Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 445. Mortals Warmness



30 tahun yang lalu, di sebuah desa terpencil.


“Kita sudah bebas, tetapi belum sepenuhnya bebas. Itu semua karena pengaruh Dia yang masih berada di dalam pikiran kalian. Tetapi lawanlah pengaruh itu, jika kalian masih menyayangi diri kalian masing-masing. Jika tidak…”


“*Shringgg…”


“…alangkah baiknya jika kita saling membunuh satu sama lain, karena kita tidak bisa membunuh diri kita


sendiri—”


“AAAAARGH!!!”


“Leonard! Bangunlah, nak!”


“…”


Kala itu, Leonard Rochdale, yang masih berusia 5 tahun, bermimpi sesuatu yang mengerikan, dengan ditutup oleh


nasihat seseorang. Karena itu ibunya selalu membangunkannya dari mimpi buruknya.


“Ibu, kok kakak selalu teriak-teriak waktu dia lagi tidur?”


“Mungkin itu karena mimpi buruknya, Leandra. Kamu pasti juga khawatir ya?”


“I-Iya, bu…”


“…”


Leonard kecil hanya menatap tajam ibu dan adiknya, Leandra.


Setelah itu ia berpikir.


“Lagi-lagi aku bertemu dengan para Mahluk Fana ini. Bahkan sampai saat ini pun, aku tidak percaya jika terlahir


kembali sebagai Manusia.”


Kali ini adalah masa lalu seorang Malaikat yang terlahir kembali sebagai seorang Manusia bernama Leonard


Rochdale.


Masa lalu ini menceritakan tentang perubahan dirinya, di mana terdapat penerimaan dirinya yang baru, cinta


yang berubah menjadi kebencian, serta ambisi untuk menggulingkan sistem yang menjadi pondasi dunia ini.


……………


5 tahun berselang. Leonard masih mengalami mimpi yang sama.


Walaupun mimpi tersebut terus menghantuinya, namun ia sudah tidak takut untuk menghadapinya.


“Leonard? Kamu nggak apa-apa kan, nak?”


“I-Ibu…?”


Leonard terbangun dan menemui ibu yang berada di sampingnya.


“*Tap…”


“Kamu mimpi buruk lagi ya?”


Tanya ibunya, sambil mengelus kepalanya.


“I-Iya, bu. Leonard… masih—”


“*Phuk…”


“Jangan takut, nak. Ibu selalu ada di sini untuk temani kamu.”


“I-Ibu…”


Untuk pertama kalinya, baik ia adalah seorang Malaikat atau seorang Manusia, Leonard merasakan kasih sayang


yang tulus dan kehangatan dari seseorang yang ia panggil ibu, sambil berada di dalam pelukannya.


“Kalau kamu takut, jangan lupa cerita ke ibu ya, nak. Pasti ibu selalu ada di sini untuk kamu.”


“*Phuk…”


“Ya, bu…”


Balas Leonard kecil, sambil membalas pelukan ibunya.


Setelah ia terbangun, ia mempersiapkan dirinya untuk membawa bekal yang telah disiapkan ibunya untuk


ayahnya.


“Hati-hati ya, kalian semua! Salam untuk ayah!”


“Ya, bu.”


“Kita pergi ya, bu!”


Dengan ditemani adiknya, ia berjalan menuju sebuah ladang di mana ayahnya bekerja.


Sambil dalam perjalanan, adiknya bertanya kepadanya.


“Bang Leo!”


“Hm? Ada apa, Lea?”


“Aku penasaran deh. Tapi… agak nggak enak nanya ini ke a—”


“Tanya aja, kali!”


Balas Leonard kepada Leandra, sebelum ia mendengar pertanyaan adiknya.


“Kok abang selalu mimpi buruk, sih? Emangnya abang mimpi apa?”


“…”


Leonard terdiam. Ia merasa bimbang untuk menjawab pertanyaan adiknya itu.


“…”


Melihat kakaknya yang terdiam, Leandra pun merasa bahwa ia memahami ketakutan yang dirasakan oleh kakaknya.


“Yaudah deh! Nggak perlu dijawab juga nggak apa-apa!”


“*Tap!”


“Kalo abang takut, semoga aja aku bisa selalu hibur abang! Ya kan?! Hihi!”


“…”


Leonard pun tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan Leandra. Ia kembali merasakan kehangatan, yang


kali ini datang dari adiknya.


Hingga akhirnya, ia tiba di ladang ayahnya bekerja.


“Pak! Itu anak-anaknya, pak—”


“…”


“P-Pak?!”


Seru salah seorang petani, yang menyaksikan ayahnya berlari untuk menghampiri kedua anaknya.


“Leonard! Leandra!”


““*Phuk!””


“Kalian pasti bawa makanan untuk ayah, ya?!”


“Iya, ayah! Nih! Ibu masak makanan kesukaan ayah!”


Balas Leandra, setelah ia dan Leonard dipeluk dengan erat oleh ayahnya.


“Grahahahaha! Makasih banyak ya, anak-anak ayah!”


“Iya, ayah—”


“Leonard!”


“Y-Ya?”


Tanya Leonard dengan terkejut karena mendengar panggilan dari ayahnya.


“Nggak. Ayah cuma seneng aja liat kamu yang tumbuh semakin besar. Semoga kamu bisa gapai mimpi kamu ya, nak.”


“…”


Leonard kembali terdiam. Ia kembali merasakan kehangatan yang datang dari ayahnya.


Karena itu, ia berpikir.


“Mungkin nggak ada salahnya hidup sebagai Manusia.”


Naas, kehangatan yang ia rasakan dari keluarganya itu tidak berlangsung lama.


“*BRUK!!!”


““Aaargh!””


“Aró! Gwikkï makgarkar!”


“*Vwumm…”


Desa di mana ia tinggal, dihancurkan oleh sebuah suku Ogre, yang juga membakar desa tersebut.


“Cepat! Kita harus mengalahkan mereka—”


“*SHRAK!!!”


“Groaaaargh!”


“Urgh…”


Leonard terbangun, setelah ia tertimpa oleh atap rumahnya yang terjatuh menimpanya.


Ketika ia terbangun, ia mendapati…


“*Vwumm…”


“AYAH!!! IBU!!! LEANDRA!!!”


…keluarganya yang terjebak di dalam kobaran api.


“Gi-G-Gimana nih?! Apa aku harus pakai kekuatan aku sendiri?! Tapi kalo aku pake kekuatan aku, gimana


reaksi mereka, kalo mereka tau aku ini Malaikat?!”


Pikirnya, sebelum membulatkan keputusannya.


“*BRUK!!!”


“A-Ayah! Ibu! Leandra!”


Seru Leonard, setelah berjalan melewati api dan menghancurkan dinding rumah yang menjebak keluarganya.


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“L-L-Leonard…! K-Kamu nggak apa-a—”


“Semuanya! Maafin aku!”


“*FWUP!!!”


“Tapi kita keluar dari sini dulu!”


Seru Leonard, sambil mengeluarkan dua pasang sayapnya dan membawa keluarganya menjauhi desa dimana ia tinggal.


“*Fwup, fwup, fwup…”


“L-L-Leonard…? K-Kamu ini—”


“M-Maafin aku… ibu. A-Aku Malaikat yang sebelumnya hidup sebelum Hari Penghakiman. A-Andai aja… aku punya


keberanian untuk—”


““*Tap…””


“…”


Leonard terdiam, ketika mendapati semua anggota keluarganya menyentuh tangannya.


“A-A-Abang Leo… t-tadinya kita… mau bikin… kejutan…”


“T-Tapi ternyata… k-kita nggak punya waktu… untuk ra-rayain—”


“J-Jangan ngomong dulu! Aku masih bisa sembuhin kalian—”


“Leonard…”


“…”


Leonard hanya menyaksikan ketiga anggota keluarganya, yang hampir menghembuskan nafas terakhirnya.


““Selamat… ulang tahun…””


“T-T-Tunggu…!”


““…””


“Tunggu, tunggu, tunggu!”


““*Ngunggg…””


Dengan tergesa-gesa, Leonard berusaha menyembuhkan ketiga anggota keluarganya. Namun sayangnya mereka telah menghembuskan nafas terakhirnya, setelah memberikan ucapan ulang tahun baginya sebagai kata-kata terakhir mereka.


“AAAAAAARGGGGHHHH!!! AYAAAAAHHH!!! IBUUUU!!! LEANDRAAAAA!!!”


Ia hanya bisa berteriak, dengan tangis yang tiada hentinya.


“Keuk…!”


“*SWUSH!!!”


Dengan amarah yang meluap, ia hendak memusnahkan seluruh Ogre yang membunuh keluarganya.


Namun ketika ia tiba kembali di desa tersebut…


“…”


…ia justru mendapati seluruh Ogre yang sudah terbunuh.


“S-Siapa yang bunuh mereka—”


“*BHUK!!!”


“…”


Seketika ada yang memukulnya hingga ia tidak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian, ia terbangun.


“Uhm…?”


Namun ketika ia terbangun…


“*Shringgg…”


“!!!”


…ia mendapati ada seseorang yang mengarahkan pedang pada lehernya.


“Siapa nama lo?!”


“N-N-Nama… Nama gue… Leonard…!”


“Leonard?! Emangnya gue tanyain nama lo sebagai Mahluk Fana?!”


Tanya pria tersebut kepadanya.


“Cadriel…!”


“Oh gitu. Gue baru tau ada Malaikat yang punya nyali segede itu untuk tunjukkin dirinya, tanpa liat kondisi di sekitarnya.”


“A-Apa maksud lo…? Emangnya lo pernah ketemu Malaikat lain, selain gue?!”


“Hm?”


Pria tersebut menjadi heran dengan maksud dari Leonard.


“Lo… nggak tau kalo—Tunggu. Kayaknya gue jangan tanyain tentang itu.”


“Hah…? Lo mau ngomong a—”


“Tadi lo ngapain dateng ke desa?”


“Gue mau bales semua Ogre, yang bunuh keluarga gue! Tapi waktu gue dateng, tiba-tiba mereka semua udah


dibantai!”


Jawab Leonard, dengan tidak sanggup menahan amarahnya.


“Maksud lo keluarga itu…”


“Ya keluarga gue! Ayah gue! Ibu gue! Adek gue—”


“OK, OK, OK. Gue paham maksud lo.”


“*Swup…”


Sahut pria itu, sambil memasukkan pedangnya kembali.


“…”


Kemudian pria itu membuka tangannya, dengan maksud berkenalan dengannya.


“Nama gue Dox. Lo nggak perlu khawatir, karena gue udah bantai semua Ogre itu. Semoga aja, rasa dendam


lo udah hilang. Lagipula, dendam juga nggak akan balikin keluarga lo.”


Kata Dox yang memperkenalkan dirinya kepada Leonard.


“*Tap!”


Leonard pun menjabat tangannya.


“Mungkin gue nggak layak untuk ngomong ini. Tapi…”


“…”


“…ngeliat lo yang dendam kayak gitu, gue yakin kalo keluarga lo baik banget sama lo. Makanya lo jadi marah


banget karena—”


“Hiks! Hiks! Hiks! Ayah…! Ibu…! Leandra…!”


“…”


Dox hanya terdiam, karena melihat Leonard yang menangis karena kehilangan keluarganya.


“Pasti Malaikat ini beda sama Malaikat dari Centra Geoterra. Buktinya dia peduli banget sama keluarganya.”


“*Tap…”


Pikir Dox, sambil mengelus kepala Leonard.