
“*Bruk! (suara tembok runtuh)”
“Gawat! Penampungan diserang!”
“Si-Siapa yang berani serang Penampungan?!”
“Li-Liat! Itu Anak Haram bareng Perempuan Mistyx!”
“Si…Sial! Padahal kita semua udah tau mereka udah kerja sama, tapi kita nggak nyangka mereka berdua sekuat—”
““*Shrak! Shrak! Shrak! (suara tebasan pisau)””
““Uaaargh!!!””
Djinn dan Styx bersama-sama menyerang salah satu Penampungan yang berada di tepi Albam River, yang merupakan sungai terpanjang di Erviga Kingdom.
“Pa-Panggil para Priest!”
“Ayo cepetan! Matiin ‘Iblis’ itu!”
““*Drap, drap, drap… (suara berlari)””
Sekitar lima Priest bersama-sama hendak menghentikan Styx, namun…
“Heeeaaaagh!”
“A-Awas—”
“*Bruk! (suara tertimpa batu besar)”
…Djinn yang telah bersiap untuk menjaga
Styx, melempar batu besar yang mendarat tepat di atas kelima Priest tersebut.
“Ga…Gawat! Anak Haram itu…terlalu—”
“*Shrak! (suara tebasan pisau)”
“Brengsek! Karena Anak Haram itu, makanya Si ‘Iblis’ itu—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Djinn dan Styx sama-sama berhasil mengalahkan semua prajurit dari Goldiggia.
Sedangkan Meldek…
“Mari, ikuti saya!”
“Te-Terima kasih telah menyelamatkan kami!”
“Tidak, peran saya terlalu kecil untuk menyelamatkan anda semua! Lebih baik anda mengucapkan terima kasih kepada dua orang hebat itu ketika kita semua keluar dari tempat ini!”
“Ba-Baiklah!”
…memanfaatkan kerusuhan yang disebabkan oleh Djinn dan Styx dengan membebaskan para tahanan yang tertangkap.
“A…Akhirnya kita bebas!”
“Terpujilah Dewa-Dewi di Altar mereka!”
“Horeee! Kita bebas!”
Para tahanan pun bersorak-sorai setelah keluar dari Penampungan.
Dengan ini, Djinn dan rekan-rekannya berhasil membebaskan sekitar 35 tahanan.
Namun, sebelum memulai ekspedisi mereka ke Penampungan tersebut, ketika Bismont memberikan informasi terkait Penampungan…
……………
“Tiga titik Penampungan ini letaknya ada di Albar River, Kishrock Mountain, dan yang terakhir ada di reruntuhan salah satu kota di Erviga, Porzael City.”
“Hmm… Jika dilihat dari geografisnya, lokasi Penampungan yang berada di Albar River tidak jauh dari desa ini.”
“Lo bener, Meldek.”
“Djinn, Styx, alangkah baiknya jika kita menyerang Penampungan ini terlebih dahulu.”
Hm… Deket sungai, ya?
“Mau nanya, dong. Sungai ini… dalem apa nggak, ya?”
“Ini sungai yang paling panjang dari seluruh Erviga, Djinn. Makanya itu, pasti dalem sungai itu.”
“…”
“Djinn? Mengapa anda terlihat gelisah?”
Asli, sebenernya gue masih agak trauma sama sungai. Karena gue sendiri mati di dalem sungai.
“Kishrock Mountain itu… ada di dekat Porzael City, kan?”
“Ya, lo bener.”
Meldek kayaknya tau banyak.
“Kok lo bisa tau Mel?”
“Ah, tentu saja! Saya adalah orang yang selalu merapikan buku-buku anda, Djinn!”
“Rapihin doang?”
“Dan… saya mencuri kesempatan membaca buku-buku anda…”
Pantesan dia tau banyak.
“Maafkan saya, Tuan Muda! Saya siap menerima huku—”
“Nggak ada yang mau hukum lo, Meldek!”
Haduh! Kok malah jadi kayak seneng dihukum sih nih orang?!
“Oh iya, khusus Kak Styx…”
“Hm? Ada apa, Pak Bismont?”
“Khusus kakak, kayaknya harus hati-hati, kak.”
“Hah? Kenapa emangnya?”
“Mereka punya banyak Priest.”
Banyak?! Artinya nggak cuma pendeta tadi aja?!
Oh iya! Ada yang agak aneh!
“Mau tanya dong.”
“Ada apa?”
“Kok… pendeta bisa pake sihir?”
“Yang Mulia, mohon maaf atas Djinn yang kehilangan ingatannya. Maka dari itu, izinkan saya menjelaskannya.”
“Yaudah jelasin aja.”
Abis itu Meldek jelasin tentang pendeta sama sihir, yang inti sebenernya itu cara mereka pake sihir itu berdasarkan kepercayaan mereka aja.
“Maka dari itu, hanya anda yang bisa menjadi melindungi Styx dari serangan para Priest, Tu—Djinn.”
Hm… kenapa agak ngerasa bersalah ya kalo tau bakal lawan pendeta?
“Hmph! Lindungin gue?! Yakin?!”
“Hah?! Maksud lo apa?!”
“*Zhum! (suara aura mengerikan)”
“Biar gue pastiin sedikit.”
Pastiin apaan?
“Djinn, lo tadi nggak terlibat karena permintaan Meldek, kan?!”
“Iya. Terus?”
“Gue nggak butuh pengecut untuk lindungin gue—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Yaudah! Sana gih, kalo mau ditusuk pasak kayak gitu! Paling adek lo udah mati dulu—”
“Jangan—”
“*Phak! (suara tamparan)”
““Me-Meldek?!””
Kenapa dia tau-tau tamengin gue?!
Padahal gue juga tau kok dia mau nyerang gue!
“Cu-Cukup! Jangan ada pertikaian di antara kita!”
““…””
Ah iya.
Gue terlalu emosi, sampe ngomong kayak gitu.
Haaaaah…! Keceplosan lagi gue.
“Da-Daripada tegang gini, mungkin Kak Styx bisa—”
““DIEM!!!””
“Aaahhh… Padahal cuma denger petualangan seru Kak Styx sama Aquila aja…”
Kenapa nih orang cemberut gitu kayak anak kecil?!
“…”
“Djinn?! Anda mau ke mana?!”
“Cari angin.”
“*Brak! (suara membanting pintu)”
……………
Gue akhirnya jalan ke kedai di desa ini.
“Anda mau makan? Atau minum?”
“Hmm… kopi ada?”
“Baiklah, saya akan buatkan terlebih dahulu.”
Ah, sial. Andai aja ada rokok di dunia ini.
Padahal kalo gue lagi stres, kopi sama rokok itu pelarian gue.
“Silakan diminum.”
“Ya.”
Setiap gue minum kopi, pasti selalu keinget sama ibu, yang dulunya juga selalu sedia kopi sama rokok untuknya.
“*Sluuurrp… (suara meneguk kopi)”
Kenapa tiba-tiba gue inget obrolan gue sama ibu ya, waktu gue kecil?
“Lukman, kenapa kamu berantem mulu sih nak?”
“Karena mereka duluan yang mulai, bu!”
“Ya ampun nak. Mending kamu cari temen deh, daripada cari musuh.”
“Temen?! Emangnya ada temen?!”
“Pastinya dong, nak. Namanya temen yang baik itu pasti selalu temenin kamu.”
“Terus, kayak gimana yang namanya temen yang baik, bu?!”
“Pastinya yang namanya temen yang baik itu selalu ngingetin kita kalo kita salah. Walaupun kita awalnya
merasa nggak bersalah, pasti ujung-ujungnya kita terima kok karena udah diingetin mereka.”
“…”
Hmm…temen yang baik, ya…
Jujur aja, gue hampir nggak punya temen yang baik, sampe muncul—
“Tu—Djinn! Ternyata anda sedang berada di kedai, ya.”
“Oh, Mel.”
“Saya kira anda meninggalkan desa ini!”
“Nggak, kok.”
Lebih tepatnya, gue nggak tau mau kemana kalo ninggalin desa ini!
“Styx sepertinya sedang tidak bisa diganggu karena suasana hatinya sedang tidak baik. Maka dari itu saya—”
“Mel.”
“Ya?”
“Jujur, menurut lo… gue gimana, waktu di kamar kita?”
“…”
Gue spontan banget nanya kayak gitu ke dia.
Padahal, gue sendiri udah tau pasti jawaban dia kayak gimana.
“Ji-Jika saya boleh jujur… mungkin tidak sepantasnya anda berkata seperti itu, Djinn.”
Nah. Bener, kan—
“Namun, sepertinya anda terlihat lebih natural.”
“Natural?”
“Ya. Bagaimana pun kondisi anda, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, anda selalu tersenyum. Tidak hanya saya saja, orang lain pun berpikir bahwa senyum anda tidak lebih dari sekedar kedok untuk menutupi apa yang anda rasakan, Djinn.”
Oh, yang dia maksud itu mungkin Djinnardio kali, ya?
“Maka dari itu, saya pun bisa mengenal anda lebih dalam lagi, Djinn. Hanya saja… mungkin yang anda ungkapkan tadi ada di waktu yang salah dengan kalimat yang salah kalimat. Hahaha.”
“…”
“Anda berhak marah, akan tetapi jangan sampai melewati batas seperti tadi, Djinn.”
Mungkin maksud ibu kayak gini kali, ya?
“Ka-Kalo gitu…”
“Hm?”
“Kalo gitu, tolong ingetin gue kalo jalan yang gue pilih udah nggak lurus, Mel!”
“Baik! Dengan senang hati, Djinn!”
Ternyata ini ya yang namanya temen?
Gue tadinya nggak enakan untuk minta kayak gitu, karena takut dikira aneh.
Entah kenapa, gue jadi lega sendiri.
“Mungkin ada lagi yang masih ada di benak anda, Djinn?”
“Hm… Mungkin karena gue, jadi lo kena tampar…?”
“Se-Sejujurnya ia adalah wanita yang cantik. Maka saya tidak ada masalah dengan itu…? Ehehe…”
“Hah?! Serius lo ngomong gitu?!”
“Ah… Lupakan saja.”
Dasar aneh.
Artinya dia minta dihukum karena seneng, dong?!
…
Ah, lupain aja deh.