
Dalbert sudah sekarat.
“Huff! Huff! Huff!”
Ia kehabisan akal untuk mengalahkan Wickerd Shaw.
“Ayo! Lo mau ngapain lagi?! HAH?!”
“…”
Ia hanya menatap Wickerd yang mencemoohnya dengan kesal.
“Lo mau coba pake Obscure Cloak lagi?! Hah! Jangan lo pikir lo nggak keliatan lagi, selama gue pake Soul Sensory ini! Mau pake senjata murahan Dwarf yang lo pake?! Hmph! Bahkan senjata itu nggak bisa apa-apain gue!”
“…”
Wickerd terus mencemoohnya, namun Dalbert hanya diam saja.
“Gue harus cari cara yang nggak bakal bisa dia tebak! Tapi gimana gue ngalahin orang yang tenaganya kayak monster ini?!”
Pikir Dalbert dengan sedikit putus asa.
“…”
Melihatnya yang hanya bisa diam, Wickerd mengetahui bahwa Dalbert sedang memikirkan sesuatu. Akan tetapi, ia sama sekali tidak takut dengan Petualang Kasta Biru sepertinya.
“Oi, denger gue baik-baik.”
“Hm?”
“Lo tau kenapa lo pasti mati di tangan gue?”
Tanya Wickerd yang merasa yakin bisa membunuh Dalbert.
“Asal lo tau aja, ya. Sebenernya gue bisa masuk jajaran Kasta Merah! Tapi selama ada ****** yang namanya Angela itu, gue nggak akan pernah mau untuk satu Kasta bareng dia!”
“Maksud lo?!”
“Thelial itu Striker Kasta Hijau, Kwajoe sama Brandt itu Frontliner Kasta Kuning. Sedangkan gue? Pastinya gue Striker Kasta Jingga yang seharusnya bisa masuk jajaran Kasta Merah!”
Seru Wickerd agar Dalbert takut akannya.
Namun, hal itu tidak membuatnya gentar. Justru, ia melihat adanya kesempatan.
“Hah? Jadi lo itu… harusnya Kasta Merah?”
“Kenapa?! Takut, lo?!”
“Oh, gue kira lo tuh Kasta Hijau doang, gara-gara kebanyakan ngomomg!”
“!!!”
Mendengar Dalbert, Wickerd seketika marah besar.
“Apa lo bilang?!”
“*Swush!”
Ia berlari menuju Dalbert dengan kencang.
“*Krrrtt…”
“Keuk!!!”
Lalu ia mencekik dan mengangkatnya.
“Apa lo bilang?! Gue ini Kasta Hijau?!”
“…”
“Lo nganggap remeh gue?!”
“…”
Dalbert berusaha untuk melepas dirinya dari cekikan keras Wickerd.
“Jangan remehin gue! Lo pikir lo siapa?!”
“…”
“Bahkan lo aja bisa selamat dari Soul Sensory anak buah gue lainnya karena temen lo yang pake topeng itu!”
“*Bruk!”
“Akh!”
Wickerd yang memakinya juga membantingnya.
“Uhok, uhok, u—”
“*Bruk!”
“Keuk!”
“Minta ampun lo sama gue! Sekarang!”
Seru Wickerd, sambil menginjak kepalanya.
Akan tetapi, hal itulah yang ditunggu oleh Dalbert.
“E-Eagle…”
“Hm?! Ngomong apa lo?!”
“*Chaaaakk!!!”
“*Shrak!”
Tanpa ia sadari, Dalbert telah merubah gelangnya menjadi elang, lalu elangnya itu memenggal kepalanya.
“Da-Dasar sinting!”
“*Bruk!”
“Lo kira gue nggak tau, kalo lo cuma ngincer gue karena bisa liat Jiwa gue aja?! Karena lo nggak peduli jubah gue, artinya lo nggak peduli elang gue juga!”
Seru Dalbert, sambil menatap kepala Wickerd yang menggelinding.
Dengan aksinya tersebut, ia merasa menang melawan Wickerd.
Namun…
“Ha ha ha…”
“!!!”
…pertarungan tidak secepat yang ia kira.
“Lo kira… lo bisa kalahin gue secepet itu…?”
Tanya Wickerd, dengan kepalanya yang tumbuh dengan cepat, hingga menjadi dua.
Melihatnya, Dalbert merasakan kenajisan yang berbahaya darinya.
“Blade!”
“*Shrak! Shrak! Shrak!”
Ia merubah elangnya menjadi pedang.
Akan tetapi…
“Ahahahaa! Lo panik, ya?!”
…Setiap anggota tubuh yang dipotong olehnya seketika tumbuh dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.
Oleh karena kemampuannya yang unik itu, bentuk tubuh Wickerd menjadi abstrak dan tidak normal.
Melihat keanehan darinya, seketika Dalbert mengenali ciri-ciri tersebut.
“Woy! Lo itu… Hydra?!”
Tanya Dalbert kepada Wickerd.
“Hydra?!”
“Salah! Gue lebih dari Hydra, lebih juga dari Manusia!”
“Inilah hasil eksperimen gue!”
“Kapan lagi ada Manusia yang sekuat Hydra? Atau mungkin, Hydra yang bisa ngomong layaknya Manusia?!”
Balas setiap kepala dari Wickerd.
“Hraaagh!”
“*Bruk!”
“Makan nih!”
“*Bruk!”
“Cih! Ternyata begini eksperimen mereka semua?! Najis!”
Pikir Dalbert dengan jijik dan kesal.
“*BHUK!”
“Akh!”
“*Brak!”
Wickerd berhasil memukul dirinya, hingga ia terbentur ke pohon.
“Hahaha!”
“Bahkan lo nggak bisa hindarin pukulan gue yang pelan kayak gitu?!”
“Yaudah, lah!”
“Mending lo mati aja sekarang!”
Seru beberapa kepala Wickerd.
Ia bersiap membunuh Dalbert yang akan hilang kesadarannya.
Namun, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan mati bersama dengan kekuatan yang ia banggakan itu.
“Woy, brengsek! Kok lo lama banget, sih?!”
““!!!””
Mereka berdua dikejutkan dengan Djinn yang tiba-tiba datang.
“Woy!”
“Ke mana Theli—”
“*Dhum!”
“Bacot! Gue lagi nggak ngomong sama lo, sampah! Dasar mahluk hina!”
Seru Djinn dengan tekanan auranya, karena merasa obrolannya dengan Dalbert diganggu.
“Woy, bego! Kok lo ada di sini?!”
“Hah?! Justru gue yang tanya lo! Kenapa lama banget lawan monster aneh kayak gitu?!”
“Kelamaan?! Lo liat aja! Yang gue lawan tuh—”
“Ya, ya, ya. Kalo lemah, mau diapain lagi?”
“!!!”
Dalbert kesal dengan cemoohan Djinn.
“Apa maksud lo lemah?!”
“Hah? Emang lo lemah, kan—”
“Keterlaluan lo—”
“Tapi tenang aja.”
“Hah?”
“Sekarang gue maklumin karena lo abis lawan orang yang banyak. Sedangkan sampah satu ini baru dateng waktu lo lagi lawan rekan-rekannya.”
Kata Djinn, sambil berjalan untuk menghalangi Wickerd yang hendak membunuh Dalbert.
“Apa lo bilang? Gue sampah?”
“Emang! Nggak suka, lo?!”
“Tarik kata-kata lo dari—”
“Gue maunya tarik nyawa lo, sampah! Dasar monster aneh! Udah jelek, bangga lagi punya penampilan aneh kayak gitu! Bahkan ulat bulu penampilannya lebih bagus daripada lo!”
Hina Djinn dengan nada tinggi.
Melihat aksinya itu…
“Haaaaah… Sekalinya udah niat bikin orang emosi, pasti nggak ada yang bisa berhentiin dia, kecuali Myllo sama Gia…”
…Dalbert semakin tidak berdaya untuk menghentikannya.
“Dasar brengsek! Kasta Kuning aja sombong lo!”
“*Swush!”
Wickerd melaju untuk membunuh Djinn karena ia sangat kesal.
Sebelum ia menghampirinya, Djinn menyampaikan sesuatu kepada Dalbert.
“Woy, Dal.”
“Apaan?! Kenapa lo masih bisa ngo—”
“Inget ini, ya.”
“A-Apaan?”
“Sejauh ini, gue menang 1-0!”
“!!!”
Dalbert yang mengerti maksud Djinn pun merasa sangat kesal.
““MATI LO!!! DJINN DRACORION!!!””
Seru setiap kepala Wickerd, yang sudah berada di jarak sangat dekat untuk menyerangnya.
“…”
“Di situ, ya?”
Pikir Djinn, yang melihat letak Jiwa di dalam Tubuh Wickerd.
“Hraaaaa—”
“*Tap!”
“Heaaaaagh!”
“*Bruk”
Djinn menangkap lengan Wickerd, lalu membantingnya.
“*Crat!”
“Cih! Brengsek lo! Tapi…”
“…”
“Hyehahaha!”
Tawa Wickerd, setelah lengannya ditarik oleh Djinn hingga lepas dan tumbuh menjadi dua.
““Apa yang bisa lo lakuin, Djinn Dracorion?!””
Serunya karena merasa usaha yang dilakukan Djinn sia-sia.
Melihat itu, Djinn pun berpikir.
“Cih! Lagi-lagi gue harus pake serangan baru gue!”
Dengan begitu…
“*Jgrumgrumgrumgrum…”
…Djinn menggunakan serangan kekuatan petir miliknya dan memukul Wickerd dengan sangat cepat, bahkan regenerasi milik Wickerd tidak bisa menyamai kecepatannya.
““Dji-Djinn Dracorioooo—””
“*Chrang!”
““Aaaaaargh!””
Jiwa yang berada di dalam Tubuh Wickerd pun pecah. Dengan begitu, ia tidak bisa menggunakan atribut regenerasi miliknya.
Dengan ini, Djinn baru saja mengalahkan dua Scholar.
“Sialan! Dari semua orang, gue paling nggak mau sampe punya utang nyawa sama orang satu ini!”
Pikir Dalbert akan Djinn dengan kesal karena harus berutang budi dengan Wakil Kapten yang ia anggap rival.