
“Liat, kan?! Tanpa kekuatan Dewa, lo bisa apa, Sylvia Starfell?! Jangan sebut diri lo Pahlawan! Bahkan goblin pun lebih kuat daripada—”
“Hmph!”
“Cih! Masih berani ketawa lo—”
“Gue bukan Pahlawan? Emang gue bukan siapa-siapa tanpa kekuatan Dewa Arkhataz. Tapi tanpa kekuatan itu pun, gue tetap Pahlawan di mata adek gue. Ya kan, Myllo—”
“KAK SYYYLVV!!!”
“…”
Myllo terbangun dari mimpi buruknya.
Ingatan terakhir bersama kakak asuh yang sangat ia banggakan itu selalu menghantuinya.
Kali ini adalah 2 tahun yang lalu, sebelum ia memulai perjalanannya sebagai seorang Petualang dan bertemu dengan Djinn, hingga sukses membentuk Aquilla.
“Kau sudah bangun, Myllo?”
“…”
Myllo menatap seorang wanita, dengan sepasang telinga rubah, serta 9 ekor rubah berwarna hijau, beserta wajah yang tertutup dengan kain.
Karena atribut wanita tersebut, Myllo memanggilnya dengan sebutan…
“Eh? Ekor Hijau? Gue udah berapa lama ti—”
“*Tung!”
“ADAAAAWWW!!!”
Ekor Hijau memukul kepalanya dengan perasaan kesal.
“Keterlaluan! Sudah dikhawatirkan, namun kau tetap memanggilku seperti itu! Dasar tidak tahu diuntung!”
“Haaah?! Salah lo yang nggak ngasih tau namanya! Apalagi wajah lo ditutup! Pantes aja gue sebut lo—”
“Panggil aku Guru! Mengapa engkau selalu memanggilku dengan—”
“Haaah?! Guru?! Percuma kalo nggak ada namanya! Apa gue harus panggil Guru Ekor Hi—”
“KAU MASIH BERANI MELAWAN?!?!”
“Ah, maaf…”
Balas Myllo sambil menundukkan kepalanya.
“Haaaaah… Ya sudahlah! Kapan kita mau memulai latihan?!”
“Hehe! Sekarang a—”
“Sarapan terlebih dahulu!”
“Laaah! Kan lo yang na—”
“Lagi-lagi kau menentang?!”
“I-I-Iya…”
Myllo pun langsung bergegas untuk sarapan, agar ia dapat menjalankan latihan bersama wanita yang ia panggil Ekor Hijau itu.
“Hehe! Waktunya kita latian, Ekor Hijau!”
“Haaaah… Baiklah. Ambillah tongkatmu agar kita mulai latihan!”
“OK!”
Myllo pun mengambil tongkat miliknya dan memulai latihan bersama Ekor Hijau di pagi yang cerah.
“Sapu!”
“*Swush!”
“Sapu!”
“*Swush!”
Ia dilatih oleh Ekor Hijau untuk mengayunkan tongkatnya secara horizontal.
Setelah menjalani latihan yang sama sampai siang hari, ia kembali menyantap makanan buatan Ekor Hijau, sebelumm ia kembali berlatih bersamanya.
“Lompat!”
“*Swush…”
“Lompat!”
“*Swush…”
Pada sesi kali ini, Ekor Hijau melatihnya untuk melompat-lompat di sekitar tongkat yang berdiri tegak di atas permukaan tanah.
Latihan yang dijalaninya berlangsung dari siang sampai sore hari. Setelah itu, mereka beristirahat sejenak. Akan tetapi, Myllo merasa dirinya masih sanggup untuk berlatih lebih.
“Ekor Hijau! Ayo kita mulai aja latian selanjutnya! Gue masih belom capek!”
“…”
Ekor Hijau menatap Myllo dengan teliti, sebelum dirinya membuat keputusan.
“Ekor Hi—”
“*Krrrttt…”
“Atatatatatataa…”
“Panggil aku Guru!”
“I-I-Iya! Ekor Hijau!”
“Haaaah…”
Ekor Hijau hanya menghela nafasnya, sebelum melepaskan tangannya yang menggenggam kepala Myllo dengan keras.
Akhirnya ia memulai sesi latihannya kembali.
“Pukul!”
“*Tung!”
“Pukul!”
“*Pukul!”
Myllo memukul bola-bola api yang dilempar oleh Ekor Hijau.
Latihan tersebut berlangsung sampai pada malam hari, sebelum mereka memulai sesi terakhir.
“*Tuk! Tuk, tuk, tuk, tuk!”
Sesi latihan terakhir bagi Myllo adalah bertarung langsung dengan Ekor Hijau. Dengan menggunakan tongkat masing-masing, pertarungan mereka pun berakhir hingga puncak malam.
““Huff… Huff… Huff…””
Setelah stamina mereka sama-sama terkuras, Ekor Hijau pun mulai menghidangkan makanan bersama.
“Kau menginginkan sake, bukan?! Terimalah ini!”
“Wuuuuhhh!!!”
Seru Myllo dengan senang hati.
Setelah itu, mereka hendak minum bersama di tengah malam yang dingin. Akan tetapi, Myllo meminta sesuatu kepada Ekor Hijau sebelum menyantap minuman tersebut.
“Ekor Hijau, Ekor Hijau…”
“Hm?”
“Gue mau liat hasil akhir dari teknik-teknik yang lo ajarin dong! Hehe! Boleh nggak?!”
Tanya Myllo agar Ekor Hijau mendemonstrasikan teknik yang ia ajarkan kepadanya.
Mendengar permintaan muridnya, Ekor Hijau hanya tersenyum.
“Hahaha! Dasar murid yang tidak sabar! Mundurlah sedikit! Tentunya kau tidak akan menginginkan efek serangan ini!”
Seru Ekor Hijau kepadanya.
“…”
Ekor Hijau mulai berdiri dengan postur teknik yang ia ajarkan.
Sebelum ia mendemonstrasikan tekniknya…
“*DHUMMM……”
…ia mengeluarkan aura yang sangat besar.
{Kazedoryū: Haku}
“*SWUSH!!!”
““*Krrrak!””
“!!!”
Myllo terkejut ketika melihat batang dari beberapa pohon, yang berada jauh di depan Ekor Hijau, tiba-tiba terpotong secara horizontal.
“*Swuswushwushwush…”
Ekor Hijau berayun-ayun dengan elegan di atas tongkatnya yang berdiri dengan tegak.
Melihat aksi gurunya tersebut…
“Wuoaahhhh!!!”
“*Prok, prok, prok…”
…Myllo tidak bisa menutup rasa kagumnya.
“Ekor Hijau! Ekor Hijau! Ekor Hijau!”
“Hm?”
“Kalo {Hansha} gimana?! Tunjukkin dong, tunjukkin!”
Pinta Myllo kepada Ekor Hijau.
Namun, Ekor Hijau tidak bisa memenuhi permintaannya.
“Tidak bisa.”
“Haaaaah?! Kok nggak bisa?!”
“Kau tidak memiliki kekuatan sihir, semenjak nilai besar dari kekuatan tersebut adalah untuk melawan serangan sihir.”
“Oh iya! Hehe! Bener juga!”
Tawa Myllo, walaupun permintaannya tidak dapat terwujudkan.
“Emangnya hasil akhir teknik itu bisa apa?!”
“Hmm… Bagaimana aku menjelaskannya…”
“Hm?”
Gumam Myllo, sebelum mendengarkan penjelasan Ekor Hijau.
“Jujur saja, teknik itu merupakan yang paling berbahaya.”
“Paling bahaya?”
“Ya. Mungkin yang kau pelajari saat ini adalah cara menangkal serangan sihir dngan teknik tersebut. Tetapi ada tujuan utama dari teknik itu.”
“Apa?”
“Menghancurkan Jiwa lawan. Oleh karena itu, aku dan kaumku, Kaum Kitsune termasuk salah satu Mahluk Abadi yang paling berbahaya, karena kami bisa menghancurkan Jiwa dengan mudah, dibandingkan Mahluk Abadi lainnya.”
Jelas Ekor Hijau, sambil menyantap minuman miliknya bersama Myllo.
……………
“*Zzzzz…”
Myllo pun tertidur dengan pulas setelah ia minum bersama dengan Ekor Hijau.
“*Krriiiekkk…”
Ekor Hijau memasuki kamar tidurnya, lalu ia menyentuh kepala muridnya tersebut.
“…”
Sambil memejamkan matanya, ia pun berbicara lewat pikirannya.
“Zegin…”
“???”
Dari dalam pikiran Myllo, Zegin mendengar seseorang sedang berbicara kepadanya.
“Hm? Siapa lo? Kok lo tau ada Gue di sini?”
Tanya Zegin kepada Ekor Hijau.
“Ah, ternyata benar. Kau sudah melupakan aku. Jika bukan karena pria itu.”
“Hm? Lupa? Emangnya kita pernah ketemu?”
“…”
Ekor Hijau tidak menjawab.
Sambil terus memejamkan matanya, rasa rindu, sakit hati, dan kekecewaan menyelimuti perasaannya.
“Ngomong-ngomong ada urusan apa lo temuin Gue?”
“Tidak ada. Berhubung esok hari Myllo akan pergi untuk memulai petualangannya, apa salahnya jika aku ingin
bertemu dengan rekan lama?”
“Hah…?”
Zegin pun menjadi heran dengan maksud dari Ekor Hijau.
Namun sebelum ia mencari tahu siapa sosok Ekor Hijau sebenarnya, Zegin hendak mengeluarkan pendapatnya kepadanya.
“Woy, lo!”
“Hm?”
“Kenapa lo ajarin teknik kayak gitu ke Saint Gue?! Teknik lo itu butuh Jiwa! Padahal lo sendiri udah tau kan, kalo Jiwa dari Saint Gue ini udah mati?!”
Tanya Zegin kepada Ekor Hijau.
“Tentu Jiwa miliknya telah mati. Namun, Kau sendiri sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, bukan?”
“Dia yang sebenarnya…? Tunggu! Maksud lo apaan?! Kenapa lo bisa tau tentang siapa Saint Gue sebenernya?!”
“Fufu… Tentu saja, Zegin. Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan diri-Mu, namun aku sudah sangat lama hidup di dunia ini.”
Jelas Ekor Hijau kepada Zegin.
“Haha, senang bisa bertemu dengan-Mu kembali, Zegin.”
“S-Seneng? Kenapa bisa seneng? Apa mungkin karena kita sama-sama Kitsu—”
“Mungkin itu saja yang hendak aku sampaikan. Ketika Myllo berada di dalam perjalanannya, aku harap Engkau bisa melindunginya, Zegin.”
“T-Tunggu!”
Seru Zegin, sebelum Ekor Hijau meninggalkannya.
“Hm?”
“E-Entah kenapa… Gue ngerasa familiar sama lo! Siapa lo sebenernya?!”
“…”
Ekor Hijau hanya tersenyum di saat ia masih memejamkan matanya.
“Aku adalah…”
“…”
Zegin hanya terdiam, setelah Ekor Hijau memperkenalkan dirinya.
“Aku tidak akan menyalahkan-Mu yang melupakanku, setelah kita bersama ribuan tahun yang lalu. Mungkin, Kau bisa mengingatku sebagai wanita yang telah mengajarkan Saint-Mu, sebelum ia berhasil meraih cita-citanya.”
Lanjut Ekor Hijau, sebelum ia pergi dari hadapan Zegin dan Saint pilihannya, yang masih tertidur.
Setelah pertemuannya dengan Ekor Hijau…
“*Tik…”
“Eh?”
…tanpa sadar Zegin meneteskan air matanya.
“Itu ya nama lo? Mungkin gue nggak tau lo siapa, tapi Gue janji untuk jaga Saint Gue yang satu ini.”
Bisik Zegin, sebelum ia terlelap di dalam pikiran Myllo.
……………
Namun saat ini, setelah Myllo berhasil mengalahkan Beelzraul.
“*Tuk, tuk, tuk…”
““Aaargh!””
Myllo menyerang beberapa anggota Children of Purgatory.
“S-Sial!”
“K-Kok Jiwa kita hancur?!”
Seru beberapa anggota Children of Purgatory, setelah terpukul oleh tongkat Myllo.
Melihat aksi Saint yang ia pilih, Zegin pun merasakan sesuatu yang berbeda darinya.
“Myllo… apa mungkin… kekuatan lo yang sebenernya… udah lahir…?!”
Pikir Zegin akan Myllo, setelah menyaksikan kekuatannya yang selama ini terpendam.