Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 56. The Man Behind All of Tragedy



“*BHUK! BHUK! BHUK! (suara banyak


pukulan keras)”


“Djinnardio…”


“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak


pukulan keras)”


“Djinnardio! Cukup!”


“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak


pukulan keras)”


“Hentikan, nak!”


“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak


pukulan keras)”


“Nak… Cu—”


“*BHUK! BHUK! BHUK… (suara banyak


pukulan keras)”


“Lukman!”


“*Phak! (suara tamparan)”


Hah? Kok gue ada di alam bawah


sadar gue?


Tambah lagi, di depan gue ini ada…


“Lu…Luscika?”


Ini…ibunya Djinnardio, kan?


“Lukman, maafkan i—Maafkan saya karena


harus menyadarkan anda dengan cara seperti itu.”


“Kok lo—Maksudnya, kok Bu Luscika


bisa ada di—”


“Nanti kita akan bertemu lagi,


jika anda telah tiba di rumah. Di situlah saya akan menjelaskan


semuanya.”


“Tu…Tunggu! Maksudnya apa—”


“Untuk terakhir kalinya, saya


mohon supaya anda…tidak hilang kesadaran seperti itu, nak.”


Eh?! Dia mau kemana—


“Huuuufff!!!”


Ah…gue udah sadar.


Tadi…kenapa ada Luscika di dalem


alam bawah sadar gue?


Terus, gue udah ngapain aja


selama nggak sadar?


“U…huek!”


Gue keinget apa yang udah gue


lakuin selama gue nggak sadar.


Gue pun terlalu jijik sama banyak


darah Ghoul yang nempel di badan gue ini. Makanya gue muntah.


“…”


Eh? Kok gue goyang, ya?


Kayaknya gue jadi lemes banget


gara-gara tadi nggak sadar.


“…”


Ghoul yang ada di depan gue ini


udah jadi abu.


“Terima kasih sudah


membebaskan kami, Petualang Baru.”


“…”


Eh, itu siapa yang ngomong? Kok


tiba-tiba gue denger ada yang ngomong?


Daripada pikirin suara itu…


Gue lebih kepikiran sama Luscika


yang nggak cuma manggil gue aja supaya sadar. Dia bahkan juga nampar gue


supaya gue lebih cepet sadar.


Tapi untuk kondisi sekarang…


“…”


…ada Derrek yang tangannya…buntung?


Jangan-jangan itu karena gue


kali, ya?


Yaudah, semua Ghoul udah gue


hajar, sisanya tinggal dia.


Mending gue samperin aja dulu Si


Banci i—


“Ja…Jangan mendekat!”


“Ada apa? Lo takut? Padahal tadi


bisa sombong lo, banci!”


“…”


Dia ngeluarin pisau?


“Me… Me…Mendekat, anda mati!”


Hoo…dia ngancem?


Nggak perlu takut sih gue sama


anceman dia.


“*Syut! (suara lemparan pisau)”


“…”


“*Syut! (suara lemparan pisau)”


“…”


“*Syut! (suara lemparan pisau)”


“…”


Udah gue bilang kan, nggak perlu


takut sama anceman dia. Buktinya nggak ada satupun lemparan pisau dia yang ke


arah gue sama sekali. Menghindar pun juga nggak perlu.


“Hikh!”


“Mana pisau lo?! Ayo lempar


lagi!”


“Ah…ah…aaaah!”


“…”


Walaupun dia setakut itu sama


gue, tapi tetep aja mata gue udah kunang-kunang! Bisa-bisa gue tumbang nih kalo


langkah gue gegabah!


Makanya itu gue harus hati-ha—


“Grriiiw!”


Eh?! Itu bayi Ghoul?!


Oh iya, kan tadi dia mau jadiin


gue Ghoul pake bayi Ghoul itu, ya. Tepi entah kenapa, Ghoul itu malah lari dari


gue.


Tapi kenapa dia muncul—


“Grriiiw!”


Loh, kok arah gerak dia…


“Tu…Tunggu! Mengapa Ghoul Trigger


ini ke arah saya?!”


“Grriiiw!”


“Ja…Jangan mendekat!”


“Grriiiw!”


“Mengapa Ghoul Trigger ini


mendekati saya?!”


“Grriiiw!”


“Pe…Petualang! Tolong saya!”


Hah? Tolong?


“Maafkan saya atas yang saya


perbuat kepada warga Xia! Dan untuk sekarang, tolong lah saya!”


“Grriiiw! Haaaurp!”


“Ahhh! Ji…Jika anda sebenci itu


terhadap saya, lebih baik bunuh saya saja! Saya lebih baik mati sebagai diri


sendiri—Aaaahhh!”


Ya, impas lah ya.


Lo udah buat banyak orang jadi


Ghoul, sekarang lo harus terima konsekuensi untuk jadi Ghoul.


Mungkin bisa gue bilang,


kesimpulan dari Quest ini adil.


“Aaarrrrggghhh! Aaa—Grrr…”


Sekarang dia hampir jadi Ghoul.


“Grrr…Grrraaaaww!”


Tunggu! Quest ini belom selesai!


Masih ada orang yang namanya Snake i—


“Spatial Secret Technique:


Faraway Slash.”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Hah?!


Kok gue ngerasa ada yang tebas


gue dari belakang?!


Tapi badan gue nggak


kenapa-kenapa!


Justru…


“Grrr…”


…malah badan Derrek yang


kepotong!


“Tenang saja, Petualang. Saya


tidak memotong anda. Hanya saja, saya tidak mau rekan saya selama beberapa


dekade menjadi Ghoul.”


Suaranya ada dari belakang.


Waktu gue nengok ke belakang, ada


sekitar 3 orang.


Yang di kiri ada monyet yang


Yang di kanan ada orang yang


punya tanduk sama sayap. Dia keliatan kayak Char-Char adeknya Styx. Apa mungkin


mereka satu ras?


Eh, tapi kok warna dia biru? Beda sama Char-Char


yang warnanya merah.


Dan terakhir, yang di tengah.


Dari topeng bentuk uler yang dia pake, gue udah tau siapa dia.


“Lo yang namanya Snake, kan?”


“Haha. Memang orang langsung


mengetahui siapa saya ya jika hanya melihat dari topengnya saja.”


“*Shrrrup… (suara memasukkan pedang)”


Dia keliatannya abis masukin


pedangnya. Artinya, dia yang bunuh Derrek, ya?!


Tapi…kok bisa?!


Sihir macem apa itu?!


“Jika saya perhatikan, jahat juga


anda. Mungkin anda berpikir, karena Derrek telah membuat orang-orang menjadi


Ghoul, maka ia pantas menjadi Ghoul di tengah kematiannya, benar?”


Kok gue ngerasa, orang ini kayak tau


isi pikiran gue, ya?


“Anda sudah kuat ya sekarang.”


“Maksud lo—”


“Anda dikenal sebagai siapa


sekarang? Djinn? Haha! Tidak kreatif sekali cara anda menyembunyikan nama anda, Djinnardio.”


Oh iya, ya? Kan dia tau gue sia—


“Anda tidak perlu waspada


terhadap saya, Djinnardio.”


“Lo tau siapa gue! Makanya, nggak


ada salahnya kan gue selalu waspada?!”


“Tentu saja saya mengenal anda.”


“Gimana lo tau—”


“Djinnardio, saya hendak


menawarkan kerja sama dengan anda.”


Kerja sama?


“Bergabung lah dengan saya. Mari


kita gulingkan kelompok yang memimpin dunia ini. Anda sudah tahu betapa


busuknya dunia ini, kan? Maka dari itu, saya jamin anda tidak akan menyesal bergabung


dengan saya, Djinnardio.”


“Maksud lo, ikut jadi *******?”


“Hmm…mungkin arti kata itu


berkesan negatif. Bagaimana jika kita sebut dengan istilah revolusionis? Atau


mungkin, pemberontak?”


“…”


Nih orang udah buka tangan dia


supaya gue salam dia.


“Emang siapa yang mimpin—”


“Ah…tangan saya dingin.”


Dih! Pengen banget gue salam!


Mungkin yang dia bilang ada


benernya juga. Nggak perlu setahun pun gue udah ngerasa sistem dunia ini udah


jelek banget.


Masalahnya adalah…


Yang pertama. Kalo gue ikut dia


jadi pemberontak dan berhasil, terus dia jadi pemimpin dunia, gitu? Emang dunia


yang dia pimpin jadi jauh lebih bagus daripada dunia yang sekarang?


Yang kedua. Gue sebagai Petualang


belom sempet keliling dunia. Mungkin petualang di dunia ini punya arti yang


beda dibanding dunia lama gue. Tapi Myllo bilang dunia ini luas, kan? Makanya


gue mau wujudin mimpi gue di dunia ini.


Dan yang ketiga…


“Kayaknya Kapten gue nggak akan ijinin gue untuk


ikut lo. Jadi lo tau kan jawabannya apa?”


Ya, karena Myllo itu Kapten dan


salah satu temen pertama gue di dunia ini.


“Ah, ya. Saya sebenarnya sudah


berekspektasi jika anda menolak tawaran bekerja sama dengan saya. Tapi alasan


anda apa? Karena tidak diizinkan Kapten anda?”


“Iya. Kenapa? Masalah?”


“…”


Dia pelototin gue. Mukanya


keliatan kesel sama omongan gue.


“Hey, anda bercanda? Anda


memiliki kekuatan yang sangat besar, tapi hanya anda gunakan untuk melayani


pria lemah seperti di—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Jaga mulut lo, anjing!”


“!!!”


Karena gue ngomong gitu, gue bisa


liat dua temennya udah siap untuk nyerang gue.


“Anda yang seharusnya menjaga


mulut anda, Djinnardio. Tidak seharusnya anda berkata seperti itu kepada saya.”


“Terus?! Apa hak lo ngomong gitu


ke temen gue, anjing?!”


“Cih! Anda terlahir di keluarga


baik, dengan orang tua seperti Luscika dan Brent! Tidak saya sangka mulut anda


menjadi sampah seperti sekarang, Djinnardio!”


“???”


Dia kenal Luscika sama Brent?


Kenapa orang ini tau banyak


tentang Djinnardio, ya? Kayaknya perlu gue tanya, deh.


“Lo kayaknya tau banyak tentang,


Djin—Ehem! Tentang gue.”


“Tentu saja. Karena, saya adalah orang


yang menjebak dan menjual anda kepada Goldiggia—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“*Crat! (suara kepala hancur)”


““SNAKE!!!””


Ternyata dia biang kerok gue bangun-bangun


di penjara?!


Nggak cuma itu, dari semua


rangakain kejadian, bisa gue simpulin kalo dia penyebab Meldek mati!


“…”


Duh, kayaknya gue udah mau


pingsan, nih.


“*Bruk… (suara terjatuh)”


Sialan…ternyata gue cuma bisa


pukul dia sekali aja…


Mungkin kepala dia hancur waktu gue pukul…tapi…perasaan


gue…itu nggak cukup…


“Cih! Nggak ada gunanya negosiasi


sama dia, Snake! Mending kita bunuh a—"


“Tunggu dulu, kawan-kawan.”


“!!!”


Ke…Kenapa dia muncul dari arah


dia dateng?


Padahal…kepalanya udah gue pukul


sampe hancur, kan—


“*Fwuzzz… (suara abu tertiup)”


Kok…dia yang gue tonjok


tadi…jadi…abu…


“Bawa dia kepada mereka.”


“Tunggu Snake! Tapi—”


“Tenang saja. Ia masih perlu


latihan. Mana*-nya tidak stabil. Lebih baik ia lanjutkan saja*


petualangannya.”


“Huuffff!!!”


“Ah! Bangun, dia!”


Hah? Myllo? Kok ada dia?


“Syukurlah kamu selamat, Djinn!”


Ada Gia juga?!


Tunggu! Bukannya gue tadi lagi


ketemu sama orang yang namanya Snake itu?!


“Myl! Tadi gue ketemu sama orang


yang namanya—”


“Snake, kan?”


Loh, kok dia tau?!


“Gue juga kaget, sih. Dia


tiba-tiba nganter lo yang pingsan ke depan gue.”


Hah?! Nganter?!


“Maksud lo, nganter gimana?!”


“Hmm…gimana ya ceritainnya ya?”


“Myllo. Biar aku aja yang


cerita.”


Abis Gia bilang gitu, dia


langsung ceritain kronologi gue yang bisa sampe ke mereka.