
“…inn!”
“…”
“Djinn!”
“Hufff!”
Gue…ada di ma—
“Hey! Melamun terus!”
Tunggu…
Cewek ini kan…temen lamanya Djinnardio!
Kok dia ngomong sama gu—
“!!!”
Loh, loh, loh!
Kok badan gue jadi kecil begi—
“Aw, aw, aw, aw!”
“Hihihi! Jangan melamun terus! Nanti bisa pergi loh Roh
kamu!”
Tiba-tiba pipi gue di cubit—
Tunggu, itu nggak penting!
Seinget gue, tadi gue lawan orang yang namanya…Maverick, ya?
Terus gue disamber petir dia sampe keluar dari kastil!
Tapi kok…
Waktu gue bangun, tiba-tiba gue ada di badannya Djinnardio
waktu masih kecil?!
Apa gue…balik ke masa lalu?!
Tambah lagi…
“…”
Mulut gue nggak bisa bicara—
“Lyz! Kita ada di mana?!”
“Kan kita lagi main di hutan ini! Kirain kamu pergi,
ternyata kamu malah tidur di sini! Ahahaha!”
Oh, gue paham.
Kayaknya gue masih pingsan!
Tapi ini beda dari sebelum-sebelumnya!
Kalo pingsan atau tidur, biasanya gue ada di ruang kosong
yang cuma ada ‘siaran’ masa lalunya Djinnardio.
Tapi kali ini beda dari biasanya.
Kalo biasanya gue nonton siaran, kali ini gue ngeliat langsung
dari mata Djinnardio di masa lalunya.
Ya, cuma ngeliat doang dari matanya, karena gue nggak bisa
bicara atau gerakin badan gue.
Kalo pun gue nggak bisa gerakin badan gue, seenggaknya gue
masih bisa denger atau ngerasain apa yang Djinnardio ini rasain.
“Djinn! Kita pulang, yuk!”
“Yuk!”
Keliatannya mereka berdua abis main di hutan ini. Sekarang
mereka mau balik.
“Djinn! Ayo main tebak-tebakan!”
“Hm? Buat apa?”
“Untuk ngetes daya ingat kamu!”
“Hehe! Siapa takut?!”
Sambil jalan pulang, mereka main tebak-tebakan.
Kedengerannya sih tebak-tebakannya nggak jauh-jauh dari
dunia ini.
Yang pasti, setiap pertanyaan dari cewek yang namanya Lyz
ini selalu bisa dijawab sama Djinnardio.
“OK, Djinn! Pertanyaan selanjutnya!”
“Pertanyaan apa lagi sih, Lyz—”
“Nama panjang aku siapa?!”
“Hah?! Kamu kira a…”
Hm?!
Kok tiba-tiba semuanya berhenti?
Kalo ibarat kaset lagu, kayak di pause gi—
“(JANGAN INTERFENSI WANITA INI LAGI!)”
……………
“Hufffff!”
I…Ingetan macem apa tadi?!
Kok tiba-tiba…kayak ada yang teriakin gue, pas di kuping—
“Urgh…”
Brengsek! Badan gue masih sakit banget!
Anehnya lagi, kenapa masih sakit banget! Padahal kan
biasanya langsung sembuh!
“…”
Ah…gue bawaannya mau merem la—
“Hey! Kakak!”
Hm?
Siapa anak kecil ini?
“Kakak ini Petualang, ya?! Kok tiba-tiba ada di tepi sungai
ini?!”
“…”
Oh, ternyata gue ada di tepi sungai?!
Huuuuh! Andai gue jatohnya lebih jauh sedikit, mungkin aja
gue udah hanyut ‘lagi’ di dalem sungai!
“Kakak namanya siapa?!”
“Dji…Djinn—”
“Jawab pertanyaan aku tadi, kak! Kenapa tiba-tiba kakak ada
di tepi sungai?!”
Hmm…
Jelasin ke bocah ini gimana, ya—
“Kak, kak, kak, kak! Jawab dong!”
Haaaah! Bawel banget nih bocah! Mending gue tidur lagi aja
deh daripada jawab bocah satu ini!
“…”
“Loh! Kakak tidur?! Jangan tidur lagi, kak! Mending ke Kemah
Evakua—”
““…uoaaaarr…””
Suara raungan Naga?
Kok tiba-tiba ada banyak banget raungan Naga?!
Tunggu, kalo gue inget-inget lagi…
Kan dia mau bantai Manusia, ya?!
Kalo gitu, artinya Naga-Naga ini—
“Kakak, kakak, kakak! Bangun, bangun, bangun! Ada Wyve—”
““Gryaaa—””
“*Jgrum! (suara sihir petir)”
Cih! Artinya gue nggak boleh buang-buang waktu di sini—
““Raaaaaar!””
Bahkan ada banyak Wyrm yang tiba-tiba muncul?!
“Kakak! Hati-hati ada—”
“Jangan jauh-jauh dari belakang gue! Paham?!”
“Y…Ya!”
Haduh…
Lawan Wyrm ini semua, sekaligus jagain bocil satu ini ya?!
“Raaaa—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Heaaaagh!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! (suara pukulan)”
Bagus! Satu udah tum—
“Raaaar!”
“*Fwush! (suara mengayunkan Wyrm)”
“*Bruk! (suara tertabrak)”
““Graaaar!””
Gue serang beberapa Wyrm ini pake Wyrm yang gue kalahin
tadi.
“Gryaaaar!”
Duh! Ada Wyvern itu terbang, lagi!
“*Swush! (suara melempar Wyrm)”
“*Bruk! (suara tertabrak)”
“Gryaar!”
Bagus! Seenggaknya ada satu Wyvern yang jatoh!
“Kakak! Ada Wyvern di belakang!”
“*Boom! (suara semburan bola api)”
…gue tau kalo ada yang mau nyerang gue dari belakang!
Tapi mumpung Wyvern itu belom terbang, mending langsung gue
hajar sekarang juga!
“Gryaa—”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“Grrr…”
OK, sekarang udah aman.
“…”
Oh iya! Bocil ini!
“Dek, nggak apa-apa kan, dek—”
“Wuooooaaahh! Kuat banget, kak! Kakak bisa lempar Wyrm itu!
Swush! Terus pukulan petir itu—”
“Ya, ya, ya.”
Tapi denger kata-kata bocil ini, gue juga baru sadar.
Kenapa gue jadi kuat banget, ya?
Emang di dunia ini gue kuat sih sebenernya, tapi kok
sekarang gue ngerasa jauh lebih kuat dari sebelumnya?
““…oaaaaarrr…””
Naga-Naga itu…terbang ke ma—
“!!!”
I…Itu kastil yang jadi tempat gue lawan Maverick, kan?!
Kok keliatannya…jauh banget, ya?!
Apa mungkin gue kelempar sejauh itu karena dia?!
““Ruoaaaar!””
Ah, mulai deh ada beberapa Naga yang mau ke sini!
“Woy, dek!”
“Apa, kak?!”
“Tadi ke sini bareng siapa aja?!”
“Sendiri doang, karena mau keliling—”
“Yaudah, balik ke kemah yang adek bilang tadi!”
“Yah! Tapi mau nontonin kakak lawan—”
“Sekarang!”
“Si…Siap, Bos!”
Gila juga tuh bocil! Malah sempet-sempetnya mau nontonin
gue!
OK, sebelum mulai lawan 4 Naga ini, gue harus tau dulu Naga
macem apa ini.
“Ruoaar!”
“*Bwush! (suara semburan air)”
Satu, ada Naga Air.
Eh, bukan sembarangan air sih.
“*Pwushhh… (suara air menguap)”
Airnya ternyata panas!
Yang kedua ada…
“*Chring! (suara gesekan besi)”
…Naga Besi—
““*Vwumm! (suara semburan api)””
Sisanya cuma ada Naga biasa.
OK, kalo gitu gue tau harus apa.
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Ruoaaar!”
Bagus, Naga Mendidih ini mau nyembur air panasnya lagi ke
gue.
Karena dia mau nyerang gue, makanya gue cuma perlu cari cara
supaya semburannya kena dua Naga ini!
“*Bwush! (suara semburan air)”
“Ruoaar!”
“*Bwush! (suara semburan air)”
“Rrrr!”
Ya gue yakin semburan Naga ini nggak ngasih efek apa-apa.
Kalo gitu yang bisa gue lakuin cuma…
“Judgement!”
“Jgrumm! (suara sambaran petir)”
““Ruoaaarr!””
…bikin dua Naga ini kesetrum karena ada air di badan mereka!
Seenggaknya dua Naga udah tum—
“*Swush! (suara ayunan cakar Naga)”
Huh! Untung aja gue berhasil hindarin cakaran Naga Besi itu!
“Ruoaaar!”
Ya, sekarang fokus gue Naga Mendidih ini!
Untung aja badan dia berair gitu!
“Judgement: Charge!”
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
“Ruoaaaarrr!”
Naga Mendidih itu udah kalah.
Gue cuma perlu sengat badannya pake Sihir Petir gue.
Sisanya tinggal…
“Ruoaaa—”
“*Bhukbhukbhukbhuk… (suara sangat banyak pukulan)”
“Heaaaargh!”
“*BHUK (suara pukulan keras)”
“…”
Haaaah…udah selesai, ya?
Kira-kira bocil tadi udah aman belom, ya?
Soalnya…
““Ruoaaar!””
““Gryaaar!””
““Graaaar!””
… ada banyak banget Kaum Naga yang rame-rame terbang ke kota
itu!
Haaaaah, sialan! Ternyata gitu ya tujuan utamanya Maverick?!
“Fwuuuhhh!”
Mending gue balik ke kota itu secepetnya de—
“*Bruk… (suara mendarat)”
“!!!”
Cih! Ternyata masih ada Naga yang nyamperin gue—
“*Crrrkk… (suara aliran petir)”
“!!!”
Naga ini…juga bisa pake petir?!
Terus gimana cara ngalahin Naga i—
“(Tu…Tunggu!)”
Hm?
Dia masih bisa ngomong?
“(A…Aku merasakan adanya…kekuatan yang sangat langka
darimu!)”
Hah? Langka?
Maksudnya ‘Judgement’ gue?
“(A…Aku adalah Sky Dragon. Sepertinya…pria itu belum
mengetahui kekuatanmu…yang sebenarnya!)”
Hah?
“Maksud lo siapa…?”
“(Pri…Pria yang mengendalikan kami para Naga!)”
Oh, Maverick?!
Tunggu, tunggu, tunggu…
Maksud dia kekuatan gue yang sebenernya tuh apa ya?
“(Hey, kau! Dengarkan aku baik-baik…selagi aku masih
hidup!)”
Hah?! Kok diia ngomong kesannya kayak mau ma—
“(Aku berjanji…jika kau akan menang…melawan pria itu!)”
Eh! Maksudnya apa—
“(Namun, berjanjilah kepadaku…)”
Ja…Janji?
Kok perasaan gue nggak enak, ya?