Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 355. Prepare to Attack and Rescue



“S-Sial! Apakah usaha kita akan sia-sia?!”


“Mengapa… Ryūhime-sama membiarkan dirinya tertangkap…?”


“Apakah ini waktu yang tepat bagi kita… untuk pergi melarikan diri dari tempat ini…?”


“…”


Duh, semuanya pada putus asa karena Bocil Naga ditangkep.


Gimana cara kita sampein rencana kita, kalo mereka aja—


“*TUK!!!”


“Semuanya! Tolong denger gue baik-baik!”


Tiba-tiba Myllo hentak tongkatnya ke tanah, supaya semua anggota Perlawanan perhatiin dia.


“Jangan patah semangat! Kita—”


“Jangan kasih kami harapan palsu, Warga Bawah!”


“Kalian tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi, jika—”


“GUE BILANG DENGER GUE!!!”


““!!!””


“Kalo kalian ngomong terus, kalian nggak akan bisa denger gue!”


Bagus. Untung aja dia teriak kayak gitu. Jadinya mereka semua bisa lebih tenang untuk denger dia.


“Semuanya belom selesai! Kita masih bisa selamatin Ryūhime!”


“Bagaimana caranya?! Ia sudah tertangkap! Mustahil bagi kami untuk menyerang Bakufu!”


“…”


Myllo ngeliatin gue. Artinya sekarang bagian gue untuk jelasin semuanya ke mereka.


Tapi…


“Tunggu, Mil.”


“Hm? Ada apa, Djinn?”


“Mending kumpulin beberapa orang yang penting untuk ikut denger penjelasan gue, daripada ngomong ke banyak orang kayak gini.”


…keliatannya susah juga untuk jelasin ke banyak orang kayak gini.


“Gitu dia bilang! Gimana?!”


“Izinkan aku untuk ikut, Myllo!”


“Kami, Kepala Perlawanan, juga ingin mendengarnya!”


“Tanzō-sama! Warauneko-sama! Ērukuma-sama! Tolong izinkan saya, Kokume-chan, Fusamoto-kun, dan Nekomi-chan untuk ikut bersama kalian!”


“…”


Totalnya ada 12 orang yang ikut yang ikut.


“Yaudah! Ayo kita cari ruangan yang sepi!”


“Ikuti saya, Myllo-dono! Saya tahu lokasi yang tepat untuk berkumpul dan berdiskusi!”


“Kalian, para anggota Perlawanan! Berjaga-jagalah di sekitar desa ini! Jangan lupa untuk membantu warga Kochi!”


““Baik! Ērukuma-sama!””


Akhirnya kita ikutin Shinikichi ke hutan yang agak sepi, sehabis salah satu Kepala Perlawanan perintahin anggota Perlawanan untuk jaga-jaga.


Tapi ada satu orang yang menurut gue perlu ikut.


“Ki, ayo ikut.”


“T-Tapi Djinn—”


“Kalo mereka larang lo untuk ikut, artinya gue juga berhak usir mereka. Tenang aja, lo nggak bakal kenapa-kenapa.”


“Y-Yaudah…”


““…””


Akhirnya kita sama-sama ada di tengah hutan yang agak jauh dari Kochi Village, walaupun… dari antara mereka mulai nanyain tentang kita, Aquilla.


“M-Myllo-dono, kemanakah Dalbert-dono? Bukankah ia juga sesama Petualang yang ikut bersama kalian?”


““…””


“Oh ya, Garry-kun dan Machinno-chan juga tidak ada di tengah-tengah kita.”


Ya. Gue yakin mereka pasti tanyain 3 temen kita.


“Kalo kalian bingung, biar gue jelasin ke kalian tentang rencana yang gue siapin, kalo Bocil Naga itu ditangkep.”


““…””


Akhirnya gue jelasin ke mereka tentang rencana yang gue sama Dalbert buat secara dadakan.


……………


Sebelumnya, waktu kita lagi bawa warga desa Kochi pergi dari desa itu, di mana yang jadi medan perang.


“Djinn! Gimana?! Udah semua—”


“Belom! Masih ada satu lagi yang harus kita selamatin!”


“Et! Jangan-jangan maksud sia teh…”


“Ya! Bocil Naga itu ke mana?!”


Awalnya gue heran karena Bocil Naga itu tiba-tiba pergi.


Untungnya, ada dari antara kita berenam yang liat dia pergi bareng Shinikichi.


“Ada Beastman Anjing yang bawa dia pergi!”


“Oh gitu?! Yaudah deh! Semuanya udah aman—”


“Tunggu, Mil. Mungkin dia udah kabur dari sini. Tapi kita harus pikirin kemungkinan dia dibawa Bakufu.”


“Bener juga. Insting gue juga bilang kalo dia ujung-ujungnya ditangkep.”


Karena kita mikirin kemungkinan itu, akhirnya kita sama-sama pikirin tentang cara selamatin Bocil Naga itu dari Bakufu, kalo dia emang bener-bener ditangkep.


“Nih denah Bakufu yang didapetin mata-mata dari Perlawanan.”


“…”


Dari denah yang ditunjukkin Dalbert, ada beberapa lokasi yang jadi pusat perhatian gue. Mulai dari luar Chūbo Town, sampe ke markas besar Bakufu.


Dari luar Chūbo Town, cuma ada satu gerbang yang namanya Jigoku kōka untuk masuk wilayah itu. Karena di tepi Chūbo Town sendiri ada jurang yang dalem banget, yang namanya Eien Jigoku. Katanya sih jurang itu nggak ada ujungnya.


Sedangkan Chūbo Town sendiri ditutup tembok yang gede banget. Nama tembok itu Kemono kai.


Di dalam Chūbo Town, ada satu markas besar di tengah-tengahnya, yang namanya Tenshujū.


Di sana ada wilayah pribadi kepunyaan Shogun, markas setiap Komisi, markas khusus Klan Kazedori, sama


penjara khusus kriminal yang namanya Tsumibito no ori.


“Hmm. Kemungkinan besar BocilNaga ditahan di Tsumibito no ori.”


“Pastinya. Tapi, untuk apa gue harus tunjukkin denah i—”


“Machinno.”


““Hm?””


Bocah-bocah sialan ini pada heran sama maksud gue. Karena itu gue jelasin semuanya ke mereka tentang keunikan mahluk imut satu ini.


“Djinn, ada apa sama Machinno—”


“Kalian tau kan salah satu keunikan dari dia?”


“Lemot?”


“Bukan!”


“Selalu hilang secara tiba-tiba?”


“Nah! Itu maksud gue! Seenggaknya dia bisa ikut bareng Bocil Naga, kalo dia beneran ketangkep!”


““!!!””


Mungkin mereka yang denger gue agak kaget, karena rencana pastinya bahaya buat Machinno.


“T-Tunggu, Djinn! Kalo sama kita aja dia selalu hilang, gimana kalo dia sendirian?! Kamu pasti tau tentang itu,


kan?!”


“Gue juga paham, tapi—”


“Biar gue sama Garry yang temenin dia.”


“Et! Jangan bawa-bawa aing, anying!”


Untungnya Dalbert ngomong gitu, supaya yang lain ngerasa tenang.


“Machinno, lo sendiri gimana?”


“…”


“Woy! Machinno—”


“Machinno… siap.”


Untungnya juga Machinno juga mau terima misi yang bahaya ini.


“Et! Tapi teh gimana atuh cara kita masuk ke dalam sana, Dalbert?!”


“Pake ini.”


““!!!””


“Lo mau pake rencana yang lo pake waktu gue jemput Si Dongo[1], ya?”


“Nggak apa-apa, kan? Lagian Fratta Pouch gue yang ini masih kosong, sedangkan gue masih punya Fratta Pouch lainnya.”


Oh ya. Nih orang hobi koleksi Fratta Pouch.


“Hehe! Pinter banget kalian berdua!”


“M-Myllo…! Jangan puji-puji gue—”


“Ya, gue pinter. Gue nggak dongo kayak lo, Mil.”


“Hehe—Woy! Kurang ajar!”


Bahas tentang cara masuk sana udah selesai. Selanjutnya, gue jelasin ke mereka tentang apa yang harus mereka lakuin di dalem sana.


“Ada dua cara. Yang satu, Machinno alihin perhatian semua anggota Bakufu yang jaga di sana, supaya Dalbert lebih gampang untuk bukain gerbang untuk para Perlawanan.


Yang satu lagi, kalian bisa sama-sama bukain gerbang secara diem-diem, tapi kemungkinan untuk ketangkepnya lebih gede daripada cara satu.”


“Masuk akal, sih. Tapi kalo itu, mending gue pikirin di sana aja.”


“Hehe! Yaudah! Kalo gitu, sekarang waktunya untuk bantuin anggota Perlawanan!”


““Siap!””


Akhirnya kita lanjutin pertarungan kita lawan Bakufu, sehabis bahas tentang itu semua di dalem sihirnya Gia sama Machinno.


……………


“Kira-kira gitu penjelasan gue. Ada yang mau nanya?”


Haaaaah…! Capek juga jelasin panjang lebar kayak gitu!


“Saya mau bertanya, Djinn-dono!”


Duh, masih agak gue dengernya kalo dipanggil kayak gitu! Seakan-akan gue ini pelawak—


“Bagaimana dengan Ryūhime-sama yang mereka tangkap?! Tidakkah diri-Nya—”


“Dia nggak akan dibunuh, kan?”


“T-Tentu saja tidak. Karena jika diri-Nya dibunuh, maka hanya akan menimbulkan peperangan antar Kaum Kitsune dengan Kaum Wind Dragon, yang sedang terpencar di dunia ini.”


Waduh. Kalo gitu sih, pantes aja nggak dibunuh—


“Tetapi…! Apa maksud Bakufu menangkap Ryūhime-sama…?! Atas dasar apa mereka menuduh Ryūhime-sama sebagai pelaku atas kematian Kazedori Satoshi…?!”


“…”


Denger Ryūtaro yang ngomong gitu, gue langsung nengok ke arah Shinikichi.


“Mm.”


Shinikichi cuma ngangguk doang. Artinya gue bisa jelasin tentang cerita asli dibalik kematian Shogun sebelumnya.


“Bocil Naga itu saksi pembunuhan Kepala Klan Yorukiba, yang interupsi obrolan Shogun sebelumnya sama… gurunya Bocil Naga.”


““!!!””


Semuanya pada kaget. Berarti mereka emang beneran nggak ada yang tau tentang kejadian itu.


“A-Artinya…”


“Selama ini incaran utama dari Shogun ialah…”


“Shogun Sejati Kazedori Bakufu!”


Tentang itu, gue juga udah tau dari cerita Bocil Naga.


“Saya juga ada pertanyaan, Djinn-dono!”


“Apa?”


“Bagaimana dengan seluruh Kepala Komisi dan Klan Kazedori—”


“Hehe! Kalo itu sih, kita hajar aja! Ya nggak, Djinn?!”


“Ya. Mau nggak mau kita harus perang besar-besaran.”


“Baiklah! Saya akan panggil segera seluruh anggota Perlawanan, khususnya mereka yang sedang berlatih!”


“…”


Kepala Perlawanan yang namanya Nakatoki itu langsung pergi supaya kita siap-siap.


Tapi…


“Tunggu dulu, Ērukuma-dono!”


…dia diberhentiin sama Kepala Perlawanan yang namanya Katanaka.


“Sebelumnya, saya mau bertanya, Djinn-dono!”


“Ya. Ada apa?”


“Kapan kita mulai menyerang mereka semua?!”


“…”


Pertanyaan yang gue rasa paling penting dari yang lain.


“Besok pagi, waktu matahari terbit. Nggak apa-apa kan, Mil?”


“Hehe! Keliatannya itu waktu yang tepat!”


“Baiklah, Myllo-dono! Djinn-dono!”


“Kita akan bersiap-siap segera!”


“Kalian juga! Bersiaplah! Istirahatlah sebelum kita beraksi esok pagi!”


““Baik, Warauneko-sama!””


“Kau juga, Ishisaru-kun!”


“Siap!”


Haaaah…! Padahal kalo ada jam, tinggal bilang aja jam 6 pagi!


Yaudah deh. Kalo gitu gue juga siap-siap dulu, sebelum—


“Myllo.”


“Hah? Ada apa, Ryūta—”


“Sebelumnya… ada yang ingin kusampaikan kepadamu.”


“Ada apa, Ryūtaro?”


“…”


Ryūtaro keliatannya mau ngomongin sesuatu ke Myllo, tanpa orang lain tau. Makanya dia liatin anggota Perlawanan dulu, sampe sepi.


“Gia. Keliatannya ada yang mau mereka bahas. Mending kita—”


“T-Tidak apa-apa, Djinn. Mungkin yang akan kuberitahu kepada kalian bukanlah suatu rahasia besar, yang harus disembunyikan dari kalian. Namun kau harus mengetahui ini, khusunya Myllo!”


Hmm. Kedengerannya yang mau dikasih tau Ryūtaro itu penting banget untuk Myllo.


“Emangnya apa yang mau lo omongin ke gue, Ryūtaro?”


“I-Ini… terkait wanita yang engkau sebut Ekor Hijau.”


Ekor Hijau? Maksudnya gurunya?


Eh tunggu! Jangan-jangan—


“Wanita yang kau sebut Ekor Hijau… adalah Shogun Sejati dari Klan Kazedori. Ia juga guru dari Ryūhime-sama.”


““!!!””


Tuh kan! Gue juga udah sadar sama itu!


“Dia itu pemimpin sejati Bakufu?! Siapa sebenarnya guru Myllo itu, Ryūtaro?!”


“…”


“R-Ryūtaro—”


“Sebelum Hari Penghakiman, ia dikenal sebagai… The Deadly Maiden.”


Hah? Siapa i—


“THE DEADLY MAIDEN?!?!”


“Ryūtaro! Maksud kamu itu…”


“Ya. Ia adalah Kazedori Ayasaki, salah satu anggota Perseus, dan juga rekan yang sangat mencintai  Melchizedek-sama.”


““!!!””


Hah?! Ayasaki?!


Gue pernah denger nama itu di memorinya Melchizedek!


[2]“Ayasaki…  Kau berhak…membenciku…Aku tahu… bahwa kau… merasa terkhianati… atas apa yang menimpa Flamiza dan Syllia…”


Jadi cewek itu juga temennya Flamiza, Alfgorth, sama Syllia?!


Gila! Itu bagian yang nggak gue sangka!


_______________


[1]Dalbert menyarankan Djinn untuk masuk ke dalam Fratta Pouch, agar mampu melewati Gazo Mount tanpa terbakar (Chapter 186).


[2]Kutipan Melchizedek yang Djinn saksikan ketika Melchizedek hidup di Principality of Kronovik (Chapter 213).