
“*BHUK! BHUK! BHUK! (suara banyak
pukulan keras)”
“Djinnardio…”
“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak
pukulan keras)”
“Djinnardio! Cukup!”
“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak
pukulan keras)”
“Hentikan, nak!”
“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak
pukulan keras)”
“Nak… Cu—”
“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak
pukulan keras)”
“Lukman!”
“*Phak! (suara tamparan)”
Hah? Kok gue ada di alam bawah
sadar gue?
Tambah lagi, di depan gue ini ada…
“Lu…Luscika?”
Ini…ibunya Djinnardio, kan?
“Lukman, maafkan i—Maafkan saya karena
harus menyadarkan anda dengan cara seperti itu.”
“Kok lo—Maksudnya, kok Bu Luscika
bisa ada di—”
“Nanti kita akan bertemu lagi,
jika anda telah tiba di rumah. Di situlah saya akan menjelaskan
semuanya.”
“Tu…Tunggu! Maksudnya apa—”
“Untuk terakhir kalinya, saya
mohon supaya anda…tidak hilang kesadaran seperti itu, nak.”
Eh?! Dia mau kemana—
“Huuuufff!!!”
Ah…gue udah sadar.
Tadi…kenapa ada Luscika di dalem
alam bawah sadar gue?
Terus, gue udah ngapain aja
selama nggak sadar?
“U…huek!”
Gue keinget apa yang udah gue
lakuin selama gue nggak sadar.
Gue pun terlalu jijik sama banyak
darah Ghoul yang nempel di badan gue ini. Makanya gue muntah.
“…”
Eh? Kok gue goyang, ya?
Kayaknya gue jadi lemes banget
gara-gara tadi nggak sadar.
“…”
Ghoul yang ada di depan gue ini
udah jadi abu.
“Terima kasih sudah
membebaskan kami, Petualang Baru.”
“…”
Eh, itu siapa yang ngomong? Kok
tiba-tiba gue denger ada yang ngomong?
Daripada pikirin suara itu…
Gue lebih kepikiran sama Luscika
yang nggak cuma manggil gue aja supaya sadar. Dia bahkan juga nampar gue
supaya gue lebih cepet sadar.
Tapi untuk kondisi sekarang…
“…”
…ada Derrek yang tangannya…buntung?
Jangan-jangan itu karena gue
kali, ya?
Yaudah, semua Ghoul udah gue
hajar, sisanya tinggal dia.
Mending gue samperin aja dulu Si
Banci i—
“Ja…Jangan mendekat!”
“Ada apa? Lo takut? Padahal tadi
bisa sombong lo, banci!”
“…”
Dia ngeluarin pisau?
“Me… Me…Mendekat, anda mati!”
Hoo…dia ngancem?
Nggak perlu takut sih gue sama
anceman dia.
“*Syut! (suara lemparan pisau)”
“…”
“*Syut! (suara lemparan pisau)”
“…”
“*Syut! (suara lemparan pisau)”
“…”
Udah gue bilang kan, nggak perlu
takut sama anceman dia. Buktinya nggak ada satupun lemparan pisau dia yang ke
arah gue sama sekali. Menghindar pun juga nggak perlu.
“Hikh!”
“Mana pisau lo?! Ayo lempar
lagi!”
“Ah…ah…aaaah!”
“…”
Walaupun dia setakut itu sama
gue, tapi tetep aja mata gue udah kunang-kunang! Bisa-bisa gue tumbang nih kalo
langkah gue gegabah!
Makanya itu gue harus hati-ha—
“Grriiiw!”
Eh?! Itu bayi Ghoul?!
Oh iya, kan tadi dia mau jadiin
gue Ghoul pake bayi Ghoul itu, ya. Tepi entah kenapa, Ghoul itu malah lari dari
gue.
Tapi kenapa dia muncul—
“Grriiiw!”
Loh, kok arah gerak dia…
“Tu…Tunggu! Mengapa Ghoul Trigger
ini ke arah saya?!”
“Grriiiw!”
“Ja…Jangan mendekat!”
“Grriiiw!”
“Mengapa Ghoul Trigger ini
mendekati saya?!”
“Grriiiw!”
“Pe…Petualang! Tolong saya!”
Hah? Tolong?
“Maafkan saya atas yang saya
perbuat kepada warga Xia! Dan untuk sekarang, tolong lah saya!”
“Grriiiw! Haaaurp!”
“Ahhh! Ji…Jika anda sebenci itu
terhadap saya, lebih baik bunuh saya saja! Saya lebih baik mati sebagai diri
sendiri—Aaaahhh!”
Ya, impas lah ya.
Lo udah buat banyak orang jadi
Ghoul, sekarang lo harus terima konsekuensi untuk jadi Ghoul.
Mungkin bisa gue bilang,
kesimpulan dari Quest ini adil.
“Aaarrrrggghhh! Aaa—Grrr…”
Sekarang dia hampir jadi Ghoul.
“Grrr…Grrraaaaww!”
Tunggu! Quest ini belom selesai!
Masih ada orang yang namanya Snake i—
“Spatial Secret Technique:
Faraway Slash.”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Hah?!
Kok gue ngerasa ada yang tebas
gue dari belakang?!
Tapi badan gue nggak
kenapa-kenapa!
Justru…
“Grrr…”
…malah badan Derrek yang
kepotong!
“Tenang saja, Petualang. Saya
tidak memotong anda. Hanya saja, saya tidak mau rekan saya selama beberapa
dekade menjadi Ghoul.”
Suaranya ada dari belakang.
Waktu gue nengok ke belakang, ada
sekitar 3 orang.
Yang di kiri ada monyet yang
Yang di kanan ada orang yang
punya tanduk sama sayap. Dia keliatan kayak Char-Char adeknya Styx. Apa mungkin
mereka satu ras?
Eh, tapi kok warna dia biru? Beda sama Char-Char
yang warnanya merah.
Dan terakhir, yang di tengah.
Dari topeng bentuk uler yang dia pake, gue udah tau siapa dia.
“Lo yang namanya Snake, kan?”
“Haha. Memang orang langsung
mengetahui siapa saya ya jika hanya melihat dari topengnya saja.”
“*Shrrrup… (suara memasukkan pedang)”
Dia keliatannya abis masukin
pedangnya. Artinya, dia yang bunuh Derrek, ya?!
Tapi…kok bisa?!
Sihir macem apa itu?!
“Jika saya perhatikan, jahat juga
anda. Mungkin anda berpikir, karena Derrek telah membuat orang-orang menjadi
Ghoul, maka ia pantas menjadi Ghoul di tengah kematiannya, benar?”
Kok gue ngerasa, orang ini kayak tau
isi pikiran gue, ya?
“Anda sudah kuat ya sekarang.”
“Maksud lo—”
“Anda dikenal sebagai siapa
sekarang? Djinn? Haha! Tidak kreatif sekali cara anda menyembunyikan nama anda, Djinnardio.”
Oh iya, ya? Kan dia tau gue sia—
“Anda tidak perlu waspada
terhadap saya, Djinnardio.”
“Lo tau siapa gue! Makanya, nggak
ada salahnya kan gue selalu waspada?!”
“Tentu saja saya mengenal anda.”
“Gimana lo tau—”
“Djinnardio, saya hendak
menawarkan kerja sama dengan anda.”
Kerja sama?
“Bergabung lah dengan saya. Mari
kita gulingkan kelompok yang memimpin dunia ini. Anda sudah tahu betapa
busuknya dunia ini, kan? Maka dari itu, saya jamin anda tidak akan menyesal bergabung
dengan saya, Djinnardio.”
“Maksud lo, ikut jadi *******?”
“Hmm…mungkin arti kata itu
berkesan negatif. Bagaimana jika kita sebut dengan istilah revolusionis? Atau
mungkin, pemberontak?”
“…”
Nih orang udah buka tangan dia
supaya gue salam dia.
“Emang siapa yang mimpin—”
“Ah…tangan saya dingin.”
Dih! Pengen banget gue salam!
Mungkin yang dia bilang ada
benernya juga. Nggak perlu setahun pun gue udah ngerasa sistem dunia ini udah
jelek banget.
Masalahnya adalah…
Yang pertama. Kalo gue ikut dia
jadi pemberontak dan berhasil, terus dia jadi pemimpin dunia, gitu? Emang dunia
yang dia pimpin jadi jauh lebih bagus daripada dunia yang sekarang?
Yang kedua. Gue sebagai Petualang
belom sempet keliling dunia. Mungkin petualang di dunia ini punya arti yang
beda dibanding dunia lama gue. Tapi Myllo bilang dunia ini luas, kan? Makanya
gue mau wujudin mimpi gue di dunia ini.
Dan yang ketiga…
“Kayaknya Kapten gue nggak akan ijinin gue untuk
ikut lo. Jadi lo tau kan jawabannya apa?”
Ya, karena Myllo itu Kapten dan
salah satu temen pertama gue di dunia ini.
“Ah, ya. Saya sebenarnya sudah
berekspektasi jika anda menolak tawaran bekerja sama dengan saya. Tapi alasan
anda apa? Karena tidak diizinkan Kapten anda?”
“Iya. Kenapa? Masalah?”
“…”
Dia pelototin gue. Mukanya
keliatan kesel sama omongan gue.
“Hey, anda bercanda? Anda
memiliki kekuatan yang sangat besar, tapi hanya anda gunakan untuk melayani
pria lemah seperti di—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Jaga mulut lo, anjing!”
“!!!”
Karena gue ngomong gitu, gue bisa
liat dua temennya udah siap untuk nyerang gue.
“Anda yang seharusnya menjaga
mulut anda, Djinnardio. Tidak seharusnya anda berkata seperti itu kepada saya.”
“Terus?! Apa hak lo ngomong gitu
ke temen gue, anjing?!”
“Cih! Anda terlahir di keluarga
baik, dengan orang tua seperti Luscika dan Brent! Tidak saya sangka mulut anda
menjadi sampah seperti sekarang, Djinnardio!”
“???”
Dia kenal Luscika sama Brent?
Kenapa orang ini tau banyak
tentang Djinnardio, ya? Kayaknya perlu gue tanya, deh.
“Lo kayaknya tau banyak tentang,
Djin—Ehem! Tentang gue.”
“Tentu saja. Karena, saya adalah orang
yang menjebak dan menjual anda kepada Goldiggia—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“*Crat! (suara kepala hancur)”
““SNAKE!!!””
Ternyata dia biang kerok gue bangun-bangun
di penjara?!
Nggak cuma itu, dari semua
rangakain kejadian, bisa gue simpulin kalo dia penyebab Meldek mati!
“…”
Duh, kayaknya gue udah mau
pingsan, nih.
“*Bruk… (suara terjatuh)”
Sialan…ternyata gue cuma bisa
pukul dia sekali aja…
Mungkin kepala dia hancur waktu gue pukul…tapi…perasaan
gue…itu nggak cukup…
“Cih! Nggak ada gunanya negosiasi
sama dia, Snake! Mending kita bunuh a—"
“Tunggu dulu, kawan-kawan.”
“!!!”
Ke…Kenapa dia muncul dari arah
dia dateng?
Padahal…kepalanya udah gue pukul
sampe hancur, kan—
“*Fwuzzz… (suara abu tertiup)”
Kok…dia yang gue tonjok
tadi…jadi…abu…
“Bawa dia kepada mereka.”
“Tunggu Snake! Tapi—”
“Tenang saja. Ia masih perlu
latihan. Mana*-nya tidak stabil. Lebih baik ia lanjutkan saja*
petualangannya.”
“Huuffff!!!”
“Ah! Bangun, dia!”
Hah? Myllo? Kok ada dia?
“Syukurlah kamu selamat, Djinn!”
Ada Gia juga?!
Tunggu! Bukannya gue tadi lagi
ketemu sama orang yang namanya Snake itu?!
“Myl! Tadi gue ketemu sama orang
yang namanya—”
“Snake, kan?”
Loh, kok dia tau?!
“Gue juga kaget, sih. Dia
tiba-tiba nganter lo yang pingsan ke depan gue.”
Hah?! Nganter?!
“Maksud lo, nganter gimana?!”
“Hmm…gimana ya ceritainnya ya?”
“Myllo. Biar aku aja yang
cerita.”
Abis Gia bilang gitu, dia
langsung ceritain kronologi gue yang bisa sampe ke mereka.