Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 75-1. His Sacrifice



Sebelumnya, ketika 3 Dragonewt berhasil memasuki


Hidden Dungeon, Urlant mengumpulkan semua korban tusukan dari Erkstern, kecuali


Harrit.


“Huff… Huff… Hanya ini yang bisa saya


lakukan.”


Setelah mengumpulkan semua korban, Urlant pun mempersiapkan


diri untuk merapal sihirnya.


“Kalian semua, saya harap kalian bisa menghentikan


para Dragonewt itu…dan membantu rekan-rekan kita!”


Seketika, muncul sebuah bunga besar dari belakangnya.


“Flower


Magic: Thousands Healing.”


Dengan sihirnya, bunga besar itu menyinari semua


korban itu dan menyembuhkannya. Walaupun mereka sembuh…


“Uhok!”


…Urlant harus menerima risiko sihir tersebut karena


memakan sangat banyak Mana, yang


menyebabkan Jiwa-nya rusak dan pada akhirnya memakan energi kehidupan dari


Tubuh-nya.


“Huff… Huff… Akhirnya…huff…berhasil…”


“*Bruk… (suara tergeletak)”


Urlant pun tergeletak karena Tubuh-nya sudah tidak


kuat lagi untuk bertahan hidup.


“Uhm…”


“A…Aku masih hidup?! Aku kira aku udah mau ke alam


seberang!”


“Mengapa kita masih—”


“URLANT!!!”


Mahadia pun berlari ke arah Urlant.


“Lo…Jangan bilang lo pake sihir itu?!”


“Haha… Maafkan saya, Nyonya Mahadia… Saya terpaksa


menggunakan sihir itu…”


Balas Urlant yang semakin tidak sadarkan diri.


“Brengsek! Kenapa pake sihir itu?!”


“Karena…saya ingin anda hidup…tanpa kesepian. Oleh


karena itu…saya menyembuhkan yang lainnya hingga pulih…seperti sedia kala…”


Jawab Urlant dengan terbatah-batah kepada Mahadia.


“Urlant!”


““…””


Royce pun ikut berlari ke arah Urlant, yang diikuti


oleh Zorlyan dan Winona.


“Winona! Zorlyan! Tolong sembuhkan—”


“Maafkan saya, Royce… Jiwa saya sudah hancur… Energi


kehidupan di Tubuh saya sudah sangat menipis… Saya sudah tidak…terselamatkan


lagi…”


Kata Urlant kepada Royce.


“Hiks…”


“…”


Melihat tangisan dari wanita yang ia cintai, Urlant


masih berusaha untuk menghiburnya.


“♫Hey…Nyonya Cantik…jangan


lah…menangis—”


“Jangan


nyanyi, brengsek!”


“Maafkan


saya…Nyonya Mahadia… Saya tidak kuasa…melihat wanita yang saya cintai…sedih


seperti—Umph…”


“…”


Ketika


Urlant sedang berbicara, tiba-tiba Mahadia mengecup bibirnya.”


Mahadia…?”


“Gue


galak bukan karena nggak suka, tapi gue takut karena perbedaan jangka umur kita


jauh banget! Gue takut lo sendirian karena umur gue pendek Sebagai Manusia!


Tapi sekarang…lo yang ninggalin—Umph!”


“…”


Belum


selesai berbicara, kali ini giliran Mahadia yang bicaranya dipotong oleh


kecupan dari Urlant.


“Maafkan


saya karena meninggalkan anda…Maha… Semoga anda…selalu bahagia…”


“Ya,


Urlant…”


Senyum


Mahadia, membalas senyuman Urlant.


“Meninggalkan


dunia…dengan kecupan dari orang yang saya cintai…sepertinya tidak


begitu…bu…ruk…”


Kata


Urlant, sambil menghembuskan nafas terakhirnya.


“Hiks…Hiks… Sungguh…sebuah romansa yang


indah—”


“Gimana


indah?! Temen lo baru aja mati!”


“Saya


tahu akan hal itu! A…Akan tetapi…mati demi cinta…adalah sebuah perbuatan yang mulia!


Maka dari itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Urlant!”


Kata


Royce yang berlinang air mata kepada Zorlyan yang juga berlinang air mata.


“Ng…Nggak


cuma Urlant…Harrit bahkan di ambil Jiwa-nya…”


Kata


Winona yang tidak bisa menyembuhkan Harrit.


Mahadia


pun berdiri setelah mencium kening Urlant.


“Royce


bener. Kita nggak boleh sia-siain pengorbanan Urlant. Kita harus bales


perbuatan Erkstern, Morri, sama Dragonewt itu karena tindakan mereka!”


““Ya!””


Dengan


tekad untuk membalas para Dragonewt yang menyerang mereka, mereka pun


bersama-sama mengubur Harrit dan Urlant sebelum memasuki Hidden Dungeon.


Setelah


mereka mengubur jasad mereka berdua, mereka pun hendak memasuki Hidden Dungeon


bersama-sama.


“Kalian


udah siap, kan?!”


“Gue


selalu siap!”


“Aku


siap!”


“Ya,


saya juga siap!”


Akhirnya


mereka pun memasuki Hidden Dungeon.


Namun,


tanpa sepengetahuan mereka, mereka terpisah satu sama lain ketika memasuki


portal tersebut.