
Loh…
Kok gue…ada di ruang kosong ini?
Bukannya gue tadi berhasil pukul
Tarzyn, ya?
Kenapa malah jadi balik ke tempat
ini…?
………………
“Kau telah terlahir di dunia ini!
Kau akan dikenal sebagai Tarzyn! Engkau akan mewarisi Tubuh dari Dewa Agung
Arkhataz!”
Hah?! Gue ada di mana?!
Haaah…gue masih belom biasa
pindah tempat kayak gini!
Tapi… gue lagi liat sejarah dari
Tarzyn, ya?
“Kalian adalah kandidat dari
separuh Jiwa yang diciptakan oleh Dewa Agung Arkhataz. Kalian lah yang akan
memimpin semua Fire Dragon di Geoterra.”
Kayaknya…itu waktu dia masih
kecil, deh. Walaupun bentuk badannya kayak Manusia, gue bisa ngenalin dia
karena sempet lawan dia yang bentuk Manusia.
Tapi sebelahnya siapa?
……………
“Tarzyn, aku heran.”
Ah! Pindah tempat lagi!
Kayaknya sih…sekarang udah satu atau
dua tahun kemudian.
“Apa yang membuatmu heran,
Flamiza?”
Uhm…kok gue pernah denger
namanya, ya?
“Jika peperangan antar Naga dan
Mahluk Abadi lainnya bisa membuat kekacauan besar seperti ini, bagaimana nasib Mahluk
Fana lainnya?”
“Kau benar juga, Flamiza.”
Buset…
Itu…gunung yang hancur…?
Kalo nggak salah, Winona pernah
bilang Dragon War, ya?
Gila banget efek perangnya.
……………
“Flamiza! Mengapa kau
meninggalkanku?!”
Sekarang mereka berdua
keliatannya udah dewasa…
Oh iya!
Dia itu cewek yang mimpin Naga,
yang gue liat waktu di ruangan itu!
Pas udah gede, gue baru ngeh siapa dia!
“Aku lelah dengan pertikaian Kaum
Naga, Tarzyn.”
“A…Akan tetapi, kau adalah
kandidat terkuat untuk memimpin kami—”
“Aku mencintai Kaum Naga, akan
tetapi aku juga mencintai Mahluk Fana! Apa pantas mereka dijadikan Dragonewt
seperti itu?!”
“A…Aku paham! Namun, tanpamu—”
“Tenang saja, adik kembar
kesayanganku. Aku percaya, bahwa kau bisa menjadi Raja yang bijaksana!”
Oh! Tarzyn tuh adek kembarnya
cewek ini?! Artinya…Flamiza itu Naga, dong?!
……………
“Para Iblis sudah semakin brutal!
Bahkan sanak saudara kita menjadi korban dari mereka!”
Eh! Berubah lagi tempatnya!
“Yang Mulia, apa yang harus
kita—”
“Satukan kekuatan kita dengan
penduduk dunia ini, termasuk Ice Dragon Queen dan Earth Dragon Lord!”
“A…Apa?!”
“Mengapa kita—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Urgh…”
“Berani kalian membantah
perintah-Ku?!”
Oh, sekarang dia udah jadi raja
di situasi ini…
“Jadi…”
“Biarkan Flamiza memimpin kalian
selama berperang melawan Iblis! Selamatkan dunia ini sebelum semuanya
berakhir!”
“Baik, Yang Mulia!”
Oh makanya itu Flamiza mimpin
para Naga ya waktu gue liat i—
“Yang Mulia.”
“…”
“Sebelum saya ikut berperang
melawan para Iblis, saya mohon agar Anda menamai dua bayi ini, Yang Mulia.”
Eh?! Ada yang sampe harus
ninggalin anaknya yang masih dalem telor?! Kasian banget Naga perempuan itu.
“Baiklah, Aku akan menamai Göhran,
yang memiliki arti kelembutan hati, dan Rakhzar, yang berarti mental
baja.”
Ja…Jadi dia yang namain mereka
berdua?!
……………
“Flamiza…hiks…”
Situasinya jadi berubah lagi.
Kali ini ada Tarzyn lagi nopang
Flamiza yang kayaknya udah meninggal.
Tapi di belakang dia ada…
“Tarzyn—”
“Jelaskan kepada saya…”
…Melchizedek.
“Jelaskan. Apakah pertumpahan
darah ini telah berakhir?”
“Mungkin sudah berakhir untuk
ratusan tahun. Tapi konflik tidak akan pernah hilang dari kita,
penduduk dunia ini, Tarzyn.”
Bener sih.
Gue pun heran kenapa selalu ada
konflik, walaupun nggak begitu tau tentang situasi di dunia lama gue.
“Saudari kembarku hanya ingin
kedamaian saja.”
“Aku tahu itu—”
“Tolong sebutkan kepadaku. Apa
yang harus Kuperbuat untuk menghambat kedatangan konflik, Melchizedek?”
“…”
Kenapa Melchizedek gertakin
giginya kayak gitu? Kesannya kayak dia nahan sesuatu untuk diungkapin.
“Aku…sedang merancang sesuatu.
Namun, kau hanya akan merasakan kesengsaraan jika terlibat denganku.”
“Tidak apa-apa! Aku menyesal
tidak ada untuk Flamiza ketika ia bersusah payah meraih cita-cita mulianya!
Izinkanlah Aku masuk dalam rencanamu, Melchizedek!”
“Ba…Baiklah. Aku telah berdiskusi
dengan Dewa dan Dewi. Akan tiba saatnya seseorang yang menjadi Pilar baru bagi dunia ini. Aku mohon agar kau menjaga tempat yang akan kuciptakan
untuk orang itu kelak ia datang, Tarzyn.”
“Dimanakah tempat itu?”
“Tempat itu adalah wilayah di
luar Geoterra yang kukelola khusus dengan Sihir Ruang dan Waktu yang berasal dari
kekuatan Para Dewa.
Kelak tempat itu akan dikenal
dunia sebagai lokasi keberadaan senjata yang digunakan rekan-rekanku.
mengetahui bahwa ada sejarah terlupakan dan kekuatan besar yang tersedia hanya untuknya.”
Apa mungkin orang yang diomongin
Melchizedek itu…gue?
……………
“Anak-Ku.”
“Ha…Hamba sujud dihadapan-Mu
setelah sekian lama, wahai Dewa-Ku.”
Ini tuh…ingetan dia di mana?
Kok tiba-tiba ada dewa yang gue
liat waktu di dalem Hidden Dungeon?
Siapa namanya? Arkhataz, ya?
“Aku yakin Kau lelah menjaga
Hidden Dungeon selama ribuan tahun. Maka dari itu, Aku berkata kepada-Mu:
Istirahatlah, Anak-Ku.”
Karena dibilang dewa itu, makanya
Jiwa dia disegel, kan?
……………
“Kau benar.”
“Hah?!”
Kenapa sekarang gue ada di ruang
kosong waktu gue pingsan? Tambah lagi, ada Tarzyn di depan gue.
“Karena kau berada di dalam
pikiran-Ku, Pria Terjanji.”
“Ini bukan di dalem pikiran gu—”
“…”
Eh?! Kok dia berlutut?!
“Terima kasih. Kau telah melepas
tanggung jawab-Ku.”
“Tanggung jawab?”
“Ya. Sesuai dengan masa lalu-Ku
yang Kau lihat dengan Mata-Mu, Aku memberanikan diri-Ku untuk menjaga Hidden
Dungeon. Namun, beribu-ribu tahun Aku tidak merasakan kebebasan. Bahkan
Naga-Naga yang ikut bersama Aku masuk ke dalam tempat itu hanya tersisa Göhran
dan Rakhzar saja yang masih hidup.”
“Makanya itu lo disegel Jiwa-nya,
ya?”
“Benar. Aku hanya takut akan
Jiwa-Ku menjadi sangat buas ketika ada yang membuka segel tersebut. Tidak
Kusangka hanya butuh kurang dari satu abad sampai ada yang berusaha
membukanya.”
“Tiga Dragonewt itu…lo kenal?”
“Aku tidak mengenalnya secara
langsung. Namun, Aku mengerti motif mereka yang menyembah Kami, Para Naga.
Kami membuka tangan bagi mereka
yang membutuhkan pertolongan, maka mereka pun kami jadikan prajurit yang secara
tidak langsung Kami korbankan di dalam peperangan.”
“Ujung-ujungnya mereka cuma bisa
lari ke yang mereka sembah, karena mereka nggak punya pilihan lain, ya?”
“Kau benar. Maka dari itu, jika Kau
menghentikannya, Aku mohon bukan dengan niat untuk menghukum karena
kejahatannya, melainkan untuk membebaskannya dari penderitaan yang
mereka terima.”
“Maksudnya?”
“Seperti Kau yang hendak
menghentikan-Ku. Aku tidak merasakan adanya amarah dan kebencian dari pada-Mu.
Hanya ada rasa kasihan dan kesedihan dari-Mu yang Kurasakan.”
“…”
Sebenernya gue kasian karena dia
kehilangan orang yang dia sayang, yang abis itu ditiban tanggung jawab
yang dia pikul karena orang yang dia sayang itu.
Agak mirip sama Kak Eka yang
pesen ke gue untuk jaga ibu. Dia ngerasa harus jaga Hidden Dungeon karena dia
merasa bersalah waktu kakak kembarnya mati.
“Sekali lagi Aku ucapkan terima
kasih, Dwi Lukman.”
“Hah?! Lo tau gue?!”
“Aku merasakan adanya Kekuatan
Ruang dan Waktu yang menyentuh-Ku. Dengan rasa penasaran, Aku pun melihat masa
lalu dari sumber kekuatan tersebut.”
“Sumber kekuatan…?”
“Ya, sumber kekuatan itu berasal
dari Engkau, Dwi Lukman.”
Gue punya…kekuatan Ruang dan
Waktu…?
“Dwi Lukman.”
“Panggil aja Djinn.”
“Baiklah, Djinn. Jika Kau kembali
dari ruang ini, maka Aku mohon agar kiranya Kau menusuk Jiwa-Ku dengan Ark
Blade.”
“Ark Blade? Maksudnya…ini?”
“Ya. Gunakanlah pedang itu untuk
menyerap Jiwa-Ku.”
“Diserap?! Bukannya Jiwa itu—”
“Tenang saja. Sebelum Jiwa-Ku
tersegel, Aku telah memasukkan sedikit salinan Roh-Ku yang Kubentuk dengan
sihir-Ku.”
Wah…
Bisa gitu dong…
“Kelak, salinan Roh-Ku akan
membimbing calon pengguna Jiwa yang buas itu. Maka dari itu…”
“Hm?”
“Aku mohon agar kiranya Kau bisa
memilih calon pemegang Jiwa-Ku dengan bijaksana.”
Jadi gue yang harus milih calon
pemegang Jiwa-nya ya?
“Kalo untuk gue sendiri, gimana?”
“Hahahaha! Aku yakin kau tidak
membutuhkan itu, bukan?”
“Ahahaha, lo bener juga sih.”
Eh, kok kakinya Tarzyn…jadi debu
gitu?
“Sepertinya waktu kita telah
habis, Djinn—”
“Tunggu!”
“Hm?”
“A…Ada pesen gak untuk Göhran
sama Rakhzar?!”
“Hahahaha! Sepertinya pesan-Ku
cukup sederhana. Semoga mereka bisa beradaptasi dan berinteraksi dengan Mahluk
Intelektual di Geoterra.”
“Hmm!”
Gue cuma bisa senyum aja denger
pesan dia, abis itu kita salaman.
“Senang mengenal dan berbicara
dengan-Mu, Djinn.”
“Ya. Gue juga, Tarzyn.”
……………
Semenjak kita berdua salaman,
tiba-tiba gue balik lagi ke di momen waktu gue mau pukul Wujud Naga-nya Tarzyn.
“*JGRUMMM!!! (suara pukulan petir
yang sangat keras)”
Pelan-pelan, gue bisa liat…
““Roooaaaarrr!!!””
““Raaaarrr!!!””
…Naga-Naga yang dia panggil jadi
pada mencar kemana-mana.
Masalahnya sekarang…
“*SWUSH! (suara terjun dari
langit)”
““(Djinn!!!)””
…gue terlalu cepet terjun ke
bawah!