi—”
“Saya tidak bisa diam saja, Kepala De—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Argh!”
Meldek yang coba tarik pasak itu, tiba-tiba ditendang sama satu prajurit dari bangsawan itu!
Apa gue masih—
“Jangan.”
“Hah?! Lo itu…”
“Monty, koki yang masak buat lo.”
“Kenapa lo—”
“Inget janji lo sama Meldek. Lagian, kita masih belom dapet bukti yang kuat kalo Vertolio itu kerja sama bareng Goldiggia.”
Hah?
Kok dia ngomong kesannya kayak kenal bangsawan itu?
“Dasar biadab!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Argh!”
Itu prajurit cari perhatian atau gimana? Ngapain dia tiba-tiba nendangin Meldek kayak gitu?
“Rakyat jelata seperti anda tidak pantas untuk—”
“Tunggu sebentar…”
“Orang ini…”
“…”
“Hoo…! Ternyata anda itu bukan sekedar rakyat jelata saja, melainkan juga seorang budak, kah?!”
“Ba-Bagaimana anda tahu tentang—”
“Kepala Desa Flippus, sepertinya ada satu mahluk unik yang anda sembunyikan.”
“Apa… maksud anda, Count Vertilio?”
“Cepat bawa ke hadapan saya Anak Haram Vamulran!”
“!!!”
Brengsek! Dia juga tau gue ada di sini!
“A… Apa maksud anda, Count Verti—”
“Jangan macam-macam dengan Tuan Muda!”
““!!!””
Mel, udah Mel! Jangan ngomong apa-apa la—
“Jyihihihi! Jika saya macam-macam dengan tuan anda, lantas apa yang bisa anda lakukan?!”
“…”
“Anda hanyalah seorang budak! Anda pikir anda bisa mengancam saya?!”
“Haha*…*”
“…”
Kenapa dia ketawa?
“Hahaha!!! Memang saya lemah, akan tetapi saya bangga bisa berdiri atas nama keadilan melawan bangsawan busuk seperti anda, Count Verto—Tidak, Vertolio!”
“Hah?! Berani-beraninya anda—”
“Apa, Vertolio?! Lebih baik saya bisa berdiri secara jantan daripada pria lemah seperti anda yang hanya bisa berdiri di balik prajuritnya!”
Hmph!
“Djinn, kenapa lo senyum-senyum kayak gitu?”
“Nggak apa-apa. Keren aja Meldek bisa ngomong gitu.”
Bagus, Mel. Lanjutin terus!
““*Dhuk! (suara banyak tendangan)””
“Jyihihihi! Saya lemah?! Jika saya lemah, tidak mungkin saya bisa memimpin prajurit-prajurit yang menendang
anda seperti itu, budak!”
“Urgh!”
““Hahaha…””
Dasar bangsawan anjing!
Emang bener kata Meldek, bangsatwan cuma bisa ketawa-ketiwi doang dibalik prajuritnya yang ‘sayurin’ dia!
“Ti…Tidak… Meldek—”
“Hahahaha!!!”
Meldek tiba-tiba ketawa.
“Hey, budak! Mengapa anda tertawa?!”
“Lucu saja anda bertindak bagai sampah dan disaksikan oleh rakyat anda sendiri, Vertolio!”
“…”
“Mari! Cepat hajar saya! Bukankah itu lucu menurut anda?! Hahahaha!!!”
Bagus, Mel! Terus panas-panasin dia, sebelum gue turun tangan!
“Hmm… Semua, bakar habis desa ini!”
“Ya…Yang Mulia?! Apakah anda yakin?!”
“Ya. Sepertinya kita benar-benar sudah ketahuan telah bekerja untuk Goldiggia. Dan sesuai dengan budak ini katakan, tindakan kita hanya akan menjadi bukti kuat untuk dilaporkan kepada Duke Louisson. Maka dari itu, bakar saja semua yang ada di sini!”
Oh, sekarang udah ngaku terang-terangan, ya—
“Djinn, tunggu sini.”
“Hah? Lo mau ngapa—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Buset! Gerakan macem apa itu?!
“*Prok, prok, prok… (suara tepuk tangan)”
Monty tiba-tiba ada di depan mereka semua sambil tepuk tangan!
Siapa sebenernya dia?!
“Si-Siapa anda—”
“Meldek, makasih karena udah berani nentang bangsawan sampah kayak dia!”
Tunggu! Dia siapa sih?! Kok berani banget ngomongnya depan bangsawan kayak gitu?!
“Su…Suara ini! Ja-Jangan-jangan… anda itu—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““Urgh…””
Woy, woy, woy! Kok gue tegang banget tiba-tiba?!
“Ah, Du-Du… Duke Louisson! Maafkan saya karena—”
“Nggak apa-apa, Kepala Desa. Maafin saya karena harus tau rencana busuk personil saya se-detail-detail-nya.”
Hah?! Koki itu berarti… bangsawan yang jabatannya lebih tinggi daripada bangsawan itu?!
Tambah lagi, dia bilang bangsawan itu personilnya?!
“Tu-Tuan Louisson…! Saya tidak menyangka anda berada di tempat i—”
“ONADIOOOO!!!”
“Hiiikh!”
Koki itu teriakin bangsawan itu sambil gendong Meldek dari mereka.
““…””
Semua prajurit itu langsung berlutut depan dia, tapi…
“*Trung! (suara besi pipih)”
““Hiiikh!!!””
…dia keliatannya bener-bener marah.
Dia jalan ke arah bangsawan itu sambil pukul kepala salah satu prajurit. Parahnya lagi, helm yang dipake prajurit itu sampe penyok! Bahkan ada bekas darah yang keluar dari dalem helm itu!
““Huagh!””
“Ma-Maafkan saya, Yang Mulia!”
“Ka…Kami hanya mengikuti perintah Count Vertolio!”
Bener! Lari aja sana! Siapa juga yang nggak takut ngeliat ada orang yang sekuat itu?!
“Lombart. Pittero.”
““Baik, Yang Mulia!””
Loh! Tiba-tiba muncul dua orang!
((Peeble Mortar))
“*Boom! (suara ledakan)”
““Argh!””
Hah?! Kerikil apaan itu?! Kok dilempar malah meledak?!
{Sword Art: Ultra Slash}
“*Swush! (suara tebasan pedang)”
““…””
Itu juga apaan?! Kan dia ayunin pedangnya dari jauh! Kenapa prajurit lainnya malah kepotong lehernya?!
“A-A-Apa yang anda lakukan, Priest?! Cepat tolong sa—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““Urgh…””
Gue bisa rasain aura dari Koki itu.
“A-Ampuni saya, Yang Mulia…! Saya hanya—”
“*Swush! (suara ayunan tangan)”
“Cih! Dasar aib agamanya sendiri!”
Gila! Itu tangan atau pedang?! Kok bisa dia penggal kepala pendeta itu cuma ayunin tangannya doang?!
“Ah… Ya… Ya… Yang Mulia…! Ma-Maafkan saya—”
“Udah, gue nggak butuh satu pun suara dari mulut lo!”
“!!!”
“Mulai hari ini, Onadeo Vertolio dari House of Vertolio, resmi dicabut jabatan Count-nya dari Erviga Kingdom!”
“Tu…Tu…Tunggu, Ya…Yang Mu—”
“*Shrak! (suara tangan menebas tubuh)”
“Udah gue bilang diem, malah masih ngomong.”
Bangsawan itu dibelah dua sama Monty itu.
“Kalian berdua, cepat bawa mereka berdua ke ruangannya!”
““Baik, Yang Mulia!””
Akhirnya Meldek sama Styx dibawa balik ke ruangan gue.
Yah, seenggaknya gue penuhin janji Meldek.
Walaupun sebenernya kesel banget karena nggak ngapa-ngapain!