Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 121. The Center of Disaster



Vigrias Capital, ibukota Erviga


Kingdom. Kota ini adalah kota terbesar di kerajaan tersebut.


Dan saat ini…


“Bi…Biarkan saya masuk!”


“Heh! Gue juga warga Erviga!


Kenapa nggak dibolehin masuk?!”


“Ha…Harap tenang! Sudah tidak ada


ruang untuk berada di dalam kota ini!”


…ada sangat banyak warga yang


tidak bisa memasuki kota tersebut.


Karena serangan Kaum Naga yang


tiada habisnya, semua warga yang dievakuasi tidak punya pilihan lain, selain


ibukota ini, yang aman karena tidak adanya Kaum Naga yang terlihat di sekitar


kota tersebut.


Walaupun kota tersebut jauh lebih


luas daripada pemukiman lainnya, nyatanya kota tersebut tidak cukup muat untuk


menampung warga yang harus kehilangan tempat tinggalnya karena serangan Kaum


Naga.


Maka dari itu, yang diberikan


akses masuk hanyalah penduduk asli Vigrias, warga-warga yang sudah dalam


keadaan kritis dan tamu-tamu yang memiliki kepentingan dengan pemerintah.


Oleh karena kebijakan ini, banyak


warga yang tidak terima dan hendak memasuki kawasan ibukota secepatnya.


Selain untuk memperjuangkan


kelayakan mereka untuk masuk ke ibukota, mereka juga mengharapkan keamanan yang


lebih terjamin ketika adanya serangan Kaum Naga.


Di salah satu tenda, terdapat


Miraela, anggota Guild Petualang yang baru saja resmi menjadi Guildmaster di


Riverfall City, bersama dengan salah seorang warga Calmisiu, desa yang berada


di bawah naungan House of Louisson.


“Oh, kamu itu Guildmaster, ya?!”


“Betul, bu. Saya Guildmaster dari


Riverfall. Sebenernya sih, belom ada satu bulan saya jadi Guildmaster.


Tapi…saya pun nggak yakin masih bisa jadi Guildmaster kalo keadaannya sekacau


ini. Haha…”


“Iya ya. Saya pun kaget tiba-tiba


ada berita evakuasi dari desa. Eh, nggak taunya ada beneran Dragonkin yang


nyerang waktu kami lagi jalan.”


“Oh gitu ya, bu. Tapi, semua


warga desa udah berhasil evakuasi, bu?”


“Itu…belom semua sih.”


“Hm?”


Miraela heran akan penjelasan


dari perempuan tua asal Calmisiu itu.


“Kok…nggak semuanya, bu?”


“Iya, cuma Kepala Desa Flippus


aja yang nggak keluar dari desa. Saya pun nggak ngerti alasan beliau.”


Balas perempuan tersebut kepada


Miraela.


Ketika mereka sedang berbincang


bersama, ada dua orang yang melewati mereka. Salah satunya memakai tudung dan


syal yang menutupi wajah, sedangkan satu lagi seakan terlihat seperti orang


asing di Erviga.


Namun, Miraela adalah seorang


Elf. Secara insting, ia merasa ada sesuatu dari dua orang itu.


“Guildmaster kenal sama dua orang


itu?”


“Ng…Nggak sih, bu.”


“Oh, kirain kenal.”


“Bukan kenal, tapi kok orang


yang rambut pirang itu…kayakmya unik ya?”


Pikir Miraela ketika berbicara


dengan perempuan itu.


Setelah tanpa sadar melewati


Miraela dan penduduk Calmisiu itu, salah satu dari mereka pun berbicara kepada rekannya.


“Göhran…kenapa gue jadi deg-degan


begini, ya?”


“Jika jantungmu berdegup kencang,


sepertinya bukan karena gugup.”


“Ya. Gue punya perasaan yang


nggak enak.”


Balas Dalbert, yang sedang


menyamar dengan tudung dan syal, kepada Göhran.


Sambil mereka berjalan, Göhran


melihat ada seseorang yang tidak begitu asing di tenda evakuasi lainnya.


“Cih! Brengsek! Kok nggak ada tim


medis yang mau bantuin rekan-rekan gue?!”


“Hey, kau itu…bukankah kau rekan


dari Myllo, Djinn, dan Gia?”


“I…Iya! Gue Mahadia, mantan rekan


Joint Party bareng Myllo! Lo bukannya—”


“Sssttt! Jangan keras-keras!”


“O…Oh iya! Maaf!”


Balas Mahadia ketika dihampiri


oleh Göhran dan Dalbert.


“Göhran, dia siapa?”


“Ia adalah Mahadia, orang yang


pernah bekerja sama denganku dalam menghentikan amukan Raja.”


“Oh, gitu ya—Eh! Lo yang bantai


rekan-rekan gue, ya?!”


Seru Dalbert, mengingat


rekan-rekannya dikalahakan oleh Mahadia dan rekan-rekannya ketika BBE


menyerangnya.


“Hah?! Rekan-rekan lo?! Oh! Lo


itu bandit yang—”


“Tunggu! Daripada membahas masa


lalu kalian, ada yang harus diperhatikan terlebih dahulu!”


Potong Göhran setelah melihat


Winona dan Royce yang tidak sadarkan diri.


Karena mereka adalah teman-teman


dari Myllo, Djinn, dan Gia, Gohran pun tergerak untuk menyembuhkan mereka


berdua sambil bertanya-tanya tentang mereka.


“Apakah kalian diserang oleh


sanak saudaraku?”


“Ya. Kita diserang di tengah


jalan. Tiba-tiba ada 5 Wyvern yang nyerang kita! Anehnya…”


“Mm?”


“…waktu kita semua mati-matian


kalahin mereka semua…tiba-tiba ada Naga yang muncul! Yang parahnya lagi…Kapten


gue, Zorlyan…dimakan!”


Jelas Mahadia dengan tangan yang


gemetar karena kesal.


“Zorlyan? Maksudmu…Beastwoman


itu?”


“Ya!”


langsung mengetahui hal yang sebenarnya.


“Kalo dia Beastwoman, pasti dia


bukan dimakan!”


“Apa maksud lo—”


“Dia diculik!”


“!!!”


Mahadia terkejut mendengar


penjelasan dari Dalbert.


“Lo…Lo siapa?! Kenapa lo—”


“Dalbert, alangkah baiknya jika


kau menjelaskan tentang siapa dirimu yang sebenarnya, serta apa yang telah


terjadi.”


“O…OK.”


Dalbert pun mejelaskan tentang


identitas aslinya dan juga apa yang telah ia dan BBE lakukan ketika Mahadia


menjalankan Quest Kuning bersama Joint Party-nya. Ia juga menjelaskan tentang


anggotanya yang berasal dari Kaum Non-Manusia yang ditangkap.


“Ka…Kalo itu, gue tau. Tapi gue


nggak nyangka bahkan Petualang pun juga ditangkep! Dasar breng—”


“Makanya itu, gue mau ke tempat


itu bareng Göhran.”


“Kalo gitu, gue i—”


“Aku sarankan agar kau berada di


samping rekan-rekanmu, Mahadia.”


“Ta…Tapi—”


“Percayakan saja denganku dan


Dalbert. Aku sebagai salah satu penduduk asli tanah ini berjanji akan


menyelamatkan Kapten-mu.”


Balas Göhran kepada Mahadia,


setelah ia menyembuhkan Winona dan Royce.


“OK. Makasih, Göhran.”


“Ya. Senang bisa membantu—”


“Oh iya, anak-anaknya Gia ke


mana?”


Tanya Mahadia yang memotong


perkataan Göhran.


“Aku dan Rakhzar menitipkannya di


salah satu desa yang bernama Calmisiu, kepada seseorang yang dipercaya oleh


Verdian. Namun, tanpa kuduga, orang tersebut pun dijebak oleh Siegfreid!”


Balas Göhran yang menjawab


pertanyaan Mahadia.


“Göhran, kita nggak punya waktu


lama-lama lagi! Ayo kita berangkat sekarang!”


“Baiklah, Dalbert. Kalau begitu,


aku pergi dulu, Mahadia.”


“Ya.”


Göhran dan Dalbert pun pergi


meninggalkan Mahadia dan rekan-rekannya.


Ketika mereka hampir tiba di


pintu masuk ibukota, mereka tertahan oleh warga-warga yang protes karena ingin


masuk.


“Gimana kita masuk?”


“Tenang saja. Biar aku yang


tangani.”


“Caranya?”


“Unseen Touch.”


“…”


Dengan sihirnya, Göhran menyentuh


Dalbert dan mereka berdua pun tidak terlihat oleh siapapun.


“Feather Weight.”


Setelah itu, ia membuat dirinya


dan Dalbert menjadi ringan seperti bulu, sehingga mereka melayang dan masuk


melewati tembok besar yang menutup Vigrias Capital.


……………


Mereka pun berhasil memasuki


ibukota.


Lalu mereka mencari tempat yang


sepi untuk menanggalkan sihirnya.


“Sepertinya di sini sudah a—”


“Hueeek!”


“Da…Dalbert?!”


“Ma…Maaf, gue takut ketinggian…”


Balas Dalbert setelah ia muntah


karena mual.


“Ba…Baiklah. Sekarang, kemanakah


kita akan pergi, Dalbert.”


“Hmm…kayaknya sih kita harus ke


tempat yang keliatan dijaga ketat.”


“Seperti itu, ya? Baiklah. Kita


tidak ada waktu lagi! Mari kita cari tempat itu secepatnya!”


“Ya!”


Mereka pun berlari dan melewati


beberapa orang yang memakai tudung, yang tidak lain adalah Vulpus, Party yang


dipimpin oleh Hendrick Foxonze.


“Kenapa mereka lari-lari?”


“Gue nggak tau. Keliatannya


mereka ngejar sesuatu.”


“Kalo mereka lari kayak gitu,


bukannya malah ngundang perhatian—”


“Nggak usah dipikirin!”


““!!!””


Semua anggota dari Vulpus pun


terkejut ketika mendengar teguran dari Hendrick.


“Shunnel, udah dapet belom akses


masuk ke dalem kastil?”


“…”


“Shunnel—”


“Udah, Bos. Ada jalur khusus yang


arahnya dari belakang gerbang kastil.”


“Bagus. Kalo gitu, panggil balik doppelgänger


lo.”


“OK, Bos.”


Shunnel pun menarik kembali sihir


yang ia buat dalam wujud dirinya sendiri.


“Jadi, kita langsung ke sana,


Bos?”


“Pastinya.”


Balas Hendrick sambil menatap


kastil tinggi yang terlihat dari dalam kota.