
A-Apa aja yang semua gue denger tadi dari Ayasaki…?
Dia tidurin Lupherius, muridnya sendiri, supaya dia bisa hamil. Ternyata anaknya itu Slasher, yang udah dua kali gue lawan.
Mungkin gue sebut Lupherius aki-aki, padahal Ayasaki jauh banget lebih tua daripada dia.
Kalo gitu, berarti gua udah pernah lawan satu keluarga secara terpisah, walaupun sama Lupherius beda
konteks karena gue cuma latihan doang sama dia[1].
T-Terus… gue harus gimana…?
“Apa yang kau tunggu, Pria Terjanji…?”
“…”
“Tidakkah… Tidakkah engkau marah mendengar perbuatanku?!”
E-Emang sih apa yang dia bilang bikin gue kesel. Tapi—
“Aku… sudah hidup menderita…! Perbuatanku… pantas untuk dihukum…! Aku… sudah tidak layak untuk hidup…!
Kematian adalah satu-satunya jalan terang bagiku…!”
Duh…! Gue jadi bingung sendiri…! Apa yang harus gue—
“CEPAT BUNUH AKU, PRIA TERJANJI—”
“*DHUM!!!”
“BISA DIEM NGGAK?!?!”
“!!!”
“GUE LAGI MIKIR!!! KALO LO TERIAK KAYAK GITU…”
“…”
Ah…
Gue tiba-tiba kelewatan lagi…
“M-Maafin gue, Ayasaki. Gue cuma butuh waktu untuk mikir, karena—”
“Apa yang perlu kau pikirkan, Pria Terjanji?! Mengapa—”
“Lo itu nggak cuma guru Kapten gue atau Bocil Naga aja! Tapi lo juga guru dari orang baik yang ngajarin gue
bela diri juga!”
“S-S-Siapa maksudmu—”
“Shikami, atau yang namanya Lupherius, murid lo yang lo tidurin! Dia itu yang ngajarin gue Kitsujutsu, atau
yang namanya Wulfrag Arts di Dunia Bawah!”
“A-A-Apa…?”
“…”
Gue nggak jawab langsung pertanyaannya, karena gue masih pikirin cara supaya nggak bunuh dia!
Mungkin udah banyak banget orang yang udah gue bunuh di dunia ini. Tapi kalo ditanya siapa yang gue paling nyesel bunuhnya itu, cuma satu.
Tarzyn. Naga yang nggak cuma baik aja. Dia juga kasih arahan yang baik ke gue untuk hadapin Shaylia, yang juga salah satu orang yang kematiannya juga gue sesalin[2].
Makanya itu…
Gue nggak mau nyesel lagi untuk bunuh orang yang menurut gue nggak layak dibunuh, selama kesadaran gue masih nyantol!
“Huuuuhhh…”
OK. Gue tau harus gimana.
“Ayasaki. Maaf sebelumnya, karena gue nggak akan bunuh lo.”
“M-Mengapa tidak—”
“Lo udah nggak abadi kan, Ayasaki?!”
“!!!”
Dari reaksinya, dia sadar sama hal itu.
“Gue liat masa lalu lo, di mana bibi lo kasih tau ke lo tentang akibat dari perkawinan Mahluk Abadi—”
“T-T-Tetapi… apa gunanya jika aku tidak mati terbunuh olehmu, Pria Terjanji?! Jika hal tersebut tidak terjadi…
maka nubuat Melchizedek menjadi—”
“Tai anjing sama omongan Melchizedek!”
“A-Apa maksudmu…?”
“…”
Duh, gue ditanya soal Melchizedek ya…?
“Pria Terjanji! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menghina pria yang—”
“Dia udah punya orang yang dia sayang, Ayasaki! Dia udah—”
“B-B-Benarkah…?!”
“Y-Ya—”
“Ahaha… syukurlah…”
Hah?! Syukur?!
“Setidaknya ia merasakan yang seharusnya dirasakan oleh Mahluk Intelektual…! Walaupun aku…. Walaupun… aku… hiks, hiks…”
“…”
Jangan ngomong apa-apa, Djinn.
Walaupun dia bersyukur karena Melchizedek bisa rasain cinta, tapi dia pastinya juga sakit hati karena ditinggal orang yang dia cinta.
“Pria Terjanji…”
“…”
“Terima kasih sebesar-besarnya… karena telah memberitahuku tentang Melchizedek. Dengan ceritamu tentangnya… kini aku siap mati dengan tenang, sementara tidak ada lagi alasan bagiku untuk hidup di dunia ini. Oleh karena itu, janganlah ragu untuk membunuhku—”
“Gue tanya sama lo, Ayasaki! Lo nyesel nggak biarin Melchizedek yang ujung-ujungnya harus sendirian selama ribuan tahun?! Padahal dia butuh lo! Lo sendiri juga ngerasa kesepian di dalam tempat ini selama ribuan tahun!”
“Tentu saja aku menyesal—”
“Makanya jangan ngulangin hal yang sama lagi, Ayasaki!”
“M-Mengulangi… hal yang sama…? Apa maksudmu…?”
“Sama Melchizedek yang butuh seorang sahabat untuk hidup di sampingnya selama ribuan tahun, rakyat Kumotochi juga sesosok orang yang bisa jaga mereka! Bocil Naga juga butuh seorang guru sebagai satu-satunya orang bisa dia anggap ibunya sendiri! Slasher butuh kasih sayang ibunya, Ayasaki!”
“…”
Andai gue bisa bilang…
Sama kayak gue yang butuh temen-temen gue.
Tapi kalo gue bilang gitu, bisa aja dia jadi semakin kangen sama temen-temennya.
“Ya! Tentu saja mereka membutuhkanku! Namun, apakah mereka—”
“Peduli sama lo?! Ya pastinya lah mereka peduli sama lo! Pasti itu kan yang mau lo tanya?!”
“Tentu saja! Karena mereka—”
“Jangan banyak omong kosong! Gue yakin, kalo lo masih belom bisa ngelupain temen-temen lo di Perseus! Makanya lo selalu ngebandingin mereka sama orang-orang Kumotochi! Padahal lo sendiri sadar, kalo orang-orang Kumotochi yang sekarang itu juga bukan orang-orang Kumotochi yang dulu, sebelum Hari Penghakiman! Mereka nggak kayak bapak lo, yang selalu paksain lo!”
“…”
Karena gue sendiri juga ngerasain hal yang sama, di mana gue nggak bisa ngelupain orang-orang yang pergi dari hidup gue.
Pak Jaya.
Ibu.
Kak Eka.
Meldek.
Bahkan Shaylia sama Lephta.
“Saki.”
“E-Eh…?!”
“Mungkin ada orang yang pernah bilang gini ke lo, karena lo udah hidup ribuan tahun lamanya. Tapi ibu gue pernah bilang begini ke gue, sebelum dia meninggal.”
“I-Ibumu…?”
“Buka diri lo untuk orang lain! Karena masih banyak orang baik di sekitar lo! Supaya lo nggak sendirian![3]”
“!!!”
Mungkin seharusnya gue juga bisa bilang hal yang sama ke Tarzyn. Tapi kalo kasusnya Tarzyn, semua Naga yang layanin dia udah bisa hidup tanpa dia. Sedangkan Beastfolk di Kumotochi masih butuh Ayasaki.
Tunggu dulu…
Kalo ngomong soal buka diri—
“A-Apakah… aku sanggup membuka diriku—”
“Pastinya bisa! Lagian lo sadar nggak sih, kalo lo udah ngelakuin hal itu kan sebelumnya?!”
“M-Melakukan… hal tersebut sebelumnya…?”
“Ya! Buktinya lo kasian sama anak lo Slasher, sampe lo kasih senjata lo ke anak lo sendiri, supaya dia bisa hidup dari tindasan warga yang nggak suka sama darah campuran yang dia punya! Itu udah jadi satu bukti kalo lo udah buka hati lo sendiri, Saki!”
Eh iya!
Berarti, katana yang Slasher punya itu tuh…
Ancient Armament?!
Sialan! Gue baru sadar sekarang! Padahal Ayasaki udah ceritain daritadi tentang—
“M-Mengapa… kau tidak seperti yang dikatakan oleh Melchizedek…?”
“Mm?”
“Jika kau memang Pria Terjanji… seharusnya engkau sama seperti Dia yang—”
“Mungkin gue dulu hidup sebagai Sakhtice! Tapi gue mau hidup sesuai kehendak gue! Gue hidup bukan untuk penuhin ramalan Melchizedek! Gue masih punya cita-cita yang harus gue raih! Justru kalo bisa gue ketemu diri gue sebagai Sakhtice…”
“…”
“…pasti gue hajar dia sampe mampus!”
“!!!”
Karena gue sendiri juga benci banget sama diri gue yang dulu! Bahkan gue masih berharap kalo gue sama dia bukan orang yang sama!
“P-Pria Terjanji…! Tetapi aku… telah melawan Hukum Alam…!”
Lawan Hukum Alam? Maksudnya—
“Tidak adilkah… jika aku masih layak untuk hidup… sementara Alfgorth dan Syllia harus tersiksa karena hidup bertentangan dengan Hukum Alam dan akan membawa ancaman bagi—”
“Justru lo tetap harus hidup! Supaya lo, Lupherius, atau Slasher, bisa sama-sama buktiin, kalo Hukum Alam di dunia ini salah besar! Biar keberadaan kalian juga bisa jadi bukti ke dunia, kalo kalian bukan ancaman untuk dunia!”
Tambah lagi tentang keabadian yang dipunya Mahluk Abadi!
“Mahluk Fana Menginginkan Keabadian. Mahluk Abadi Menginginkan Kefanaan.”
Andai bisa gue ubah peraturan dunia ini, mungkin gue udah hapus yang namanya keabadian! Supaya semua Mahluk Intelektual punya umur di dunia ini!
“P-Padahal… aku menceritakan tentang segala tindakanku yang tercela… agar kau menghukumku…! Pria Terjanji. Tetapi tidak kusangka… bahwa kau… justru mengampuniku…! Hiks! Hiks! Hiks!”
“Karena baru sehari ditinggal temen-temen gue aja, gue udah putus asa. Gimana lo yang udah hidup selama ribuan tahun.”
“T-Terus… bagaimana dengan diriku sebagai Dungeon God, serta Hidden Dungeon ini…? Aku menunggu keputusanmu—”
“Heh! Ngapain ikutin keputusan gue?! Selama lo masih mau hidup, lo bebas tentuin hidup lo, Ayasaki!”
“Tetapi nyawaku ada di dalam tanganmu—”
“Lo udah bebas, Ayasaki! Jangan peduli tentang ramalan, nubuat, atau apapun itu lah! Mending lo jawab sendiri pertanyaan terkait diri lo! Apa pilihan lo, Ayasaki?!”
“A-A-Aku…”
“…”
“Aku mau kembali ke Kumotochi dan menjaga semua yang ada di sana! Karena bagaimanapun juga, Kazue Oba-chan sangat mencintai semua yang ada di Kumotochi! Hanya itulah satu-satunya yang bisa kulakukan, untuk menghormati jasanya bagi Kumotochi!”
“…”
Gue senyum doang sama pilihannya.
Seenggaknya dia mau balik lagi ke Kumotochi.
“Yaudah deh, mending kita balik sekarang ke Kumotochi.”
“Tetapi jika aku meninggalkan tempat ini selama lebih dari 3 hari, tempat ini akan…”
“Hm?”
“Tidak. Sepertinya aku sudah tidak bertanggung jawab lagi, jika tempat ini hancur.”
Lagi-lagi Hidden Dungeon hancur ya, sehabis gue datengin?
“…”
“Pria Terjanji?”
Cih!
Mungkin gue bilang kalo gue nggak peduli sama ramalan Melchizedek. Tapi kalo setiap Hidden Dungeon hancur kalo gue kunjungin, artinya ramalan itu jadi kenyataan, dong—
“*Druk…”
Eh! Kenapa tiba-tiba dia berlutut di depan gue—
“Sekali lagi perkenalkan hamba.”
Hah?! Hamba—
“Hamba adalah Kazedori Ayasaki. Sebagai Pria Terjanji yang dinantikan oleh Melchizedek, maka hamba akan
bersujud dihadapan seorang Dewa yang datang di tengah-tengah dunia ini, untuk—”
“C-C-Cukup! Nama gue Djinn! Panggil aja gue kayak gi—”
“Tetapi Yang Mulia telah mendapatkan kembali kekuatan-Nya, serta mendapatkan kembali sebuah Indera berupa Penciuman, yang telah menunggu pemiliknya.”
“T-Tapi—”
“Sudah hamba katakan sebelumnya, bahwa mendapatkan kekuatan-Mu kembali adalah satu langkah-Mu untuk menjadi Dewa di tengah-tengah dunia ini. Sebagaimana dunia menantikan kedatangan-Mu.”
Cih…!
Apa gue harus jadi Dewa…?!
“…”
Tapi kalo nggak ada kekuatan ini… gue nggak akan bisa tolong temen-temen gue…!
“Yang Mulia…?”
“…”
Kalo emang gue ini satu-satunya cara supaya gue bisa selamatin temen-temen gue… mau nggak mau gue harus rela untuk jadi Dewa di dunia ini…!
Tapi…
“Jangan panggil gue kayak gitu, Saki!”
“Eh…?”
“Mau siapapun gue nantinya, anggap aja gue temen lo! Kayak gue anggap lo sebagai temen gue!”
“…”
Gue buka tangan gue, supaya dia mau berdiri.
“Baiklah.”
“*Tap…”
“Mending kita kenalin diri kita sekali lagi. Nama gue Djinn Dracorion. Panggil aja Djinn.”
“Namaku Kazedori Ayasaki. Sepertinya nama panggilan Saki tidak terdengar buruk, walaupun kau bukan rekan lamaku.”
“…”
Ngeliat dia senyum udah bikin gue agak tenang.
“Yaudah, Saki. Kalo gitu, ayo kita sama-sama keluar.”
“Ya, Djinn.”
Bagus, deh. Keliatannya dia juga udah siap untuk keluar.
Semoga adanya kekuatan ini cukup untuk selamatin temen-temen gue!
_______________
[1]Djinn berlatih dengan bertarung langsung bersama Lupherius. Ia juga diajarkan Kitsujutsu olehnya (Chapter 104).
[2]Tarzyn meminta kepada Djinn agar ia membunuh Shaylia bukan dengan maksud menghukum, melainkan dengan maksud membebaskannya (Chapter 86).
[3]Djinn mengulang nasihat dari ibunya, ketika ia hidup sebagai Dwi Lukman (Chapter 0).