Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 29. Judgement



Kembali ke keadaan di atas kapal, setelah Djinn


terpental setelah ia menahan serangan Galziq yang mengarah kepada Myllo.


“Cih, sialan! Harusnya dia yang mati!”


Seru Galziq yang merasa karena gagal membunuh Myllo.


Di saat yang bersamaan, Styx terbangun karena terkejut


mendengar suara ledakan di atas kapal.


“Uhm…”


“Lo udah bangun, ya?!”


“My…Myllo?! Kemana Djinn?!”


“Ada…di laut.”


“!!!”


Styx begitu terkejut mendengar penjelasan Myllo.


Namun, ia juga begitu kesal karena Myllo tenang tentang


Djinn yang terdampar di laut.


“Brengsek! Kalo gitu, kenapa lo nggak tolongin dia?!


Harusnya lo—”


“Dia masih hidup!”


Tegas Myllo.


“Hah?! Lautan ini dalem banget! Lo yakin dia masih—”


“Tenang aja! Insting gue ini tajem! Gue percaya orang


sekuat dia nggak gampang kalah begitu aja!”


“…”


“Justru yang jadi masalah itu, orang yang pake kekuatan


Iblis ini!”


Seru Myllo yang mengarahkan pandangannya langsung ke


arah Galziq.


“Menurut lo, gue itu masalah? Haha, lucu. Karena


menurut gue, lo itu juga masalah buat gue!”


“*Zhum! (suara aura menakutkan)”


“RAAAARRRGGGHHH!!!”


Teriak Galziq sambil mengeluarkan aura Iblis miliknya.


“Woy! Siapa Dewa yang ada di dalem lo?!”


“!!!”


Styx terkejut dengan pertanyaan dari Galziq.


“Lo nggak perlu tau! Yang pasti lo harus gue kalahin!”


Seru Myllo yang menghiraukan pertanyaan Galziq.


Styx pun penasaran dengan Myllo yang sekarang ia


ketahui.


“My…Myllo? Lo itu…Saint?”


“Nanti gue jelasin, Styx. Yang penting, gue hajar orang


ini dulu.”


Jelas Myllo yang menjawab pertanyaan Styx.


“ZEGIIIINNN!!!”


“…”


“TOLONG SEKALI LAGIII!!!”


Teriak Myllo yang membutuhkan kekuatan dari Dewa Zegin.


“Katanya nggak perlu tau, tapi dia teriakin nama


Dewa-nya. Kan Manusia Iblis itu jadi tau, ya… Dasar dongo.”


Pikir Styx setelah mendengar teriakan Myllo.


Dari dalam pikirannya, Zegin menolak permintaan Myllo.


“Myllo! Badan lo udah nggak kuat! Bahkan 1% kekuatan


aja, lo udah tum—”


“Gue butuh 5%, Zegin! Tolong banget!”


“Denger gue, Myllo! 1% aja lo pasti gak akan kuat kalo


ngeliat fisik lo sekarang! Gimana gue mau kasih 5%, Myllo?!”


“Tapi—”


“Kalo lo khawatir sama musuh lo yang pake kekuatan


Iblis itu, mending gak usah. Karena sebentar lagi temen lo bakal dateng.”


“Temen gue?! Maksudnya Styx?! Atau—”


“*Jgrum! (suara petir)”


“*Fwung, wung, wung! (suara badai kencang)”


Mendengar suara gemuruh dan angin ribut, Myllo pun


tersadar dari dalam pikirannya. Ia melihat badai yang dahsyat di tengah laut,


yang mengombang-ambingkan kapal.


“Ke…Kenapa tiba-tiba ada badai kenceng?!”


“Gu…Gue juga nggak tau, Myl!”


Seru Styx.


“Badai ini…kenapa bikin perasaan gue jadi gak enak,


ya?”


Pikir Galziq.


Badai pun berhembus semakin kencang, hingga kapal


mereka menjadi terguncang ombak.


“Myllo…Olfret! Ini…kekuatan Dewa lo?!”


“Bukan! Gue juga nggak tau!”


Jawab Myllo terhadap pertanyaan Galziq.


“Myllo! Ngapain dijawab?!”


“Hah?! Oh iya!”


“Hadeh, ada-ada aja Si Dongo satu i—”


“*Bwush!  (suara


tertimpa ombak)”


““Aaargh!!””


Ombak pun semakin deras, hingga menimpa mereka semua.


Namun, ditengah-tengah guncangan ombak dan badai kencang,


Galziq masih mencari celah untuk menyerang Myllo.


“Mati lo, Myllo Ol—”


“*Grumm!!! (suara sambaran petir)”


“Kok…Kok petirnya deket banget, ya?!”


Tanya Myllo setelah menyaksikan petir yang berada tepat


di samping kapal.


“Myllo, awas!”


“Hraaagh!”


“…”


Myllo pun berhasil menghindari serangan Galziq. Sambil


menghindarinya, ia juga membawa Styx lewat bahunya.


“Cih! Nggak cuma gue doang! Petir tadi bikin semua juga


pada kaget!”


Pikir Galziq yang gagal melukai Myllo.


“Jangan lari lo, Myllo Olfret! Hraaaggghh!”


“*Chrak! Chrak! (suara cakaran)”


“Duh, udah licin gara-gara hujan badai, dia nyerang gue


mulu, tambah lagi gue harus selamatin lo!”


“Me…Mending lo lari dari sini aja—”


“Diem dulu! Kalo pun lari, gimana caranya kalo ada—”


“*Cyut… (suara terpeleset)”


“*Brak! (suara jatuh)”


Myllo dan Styx pun terpeleset akibat lantai perahu yang


licin karena hujan badai.


“Kok lo masih aja sembrono, sih?!”


“Ya kan licin! Jadinya—”


“Mati lo, Myllo Olfret!”


Karena kelengahannya, Myllo pun akan terkena serangan


oleh Galziq. Akan tetapi—


“*Crrk…Jgrum!!! (suara sambaran petir)”


“Aaagghhh!”


Myllo dan Styx terselamatkan dari Galziq yang tersambar


petir.


“Myllo…itu…serangan lo?”


“Bukan! Zegin itu Dewi Angin! Tadi itu petir yang


nyamber orang itu!”


Jelas Myllo kepada Styx yang bingung dengan situasi


mereka.


Tidak hanya Myllo dan Styx saja yang bingung dengan


keadaan yang mereka alami sekarang. Galziq pun juga heran dengan petir yang


terus menyambarnya.


Hingga akhirnya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya


gemetar ketakutan.


“Pe…Petir ini…”


“Hm?”


“Nggak! Nggak mungkin, kan?!”


Myllo memperhatikan Galziq yang terlihat mengetahui


sesuatu.


“Woy, Manusia Iblis! Kenapa lo disamber—”


“Gue harus pergi dari sini!”


“*Fwush… (suara kepakan sayap)”


“Woy!”


Galziq pun berusaha terbang dari kapal dengan sayap


Iblis-nya untuk melarikan diri.


“Gak mungkin! Masa kekuatan itu hidup la—”


“*Jgrummm! (suara sambaran petir)”


“Akh!”


"*Bruk! (suara terjatuh)"


Teriak Galziq yang kesulitan untuk kabur karena


tersambar petir lagi, hingga ia terjatuh kembali ke kapal.


“Si…Sialan! Dia incer gue! Kalo gitu apa artinya—”


“*Jgrummm!!! (suara sambaran petir)”


Dari sambaran petir, terlihat bayangan seseorang yang


sedang melayang di udara yang mereka semua saksikan.


“Hah?! Gak mungkin!”


Seru Galziq yang tidak percaya apa yang ia saksikan.


“Myl…itu…”


“Hehe! Ternyata emang kuat banget, dia!”


Balas Myllo kepada Styx yang ikut tidak percaya apa


yang disaksikannya.


mending gue serang aja dia! Kalo bunuh dia, mungkin itu bonus, tapi prioritas


gue tetep kabur dari sini!”


Pikir Galziq yang masih berharap bisa kabur.


“Hellflame! Purgatory Explosion!”


Karena sihirnya tersebut, seketika tubuh Galziq


dipenuhi oleh api hitam, seakan dirinya akan meledak.


“Eh?! Dia mau ledakin diri!”


Styx yang panik berusaha untuk berlindung, walaupun


kondisinya sudah sekarat. Namun…


“Tunggu, Styx. Cuma kita saksi dari momen keren ini!


Kalo lari, gak akan ada yang bisa ngerekam momen keren ini!”


“Lo gila apa—”


“Percaya sama gue! Karena gue pun percaya sama orang


itu!”


Seru Myllo sambil menyaksikan pria yang sedang melayang


tersebut.


Setelah merapal mantranya, Galziq pun terbang ke arah


pria tersebut.


Namun, mereka semua seakan tidak bisa bergerak setelah


mereka merasakan aura besar dari pria dibalik bayang-bayang itu.


“*DHUM! (suara tekanan aura besar)”


““!!!””


Styx dan Galziq menjadi terdiam dan gemetar setelah


merasakan aura tersebut. Sedangkan Myllo, ia hanya menyaksikannya saja.


Hingga pada akhirnya, terdengar satu kata yang begitu


menggema di telinga mereka.


“Judgement.”


“”Fyuh! (suara hembusan angin kencang)”


“Ah! Badainya kenceng banget! Gue gak bisa—”


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir yang keras)”


“Argh!”


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir yang keras)”


“Urgh! Kenapa jadi—”


“*JGRUM! JGRUM! JGRUM… (suara banyak sambaran petir yang keras)”


“Argh! Ampun! AAAARRGGHH!!”


Seketika banyak sambaran petir dari langit yang


menghardik Galziq hingga ia tewas dan terlempar kembali ke kapal.


“*Bruk! (suara terjatuh keras)”


“My…Myllo… Itu…”


“Ya. Itu mayatnya Manusia Iblis tadi.”


Kata Myllo setelah mereka berdua melihat Galziq yang


sudah tidak beraturan bentuknya akibat terkena sambaran petir yang sangat banyak.


Setelah itu, awan mendung yang menyelimuti langit pun


tiba-tiba memudar, hingga cahaya matahari terlihat oleh Myllo dan Styx.


“Me…Mendungnya udah hilang…”


“Wah, ternyata udah pagi, ya?”


“Gak…Gak nyangka ternyata selama itu kita ada di—”


“*Bruk… (suara terjatuh)”


Myllo pun terjatuh karena kelelahan.


“My…Myllo?”


“Haaah…capek juga, ya! Padahal waktu nyari lo ke


Penampungan lain, gue nggak secapek ini! Tapi yang sekarang, gue beneran capek


banget!”


“…”


“Hahaha! Seru juga ternyata!”


Tawa Myllo yang hanya ditatap tajam oleh Styx.


“Styx…ayo ikut—”


“Nggak.”


“Haaaaah?! Langsung ditolak gitu aja, dong!”


Myllo terkejut karena ajakannya langsung ditolak


mentah-mentah oleh Styx.


“Gue tau tujuan lo nyari gue itu untuk rekrut gue. Tapi


jawabannya tetep nggak! Gue mau cari adek gue dulu!”


Tegas Styx.


“Ohh…Char-Char?”


“Char-Char?”


“Dragonewt cilik itu, kan?! Gue ketemu dia di


Penampungan yang deket pelabuhan!”


“…”


“Hah?! Lo udah ketemu Charzielle!”


“Udah, dong! Dia anaknya baik, ya!”


“Hmph…”


Styx hanya tersenyum mendengar cerita Myllo yang


bertemu adiknya.


“Lo tau nggak sih?! Char-Char kalo bersin bisa kenceng


banget! Tadi aja gue bareng Djinn dibawa terbang karena gue bikin dia bersin!


Ahahaha—”


“*Tung! (suara kepala terpukul)”


Styx memukul kepala Myllo setelah mengetahui caranya


pergi ke pelabuhan bersama Djinn.


“ADUDUDUDUH!!!”


“Berani-beraninya lo gituin adek gue! ***** lo!”


“Ya mau gimana lagi?! Kita mau ngejar lo! Tambah lagi


seru bang—”


“Masih mau ngomong, lo?! Hah?!”


“Ah, maaf…”


Myllo pun tidak berani berkomentar apa-apa lagi.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ada sesuatu


yang mengejutkan mereka.


“*Bruk! (suara mendarat kencang)”


““Haaaaah?!?!””


Orang tersebut adalah Djinn. Ia tiba-tiba terjatuh dari


ketinggian dan jatuh tepat di samping Myllo.


“Ahahaha! Keren orang ini!”


Sahut Myllo ketika melihat Djinn.


Namun, dari dalam pikirannya, ia mendapat panggilan


dari Zegin.


“Myllo!”


Mendapat panggilan tersebut, Myllo langsung menuju ke


dalam pikirannya dan berbicara dengan Zegin.


“Hah? Ada apaan? Tumben banget lo manggil gue.”


Kata Myllo yang dipanggil oleh Zegin.


“Hati-hati sama orang itu, Myllo!”


“Hah? Hati-hati sama siapa? Sama Djinn? Emangnya dia


kenapa?”


“Manusia Setengah Elf itu bukan dari dunia ini, Myllo!”


“HAAAHHH?! Terus dia dateng dari mana?!”


“Ada banyak semesta di kehidupan ini, Myllo. Gue bisa


rasain kalo dia itu dateng dari dunia luar semesta ini!”


“…”


“Tambah lagi…dia ngeluarin kekuatan yang pernah gue


rasain…”


“Hah?! Maksud lo apaan, Zegin?!”


“…”


Zegin pun bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan


Myllo.


“Gu…Gue lupa ceritanya gimana.”


“Haaaah?! Udah tukang tidur, lo pelupa juga?!”


“Ke…Kejadiannya udah lama banget! Mungkin udah ribuan


tahun lalu! Mana mungkin gue inget, Myllo?!”


Seru Zegin yang menanggapi ejekan Myllo.


“Kalo gitu, gimana caranya gue harus hati-hati, dong?!”


“Kalo itu…gue bakal ingetin lo kapan waktunya lo harus


bertindak ke orang itu.”


“Gimana mau ingetin?! Lo aja tidur mulu di dalem


pikiran gue!”


Tanya Myllo yang mempertanyakan Zegin.


“Tenang. Gue pasti selalu pantau perjalanan lo kok!


Hihi!”


Jelas Zegin sambil memberikan senyum bersahabat kepada


Myllo.


“Hihi! Akhirnya lo keliatan kayak Dewi yang bimbing


Saint-nya!”


“*Tung! (suara mengetuk kepala)”


“Kurang ajar! Emang lo kira Gue tidur doang?!”


“Kenapa gue dipukul kepalanya?! Emang lo tidur—”


“Mau ngomong apa?!”


“Ah, maaf…”


Balas Myllo yang pasrah setelah kepalanya dipukul oleh


Zegin.


“Abis itu, ada yang mau lo bahas lagi, gak?”


“Ya…Gue cuma mau ingetin itu doang, sih.”


“OK, kalo gitu.”


“Yaudah, sekian aja. Gue mau tidur lagi.”


“HAAAAAHHHH?! Katanya mau pantau perjalanan gu—”


“Zzzz….”


“Hihi! Seenggaknya gue bersyukur salah satu temen


pertama gue itu lo, Zegin…”


“…”


Zegin pun hanya membalas dengan senyuman dalam keadaan


tidurnya.