
Ribuan tahun yang lalu, di sebuah hutan tanpa nama di Geoterra.
“Kalian semua harus taat kepada alam! Tidak seperti Elf lainnya, kalian semua memiliki kesempatan untuk berada satu tingkat lebih mulia! Oleh karena itu, taatilah Kaum Dryad dan Kaum Fairy yang berada di hadapan kalian! Ingatlah sumpah kalian untuk selalu setia dan taat kepada kami! Mengerti?!”
““Hamba mengerti!””
Saat itu, beberapa High Elf terpilih untuk menjadi sebagai Calon Druid.
Namun dari antara mereka semua, terdapat satu orang yang paling menonjol karena kemampuannya yang luar biasa.
“Wuoaah! Luar biasa!”
“Ia bahkan bisa berubah wujud menjadi puluhan wujud Spirit Beast?!”
“Mulai dari Chupacabra, Strix, Hippocampus, bahkan Fenrir, Garuda, dan Lochness?!
“Luar biasa! Ia bisa berubah wujud menjadi mahluk darat, udara, dan laut!”
Puji beberapa calon Druid kepada pria tersebut.
Oleh karena itu, salah seorang Dryad datang menghampirinya.
“Namaku adalah Ivis. Sepertinya kau memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan Calon Druid lainnya. Karena itu aku memanggilmu sebagai Calon Berbakat.”
“H-Hamba hanyalah seorang pemula, wahai Dryad Ivis. Hanya saja, hamba memahami apa yang dirasakan oleh seluruh Spirit Beast yang hamba temui. Hingga akhirnya hamba tidak sadar, jika hamba berubah menjadi sama seperti seluruh Spirit Beast yang hamba temui. Ahaha…”
Jelas Calon Druid tersebut, sebelum dirinya disebut sebagai Druid Terakhir.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, ia resmi menjadi Druid bersama High Elf lainnya.
Akan tetapi, beberapa tahun setelah menjadi seorang Druid, ia melanggar sumpahnya.
“Apa katamu? Kau hendak meninggalkan kami?”
“M-Maafkan hamba, wahai mahluk alam. Izinkan hamba… untuk mengikuti seorang pria… yang memanggil hamba sebagai sahabat. Hamba mohon pengertian—”
“Tentunya kau tahu, bahwa melanggar sumpahmu sama saja dengan kematian, benar?”
Potong Ivis, dengan maksud mengancam Druid Terakhir.
Hingga akhirnya…
“Hey, hey! Tenang saja, para Dryad! Apakah kalian melupakan aku?! Bukankah kita sebelumnya berperang melawan Nature Elder Dragon dan beberapa Kaum Giant dari Kontinen Tenggara?!”
…seorang Manusia datang di tengah-tengah mereka semua.
Karena kedatangannya, maka Druid tersebut, yang sebelumnya dipanggil sebagai Calon Berbakat, diizinkan untuk meninggalkan mereka semua dan berpetualang bersamanya.
Akan tetapi…
“Ingatlah ini!”
“…”
“Janganlah engkau berani-beraninya menyentuh tanah ini kembali! Kau tidak lebih dari sekedar pengkhianat yang telah melanggar sumpahmu!”
“B-Baiklah. Hamba… akan mengingat hal tersebut.”
……………
Ratusan tahun kemudian, ketika dunia telah melewati Hari Penghakiman.
Kala itu perburuan atas Kaum Dryad hendak dilakukan oleh Vamulran Kingdom.
“Tangkap semua Dryad!”
“Kaum Fairy telah menghilang! Para Druid sudah lenyap! Selama tidak ada Fairy dan Druid, mereka tidak lebih dari sekedar mahluk yang akan membuat kita, para High Elf, semakin kuat dan berjaya!”
Saat itu Vamulran Kingdom mulai memburu Ivis dan saudari-saudasrinya.
“Sial! Mengapa mereka menjadi berani untuk melawan kita! Bukankah kita ini—”
“Memang sepantasnya mereka seperti itu!”
“Akan tetapi, mengapa mereka melakukan ini, Kakak Ivis—”
“Itulah akibat jika seekor anjing ganas yang menyeringaikan taringnya kepada tuan, yang bersikap kasar kepadanya!”
Balas Ivis kepada Dryad lainnya.
Hingga akhirnya, pertolongan datang bagi mereka, walaupun mereka tidak menerimanya.
“Kau adalah…”
“Hamba kembali untuk—Tidak. Aku kembali untuk menolong kalian.”
Jawab Druid Terakhir, yang meninggalkan mereka sebelumnya, yang kala itu datang dan menyelamatkan Kaum Dryad dari kejaran Vamulran Kingdom.
Kemudian ia membawa para Dryad keluar dari wilayah kekuasaan para High Elf, lalu pergi menuju sebuah pulau terpencil yang nantinya dikenal sebagai Hazhroom Forest.
“Aku akan pergi meninggalkan kalian. Sebagai jaminan keselamatan kalian, aku telah meninggalkan Spirit Beast milikku yang paling kuat, yakni Cthorach, yang akan melindungi kali—”
“Tunggu dulu!”
Potong Ivis ketika Druid Terakhir sedang menjelaskan sesuatu kepada mereka.
“Me-Mengapa… engkau rela membantu kami…? Kami telah membencimu…! Tambah lagi… membantu kami sama saja membiarkan dirimu menjadi sasaran bagi klanmu sendiri!”
“…”
“Jawablah aku—”
“Karena aku… telah merelakan semuanya. Mulai dari hidupku sebagai Druid, kekasihku, bahkan saudara-saudara sesama Druid, yang menjadi korban karena perang besarku. Aku bahkan merelakan persahabatanku karena kemarahanku.”
Jelas Druid Terakhir kepada Ivis, walaupun batinnya terguncang ketika menjawab pertanyaannya.
“Oleh karena itu, Ivis…”
“…”
“…anggap saja yang tindakanku ini tidak lebih dari sekedar pelampiasanku atas dosa yang ditetapkan oleh takdir.”
Lanjut Druid Terakhir, sebelum pergi meninggalkan Ivis dan Kaum Dryad.
Namun…
“*Tap!”
…Ivis menghentikan langkahnya, dengan menggenggam tangannya.
“Bagaimana dengan Cthorach yang kau tinggalkan?! Tidakkah ia merasa kesepian dan menginginkan keberadaanmu?!”
“…”
“Jika engkau meninggalkannya, ia akan menjadi semakin liar! Bagaimana—”
“Hanya engkau yang satu-satunya mampu menghentikannya, Ivis. Anggap saja… keberadaannya menjadikanmu untuk mau berinteraksi dengan Mahluk Fana yang lain, selain para Druid.”
Jelas Druid Terakhir, yang langsung pergi meninggalkan Ivis dan Dryad lainnya.
……………
Dan kali ini, ketika Ivis sedang bertarung melawan Cthorach bersama anggota Aquilla,.
“Tidak kusangka, bahwa apa yang engkau katakan menjadi kenyataan, Druid Terakhir! Karena menghadapi
Cthorach, aku menjadi berinteraksi dengan Mahhluk Fana. Tidak hanya sekarang saja, bahkan dari ratusan tahun yang lalu.”
Pikir Ivis dengan tersenyum, sambil mempersiapkan sihirnya, setelah ia teringat akan akan masa lalunya
bersama Druid Terakhir.
Namun ketika ia mempersiapkan sihirnya, Myllo berusaha membujuknya.
“Ivis! A-Apa maksud lo korbanin nyawa lo?! Kenapa—”
“Aku adalah satu-satunya Dryad yang mampu menghentikan serangan Cthorach saat ini. Akan tetapi, sebagai Dryad tertua, aku adalah mahluk alam yang kebal dengan racun apapun di dunia ini. Oleh karena itu, aku akan merelakan nyawaku untuk menghentikan serangannya.”
Jelas Ivis kepada Myllo.
“I-Ivis… Ja-Jangan—”
“*Tik…”
Ivis seketika memetik sebuah ranting kecil yang tumbuh di pundaknya, ketika Gia mengkhawatirkan nyawanya.
“Kalian semua. Aku mohon agar sekiranya kalian memberikan ranting kecil ini kepada Ambrolis, yang aku percaya sebagai wanita yang mampu memimpin Kaum Dryad, kelak aku menghembuskan nafas terakhirku.”
“…”
Myllo pun menerima ranting kecil dari tangan Ivis.
Sementara itu, Gia merasa bersalah kepada Ivis.
“I-Ivis… M-Maafin aku… karena—”
“Jangan menangis, Margia Maevin!”
“K-Kenapa—”
“Saat ini bukan saatnya engkau meminta maaf! Karena kau masih memiliki kesempatan untuk mengalahkan Cthorach!”
Jelas Ivis kepada Gia.
Karena penjelasan Ivis, Gia menjadi semakin gelisah.
“Lagi-lagi… aku harus liat ada yang mati di depan mata aku…!”
Pikirnya setelah mengetahui Ivis yang hendak merelakan nyawanya.
““…””
Myllo dan Dalbert juga turut bersedih dan mengkhawatirkan Ivis.
Namun berbeda halnya dengan Ivis.
“Druid Terakhir. Semenjak engkau berkata, bahwa engkau telah merelakan semuanya, aku pun jadi berpikir tentang kapan waktunya bagiku untuk berbuat hal yang sama sepertimu. Tidak kusangka bahwa aku memerlukan waktu selama ini, agar semuanya menjadi kenyataan.”
Pikir Ivis, sebelum memulai melawan serangan berbahaya dari Cthorach.
“*DHUUUMMMMMMMMM………”
Ia menggunakan Union Domi untuk mengeluarkan aura yang sangat besar.
Setelah itu, sihirnya dimulai.
{((Forest Domi: Poison Antithetical))}
““…””
Perlahan-lahan, sebagian besar bunga mawar yang mekar dengan bercahaya menjadi layu. Sementara bunga mawar lainnya berjatuh-jatuhan.
“…”
Termasuk akar berduri yang mengelilingi mawar yang berada di kepala Cthorach.
““*Shruk…””
Dari Tubuh Ivis, terdapat beberapa ranting kayu yang menusuk Myllo dan anggotanya.
“Ra-Racunnya hilang di badan kita!”
Seru Myllo yang merasakan racun dari Tubuh-nya yang lenyap.
“Iya sih. Tapi racun di badan kita… masuk ke badannya Ivis…?”
Tanya Dalbert, sambil mereka semua menyaksikan…
“Ivis…?”
…Tubuh Ivis yang perlahan-lahan berubah menjadi sebuah pohon yang besar.
Melihat Ivis yang mengorbankan
dirinya, Gia pun menjadi semakin menyalahkan dirinya.
“Aku… lemah…”
Pikirnya, sebelum pikiran negatif menyelimutinya