Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 86. His True Nature



Loh…


Kok gue…ada di ruang kosong ini?


Bukannya gue tadi berhasil pukul


Tarzyn, ya?


Kenapa malah jadi balik ke tempat


ini…?


………………


“Kau telah terlahir di dunia ini!


Kau akan dikenal sebagai Tarzyn! Engkau akan mewarisi Tubuh dari Dewa Agung


Arkhataz!”


Hah?! Gue ada di mana?!


Haaah…gue masih belom biasa


pindah tempat kayak gini!


Tapi… gue lagi liat sejarah dari


Tarzyn, ya?


“Kalian adalah kandidat dari


separuh Jiwa yang diciptakan oleh Dewa Agung Arkhataz. Kalian lah yang akan


memimpin semua Fire Dragon di Geoterra.”


Kayaknya…itu waktu dia masih


kecil, deh. Walaupun bentuk badannya kayak Manusia, gue bisa ngenalin dia


karena sempet lawan dia yang bentuk Manusia.


Tapi sebelahnya siapa?


……………


“Tarzyn, aku heran.”


Ah! Pindah tempat lagi!


Kayaknya sih…sekarang udah satu atau


dua tahun kemudian.


“Apa yang membuatmu heran,


Flamiza?”


Uhm…kok gue pernah denger


namanya, ya?


“Jika peperangan antar Naga dan


Mahluk Abadi lainnya bisa membuat kekacauan besar seperti ini, bagaimana nasib Mahluk


Fana lainnya?”


“Kau benar juga, Flamiza.”


Buset…


Itu…gunung yang hancur…?


Kalo nggak salah, Winona pernah


bilang Dragon War, ya?


Gila banget efek perangnya.


……………


“Flamiza! Mengapa kau


meninggalkanku?!”


Sekarang mereka berdua


keliatannya udah dewasa…


Oh iya!


Dia itu cewek yang mimpin Naga,


yang gue liat waktu di ruangan itu!


Pas udah gede, gue baru ngeh siapa dia!


“Aku lelah dengan pertikaian Kaum


Naga, Tarzyn.”


“A…Akan tetapi, kau adalah


kandidat terkuat untuk memimpin kami—”


“Aku mencintai Kaum Naga, akan


tetapi aku juga mencintai Mahluk Fana! Apa pantas mereka dijadikan Dragonewt


seperti itu?!”


“A…Aku paham! Namun, tanpamu—”


“Tenang saja, adik kembar


kesayanganku. Aku percaya, bahwa kau bisa menjadi Raja yang bijaksana!”


Oh! Tarzyn tuh adek kembarnya


cewek ini?! Artinya…Flamiza itu Naga, dong?!


……………


“Para Iblis sudah semakin brutal!


Bahkan sanak saudara kita menjadi korban dari mereka!”


Eh! Berubah lagi tempatnya!


“Yang Mulia, apa yang harus


kita—”


“Satukan kekuatan kita dengan


penduduk dunia ini, termasuk Ice Dragon Queen dan Earth Dragon Lord!”


“A…Apa?!”


“Mengapa kita—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Urgh…”


“Berani kalian membantah


perintah-Ku?!”


Oh, sekarang dia udah jadi raja


di situasi ini…


“Jadi…”


“Biarkan Flamiza memimpin kalian


selama berperang melawan Iblis! Selamatkan dunia ini sebelum semuanya


berakhir!”


“Baik, Yang Mulia!”


Oh makanya itu Flamiza mimpin


para Naga ya waktu gue liat i—


“Yang Mulia.”


“…”


“Sebelum saya ikut berperang


melawan para Iblis, saya mohon agar Anda menamai dua bayi ini, Yang Mulia.”


Eh?! Ada yang sampe harus


ninggalin anaknya yang masih dalem telor?! Kasian banget Naga perempuan itu.


“Baiklah, Aku akan menamai Göhran,


yang memiliki arti kelembutan hati, dan Rakhzar, yang berarti mental


baja.”


Ja…Jadi dia yang namain mereka


berdua?!


……………


“Flamiza…hiks…”


Situasinya jadi berubah lagi.


Kali ini ada Tarzyn lagi nopang


Flamiza yang kayaknya udah meninggal.


Tapi di belakang dia ada…


“Tarzyn—”


“Jelaskan kepada saya…”


…Melchizedek.


“Jelaskan. Apakah pertumpahan


darah ini telah berakhir?”


“Mungkin sudah berakhir untuk


ratusan tahun. Tapi konflik tidak akan pernah hilang dari kita,


penduduk dunia ini, Tarzyn.”


Bener sih.


Gue pun heran kenapa selalu ada


konflik, walaupun nggak begitu tau tentang situasi di dunia lama gue.


“Saudari kembarku hanya ingin


kedamaian saja.”


“Aku tahu itu—”


“Tolong sebutkan kepadaku. Apa


yang harus Kuperbuat untuk menghambat kedatangan konflik, Melchizedek?”


“…”


Kenapa Melchizedek gertakin


giginya kayak gitu? Kesannya kayak dia nahan sesuatu untuk diungkapin.


“Aku…sedang merancang sesuatu.


Namun, kau hanya akan merasakan kesengsaraan jika terlibat denganku.”


“Tidak apa-apa! Aku menyesal


tidak ada untuk Flamiza ketika ia bersusah payah meraih cita-cita mulianya!


Izinkanlah Aku masuk dalam rencanamu, Melchizedek!”


“Ba…Baiklah. Aku telah berdiskusi


dengan Dewa dan Dewi. Akan tiba saatnya seseorang yang menjadi Pilar baru bagi dunia ini. Aku mohon agar kau menjaga tempat yang akan kuciptakan


untuk orang itu kelak ia datang, Tarzyn.”


“Dimanakah tempat itu?”


“Tempat itu adalah wilayah di


luar Geoterra yang kukelola khusus dengan Sihir Ruang dan Waktu yang berasal dari


kekuatan Para Dewa.


Kelak tempat itu akan dikenal


dunia sebagai lokasi keberadaan senjata yang digunakan rekan-rekanku.


mengetahui bahwa ada sejarah terlupakan dan kekuatan besar yang tersedia hanya untuknya.”


Apa mungkin orang yang diomongin


Melchizedek itu…gue?


……………


“Anak-Ku.”


“Ha…Hamba sujud dihadapan-Mu


setelah sekian lama, wahai Dewa-Ku.”


Ini tuh…ingetan dia di mana?


Kok tiba-tiba ada dewa yang gue


liat waktu di dalem Hidden Dungeon?


Siapa namanya? Arkhataz, ya?


“Aku yakin Kau lelah menjaga


Hidden Dungeon selama ribuan tahun. Maka dari itu, Aku berkata kepada-Mu:


Istirahatlah, Anak-Ku.”


Karena dibilang dewa itu, makanya


Jiwa dia disegel, kan?


……………


“Kau benar.”


“Hah?!”


Kenapa sekarang gue ada di ruang


kosong waktu gue pingsan? Tambah lagi, ada Tarzyn di depan gue.


“Karena kau berada di dalam


pikiran-Ku, Pria Terjanji.”


“Ini bukan di dalem pikiran gu—”


“…”


Eh?! Kok dia berlutut?!


“Terima kasih. Kau telah melepas


tanggung jawab-Ku.”


“Tanggung jawab?”


“Ya. Sesuai dengan masa lalu-Ku


yang Kau lihat dengan Mata-Mu, Aku memberanikan diri-Ku untuk menjaga Hidden


Dungeon. Namun, beribu-ribu tahun Aku tidak merasakan kebebasan. Bahkan


Naga-Naga yang ikut bersama Aku masuk ke dalam tempat itu hanya tersisa Göhran


dan Rakhzar saja yang masih hidup.”


“Makanya itu lo disegel Jiwa-nya,


ya?”


“Benar. Aku hanya takut akan


Jiwa-Ku menjadi sangat buas ketika ada yang membuka segel tersebut. Tidak


Kusangka hanya butuh kurang dari satu abad sampai ada yang berusaha


membukanya.”


“Tiga Dragonewt itu…lo kenal?”


“Aku tidak mengenalnya secara


langsung. Namun, Aku mengerti motif mereka yang menyembah Kami, Para Naga.


Kami membuka tangan bagi mereka


yang membutuhkan pertolongan, maka mereka pun kami jadikan prajurit yang secara


tidak langsung Kami korbankan di dalam peperangan.”


“Ujung-ujungnya mereka cuma bisa


lari ke yang mereka sembah, karena mereka nggak punya pilihan lain, ya?”


“Kau benar. Maka dari itu, jika Kau


menghentikannya, Aku mohon bukan dengan niat untuk menghukum karena


kejahatannya, melainkan untuk membebaskannya dari penderitaan yang


mereka terima.”


“Maksudnya?”


“Seperti Kau yang hendak


menghentikan-Ku. Aku tidak merasakan adanya amarah dan kebencian dari pada-Mu.


Hanya ada rasa kasihan dan kesedihan dari-Mu yang Kurasakan.”


“…”


Sebenernya gue kasian karena dia


kehilangan orang yang dia sayang, yang abis itu ditiban tanggung jawab


yang dia pikul karena orang yang dia sayang itu.


Agak mirip sama Kak Eka yang


pesen ke gue untuk jaga ibu. Dia ngerasa harus jaga Hidden Dungeon karena dia


merasa bersalah waktu kakak kembarnya mati.


“Sekali lagi Aku ucapkan terima


kasih, Dwi Lukman.”


“Hah?! Lo tau gue?!”


“Aku merasakan adanya Kekuatan


Ruang dan Waktu yang menyentuh-Ku. Dengan rasa penasaran, Aku pun melihat masa


lalu dari sumber kekuatan tersebut.”


“Sumber kekuatan…?”


“Ya, sumber kekuatan itu berasal


dari Engkau, Dwi Lukman.”


Gue punya…kekuatan Ruang dan


Waktu…?


“Dwi Lukman.”


“Panggil aja Djinn.”


“Baiklah, Djinn. Jika Kau kembali


dari ruang ini, maka Aku mohon agar kiranya Kau menusuk Jiwa-Ku dengan Ark


Blade.”


“Ark Blade? Maksudnya…ini?”


“Ya. Gunakanlah pedang itu untuk


menyerap Jiwa-Ku.”


“Diserap?! Bukannya Jiwa itu—”


“Tenang saja. Sebelum Jiwa-Ku


tersegel, Aku telah memasukkan sedikit salinan Roh-Ku yang Kubentuk dengan


sihir-Ku.”


Wah…


Bisa gitu dong…


“Kelak, salinan Roh-Ku akan


membimbing calon pengguna Jiwa yang buas itu. Maka dari itu…”


“Hm?”


“Aku mohon agar kiranya Kau bisa


memilih calon pemegang Jiwa-Ku dengan bijaksana.”


Jadi gue yang harus milih calon


pemegang Jiwa-nya ya?


“Kalo untuk gue sendiri, gimana?”


“Hahahaha! Aku yakin kau tidak


membutuhkan itu, bukan?”


“Ahahaha, lo bener juga sih.”


Eh, kok kakinya Tarzyn…jadi debu


gitu?


“Sepertinya waktu kita telah


habis, Djinn—”


“Tunggu!”


“Hm?”


“A…Ada pesen gak untuk Göhran


sama Rakhzar?!”


“Hahahaha! Sepertinya pesan-Ku


cukup sederhana. Semoga mereka bisa beradaptasi dan berinteraksi dengan Mahluk


Intelektual di Geoterra.”


“Hmm!”


Gue cuma bisa senyum aja denger


pesan dia, abis itu kita salaman.


“Senang mengenal dan berbicara


dengan-Mu, Djinn.”


“Ya. Gue juga, Tarzyn.”


……………


Semenjak kita berdua salaman,


tiba-tiba gue balik lagi ke di momen waktu gue mau pukul Wujud Naga-nya Tarzyn.


“*JGRUMMM!!! (suara pukulan petir


yang sangat keras)”


Pelan-pelan, gue bisa liat…


““Roooaaaarrr!!!””


““Raaaarrr!!!””


…Naga-Naga yang dia panggil jadi


pada mencar kemana-mana.


Masalahnya sekarang…


“*SWUSH! (suara terjun dari


langit)”


““(Djinn!!!)””


…gue terlalu cepet terjun ke


bawah!