Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 14-2. Different Nickname



Di Penampungan Terakhir, tepat setelah Djinn dan yang lainnya menuju ke sana.


“*Bruk! (suara dinding hancur)”


““Akh!””


“Si-Sialan! Siapa orang ini?! Kuat banget!”


“Ke-Kenapa orang sekuat ini gak bisa dideteksi Soul Identifier?!”


Teriak dua penjaga yang berada dalam keadaan panik, setelah rekan-rekannya dikalahkan.


“…”


Dibalik asap tebal yang disebabkan oleh dinding yang hancur, bayangan seseorang muncul, yang membuat beberapa penjaga semakin takut.


“Ce-Cepet lapor Kakak Besar, sebelum orang itu dateng!”


“Gi-Gimana laporinnya! Kita gak bisa pake Orb Call!”


“La-Lari aja kalo gitu!”


“Ayo—”


“*Tuk! (suara ketukan tongkat)”


Saat mereka dalam keadaan panik, terdengar suara tongkat yang diketuk oleh pria yang mereka bicarakan tadi.


“Tunggu! Jangan lari dulu!”


“Ayo! Kita la—”


“*Tuk! (suara ketukan tongkat)”


“Dibilang jangan lari dulu, woy!”


““HIEKH!!!””


Mereka semakin gemetar setelah melihat tatapan dari pria tersebut.


“Ma—Mati deh kita!”


“I-I-Ibu, maafin aku, bu! Aku janji gak kerja untuk Black Guild lagi!”


“Se-Semoga di dunia bawah gak seserem it—”


“Hah?! Jangan mati dulu!”


““Eh?””


Sahut para penjaga tersebut ketika mendengar seruan pria tersebut.


“Jawab pertanyaan gue! Kalo kalian mati, gue bingung nyari orang buat ditanyain!”


“I-Iya…”


Jawab salah satu penjaga ketika pria tersebut bertanya.


“Kalian kenal temen gue gak?”


“Te-Temen?”


“Iya! Nama dia Styx!”


“Styx? Siapa ya?”


“HAAAAHH?! Kalian nyulik orang itu, tapi gak kenal dia siapa?!”


“Ng-Nggak—”


“Tu-Tunggu dulu!”


Sahut penjaga yang lainnya ketika rekannya hendak menjawab pria tersebut.


“Ma-Maaf, bang. A-Abang nyariin temennya, tapi kita aja gak tau abang itu sia—”


“AAAAHHHH!!! SIALAAANN!!!”


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara pukulan tongkat)”


““Agh!””


“Gue Myllo Olfret! Orang yang bakal jadi Petualang Legendaris kayak kakak gue, Sylvia Starfell!”


“Tu…Turnyutu bukus unggutu U…Uqullu (Ternyata bekas anggota Aquilla)”


Sahut salah satu penjaga setelah babak belur dipukul oleh seorang pria yang ternyata adalah Myllo Olfret, mantan rekan dari Styx.


“Sial, masa gak kenal gue?!”


Kata Myllo dengan kesal.


“…”


Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari Styx.


“STYX! LO DIMANA?!!”


Teriak Myllo yang semakin resah mencari jejak Styx.


Myllo pun terus berkeliling mencari keberadaan Styx pada lokasi yang sedang ia telusuri berada di bawah tanah.


Anehnya, ia tidak mengetahui jika ia berada di bawah Penampungan.


“Haaaah… Siapa sih nih orang-orang yang nyulik Styx?! Dasar lemah lo, Styx! Kok bisa-bisanya dia diculik?! Ya wajar aja sih, dia juga orang yang manja sama Kak Sylv! Ihihihi!”


Seru Myllo sambil berjalan sendirian mengelilingi bawah tanah Penampungan yang berada di Porzael City sambil berniat untuk menghibur dirinya sendiri.


Sambil ia terus berjalan, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang agak terang dari jauh.


“Akh! Panas!”


“Jiakh! Penjaranya kebakar!”


“La-Lari! Padamin apinya!”


Ia melihat cahaya yang berasal dari api yang membakar suatu penjara.


“Hm? Kenapa itu? Kok ada api?”


Namun, beberapa orang itu melihat Myllo, yang tanpa basa-basi hendak mereka culiknya.


“Eh?! Itu siapa?!”


“Ayo! Hajar!”


“Lumayan nambahin budak—”


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Baru aja lari dari api! Tiba-tiba mau nangkep gue!”


Kata Myllo, setelah memukul penjaga-penjaga tersebut.


Karena penasaran, Myllo pun hendak memasuki ruangan berapi tersebut.


“Eh, aduh! Panas banget!”


Saat memasuki ruangan tersebut, Myllo melihat bayangan seorang anak kecil yang sedang berada di dalam penjara dan dikelilingi oleh banyak api.


“Ka-Kakak… Tolong aku…”


Kata anak kecil tersebut, yang kesadarannya semakin pudar.


“Sialan! Kok anak kecil ditahan kayak gitu!”


Myllo pun dengan sigap menghancurkan penjara tersebut untuk membebaskan anak kecil itu.


Saat ia menghancurkan penjara itu, ia melihat anak kecil itu, dengan tanduk dan ekor Naga, serta beberapa sisik Naga di kulitnya.


“Oi, dek! Nggak apa-apa, kan?”


“Ka-Kakak Bella?”


Gumam anak kecil tersebut yang mengira diselamatkan oleh kakaknya.


“Bella? Kok keinget sesuatu ya denger namanya?”


Pikir Myllo setelah mendengar gumam anak kecil tersebut.


Mereka pun keluar dari tempat berapi itu, namun Myllo masih memikirkan nama ‘Bella’ yang disebut oleh anak itu.


“Hah? Ka-Kakak siapa? Aku namanya Charzielle…”


“Hmm… Charzielle, ya? Kakak namanya Myllo Olfret! Panggil aja Myllo!”


Balas Myllo.


“Maaf, aku kira kakak itu kakaknya Charzie—”


“Oi, dek. Bella-Bella tadi nama kakak kamu, ya? Nama dia siapa?”


“Namanya…Bellatrisha Mistyx…”


“Hmm…kayak pernah denger namanya…”


Pikir Myllo, ketika mendengar nama tersebut.


“Hmmmm!!!”


Myllo pun berpikir keras mengingat nama itu.


“Ka-Kaka—”


“HAAAAAAAHHHH!!!”


“!!!”


Anak kecil yang bernama Charzielle itu terkejut ketika melihat reaksi Myllo yang mendengar nama kakaknya.


“KA-KAMU ADEKNYA STYX?!”


“Styx…? Ah! Nama samarannya kakak! Iya, aku adiknya dia!”


“Ta…Tapi kamu itu kan…Dragonewt!”


“…”


Anak kecil itu tertunduk dan terdiam saja setelah Myllo menyebut nama rasnya, dengan raut wajah sedih.


“…”


Merasa bersalah, Myllo pun berusaha untuk merubah suasana hatinya.


“*Fwuh… (suara tiupan angin)”


“Eh! Ahahaha! Geli, kak!”


“Hehe! Maafin kakak ya kalo kakak salah kata—”


“Ng…Nggak, kak! A…Aku cuma keinget aja ada orang-orang yang ngeledek karena aku sama Kak Bella beda ras!”


Balas Charzielle setelah Myllo meniup telinganya dengan niat membuatnya tertawa.


“Sialan! Siapa yang berani ngatain kamu?!”


“Mereka…”


“Ah…”


Myllo tidak bisa berkata apa-apa setelah Charzielle menunjuk para penjaga yang telah ia kalahkan.


“OK, Char-Char! Ayo kita sama-sama cari Styx!”


“A-Ayo, kak!”


Akhirnya, mereka pun bersama-sama berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu, walaupun…


“Hmm…”


“Ada apa, Kak Myllo?”


“Ngomong-ngomong… kita ada dimana, ya?”


…ia tidak tahu jalan keluar.