
Myllo dan Styx masih menghadapi Kaswar Ramsias. Walaupun begitu, Kaswar lebih memilih untuk membunuh Myllo terlebih dahulu.
“*Swush!”
Myllo terus berlari dari kejaran Kaswar, tanpa menggunakan kekuatan Zegin.
“Hah! Kayak gini nih yang namanya Saint?! Jadi Saint cuma bisa lari doang?! Cepet pake kekuatan dewa lo!”
Cemooh Kaswar, sambil mempersiapkan serangan barunya.
((Destruction Curse: Heavy Sin))
“*Vwumm…”
Dengan kutukan miliknya, Kaswar menciptakan bola api yang besar di kepalan tangannya.
“Gruaagh!”
“*Vwumm!”
Lalu ia memukul bola api hitam itu ke arah Myllo.
“*Swush, swush, swush…”
Akan tetapi Myllo berhasil menghindari bola api hitam yang Kaswar lempar kepadanya.
“Woy, Saint! Jangan lari terus! Ayo lawan gue!”
Cemooh Kaswar kepada Myllo.
Akan tetapi…
“*Swush…”
“Hm?”
“*SWUSH!!!”
…Myllo melompat kepada salah satu koral besar, lalu ia menggunakan koral tersebut sebagai pijakan untuk melompat dengan sangat cepat ke arah Kaswar.
“Hyaaaat!”
“*TUK!!!”
“Urghh…”
Myllo mengayunkan tongkat miliknya ke atas, yang memukul wajah Kaswar dengan sangat keras.
“*SWUSH!”
“*TUK!!!”
“*SWUSH!”
“*TUK!!!”
Ia kemudian bergerak tanpa arah dengan cepat menjauhi Kaswar, lalu menyerangnya kembali.
Akan tetapi Kaswar adalah seorang Petualang yang jauh lebih berpengalaman darinya. Oleh karena ia juga dengan mudah mengetahui arah pergerakan Myllo selanjutnya.
Oleh karena itu…
“*SWUSH!!!”
“*BHUK!!!”
“Urgh…!”
…Kaswar langsung memukul Myllo yang bergerak cepat ke arahnya, setelah ia mengetahui arah kedatangnnya
selanjutnya.
“Woy! Lo itu beneran Saint, kan?! Kenapa lo nggak pake kekuatan dewa lo?!”
“G-G-Gue… nggak akan pernah… pake kekuatan Zegin… untuk lawan… sampah yang khianatin dunia ini—”
“*Krrrttt!!!”
“Hahaha! Ngaca, woy! Siapa yang sekarang jadi sampah?!”
Cemooh Kaswar, sambil menginjak kepala Myllo.
““Myllo—””
“Jangan ada yang bergerak, atau Dungeon ini bakal hancur!”
““!!!””
Rekan-rekan Myllo terkejut ketika melihat Kaswar sambil menunjukkan sebuah kristal yang berada di genggamannya.
“I-Itu apa?!”
“Dungeon Heart.”
“Dungeon Heart?”
“Ya. Berbeda dengan Hidden Dungeon of Vision, yang masih memiliki seorang pemimpin, Hidden Dungeon of
Whisper tidak memilikinya.”
Jelas Delolliah kepada Gia.
““Jika Juru Kunci Hidden Dungeon mati, maka Dungeon tersebut akan hancur.” Itulah prinsip yang digunakan
Melchizedek. Oleh karena itu, jika Tarzyn mati, maka Hidden Dungeon of Vision hancur.”
“…”
“Namun, berbeda dengan Hidden Dungeon of Whisper yang tidak memiliki seorang Juru Kunci. Oleh karena itu, ia menggantinya dengan Dungeon Heart.”
“Jadi…”
“Ya. Kristal yang ia pegang adalah nyawa dari Dungeon ini!”
““!!!””
Gia dan Garry sama-sama terkejut ketika mendengar penjelasan dari Delolliah.
“Woy, Siren! Gue kenal lo! Karena lo, luka gue nggak sembuh!”
“Keuk!”
Delolliah kesal.
Bukan karena Kaswar, melainkan luka darinya mengingatkan dirinya akan masa lalu pahit yang ia rasakan, ketika ia mengamuk.
“Woy… sialan!”
“Hm?!”
Kaswar terkejut ketika mendengar Myllo yang masih bisa berbicara.
“A-A-Apa-apaan kekuatan lo itu…?”
“Hm? Penasaran, ya?”
“*Krrrttt…”
“Aaaargh!”
Kaswar mengeraskan injakannya ke kepala Myllo, sebelum menjelaskan tentang kekuatannya.
“Semua karena pedang ini. Namanya, Massterman. Pedang ini bisa manipulasi kekuatan fisik. Makanya itu lo luka-luka, walaupun lo udah tangkis serangan gue. Sedangkan ujung pedang ini bisa manipulasi massa tubuh orang yang kena ujung—”
“I-Intinya… lo kuat karena pedang lo, kan…?”
Tanya Myllo yang memotong penjelasan Kaswar.
“Hmph! Emangnya lo bisa apa kalo tau tentang kekuatan gue? Ujung-ujungnya lo juga—”
“Hehe…”
“Mm?!”
Kaswar heran dengan Myllo yang tiba-tiba tertawa.
“Mungkin… gue nggak bisa apa-apa… Tapi… lo lupa sama temen gue… brengsek!”
Selesai Myllo berbicara…
((Dark Flame: Omnious Blade))
“*Vwumm!”
…Styx datang dan langsung memotong kedua lengan Kaswar dengan api hitam yang membalut pisaunya.
“Aaaaaaarrrgggghhh!!!”
“*Prang, pang, pang…”
Pedang yang ia gunakan langsung terjatuh setelah ia kehilangan kedua lengannya.
“Myllo! Maafin gue karena kelamaan datengnya!”
“Nggak! Gue yang kelamaan cari tau tentang kekuatan dia!”
“Haaaah?! Kan harusnya gue! Bukan lo!”
“Nggak apa-apa! Biar gue jadi MVP! Hehe!”
“Bukan masalah MVP, dongo!”
“Apa lo bilang?!”
Mereka berdebat.
Sementara yang lainnya…
““…””
…hanya menatap dengan tidak percaya.
Tetapi ada beberapa dari mereka yang penasaran dengan tindakan Myllo.
“Si Dongo ini… kenapa nggak pake kekuatan dewinya?!”
“Bukankah kekuatan Dewi Zegin justru sangat berguna melawan penyembah berhala itu?!”
“Apa mungkin ada penyebabnya dia nggak mau pake kekuatan Dewi Zegin?!”
Pikir Styx, Jennania, serta Gia, yang heran dengan aksi Saint tersebut.
Namun, bukan berarti semuanya telah berakhir.
“*Zhum!”
““!!!””
Semua dikejutkan dengan aura Iblis yang mereka rasakan.
“Hahaha! HAHAHAHA! Dasar Mistyx bego!”
“…”
Styx menatapnya dengan kesal.
“Lo kira gue nggak bisa Curse Spell?! Nggak mungkin gue itu anggota Children of Purgatory, kalo nggak bisa Curse Spell!”
Seru Kaswar, sambil menyerap api hitam yang membakar ujung lengannya yang terpotong, yang kemudian ia gunakan untuk meregenerasi lengan tersebut.
Sambil meregenerasi tubuhnya, ia berubah wujud menjadi seorang Iblis.
“Hahahaa! Selesai dari sini, gue bakal bawa Wavebringer! Terus gue bakal—”
“*Bwush!”
Kaswar yang sedang berbicara tiba-tiba tertembak wajahnya dengan air.
Tidak lama kemudian, air yang berada di wajahnya seketika menggumpal di seluruh bagian di kepala Kaswar.
“Ururururupp…”
Kaswar pun sesak nafas karena kepalanya diselimuti oleh air. Namun, sihir tersebut tidak berakhir sampai situ saja.
((Toxin Magic: Pollution Assault))
“Ururururupp…!”
Dengan adanya racun yang menggumpal di dalam air itu, Kaswar tidak hanya sesak nafas saja. Ia juga mengalami keracunan.
“*Bruk…”
…Kaswar pun terbunuh.
Melihat kematian pria Fratta tersebut, Myllo dan Styx langsung menatap pembunuhnya.
“Klavak…”
Bisik Myllo sambil melihat Klavak.
“…”
Delolliah menatap jasad pria tersebut, lalu ia…
“*Shruk…”
“…”
…menusuk Jiwa Kaswar yang masih tidak sadar, agar ia tidak bisa meregenerasi kembali Tubuh-nya yang sudah penuh dengan racun.
“…”
Ia kemudian berjalan ke arah Nemesia, yang sedang disembuhkan oleh Jennania.
“*Phak!”
““!!!””
Hampir semua yang berada di sana terkejut dengan Delolliah yang menampar Nemesia.
“Jelaskan kepadaku, Kakak Nemesia!”
“…”
“Mengapa pria tersebut masih hidup hingga ia harus kubunuh seperti tadi?! Bukankah ia seharusnya telah dieksekusi, seratus tahun yang lalu?!”
Tanya Delolliah dengan sedikit kesal.
“Ma-Maafkan aku, Delolliah. Aku hanya… ingin melampiaskan kemarahanku atas kematian Kakak Euphonia.”
“Melampiaskan kemarahanmu?! Maksudmu, kau telah menyiksanya selama ratusan tahun?!”
“…”
Tidak ada respon dari Nemesia, yang mengartikan bahwa pertanyaan Delolliah adalah benar.
“De-Delolliah, maafkan a—”
“Kau sudah kumaafkan. Namun, aku seharusnya juga meminta maaf karena tidak bisa mengendalikan Grand Form milikku.”
“Delolliah…”
Bisik Nemesia, sambil merasakan sakit hati yang besar karena merasa gagal sebagai seorang kakak.
Kembali ke Myllo, di mana ia masih tergeletak dan merasa kesakitan.
“Oi, lo bisa berdiri, nggak?”
“Hah? Lo mau bantuin gue?!”
“Nggak.”
“HAAAAAAAH?!?!”
Teriak Myllo dengan kesal kepada Styx.
Dengan kematian Kaswar, pertarungan Myllo pun berakhir.
Namun, ia hampir melupakan tujuan awalnya.
“Eh iya! Gimana Djinn?!”
“Dia masih disembuhin Garry, Myllo!”
“Yaudah! Ayo kita ke sana!”
Seru Myllo, yang langsung berlari bersama Styx menuju Djinn yang masih belum sadar. Bersama-sama, mereka berlari melewati Klavak.
“…”
Myllo melewati Klavak, seakan ia tidak peduli dengannya.
Namun berbeda dengan Styx.
“…”
Ia menatap Klavak yang tertunduk, sambil lanjut berlari menyusul rekan-rekannya untuk menuju Djinn.
Ketika mereka semua kembali, Myllo yang mengkhawatirkan Djinn kemudian kembali bercengkerama dengan rekan-rekannya.
“Hehe! Udah baikan ya, Delolliah?!”
“M-Myllo! Jangan kau campuri urusan kami!”
“Huahaha! Muka Delolliah merah!”
“M-M-Myllo!!!”
““Ahahaha!””
“…”
Klavak hanya menatap Myllo yang tertawa bersama dari jauh. Seketika ia teringat akan Myllo kecil yang senang bercanda dengannya.
“Klavak, Klavak, Klavak! Ayo kita lomba berenang!”
“Bawel! Emangnya lo bisa ngalahin Mermaid?!”
“Pastinya, dong!”
“Yaudah! Kalo menang, jatah makan lo gue ambil, ya?!”
“Kalo yang menang, gue jadi Keeper Aquilla, ya?!”
“Emangnya lo bisa sembuhin orang?!”
“Ah, nggak. Maafin gue…”
Karena teringat itu, ia pun teringat akan nasihat Sylvia.
“Kalian berdua tuh kayak kakak-adek ya Klavak! Myllo! Ahahaha!”
“…”
“Klavak, jangan lupa hargain sahabat lo sendiri ya! Kalo ada masalah sama sahabat lo, jangan lupa damai! Nyari temen itu gampang, tapi punya sahabat itu berharga banget, loh!”
Karena teringat momen bersama Myllo dan Sylvia, Klavak menjadi bimbang.
“Gue padahal udah sedikit lagi bisa balas kematian lo, kak! Tapi kenapa gue jadi ragu untuk bunuh pembunuh lo, kak?!”
Pikir Klavak, yang tidak mengetahui status Sylvia saat ini.
Akan tetapi, rasa ragu dan nostalgia yang ia rasakan saat ini seketika menghilang, setelah…
“*Bruk…”
…Charvelle datang mendarat bersama dengan Moalkin.
“Haaaaah… Capek juga gue bawa lo!”
“Ma-Maafkan saya, Charvelle.”
Balas Moalkin kepada Charvelle.
“Gadlu, lo udah bisa berdiri?”
“Udah, sih. Ya lumayan lah saya sempet disembuhin Klavak sedikit.”
Jawab Gadlu kepadanya.
Dengan kedatangan Charvelle dan Moalkin, seketika Myllo dan rekan-rekannya bersiap kembali untuk menghadapi tantangan selanjutnya.
“Charvelle, jadinya kita gimana?”
Tanya Gadlu kepada Charvelle, selaku ketua yang memimpin Serpentis kali ini.
“…”
Charvelle hanya menatap Nemesia, Delolliah, dan Jennania.
“Salah satu dari kalian pemimpin di tempat ini, kan?”
“Ya.”
“Kalian dapet tawaran dari pimpinan kami, Snake.”
“Tawaran? Apa maksudmu?”
Tanya Nemesia.
“Kalo kalian serahin Wavebringer sama orang itu ke kita, nanti pemimpin kalian bisa jamin keselamatan para Siren di Geoterra.”
Jawab Charvelle sambil menunjuk Djinn.
“Apa maksudmu?! Mengapa kau menginginkan senjata ini?!”
“Terus apa maksud lo mau Djinn?!”
Tanya Nemesia dan Myllo dengan waspada.
“Gue juga nggak tau soal itu. Kalo ada pertanyaan, mending kalian tanya aja ke Snake.”
Kembali jawab Charvelle atas pertanyaan Nemesia dan Myllo.
“Kalo kita nggak mau?!”
“…”
Charvelle diam sejenak.
Kemudian…
“Moalkin.”
“Baik!”
…ia memerintahkan Moalkin untuk menyerang mereka semua.
((Blast Magic: Rolling Inferno))
“*BOOM! BOOM BOOM!”
Ia menggunakan sihirnya kembali untuk meledakkan siapapun yang ada di hadapannya.
Namun…
“Machinno!!!”
…Machinno berhasil melindungi mereka dengan sihirnya yang melindungi mereka semua.
Akan tetapi, mereka lalai dalam melaksanakan tujuan mereka.
““!!!””
Mereka terkejut setelah melihat Charvelle yang terbang melewati mereka semua dan berhasil membawa Djinn.
““DJIIINNN!!!””
Teriak Myllo dan beberapa rekan-rekannya ketika melihat Djinn.
“Haaaah… Susah juga ya bawa satu orang aja! Bahkan rekan-rekan kita juga udah jadi korban!”
Seru Charvelle, sambil…
“…”
…memegang kepalanya.
Tidak lama kemudian…
“*ZHUMMMM!!!!!!”
““!!!””
…seisi Dungeon of Whisper dikejutkan dengan aura Iblis yang berasal dari Djinn.