Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 374. Pain in Her Heart



“*Crat, crat, crat…”


Cih! Dada gue masih berdarah karena cakaran Griffin tadi! Andai gue masih punya kekuatan gue, mungkin gue udah bisa regenerasi!


Tapi daripada mikirin itu, gue harus fokus sama gurunya Myllo yang ada di depan gue! Karena orang ini masih nggak jelas tujuannya apa, bisa-bisa dia jadi musuh gue!


“Hmm… ada yang aneh.”


“…”


“Dari Jiwa busuk yang kurasakan darimu, sepertinya engkau adalah Pria Terjanji.”


J-Jiwa… yang busuk?


“…”


Oh, kayaknya gue paham maksud dia ngomong gitu tuh apa.


Kalo emang dia ngomongin Iblis Bajingan di dalam gue, pastinya gue juga setuju sama dia.


“Aku yakin Jiwa milikmu masih aktif, namun entah mengapa Jiwa-mu juga terasa seperti mati. Tidak, lebih


tepatnya seperti terlelap.”


Nih orang kenapa analisa gue terus, sih—


“Hm?!”


“…”


“Ada yang lebih aneh lagi.”


Aneh?


“Ada energi terkutuk dari dirimu?!”


Cih! Ternyata yang dia maksud tuh Si Bajingan itu, ya—


“Zaghemin?!”


“!!!”


Tunggu! Dia kenal Si Bajingan itu?!


“…”


Hmm… ada yang aneh.


Kok nggak ada respon apa-apa dari Si Bajingan ini?!


Eh, tunggu! Bukan itu yang bikin gue penasaran!


Jiwa busuk yang dia maksud itu… bukan Si Bajingan ini?!


Terus, apa Jiwa busuk yang dia maksud—


“Pria berdarah campuran, dengan energi terkutuk di dalamnya. Apakah orang ini adalah Pria Terjanji yang


kau tunggu, Melchizedek?”


B-Bahkan dia tau kalo gue punya darah campuran?


“Pria Terjanji. Katakanlah kepadaku. Apa saja Indera yang telah kau dapatkan selama ini?”


Indera, dia bilang?


Kalo yang dia maksud itu kekuatan yang dipunya “diri gue” yang dulu, mungkin gue bisa jawab Judgement.


Tapi kalo Indera…?


“!!!”


Gue baru sadar maksudnya apa!


“Penglihatan sama Bisikan.”


Ya.


Penglihatan itu kekuatan Mata gue, di mana gue bisa liat masa lalu orang lain.


Sedangkan Bisikan itu kekuatan Telinga gue, di mana gue bisa denger kejadian masa lalu atau masa yang akan datang di wilayah-wilayah lain.


“Hmm… Sepertinya dirimu hanya menemukan sebagian kecil dari Hidden Dungeon saja.”


“Ya. Dari antara semua Chamber of Ancient Armament, gue baru temuin 2 doang.”


“Seperti itukah? Baiklah, jelaskan kepadaku tentang apa yang kau lihat selama i—”


“Maafin gue, Ayasaki. Mungkin lo gurunya Ryūhime. Mungkin lo juga guru dari Kapten gue, Myllo Olfret. Tapi gue… masih nggak percaya sepenuhnya sama lo.”


Mungkin wajah dia ditutup kain. Tapi gue yakin banget, kalo dia kaget waktu gue sebut nama Myllo.


“Ryūhime? Myllo Olfret? Siapa mereka?”


“!!!”


Apa dia bilang?!


“Jangan pura-pura bego, Ayasaki! Lo kira gue nggak tau semuanya?!”


“Apa maksudmu, Pria Terjanji?”


“Lo… punya anak, kan?!”


“…”


Lagi-lagi dia diem aja.


“Jangankan itu! Gue juga tau apa tindakan lo ke Melchizedek!”


“…”


“Lo itu… tinggalin Melchizedek, bukan?”


“…”


Diem aja terus nih cewek!


Tapi terkait pertanyaan terakhir, gue inget banget di ingetannya Melchizedek, di Kronovik.


[1]“Ayasaki…  Kau berhak…membenciku… Aku tahu… bahwa kau… merasa terkhianati… atas apa yang menimpa Flamiza dan Syllia… Andai waktu bisa berputar kembali… mungkin aku masih bisa bercanda gurau bersamamu…”


Mungkin itu yang dibilang Melchizedek. Makanya gue bisa asumsiin kalo cewek ini udah tinggalin Pahlawan Pertama itu.


Lagipula, kalo nggak salah Melchizedek cuma sebut satu temennya aja yang mau temenin dia bahkan setelah Hari Penghakiman. Tapi gue lupa sama nama temennya itu.


“A-Apa maksudmu, Pria Terjanji—”


“Ada apa sebenernya sama Flamiza[2]?! Ada apa sebenernya sama Syllia[3]?! Ada apa sama Alfgorth[4]?!


Kenapa lo tiba-tiba tinggalin Melchizedek, Ayasaki?!”


“…”


“Asal lo tau, Ayasaki! Semua yang ada luar ini jadi kacau balau karena lo! Lo tinggalin Ryūhime sendirian! Harusnya lo tolong dia, bukan?! Kenapa lo malah diem di tempat i—”


“Cukup.”


“…”


Mungkin dia cuma bilang begitu.


Tapi entah kenapa…


“…”


…gue tiba-tiba gemeteran.


“Sepertinya kau telah mengetahui banyak hal tentangku. Harus kuakui, semua yang kau katakan ada benarnya. Mau seberapa banyak dirimu menyalahkanku, itu semua tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi, bukan?”


Apa yang dia bilang juga nggak salah. Tapi gue cuma nanya aja. Gue nggak ada maksud untuk salahin dia.


“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tetapi ada satu syarat.”


“A-Apa…?”


“Jawablah pertanyaanku terlebih dahulu.”


“…”


Mungkin gue cuma ngangguk doang! Tapi gue punya feeling nggak enak!


“Apa yang terjadi kepadamu?”


“Maksudnya…?”


“Aku mampu merasakan Jiwa-mu, tetapi tidak dengan kekuatanmu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Pria Terjanji?”


“…”


Duh, dia udah tau tentang kekuatan yang disegel ini, ya?


Yaudah deh, jawab aja.


“Gue segel kekuatan gue, karena terlalu bahaya untuk temen-temen gue.”


“S-Segel kekuatanmu…?”


“Ya. Kekuatan gue terlalu bahaya karena nggak bisa dikontrol. Makanya gue—”


“Apa yang telah kau lakukan?!”


“!!!”


Eh! Kok dia tiba-tiba galak?!


“Semesta ini telah menantikan kedatanganmu! Aku dan sahabat-sahabatku mengorbankan semuanya hanya demi menunggu dirimu! Bahkan Dewa dan Dewi pun mengorbankan diri mereka demi dirimu!”


“!!!”


“Cih! Keterlaluan…!”


“…”


K-Kenapa tangan dia gemeteran…?


“Lagi-lagi…”


“…”


“…aku dikhianati oleh takdir!”


Hah?! Dikhianatin takdir?!


Bukannya kalo dari cerita Bocil Naga, adek cewek ini bilang…


[5]“…Kau hendak beradu dengan takdir… dengan menciptakan Sang Omega…?”


…kayak gitu?!


Tunggu, tunggu, tunggu…


Gue jadi bingung sendiri!


Sebenernya tuh siapa yang bener, siapa yang salah?!


Apa maksud dari Omega?!


Kenapa orang-orang pada takut sama Omega?!


Mulai dari Sakhtice, Ivis, bahkan bapaknya Shogun juga takut sama mahluk itu?!


Apa ada kaitan Omega sama gue sebagai Pria Terjanji?!


“Padahal aku berharap agar buah yang telah kukandung dapat ditakdirkan sebagai Pria Terjanji…”


Hah…?!


Dia mau anaknya… jadi Pria Terjanji…?!


“E-Emangnya… kenapa lo mau—”


“Agar ia dapat memenuhi kualifikasinya… untuk membunuhku sebagai Dungeon God…!”


“!!!”


Tunggu! Jadi motivasi dia punya anak itu cuma untuk bunuh dia?!


“Lo gila kali ya?! Buat apa lo punya anak, kalo nantinya lo cuma dibunuh sama anak lo?!”


“Diamlah! Kau tidak akan pernah tahu apa yang kurasakan—”


“Terus gimana perasaan anak lo, brengsek?!”


“!!!”


“Emangnya lo nggak mikirin perasaan anak lo?! Bayangin kalo dia tau dia dilahirin untuk bunuh ibunya doang?!”


“Ya, kau benar. Oleh karena itu aku menjauhkan diriku darinya! Agar kelak ia—”


“Ibu macem apa lo, Ayasaki?! Emangnya lo dilahirin untuk bunuh orang tua lo sendiri?! Emangya orang tua lo minta lo untuk bunuh mereka berdua?!”


“T-Tentu saja tidak—”


“Apa harus gue ingetin lagi ke lo, kalo Syllia dituntut untuk Sakhtice untuk bunuh kaumnya sendiri, sebagai hukuman untuk dia yang jalin hubungan sama Alfgorth[6]?!”


“…”


Karena apa yang dia bilang, gue baru inget sama wajahnya, waktu gue liat Syllia bantai semua Sea Serpent bareng Jörnarr. Di dasar laut, ada Melchizedek yang dipukul Alfgorth. Terus di antara mereka semua, ada yang cewek ekor hijau sama kuping rubah.


Makanya itu, kalo tujuan dia pake kain itu cuma untuk tutupin identitasnya aja sih, keliatannya sih sia-sia. Karena gue sendiri juga udah tau wajahnya gimana.


Kecuali dia pake kain itu untuk—


“Pria Terjanji…”


“…”


S-Suaranya bergetar?!


Artinya… dia nangis?!


“Jika kau berbicara seperti itu, tentu kau mengetahui penderitaan kami sebagai jajaran Pahlawan Kuno, bukan?”


“Ya.”


Mungkin gue nggak bisa sebut semuanya, apalagi gue cuma liat dari sudut pandang Melchizedek aja.


Walaupun cuma liat beberapa masa lalunya aja… gue paham kalo yang dia alamin tuh nggak manusiawi banget.


Itu pun baru beberapa masa lalu aja yang gue liat, belom semuanya. Makanya itu gue tau apa yang dia rasain sebagai Pahlawan Kuno.


“Jika memang kau menjawabnya dengan tulus, aku memohon kepadamu, Pria Terjanji.”


“M-Memohon…?”


“Ambilah kembali kekuatanmu dan—”


“Nggak. Gue nggak bisa, Ayasaki.”


“M-Mengapa engkau—”


“Kekuatan ini… cuma bawa penderitaan aja untuk gue! Bisa-bisa orang-orang di sekitar gue juga kena imbas


dari kekuatan ini! Pria Terjanji ini, lah! Jiwa itu, lah! Buat apa gue punya semua itu—”


“Tetapi engkau telah ditakdirkan—”


“Gue cuma mau petualangan keliling dunia bareng temen-temen gue aja, Ayasaki! Gue nggak butuh kekuatan ini! Nggak! Justru gue benci kekuatan yang nggak bisa dikontrol ini! Karena ujung-ujungnya cuma bawa masalah untuk gue sama temen-temen gue!”


“…”


Sebenernya gue tau alesan dia nuntut gue untuk punya kekuatan gue lagi.


Karena dia minta gue untuk bunuh dia.


Sama kayak anaknya yang mau dia jadiin Pria Terjanji, supaya bisa bunuh dia yang punya titel Dungeon God.


Tapi karena dia gue tau, kalo ujung-ujungnya gue juga ditakdirin untuk bunuh setiap Dungeon God.


Kalo gitu…


Pantes aja Nemesia mau bunuh gue. Karena dia tau, kalo gue pasti hancurin Hidden Dungeon of Whisper.


Sama kayak Hidden Dungeon of Vision, yang hancur sebelum gue bunuh Tarzyn.


“Cih!”


Ramalan macam apa itu?!


Artinya gue ditakdirin untuk jadi penghancur di semua Hidden Dungeon yang gue kunjungin!


“Aku… telah menderita…”


Hm? Dia bisik apa—


“Dan selama ini… hanya ada luka di hatiku… selama ribuan tahun aku hidup…”


Jujur aja, gue paham sama yang dia rasain. Tapi—


“Aku sungguh kecewa denganmu, Pria Terjanji.”


“*Click…”


Dia… sentil apa—


“*FWUSHHHH!!!”


S-Si-Sialan…


B-Bahkan disentil dari jarak jauh aja… gue ngerasa kepala gue… hampir hilang…!


“*Boink…”


“Akh…!”


T-Tambah lagi… gue tiba-tiba… sesek nafas…!


“…”


“A-A-Aya… saki…!”


J-Jangan… pergi dulu…!


K-Kapten gue… B-Bocil Naga… mereka berdua… kangen sama lo…!


_______________


[1]Dialog dari Melchizedek, ketika Djinn menyaksikan masa lalunya di Principality of Kronovik, di mana Melchizedek diusir ke tumpukan sampah karena mabuk (Chapter 213).


[2]Kakak kembar dari Tarzyn, yang mendapat panggilan sebagai Dragon Hero. Ia juga sahabat Melchizedek yang ikut berpetualang bersamanya (Chapter 79).


[3]Kakak sulung dari Delolliah, Jennania, dan Nemesia, yang mendapat panggilan sebagai Ocean Witch.


Ia adalah sahabat kedua Melchizedek yang ikut berpetualang bersamanya (Chapter 183 & Chapter 211).


[4]Leluhur Djinn dan Luvast, yang menjadi sahabat pertama Melchizedek yang ikut bersamanya (Chapter 211).


[5]Dialog dari Kazedori Satoshi, ketika Ryūhime secara diam-diam mendengar percakapannya dengan Ayasaki (Chapter 352).


[6]Djinn membicarakan tentang Syllia yang membunuh seluruh Siren pria, sebagai bentuk hukumannya dari


Sakhtice karena menjalin asmara dengan Alfgorth (Chapter 212).