Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 349. Without His Permission



““*Ngunggg…””


“Sabar atuh ya, semuanya! Biar aing sembuhkeun!”


“T-Terima kasih banyak, Garry!”


“Tahan sedikit, Aniue!”


“Y-Ya…”


Garry langsung sembuhin tiga Beastfolk itu.


“*Puff…”


Terus Machinno balik lagi jadi normal.


“*Puink, puink, puink!”


“…”


Tapi kok dia langsung lompat ke kepala gue?


“Djinn… baik-baik saja?”


“Ya. Gue cuma kecapean aja.”


“…”


“Woy! Jangan kelamaan—”


“Syukurlah.”


Haaaaah…! Lagi-lagi dia lemot!


Tapi…


“No, makasih banyak ya.”


“…”


“…”


“Ya.”


…kalo nggak ada dia, mungkin kita udah kenapa-kenapa.


““Gaa! Gaa!””


“Baik. Sampai jumpa.”


Semua Bajing Loncat Aneh yang bantuin dia pergi dari sini.


Tapi dari antara kita semua, ada satu orang yang harus gue pastiin dulu.


Karena mau gimana pun, dia itu sebelumnya ada di pihak musuh. Walaupun gue yakin, kalo gue kenal orang ini.


“…”


Oh, dia mau ke sini?


Bagus, deh. Gue nggak perlu samperin dia.


“A-Anu…”


“Mm?”


“Lo itu… Djinn, bukan?”


Hah?! Kok dia tau gue—


“T-Tunggu, tunggu! Gue nggak ada maksud jahat!”


“Maksud lo—”


“Lo inget gue nggak?!”


“Gue sih kayak pernah liat lo. Tapi… emangnya kita pernah ketemu, ya?”


“Ini gue! Beastman yang ikut kabur dari Penampungan yang ada di Erviga Kingdom[1]!”


P-Penampungan?!


Tunggu, tunggu, tunggu…


“!!!”


Oh iya! Gue baru inget!


“Lo itu yang bantuin gue bareng Orc sama Dark Elf itu ke Calmisiu Village[2], ya]?!”


“Nah, iya! Itu gue! Gue yang waktu itu mau balik ke kampung halaman gue!”


“Maksudnya tempat ini?!”


“Bener banget! Hahahaha! Nggak nyangka ya kita ketemu lagi di sini!”


“Haha! Gue juga nggak nyangka kalo ketemu lo! Walaupun waktu ketemu kita harus—”


“Tunggu dulu, Djinn! Ada sesuatu yang harus gue jelasin tentang gue ke lo, khususnya ke mereka, anggota Perlawanan!”


“Yaudah. Kalo gitu, mending kita balik dulu aja ke mereka.”


“Ya!”


Akhirnya gue sama-sama balik bareng Beastman Monyet ini sama Machinno ke Garry sama yang lainnya.


Tapi sebelum kita sampe, ada yang pengen gue tanyain lagi ke dia… mungkin?


“S-Sebelumnya…”


“Hm?”


“N-Nama lo siapa, ya? Sorry gue lupa…”


“Haaaah?! Masa lupa, sih?! Nama gue Tsuruki! Jangan lupa dong sama nama gue!”


“Bawel! Gue udah kebanyakan ketemu orang! Wajar aja kalo gue lupa!”


“Hahaha! Santai aja, Djinn! Nggak perlu malu gitu, sampe merah muka lo!”


“Bawel lo, monyet!”


“Woy! Rasis banget!”


Sialan nih monyet! Bisa-bisanya dia—


“Tapi kalo gue perhatiin, lo keliatan beda dari yang pertama kali kita ketemu, Djinn.”


“M-Maksud lo…?”


“Lo yang sekarang tuh… gimana ya jelasinnya? Mungkin lebih berwarna daripada yang pertama kali gue liat?


Soalnya lo yang pertama kali gue liat tuh keliatan lebih suram, yang keliatannya nggak bersahabat. Mungkin lo yang sekarang… punya kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya?”


“…”


“Eh, maaf! Gue nggak ada maksud untuk—”


“Haha. Mungkin yang lo bilang ada benernya.”


Bukan mungkin ada benernya. Tapi emang bener banget.


Walaupun kehilangan Pak Jaya, Kak Eka, sama ibu, sekarang gue punya temen-temen yang habisin hari-harinya bareng gue. Mungkin karena mereka, gue jadi keliatan lebih beda daripada sebelumnya.


““…””


Akhirnya kita bertiga sampe di depan Garry sama tiga Beastfolk ini.


Tapi waktu kita sampe…


““*Shringgg…””


…tiba-tiba kita bertiga diarahin pake senjata sama Dua Kucing Bersaudara ini.


“Kenapa lo bawa Beastman itu, Djinn?!”


“Tenang aja. Gue kenal dia.”


“T-Tapi dia itu anggota Klan Ishisaru—”


“T-Tunggu! Biar gue jelasin ke kalian semua tentang gue, sekaligus tentang kondisi yang sebenernya ada di dalem Bakufu!”


““…””


Tsuruki jelasin ke kita semua, kalo dia itu sebenernya pernah lari dari Kumotochi, lantaran temennya diperlakuin nggak adil. Tapi waktu dia mau pergi, tiba-tiba dia ditangkep sama Lizardman yang kerja untuk Goldiggia[3].


“Makanya itu, gue rela balik ke klan najis itu, untuk latihan sekeras-kerasnya, supaya gue bisa bunuh Lizardman


i—”


“Hah…?”


“…”


Gue jelasin ke dia, kalo Lizardman dari Goldiggia itu udah mati dibunuh sesama Lizardman dari Serpentis[4].


“Jadi kalo niat lo balik cuma untuk dendam, sebenernya—”


“Bagus deh kalo gitu! Artinya gue punya lebih banyak alasan untuk tinggalin Klan Ishisaru atau Komisi Investigasi!”


Gue kira dia kesel karena nggak jadi balas dendam. Nggak taunya dia malah lebih seneng karena bisa tinggalin


klan-nya.


““…””


Kita lanjut simak cerita dari Tsuruki lagi.


Dia cerita, kalo sebenernya nggak ada satupun anggota Klan Ishisaru yang setuju sama Kepala Klan Ishisaru


untuk layanin Klan Kazedori, klan yang kuasain Bakufu.


Malahan…


“Mereka yang nggak setuju sama Kepala Klan harus rela untuk Seppuku?!”


“Ya. Sebenernya Kepala Klan Ishisaru sendiri juga nggak mau layanin Shogun. Tapi karena bilangnya “demi kebaikan Klan Ishisaru”, dia relain klan itu untuk sujud sembah semua Kitsune itu!


Padahal sebenernya, dia bisa lepas Klan Ishisaru dari Bakufu atau Komisi Investigasi! Tapi dia itu pengecut!


Karena menurutnya, Ronin itu nggak punya kehormatan!


Makanya dia rela untuk jilat kaki Bakufu! Bahkan dia rela untuk relain semua anggota klan atau anggota Komisi Investigasi untuk Seppuku!”


Seppuku.


Kalo nggak salah Seppuku itu upacara bunuh diri secara terhormat.


Ya kan, ya?


“Justru karena balik ke klan itu, gue terpaksa harus jalanin hukuman siksaan dari klan itu, terus gue dipaksa jadi prajurit yang investigasi keberadaan Ryūhime-sama. Tapi…”


“*Bruk!”


“…investigasi macem apa yang bahkan rela bunuh anak kecil?! Dasar Shogun nggak bertanggung jawab! Cuma karena kematian bapaknya, dia nggak peduli sama anggota Komisi yang tega bunuh warga yang ada di tempat ini! Bahkan kematian bapaknya itu belom tentu karena Ryūhime-sama!”


Dia keliatannya kesel banget, bahkan sampe pukul tanah kayak gitu.


“Selama ini… gue nggak bisa apa-apa, selain liat semua warga yang mereka tindas! Makanya itu… makanya itu—”


“Cukup. Saya nggak perlu dengar lebih jauh lagi.”


“Y-Ya.”


“…”


Kenapa Shinikichi nggak mau denger penjelasannya Tsuruki?


“Sejujurnya, saya masih nggak terima anda di tengah-tengah kami.”


“…”


“Tapi waktu saya lihat penyesalan anda, saya merasa kalau anda bukan orang yang berbahaya.”


Mungkin Shinikichi ngomong gitu. Tapi gimana respon Kucing Bersaudara ini?


“Sh-Shinikichi! Tapi orang ini—”


“Percaya aja dengan saya, Yukiari. Karena sebagai seorang Geki[5], saya bisa menilai seseorang dengan akurat.”


Geki…? Apaan, tuh—


“Baiklah. Kalau begitu, saya pergi dulu. kalau nggak ada yang mau ikut saya, kalian bisa kembali ke Markas


Besar Perlawanan.”


Loh! Kok kita serasa diusir—


“Tunggu! Lo mau kemana, Shinikichi?!”


“Saya sebenarnya sedang pergi ke Kochi Village untuk bantu warga yang ada di sana, sekalian ketemu seseorang yang saya kenal. Tapi selama perjalanan, saya diserang sama anggota Bakufu. Bahkan anggota Perlawanan yang jagain saya juga tertangkap. Untungnya saya bisa selamatin diri saya ke Kitakaze Village.”


Pantesan aja dia luka-luka begitu, waktu kita temuin dia—


“T-Tunggu, Shinikichi! Tapi anggota Perlawanan datang ke Kitakaze Village untuk selamatin kamu! Seharusnya


aku datang ke sini untuk bawa kalian ke—”


“Biarin aja, Nekomi. Sekarang kita ada bareng dia. Seharusnya kita bisa selamatin dia, untuk bantu warga desa yang ditindas Bakufu.”


“A-Artinya kita ikut dia ke Kochi Village, Aniue?”


“Ya. Mau nggak mau kita harus ikutin dia.”


“T-Terus mereka bertiga gimana, Aniue?! Teman-temannya khawatir sama mereka!”


““…””


Duh, kita bertiga udah diliatin, ya?


“Djinn, kita teh gimana?”


Hmmm…


Kalo Myllo ada di sini sih, pasti dia minta gue untuk ikut bareng mereka.


Tapi ada satu hal yang harus gue pastiin dulu, supaya mereka bertiga (Myllo, Gia, dan Dalbert) nggak khawatir.


“Kalo kita ikut kalian, kira-kira temen-temen gue bisa tau, nggak?”


“B-Bisa! Biar aku aja yang kabarin mereka!”


“OK, thanks.”


Haaaaah…


Andai aja kita semua punya Orb Call, supaya gampang kasih tau sesuatu ke satu sama lain, kalo di kondisi kayak gini.


Tapi sekalinya punya Orb Call, yang ada kita malah disadap!


((Shōkan Mahō: Ni-bi Neko))


“Meaw!”


Itu… ((Summon Magic)), kan?


“*Puink, puink, puink…”


“*Tap, tap, tap…”


“Kucing… lucu—”


“Nggak, nggak, nggak!”


“Tetapi—”


“Kucing itu bukan untuk diajak main! Kalo lo ajak main, bisa-bisa lo malah hilang lagi, Machinno!”


Emang harus dipegangin terus nih mahluk, supaya nggak berkeliaran kemana-mana!


“S-Sana! Pergi ke Hokutōkaze Village!”


“Meeeaaawww!”


“*Swush, swush, swush…”


Buset! Ternyata kucing itu juga bisa lompat dari pohon ke pohon!


“Bisa kita berangkat sekarang?”


“Yaudah. Pimpin jalan.”


“Baik.”


Akhirnya kita bertiga sama-sama ikutin Shinikichi ke Kochi Village.


Semoga aja, gue nggak salah ambil keputusan, tanpa ijin Myllo!


_______________


[1]Ketika Dwi Lukman masuk ke dalam Centra Geoterra dan pergi melarikan diri dari Penampungan milik Goldiggia, serta membebaskan seluruh tahanan di tempat tersebut.


[2]Djinn mendapatkan bantuan dari seorang Orc, seorang Dark Elf, dan Tsuruki, yang namanya ia lupakan (Chapter 3).


[3]Bon Kargal, yang merupakan Kakak Besar yang setia dengan Bjüddrox, pemimpin Goldiggia (Chapter 6).[4]Ketika Djinn melihat masa lalu Styx, ia menyaksikan Bon Kargal yang mati di tangan Moalkin, Striker Kasta Merah dari Serpentis Guild (Chapter 202).


[5]Seorang dukun pria, yang bekerja pada kuil-kuil tertentu. Sementara dukun wanita disebut Miko.