Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 39. Gigantic One



Pas sorenya, kita ikut ngumpul bareng warga di desa


ini. Tapi kita cuma diri di belakang doang, nggak sampe tengah-tengah.


“Saya adalah Derrek Smith, Kepala Desa di Xia.”


Oh itu Kepala Desanya…


Keliatannya sih kayak umur 50an, sih. Rambutnya gondrong


agak beruban, tambah lagi jenggot yang agak panjang di dagunya.


“Saat ini, mari kita ingat-ingat kembali dosa-dosa


yang telah diperbuat oleh nenek moyang kita. Betapa menderitanya kita, yang


menanggung akibat dari dosa nenek moyang kita. Maka dari itu, janganlah kita


melakukan kesalahan yang sama seperti nenek moyang kita!”


““Ya!””


“Sudah 10 tahun, kita harus menanggung serangan dari


Ghoul yang menyerang desa kita! Mari kita kenang saudara-saudara kita yang


telah menjadi korban-korban dari Ghoul, yang muncul akibat nenek moyang kita!”


“Hiks…hiks…”


Waw, berpengaruh banget kata-katanya.


Beberapa warga sampe nangis-nangis sambil meremin


matanya.


“Mari kita ubah sejarah di desa ini! Janganlah buat


kejahatan seperti nenek moyang kita! Kelak, warga desa di masa yang akan datang


tidak menerima akibat yang sama seperti kita, warga-warga sekalian yang


kukasihi!”


““Ya!””


Gue cuma nyimak doang kata-kata Kepala Desa itu sampe


selesai.


Sedangkan Si Dongo satu ini…


“Zzzz…”


…tidur sambil berdiri.


Heran gue. Kok bisa, ya?


“Woy, bangun!”


“Hah? Ada yang bawa minum?”


“Minum mulu tuh otak isinya! Ayo balik! Udah selesai


upacaranya!”


“Hah? Ayo, ayo…zzz—”


“JANGAN TIDUR LAGI, WOY!”


Hadeh, ada-ada aja si dongo satu ini!


.................................


Sekarang kurang lebih jam setengah 7 menurut waktu


dunia lama gue. Sebentar lagi, kita keluar dari desa ini untuk lawan Ghoul yang


mau nyamperin desa ini.


“Hari ini kan tanggal 28


bulan ke-9. Nanti, tepat pergantian hari jadi tanggal 1 bulan ke-10, itu hari


pertama semenjak kedatangan Ghoul di desa ini! Dan serangan pada hari itu…biasanya


serangan yang paling ganas!”


Gue jadi keinget kata-kata Gia.


Kemungkinan ini puncak serangannya, ya?


“Djinn, nggak takut kan, lo?”


“Hmph! Tanya aja sama diri lo sendiri!”


“Hehe! Kalo gitu, ayo kita berangkat sekarang!”


Akhirnya kita berdua jalan ke tempat biasa.


Kurang lebih kita nunggu selama 10 menit.


Dan akhirnya…


““Graaaaa!””


Nah, mereka semua dateng.


Tapi…


“Wuhuuuu! Ada banyak banget! Berapa kira-kira jumlah


semuanya, Djinn?!”


“Ratusan kali, ya?”


Ini bukan nambah 2x lipet lagi. Kalo kayak gini


mungkin aja udah 10x lipet!


Tapi, gue sama Myllo tetep maju ke arah mereka.


““*Bhuk! Dhuk! (suara banyak pukulan dan tendangan)”


“Graaa—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Gue hajar banyak dari mereka. Kurang lebih baru 5


Ghoul.


“Graaaa!”


Duh, demen banget mereka nyerang dari belakang!”


Gue tangkep salah satu dari mereka, abis itu gue


lempar.


“Eh?!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Woy! Djinn! Jangan asal lempar dong!”


“Oh, maap…”


Karena saking banyaknya, mereka ngga cuma ngerubunin


gue aja. Myllo pun juga mau dikerubunin.


“Graaaa!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Hehe! Dua, tiga, bahkan sepuluh pun nggak cukup untuk


berentiin gue!”


........................


Kita berdua terus-terusan nyerang semua Ghoul ini,


tiba-tiba ada teriakan dari salah satu Ghoul yang kenceng banget.


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”


““Graaa…”


Bahkan teriakan Ghoul itu bikin Ghoul yang lagi kita


lawan pada gemeteran.


“Myl, lo denger kan?”


“Hehe! Kayaknya ada tantangan baru, nih!”


Hmph! Positif banget semangat orang ini!


“GRUUAAAAAA—”


“*Prang! (suara besi tebal)”


Hah? Kok ada suara besi?


“Itu suara apa?”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Nggak tau. Kayak suara besi.”


Kita masih bisa ngobrol, walaupun sambil nyerang para


Ghoul ini.


“Kayaknya suara Ghoul tadi—”


“*Swuuush…bruk! (suara sesuatu terlempar dan


tertabrak)”


“Djinn! Itu suara apa?!”


“Nggak tau!”


Dari yang gue liat sih, kayak ada yang dilempar dari


jauh ke arah kita.


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”


““…””


Ada kali tuh ukurannya 4 meter!


“*Swung… (suara ayunan pedang besar)”


Eh?! Orang ini…yang waktu itu bantuin kita, kan?!


“Duh! Sakit juga!”


“Ah! Lo lagi!”


Lagi, mukanya diperban gitu. Jujur aja, ini orang apa


mumi?!


“Woy! Lo kemana aja?! Padahal gue mau rek—”


“Kalian lagi!”


““Hm?””


“Udah saya bilang, kan?! Kalian harusnya pergi dari


sini!”


Buset, keras kepala banget nih orang!


“Kalian pasti pada nggak bisa nanggung akibatnya kalo


kelamaan di tempat ini!”


“Nggak bisa nang—”


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”


Duh! Berisik banget kalo dari deket!


“Yaudah! Daripada kita debat, mending kita selesain


aja dulu Ghoul gede ini!”


“A—”


“Jangan deket-deket!”


““Hah?!””


“Dia jatah saya!”


Wah, dilempar sejauh itu sama Ghoul yang segede itu


aja nggak cukup ya buat orang misterius ini!


Padahal, harusnya kita bisa selesain secepetnya ini,


mah!


“Hyaaaa!”


Sambil lawan Ghoul yang ada di depan gue, gue juga


perhatiin orang misterius itu yang lagi lawan Ghoul gede itu.


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Jangan sampe nggak fokus, Djinn! Kita percayain aja


Ghoul gede itu sama orang itu!”


Brengsek! Padahal dia ngomong gitu sambil nontonin orang


itu, loh!


Dari yang gue liat, orang itu cukup kuat untuk nahan


semua serangan dari Ghoul gede itu, walaupun gerakannya nggak begitu cepet.


Seenggaknya serangannya masih bisa imbangin Ghoul gede itu, lah.


“…”


Eh?


Dia gemeteran?


“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”


“Hyaaaa—”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Urgh!”


Eh! Dia kepental ke arah gu—


“*Bruk! (suara tertabrak)”


“Djinn! Orang misterius!”


Ugh! Pusing juga tabrakan sama orang ini!


Tapi kok—


“Heeaaaaaahhh!!!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“GRUAAAGHH!”


“Ah masih nggak terlalu kuat ternya—”


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Djinn!!!”


Untung gue langsung lompat ke depan Myllo sebelum


Ghoul Gede itu nyentuh dia!


Masalahnya…


“Uhuk, uhuk!”


…sakit banget!


Bahkan batuk gue aja sampe berdarah!


Brengsek Ghoul satu ini!


“Woy, brengsek!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Gruugh…”


“Makan nih!”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


Eh?


Gue terlalu emosi, sampe gak kekontrol pukulan gue


yang bikin Monster segede itu terbang ke belakang…


“*Brak! (suara tertabrak)”


“Gruuugh! Gruuugh!”


""!!!""


Lah, Ghoul gede itu lari.


Nggak dia doang, Ghoul lainnya juga pergi.


“Wuhuuuu! Keras banget pukulan lo!”


“Hmph.”


“Thanks,


Djinn! Kalo nggak karena lo, mungkin gue udah kenapa-kenapa!”


“Ya.”


Udah selesai, kan?


“Ah! Orang itu ilang lagi!”


Eh iya! Kok tuh orang cepet banget sih ilangnya?!


Tapi…


“Oh iya, Myl. Kayaknya Ghoul yang gede tadi tuh bos-nya


deh. Kita ikutin nggak mereka?”


“Nggak usah. Kita balik aja lagi ke kamar kita.


Pertarungan malem ini lebih sengit dari biasanya, makanya kita istirahat aja


dulu!”


“OK.”


Akhirnya kita jalan balik ke kamar kita.


“Haaah…kenapa mereka kabur, ya? Padahal masih bisa


lanjut, tuh!”


“Lah, lo aja bilang malem ini sengit sampe butuh


istirahat!”


“Hah?! Gue masih bisa lanjut! Lagian, salah lo yang


bikin Ghoul gede itu takut!”


“Gue cuma bales doang!”


“Nggak! Salah lo pokoknya!”


“Hah?!”


““…””


Ya, kita balik ke kamar sambil main salah-salahan


kayak anak kecil.