
Sebelumnya, ketika 3 Dragonewt berhasil memasuki
Hidden Dungeon, Urlant mengumpulkan semua korban tusukan dari Erkstern, kecuali
Harrit.
“Huff… Huff… Hanya ini yang bisa saya
lakukan.”
Setelah mengumpulkan semua korban, Urlant pun mempersiapkan
diri untuk merapal sihirnya.
“Kalian semua, saya harap kalian bisa menghentikan
para Dragonewt itu…dan membantu rekan-rekan kita!”
Seketika, muncul sebuah bunga besar dari belakangnya.
“Flower
Magic: Thousands Healing.”
Dengan sihirnya, bunga besar itu menyinari semua
korban itu dan menyembuhkannya. Walaupun mereka sembuh…
“Uhok!”
…Urlant harus menerima risiko sihir tersebut karena
memakan sangat banyak Mana, yang
menyebabkan Jiwa-nya rusak dan pada akhirnya memakan energi kehidupan dari
Tubuh-nya.
“Huff… Huff… Akhirnya…huff…berhasil…”
“*Bruk… (suara tergeletak)”
Urlant pun tergeletak karena Tubuh-nya sudah tidak
kuat lagi untuk bertahan hidup.
“Uhm…”
“A…Aku masih hidup?! Aku kira aku udah mau ke alam
seberang!”
“Mengapa kita masih—”
“URLANT!!!”
Mahadia pun berlari ke arah Urlant.
“Lo…Jangan bilang lo pake sihir itu?!”
“Haha… Maafkan saya, Nyonya Mahadia… Saya terpaksa
menggunakan sihir itu…”
Balas Urlant yang semakin tidak sadarkan diri.
“Brengsek! Kenapa pake sihir itu?!”
“Karena…saya ingin anda hidup…tanpa kesepian. Oleh
karena itu…saya menyembuhkan yang lainnya hingga pulih…seperti sedia kala…”
Jawab Urlant dengan terbatah-batah kepada Mahadia.
“Urlant!”
““…””
Royce pun ikut berlari ke arah Urlant, yang diikuti
oleh Zorlyan dan Winona.
“Winona! Zorlyan! Tolong sembuhkan—”
“Maafkan saya, Royce… Jiwa saya sudah hancur… Energi
kehidupan di Tubuh saya sudah sangat menipis… Saya sudah tidak…terselamatkan
lagi…”
Kata Urlant kepada Royce.
“Hiks…”
“…”
Melihat tangisan dari wanita yang ia cintai, Urlant
masih berusaha untuk menghiburnya.
“♫Hey…Nyonya Cantik…jangan
lah…menangis—”
“Jangan
nyanyi, brengsek!”
“Maafkan
saya…Nyonya Mahadia… Saya tidak kuasa…melihat wanita yang saya cintai…sedih
seperti—Umph…”
“…”
Ketika
Urlant sedang berbicara, tiba-tiba Mahadia mengecup bibirnya.”
Mahadia…?”
“Gue
galak bukan karena nggak suka, tapi gue takut karena perbedaan jangka umur kita
jauh banget! Gue takut lo sendirian karena umur gue pendek Sebagai Manusia!
Tapi sekarang…lo yang ninggalin—Umph!”
“…”
Belum
selesai berbicara, kali ini giliran Mahadia yang bicaranya dipotong oleh
kecupan dari Urlant.
“Maafkan
saya karena meninggalkan anda…Maha… Semoga anda…selalu bahagia…”
“Ya,
Urlant…”
Senyum
Mahadia, membalas senyuman Urlant.
“Meninggalkan
dunia…dengan kecupan dari orang yang saya cintai…sepertinya tidak
begitu…bu…ruk…”
Kata
Urlant, sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
“Hiks…Hiks… Sungguh…sebuah romansa yang
indah—”
“Gimana
indah?! Temen lo baru aja mati!”
“Saya
tahu akan hal itu! A…Akan tetapi…mati demi cinta…adalah sebuah perbuatan yang mulia!
Maka dari itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Urlant!”
Kata
Royce yang berlinang air mata kepada Zorlyan yang juga berlinang air mata.
“Ng…Nggak
cuma Urlant…Harrit bahkan di ambil Jiwa-nya…”
Kata
Winona yang tidak bisa menyembuhkan Harrit.
Mahadia
pun berdiri setelah mencium kening Urlant.
“Royce
bener. Kita nggak boleh sia-siain pengorbanan Urlant. Kita harus bales
perbuatan Erkstern, Morri, sama Dragonewt itu karena tindakan mereka!”
““Ya!””
Dengan
tekad untuk membalas para Dragonewt yang menyerang mereka, mereka pun
bersama-sama mengubur Harrit dan Urlant sebelum memasuki Hidden Dungeon.
Setelah
mereka mengubur jasad mereka berdua, mereka pun hendak memasuki Hidden Dungeon
bersama-sama.
“Kalian
udah siap, kan?!”
“Gue
selalu siap!”
“Aku
siap!”
“Ya,
saya juga siap!”
Akhirnya
mereka pun memasuki Hidden Dungeon.
Namun,
tanpa sepengetahuan mereka, mereka terpisah satu sama lain ketika memasuki
portal tersebut.