Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 444. The True and The False



Gue pergi dari Luvast sama yang lainnya, abis itu ketemu anggota Leo yang gue sembuhin karena punya rasa


penyesalan sama ibunya.


Jujur aja, salah satu penyesalan terbesar gue ke ibu cuma karena nggak bisa kubur ibu aja. Selebihnya nggak ada.


Makanya gue sembuhin cewek itu, supaya dia bisa minta maaf sama ibunya. Walaupun gue sendiri juga nggak tau


keadaan ibunya.


Tapi selagi gue bisa kasih kesempatan untuk dia, kenapa nggak? Karena itu gue sembuhin dia, supaya punya


kesempatan untuk minta maaf sama ibunya.


Ya anggep aja apa yang gue lakuin itu karena berkaca dari diri gue sendiri.


Mungkin gue udah nggak punya kesempatan untuk ketemu ibu. Tapi gue punya kesempatan untuk jadi pribadi yang


lebih baik, termasuk buka diri gue untuk orang lain. Sampe akhirnya gue ketemu temen-temen gue.


Masalahnya, ada anak anjing yang berani-beraninya rebut temen-temen gue!


Dan lagi, gue dikasih kesempatan.


Kesempatan untuk bantai anak anjing yang namanya Leonard itu, yang berani-beraninya rebut temen-temen gue


gitu aja!


Intinya, gue harus bisa pake kesempatan ini untuk bales dia!


“…”


Sekarang gue udah mau sampe Chaoseum.


Sebelum masuk ke dalem sana, gue perlu persiapan sedikit.


“Huuuufffff…”


Gue pake Hidung gue untuk kumpulin Mana ke dalem Jiwa gue.


Tapi waktu gue lagi tarik Mana, secara nggak sengaja gue cium Aroma dari orang-orang yang ada di sini. Salah


satu Aroma yang ada di sini tuh bikin gue keinget sama apa yang dibilang Suara Alam ke gue.


“Ingatlah baik-baik Aroma dari semua orang yang pernah Anda temui, Yang Mulia!”


“Termasuk Aroma dari mereka yang Anda temui di masa lalu, Yang Mulia!”


Yang gue temuin di masa lalu, termasuk orang-orang yang gue liat di siaran yang ditampilin di Chamber of


Ancient Armament.


Salah satu Aroma yang gue inget itu Aroma dari Zophiel, yang ternyata ibunya Myllo.


Aroma yang kesannya setia untuk disamping orang-orang yang lagi kesusahan atau lagi berduka, supaya


mereka tetap terhibur. Aroma itu juga selalu buat orang lain tetap riang, walaupun ada tantangan berat di hadapannya. Bahkan Aroma itu kesannya hibur orang-orang yang lagi berduka.


Anehnya, ada 2 Aroma yang sama, tapi beda.


Yang satu Aroma-nya terasa lebih keras, walaupun ada di jarak yang lebih jauh. Tapi Aroma itu semakin


pudar. Sedangkan yang satu lagi terasa lebih deket. Tapi Aroma itu terasa lebih halus, kesannya kayak dibalut Aroma Manusia biasa.


“…”


Gue akhirnya masuk ke Chaoseum, dimana cuma ada Zorlyan, Ollie, Paul, sama Daphine yang masih berdiri di


hadapan Leonard.


Ya. Akhirnya Aroma Malaikat yang lebih halus tadi gue temuin di dalem arena ini.


“Orang yang bisa pake Union itu… belom tentu bisa regenerasi kan…?”


“Harusnya nggak.”


“Djinn?!”


“Gue nggak tau regenerasi itu termasuk sihir atau kemampuan khusus beberapa orang aja. Tapi gue yakin, kalo anak anjing itu bukan Manusia biasa.”


“M-Maksud lo—”


“Si anjing satu itu sebenernya juga Malaikat yang reinkarnasi jadi Manusia.”


““!!!””


Wajar aja mereka kaget. Karena gue awalnya juga kaget kalo dia itu—


“Grahahaha!”


Dia ketawa ya?


Artinya dia tau kalo dia itu reinkarnasi Malaikat.


“Gue nggak tau kekuatan macem apa yang lo punya, sampe bisa tebak siapa gue yang asli, Djinn Dracorion!”


“*SWUSH!!!”


“Tapi sekarang gue bukan Malaikat! Jangan sebut gue Malaikat—”


“*BHUK!!!”


“Kagh…!”


“*BRUK!!!”


““!!!””


Mungkin gue nggak punya Mata gue, yang bisa ngeliat siapapun yang mau nyerang gue jadi lebih lambat. Tapi gue tau kalo anak anjing ini mau nyerang gue. Karena gue juga udah tau arah pukulan dia, jadinya gue bisa pukul dia sekenceng-kencengnya sampe tanah hancur.


“Hmm. Keliatannya semua Malaikat itu sadar ya, kalo mereka reinkarnasi? Buktinya lo bisa tau kalo lo itu dulunya


Malaikat.”


“A-Apa maksud lo… Djinn…?”


“…”


Karena denger pertanyaan Ollie, secara nggak sengaja gue hirup Aroma mereka berempat.


“Ollie. Mungkin lo nggak tau kan, sebelum lahir sebagai Ollie Remington, lo itu dulunya mati sebagai Dwarf?”


“Hah?! Gue dulunya Dwarf?! Masa sih?!”


beda sama anak anjing ini.”


“S-Siapa maksud lo anak anjing—”


“*BRUK!!!”


Bawel banget nih anak anjing! Gue jadi terpaksa untuk injek dia deh.


“Denger gue, Ollie.”


“…”


“Sebelum gue ketemu lo di Clamista, gue sama temen-temen gue berhadapan sama Malaikat yang terus reinkarnasi sebagai Manusia biasa, supaya bisa manipulasi Erviga Kingdom sebagai asisten khusus raja di negara itu. Malaikat itu kiriman dari Centra Geoterra.”


“O-Oh gitu—”


“Djinn! Hati-hati—”


““*CYUT!!!””


Cih! Dasar anak anjing! Untung aja gue bisa hindarin bintang-bintangnya! Kalo nggak karena Daphine yang


ingetin gue, mungkin gue udah kena duluan!


“Jangan lo berani-beraninya sebut mereka Malaikat, brengsek!”


“Hah? Bukannya kalian, Kaum Malaikat, seneng manipulasi negara dari balik bayang-bayang—”


“Biar gue jelasin ke lo tentang reinkarnasi atau apapun itu, Djinn Dracorion! Karena orang yang lo ceritain itu


nggak lebih dari sekedar Malaikat Palsu!”


Hm? Jelasin? Dia pikir gue butuh penjelasan tentang—


“Orang yang lo jelasin itu, nggak lebih dari sekedar Mahluk Fana, yang diangkat jadi Malaikat!”


““!!!””


Diangkat jadi Malaikat…? Emangnya bisa?!


“Beda sama gue atau Zophiel, yang murni lahir sebagai Malaikat dari sebelum Hari Penghakiman! Mereka,


Malaikat-Malaikat kiriman Centra Geoterra, aslinya para Mahluk Fana, yang sengaja mati, supaya mereka lahir sebagai Malaikat, dengan identitas yang baru!”


“Nggak masuk akal! Terus dateng darimana Jiwa mereka?! Lo pikir—”


“Tanya aja sama Centra Geoterra! Karena mereka udah kerja sama bareng orang asing, mereka bisa manipulasi Jiwa dari semua Malaikat yang mati karena perang di Hari Penghakiman!”


““!!!””


Centra Geoterra, dia bilang?!


Kok—


“Tambah lagi, bedebah satu itu pinter banget manfaatin Mahluk Fana tolol yang gila harta, takhta, sama kekuatan! Yang rela mati supaya lahir lagi sebagai Malaikat!”


G-Gila!


A-Apa-apaan yang gue denger dari orang ini?!


Entah kenapa…


“Mahluk Fana Menginginkan Keabadian. Mahluk Abadi Menginginkan Kefanaan. Budak Yang Kehilangan Tuannya Tetaplah Menjadi Budak Kepada Tuan Yang Lain.”


…gue jadi agak paham sama yang dibilang Melchizedek!


“Walaupun gue masih punya Jiwa Malaikat ini, seenggaknya gue udah bisa bebas dari perintah bajingan itu!


Itu semua karena gue udah mati sebagai Malaikat, terus gue lahir lagi sebagai Manusia! Sedangkan Zophiel? Hmph! Lo liat aja sendiri! Bahkan dia nggak bisa hidup kalo nggak jadi budak!”


Perintah bajingan itu…?


Entah kenapa, gue kayak tau siapa bajingan yang dia maksud.


“Cih!”


Gue jadi kesel sendiri karena terpaksa setuju sama orang yang harusnya gue lawan ini!


“Grahahaha!”


Kenapa nih orang tiba-tiba ketawa—


“Pantes aja lo tau gue siapa! Ternyata lo itu Pria Terjanji! Orang yang ditunggu Melchizedek! Bener kan,


Djinn Dracorion?!”


“M-Melchizedek?! Maksudnya Pahlwan Pertama Melchizedek?! Kok—”


“Nggak usah sekaget itu, Paul.”


“Bos! Tapi—”


“Bahkan sekarang pun, gue udah nggak punya tenaga untuk lebih kaget dari sebelumnya.”


Oh ya. Kan cuma Lynx Party aja ya yang nggak tau kaitan gue sama Melchizedek?


“Kalo gue ini masih diri gue yang dulu, harusnya gue seneng karena lo dateng, supaya gue bisa layanin lo!


Walaupun gue tetep seneng karena lo dateng, tapi gue seneng karena bisa bantai lo di sini juga, walaupun gue lebih pengen bantai diri lo yang dulu! Tapi lo udah bikin semuanya kacau! Kecuali kalo lo mau ikut gue, mungkin—”


“Jilat pantat gue kalo mau, anjing!”


“Grahahaha! Bagus! Karena gue nggak akan mau untuk jadiin orang yang nggak bisa dikontrol kayak lo, Pria


Terjanji!”


“*CHRINGGGG!!!”


““!!!””


“Karena sekarang, lo bener-bener mati di tangan gue!”


Sekarang dia udah nggak ragu-ragu lagi untuk keluarin 2 pasang sayap sama Mahkota Malaikat yang dia punya!


Wajar aja sih kalo mereka berempat kaget.


“Jangan takut, kalian semua! Gue ada di sini! Biar gue yang bantai bajingan satu ini!”


Akhirnya dimulai juga ya.


Pertarungan antara gue sama orang ini, di mana darah kita berdua sama-sama hias seisi arena ini.