Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 44. The Collusion



Kembali ke Xia Village, pada malam hari.


“Ke…Kepala De—”


“Jangan ganggu beliau dulu! Dia masih nggak tenang


karena ada gangguan dari Orang Misterius itu!”


Sahut salah satu warga yang setia kepada Kepala Desa,


saat warga lainnya hendak mencari Kepala Desa yang bernama Derrek itu.


Sedangkan dari dalam ruangannya, Derrek berpikir keras


tentang siapa yang berani membebaskan dua Petualang yang hendak dieksekusi,


bersama dengan keponakannya yang bernama Phineas.


“Menurut kamu, siapa orang misterius itu, Phineas?”


“Saya tidak tahu, Paman.”


“Apakah mungkin orang tersebut ada kaitannya dengan


Petualang Pencuri dari 10 tahun yang lalu?!”


Tanya Derrek kembali kepada Phineas.


“Maksud anda, wanita yang bekerja di Dolscher Pub kala


itu, Paman?”


“Ya.”


“Menurut saya, hal tersebut terlalu mustahil, Paman. Orang


misterius itu tidak memiliki tanda-tanda kekuatan sama sekali. Ia terlalu


anggun untuk memiliki kekuatan seperti Petualang yang Paman maksud tadi.”


Jelas Phineas terkait perempuan yang sedang dibahas


oleh mereka berdua.


Namun, dengan wajahnya yang sedang pucat, tiba-tiba


Derrek batuk keras, bahkan keluar darah dari batuknya.


“Uhuk! Uhuk!”


“*Crat… (suara bercak darah)”


“Pa…Paman?!”


“Ti…Tidak apa-apa.”


Kata Derrek yang bertujuan untuk memadamkan kekhawatiran


Phineas.


“Biar saya ambilkam oba—”


“Tidak usah. Tolong tinggalkan ruangan ini, nak.”


“Tapi paman—”


“Sudah! Tenang saja, nak!”


“Bagaimana saya bisa tenang melihat pam—”


“*Brak! (suara memukul meja)”


“SAYA BILANG KELUAR!!! Uhuk, uhuk!”


“Ba…Baiklah, Paman!”


“*Brak! (suara membanting pintu)”


Phineas pun keluar dengan perasaaan kecewa dan geram


terhadap pamannnya.


“Cih! Dasar bocah tolol! Berlagak bagai


orang pintar, hingga ia bersikeras pada argumen yang salah terkait pelacur itu!”


Pikir Derrek terhadap Phineas.


Sambil berusaha meredam kekesalannya kepada Phineas,


Derrek pun melihat gambar dua anak kecil yang saling merangkul pada mejanya.


“Maafkan aku atas kekesalanku pada anakmu, Kakak.”


Bisik Derrek sambil melihat gambar tersebut.


Tidak lama kemudian, sebuah Orb Call yang berada pada


meja kecilnya berdering, pertanda bahwa ia menerima sebuah panggilan.


“…”


“Panggilan ini…jangan-jangan…”


Pikir Derrek sambil mengangkat Orb Call tersebut


dengan perasaan tidak enak.


“Salam revolusi dunia, Snake.”


“Salam revolusi dunia, Derrek. Atau mungkin saya


panggil…Kepala Desa?”


Jawab orang tersebut, yang tidak lain adalah Snake,


dalam bentuk proyeksi.


“Tidak usah seperti itu, Snake. Panggilah saya seperti


biasa. Di samping, saya tahu bahwa anda berusia lebih dari 100 tahun, yang


menandakan bahwa anda jauh lebih tua daripada saya.”


“Hahaha! Jika hanya umur yang anda ketahui, saya


tidak masalah, Derrek.”


Balas Snake setelah mendengar perkataan Derrek.


Ketika melihat wajah pucat Derrek, Snake tahu bahwa sedang


ada masalah yang menimpa Derrek.


“Sepertinya, anda sedang berada dalam masalah,


Derrek?”


“Ti…Tidak ada—”


“Hey, tidak usah sungkan-sungkan! Jika ada masalah,


mungkin saya bisa membantu anda, kawanku*!*”


Seru Snake.


Derrek pun menjelaskan permasalahan yang ada di


desanya kepada Snake dengan perasaan takut dan bersalah.


“Jadi, kira-kira seperti itu, Snake—”


“Hahaha!”


“Sn…Snake…?”


Derrek pun dibuat heran akan tawa ceria dari Snake.


“Me…Mengapa anda tertawa, Snake? Memangnya ada yang


lucu?”


“…”


“Jawab, Snake!”


Tegas Derrek yang melihat Derrek seperti meremehkan


keadaannya.


“Hey, Derrek.”


“…”


“Anda pikir anda siapa? Mengapa anda berani


meninggikan suara anda di hadapan saya?”


“!!!”


Derrek pun dibuat gemetar oleh Snake, yang awalnya


tertawa tidak karuan berubah menjadi dingin.


“Ah, maafkan saya, Derrek. Seharusnya itu bukan


permasalahan yang patut ditertawakan.”


“…”


Balas Snake sambil menundukkan kepala. Sedangkan


Derrek hanya bisa mengangguk karena takut dengannya.


“Menurut saya, biarkan saja, Derrek. Menurut


perkiraan saya, sepertinya mereka tidak akan kembali ke Xia Village.”


Jelas Snake yang menganalisa hal-hal kedepannya.


“Ti…Tidak akan kembali?”


“Tidak…sebelum mereka menemukan lokasi tempat para


Ghoul yang anda ternak berada.”


Lanjut Snake yang menjelaskan analisanya.


“Ti…Tidak mungkin! Artinya mereka sama saja bunuh


dir—”


“Sepertinya anda terlalu meremehkan mereka, Derrek.”


“…”


Derrek semakin bingung dengan penjelasan Snake.


“Derrek, apakah anda mengetahui kedua Petualang


tersebut?”


“Ti…Tidak.”


“Ya, sepertinya begitu. Karena berita yang tersiar


“A…Apa maksud anda, Snake? Saya semakin bingung…”


“…”


Snake pun memikirkan langkah terbaik untuk menjelaskan


kepada Derrek.


“Derrek, apakah anda tahu berita tentang Black


Guild yang bernama Goldiggia, yang secara resmi telah tertangkap?”


“Y…Ya, saya mengetahuinya.”


“Apa yang anda ketahui tentang berita tersebut?”


“Berita tersebut mengatakan, bahwa Duke Bismont


Louisson lah yang menjerat Black Guild tersebut.”


“Fufufufu…”


Snake hanya tersenyum kecil setelah Derrek menjawab


pertanyaannya.


“Mungkin bisa dikatakan bahwa Duke Louisson ikut


berpartisipasi dalam penangkapan Goldiggia. Namun, sebenarnya peran bangasawan


tersebut sangatlah minim.”


“Minim…?”


“Ya. Karena, tanpa dua Petualang tersebut, tidak


mungkin ada kebebasan bagi para tahanan yang tertangkap oleh Goldiggia.”


“!!!”


Derrek terkejut mendengar penjelasan dari Snake.


“Tu…Tunggu! A…Apa maksud anda, Snake?! Bagaimana anda


bisa tahu tentang peran dua Petualang itu?!”


“Anggap saja saya tahu dari sumber yang sangat saya


percayai.”


Jelas Snake.


Mendengar fakta yang dipaparkan oleh Snake membuat


Derrek berkucuran keringat dingin. Dan di saat yang bersamaan, ia teringat akan


perkataan Myllo…


“Nggak pake buah itu aja kita udah kuat untuk hajar


banyak Ghoul! Buat apa lagi buah kayak gitu?!”


…yang membuatnya semakin gemetar.


“Ja…Ja…Jangan-jangan, me…me…mereka benar-benar berani


melawan para Ghoul?!”


“Hm? Ada apa, Derrek?”


Derrek pun menjelaskan beberapa kejanggalan yang ia


rasakan, dimulai dari berkurangnya kedatangan Ghoul di Xia Village, sampai


kata-kata Myllo tentang dirinya yang melawan Ghoul bersama dengan Djinn.


“Hmm…sepertinya itu adalah hal yang sangat mungkin terjadi


jika kita membicarakan mereka berdua.”


Balas Snake setelah mendengar penjelasan Derrek.


“Jadi, anda sedang dihadapkan dengan dua Petualang


yang berpotensi menjadi sangat berbahaya. Tambah lagi, anda juga harus


memikirkan seseorang yang sangat mengidolakan mantan Leader Tingkat Merah,


Derrek.”


“Ma…Maksud anda…”


“Ya, Margia Maevin, atau yang dikenal dengan


Gia. Walaupun saya tidak tahu ‘cara bermain’ wanita itu, namun ia memiliki


potensi yang sama bahayanya dengan mereka berdua.”


“!!!”


Derrek sebenarnya sudah mewaspadai Gia, namun ia tetap


terkejut ketika Snake menyebut namanya, seakan ia mengetahui segalanya.


“Tenang saja, kawan. Saya mengusulkan saran yang


baik untuk langkah anda selanjutnya.”


Snake pun menjelaskan strateginya. yang tujuannya


untuk menghentikan pergerakan Myllo, Djinn, dan juga Gia.


“Ji…Jika seperti itu, bagaimana dengan warga saya,


Snake?!”


“Tenang saja. Mereka sudah biasa diteror selama 10


tahun. Pasti mereka tidak berani untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,


Derrek.”


Lanjut Snake ketika Derrek meragukan strateginya.


“Maaf, Derrek. Saya harus pergi terlebih dahulu


karena masih banyak yang harus saya urus, untuk evolusi dunia. Sekian


dan terima kasih, kawan.”


“…”


Snake yang tiba-tiba mematikan komunkasi antara mereka


berdua, membuat Derrek semakin putus asa.


“A…Apa maksud perkataannya tadi?! Apakah aku


harus—Tidak! Sebaiknya aku menjalankan saja apa yang sudah dipaparkannya.”


Bisik Derrek dengan tangan yang gemetar tidak karuan.


.......................


Di sisi lain, di dalam ruangan milik Snake.


“Haha! Anda sempat terlihat menyeramkan, Snake! Haha!”


Kata Gadlu setelah Snake selesai berkomunikasi dengan


Derrek.


“Hey, hey, hey, masa lo gak sadar, sih? Tadi itu cuma


akting, tau! Haha! Ya kan, Snake?”


Sahut Charvelle, sambil memainkan pisaunya.


“Hahaha! Tentu saja, Charvelle. Saya terpaksa


melakukan hal tersebut agar ia tetap menghormati saya saja.”


Balas Snake setelah melihat reaksi Galdu dan


Charvelle.


“…”


Klavak hanya diam tertegun melihat canda tawa mereka


bertiga.


“Cih! Dasar gila hormat! Siapa juga yang gak kesel


kalo ada yang lagi ketawa pas lagi genting-gentingnya?”


Pikir Klavak setelah mendengar perkataan Snake.


“Hm? Ada apa, Klav—”


“Nggak!”


Balas Klavak dengan dingin.


“Daripada kelamaan disini, mending lo kasih informasi


tentang pencarian orang yang gue minta, Snake!”


“Untuk itu…saya belum bisa menemukannya. Maafkan saya,


Klava—”


“Yaudah. Kalo masih belom ada, gue pergi aja dulu dari


sini!”


“*Brak! (suara membanting pintu)”


Tegas Klavak sembari pergi dari ruangan itu.


Melihat Klavak yang begitu ketus, Gadlu heran dan


bertanya kepada Snake.


“Snake, Mermaid itu kenapa galak banget, ya?”


“Sepertinya karena ia sedang berlomba dengan waktu.”


“Berlomba dengan waktu?”


“Ya, sebelum terjadi apa-apa pada orang yang begitu ia


hormati.”


Jelas Snake terkait pertanyaan Gadlu.


“Ayo, Djinnardio. Apa yang akan anda lakukan


selanjutnya? Apakah anda memiliki kualifikasi sebagai raja? Atau mungkin lebih dari itu?”


Pikir Snake yang penasaran akan langkah Djinn


selanjutnya.