
Aquilla sedang kehilangan kepala, setelah Myllo dengan sukarela dibawa oleh Ghibr, demi menyelamatkan Machinno.
Sementara Djinn yang telah merencanakan penyelamatannya bersama dengan Aquilla, Delolliah, serta Virgo, kali ini kondisi Myllo yang berada jauh di bawah tanah Guildbase milik Chemia.
“Cepat masuk!”
“Haaaah?! Katanya mau dijadiin bahan eksperimen! Kok gue malah dipenjara?!”
Tanya Myllo dengan kesal karena baru saja dimasukkan ke dalam penjara oleh seorang anggota Chemia.
“U-Untuk hal itu, kami harus menunggu keputusan Professor terlebih dahulu…”
“Haaaaah?! Professor?! Siapa tuh orang?! Emangnya dia bukan Petualang?! Dia itu orang suruhannya Ghibr?!”
“…”
Pria yang memasukkannya ke dalam penjara itu hanya terdiam karena tidak percaya dengan pertanyaan Myllo.
“Hey, anda.”
“Apaan?!”
“Apakah anda tidak mengenal Professor?”
“Hah?! Untuk orang yang paling pinter di dunia kayak gue ini, kenapa harus kenal orang yang pamerin dirinya sebagai Professor itu?! Ya, kan?! Haaa ha ha ha!”
“…”
Kembali pria itu terdiam dengan pernyataan Myllo.
Lalu, ia berpikir…
“Setahuku, semua orang bodoh mengakui diri mereka pintar…”
“…”
Myllo merasa heran dengan pria tersebut yang tidak menunjukkan respon sama sekali.
“Oi, kok lo diem aja?”
“Di-Diam saja? Apa maksud an—”
“Jangan-jangan lo nggak bisa ngikutin obrolan orang pinter kayak gue, ya?!”
Tanya Myllo dengan sombong.
“A-Apa maksud anda?! Saya ini telah menciptakan sebuah artifak yang bisa—”
“Hah? Artifact? Buat apaan?”
“Buat apa?! Tentu saja untuk meng—”
“Ah, nggak penting.”
“…”
Pria tersebut diam saja mendengar ledekan Myllo.
Dengan begitu, pria tersebut terus dibuat kesal olehnya, hingga ia tidak tahan lagi.
“Woy! Lo bukannya harus jagain gue?! Kok lo pergi?!”
Tanya Myllo ketika pria tersebut hendak meninggalkannya.
“…”
Pria tersebut tidak menjawab dan meninggalkan Myllo.
“Haaaah… Jadinya gue sendirian, deh…”
Keluh Myllo yang merasa bosan, hingga akhirnya ada yang memanggilnya.
“Oi, Myllo! Emangnya lo sendirian?!”
“Ah iya! Masih ada lo, Zegin! Hehehe!”
Sahut Myllo ketika dipanggil oleh Dewi yang berada di dalamnya.
Myllo pun memasuki kesadarannya untuk bertemu dengannya.
“Zegin! Main tebak-tebakan, yuk! Gue bosen nih! Hehe…”
“…”
Zegin terdiam saja ketika diajak oleh Saint pilihannya itu.
“Haaaaah… Denger ya, Saint pilihan Gue yang aneh!”
“Hah?! Emang gue a—”
“Kalo orang lain jadi lo, pasti bawaannya udah gelisah ketakutan! Kok lo masuk penjara bisa-bisanya ngerasa bosen, sih?!”
Tanya Zegin, sambil menepuk jidatnya.
“Hah?! Emangnya lo nggak bisa liat kalo gue lagi gelisah?!”
“Oh! Lo lagi gelisah?!”
“Iya! Gelisah karena bosen—”
“*Tung!”
“Aduh!”
Teriak Myllo ketika kepalanya dipukul oleh Zegin.
“Nyesel banget Gue nanya!”
Serunya dengan kesal.
“Woy! Kok lo pukul kepala gue?!”
“Biarin! Lagian lo juga udah sering pukul kepala Gue!”
“Kalo itu kan karena lo pemales! Siapa suruh tidur mulu?!”
“Hah?! Lo nyalahin Gue yang tidur mulu?! Seenggaknya Gue nggak nyusahin lo!”
“Emangnya gue nyusahin lo?!”
“Buktinya lo malah ngajak main Gue!”
“Biar lo nggak tidur mulu!”
Mereka terus berdebat di dalam pikiran Myllo.
Hingga akhirnya…
““Ahahahaha!!!””
…perdebatan mereka ditutup dengan tawa.
Setelah mereka tertawa bersama, Zegin pun mulai serius dan bertanya kepada Myllo.
“Myllo, serius deh.”
“Hah? Kenapa, Zegin?”
“Kenapa lo tenang banget? Lo tau kan kalo lo dijadiin bahan eksperimen, sama artinya lo bisa kehilangan nyawa lo?”
“…”
Myllo terdiam, sebelum menjawab pertanyaan dewinya itu.
“Zegin, lo tau kan? Ini bukan pertama kalinya gue ada di dalam penjara?”
“Tau sih. Tapi kan kali ini beda, Myllo! Di samping itu, lo udah punya anggota! Masa lo rela tinggalin anggota lo demi mahluk aneh itu, sih?!”
“…”
“Jangan sedih, ya. Gue ada di sini.”
Kata Sylvia, yang ia ingat di masa lalunya.
Mengingat itu, ia pun menjawab pertanyaan Zegin.
“Lo inget nggak, Zegin?”
“Hm?”
“Dulu Kak Sylv juga ngelakuin hal yang sama.”
“Hal yang sama?”
“Ya. Dulu, Styx atau Klavak pernah minta tolong sama Kak Sylv. Permintaan mereka itu bisa aja ngorbanin nyawa kakak gue.”
“…”
Zegin terdiam ketika mendengar penjelasan Myllo.
“Walaupun nggak bisa ngomong, gue pengen bantu Machinno. Mungkin karena gue udah niat begitu, jadinya gue keinget mereka berdua yang minta tolong ke Kak Sylv.”
“Myllo…”
Bisik Zegin yang merasa tersanjung atas pilihan Myllo.
“Kak Sylv itu kakak paaaling hebat buat hidup gue! Dia itu sumber inspirasi gue untuk jadi Petualang Nomor Satu di Dunia! Tapi…”
“Lo nggak mau jadi Pahlawan, bukan?”
“Ya.”
Jawab Myllo dengan singkat.
“Status itu nggak lebih dari racun yang perlahan-lahan renggut nyawa dia. Makanya itu—”
“Oi, lo.”
““…””
Percakapan mereka seketika diinterupsi oleh seseorang yang berada di seberang penjara Myllo.
“Myllo, itu ada yang manggil lo.”
“Hehe! OK, OK!”
Jawab Myllo, sambil kembali dari dalam pikirannya.
Ketika ia kembali, ia tidak melihat sosok yang berada di balik bayangan itu.
“Hah? Apaan? Lo manggil gue?”
“…”
Pria yang memanggilnya itu tidak menjawab pertanyaannya.
“Hmm?! Kayaknya tadi cuma perasaan gue aja, ya?! Eh, tapi kan tadi Zegin juga—”
“Keliatannya lo lagi ngobrol sama orang lain.”
Sahut pria itu kepada Myllo.
“Woaaah! Lo juga di penjara, ya?! Hahaha! Kirain gue sendirian di tempat aneh ini!”
“…”
Pria tersebut diam saja.
“Hah?! Ada yang ngomong nggak sih?! Atau jangan-jangan… hantu itu nyata! Hihihi! Kalo gitu gue—”
“Apa maksud lo hantu?! Gue masih hidup, woy!”
Seru pria itu dengan kesal.
“Hmmm?! Lo beneran ada di dalem penjara seberang penjara gue, kan?!”
“Ya.”
“Serius lo bukan hantu?! Kok gue nggak ngeliat wujud lo?!”
“Mungkin… karena gelap…”
Jawab pria tersebut.
“…”
Myllo mencoba melihat pria itu sebisa mungkin tanpa adanya cahaya.
“Aaaaahhh! Nggak keliatan! Zegin! Lo nggak bisa ya bantu gue ngeliat orang itu?!”
“…”
Zegin terdiam saja.
Ia merasakan sesuatu yang tidak bisa Myllo rasakan dari pria yang dipenjara itu.
“Myllo, itu—”
“Zegin? Siapa dia?”
Tanya pria itu yang menginterupsi penjelasan Zegin kepada Myllo.
“Oh! Untuk itu, dia ini de—”
“Maaf, itu nggak penting. Gue cuma kaget aja.”
Jelas pria itu kepada Myllo.
“Hah? Kaget?”
“Ya. Gue kira lo itu bagian dari klan gue.”
“Klan lo? Maksud lo apa?”
Tanya Myllo dengan penasaran.
Namun, tanpa mendengar jawabannya, Myllo menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang siapa pria itu sebenarnya.
“*Jrum…”
Lampu di sekitar penjara dinyalakan. Dengan itu, Myllo melihat semua tahanan yang berada di sekitar penjara.
“Sekarang, lo bisa liat kan siapa gue?”
“Lo itu…”
“Ya. Nama gue Adhurz, gue ini—”
“GYEEEHAHAHAHA!!! EKSPERIMEN SIAP DIMULAI!!!”
Teriak Ghibr yang memasuki ruangan tersebut sambil menari-nari dengan gembira, ketika pria bernama Adhurz itu menjawab pertanyaan Myllo.
“Ghibr! Apa-apaan maksud lo?! Kenapa lo—”
“Diem, bawel! Jangan ganggu saya yang lagi senang!”
Seru Ghibr ketika Myllo memakinya.
Namun, atas seruannya itu, Myllo justru mendapatkan ide.
“Senang, ya? Hehe! Gue tau harus gimana!”
Bisik Myllo akan cara dirinya untuk membebaskan semua yang ditahan oleh Ghibr.