Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 397. The Fox's Childhood



“Huuuufffttt!!! Uhuk, uhuk, uhuk!”


G-Gila! Gue dibikin sesek nafas sama petir yang tiba-tiba nyamber hidung gue!


Di Erviga, petirnya nyamber mata gue! Di Postriard, petirnya nyamber kuping gue! Sekarang petirnya nyamber hidung gue?!


Gila aja kali lo, Melchizedek! Kenapa gue harus disamber—


“*Brak!”


“Keterlaluan…! Dari semua Kitsune yang Kulindungi, mengapa Aku harus kehilanganmu, istri-Ku?!”


“J-Janganlah bersedih, sayangku. Kau adalah Shogun. Jika Kau melemah karena kehilanganku, siapakah yang akan menjaga Klan Kazedori dan anak-anak kita?”


“…”


Oh, ternyata ini memori tentang Ayasaki waktu masih kecil.


Buktinya ada dia bareng… siapa tuh ya?


Mungkin bapaknya Tetsuo kali ya?


“Ayasaki-chan. Satoshi-kun. Kemarilah. Biarkan ayahmu menghabiskan waktu terakhir bersama ibu kalian.”


““Baik, Oba-chan.””


Oba-chan?


Oh! Itu tantenya!


“Oba-chan…”


“Ada apa, Satoshi-kun?”


“Apakah ibu akan pergi meninggalkan kita semua?”


“Ya. Ibu kalian adalah wanita yang sangat kuat ketika berperang, baik dengan Klan Kitsune lainnya, maupun


dengan Kaum Wind Dragon.”


Klan Kitsune lainnya?!


Tunggu…


Kalo dipikir-pikir lagi, kenapa Kaum Kitsune cuma ada Klan Kazedori aja?


Apa mungkin klan lainnya udah pada hancur, sehabis Hari Penghakiman?


“Tetapi melihat kondisi ibu saat ini, sepertinya ia sudah tidak kuat, seperti yang Oba-chan katakan…”


“…”


Hm? Kenapa tantenya gemeteran?


“Ayasaki-chan, Satoshi-kun, apakah kalian siap mendengar apa yang akan Oba-chan katakan?”


““Hmm.””


“Ibu kalian sangatlah mencintai ayah kalian. Ia rela menanggalkan kehidupannya, agar kalian berdua tercipta di dunia ini.”


Hah?


“A-Aku tidak mengerti, Oba-chan.”


“Aku juga.”


“…”


Dia diem lagi. Yang mau dia kasih tau kesannya kayak berat banget untuk diungkapin.


“Apakah kalian tahu, bahwa kita, Kaum Kitsune, adalah Mahluk Abadi?”


““Kami tahu, Oba-chan.””


“Ketika Dua Mahluk Abadi bertemu, mereka akan memiliki anak. Tetapi menciptakan Mahluk Abadi membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Oleh… O-Oleh karena itu…”


““…””


“…ibu kalian berdua… merelakan energi kehidupannya dan kapasitas Jiwa-nya… agar kalian berdua terlahir di dunia ini, setelah ia menerima sebagian besar kehidupan dari ayah kalian. Dengan lahirnya kalian berdua… ajalnya sudah dekat. Begitu pula dengan ayah kalian.”


““!!!””


Berarti kalo dua Mahluk Abadi kawin, mereka udah nggak abadi, dong?!


Cih! Gue nggak tau harus ngomong apa!


Menurut gue, lebih wajar kalo mereka hidupnya nggak abadi! Belom tentu juga mereka semua mau hidup selama-lamanya!


Tapi, kenapa juga mereka harus mati, waktu mereka punya anak?!


“B-Berarti… karena kami… ibu—”


“Tidak, Ayasaki-chan!”


“*Phuk…”


“Daripada menyalahkan dirimu, alangkah baiknya jika engkau bersyukur karena mimiliki ibu yang baik, yang


merelakan dirinya demi kedua anaknya!”


“O-Oba-chan…”


“Tenanglah, Ayasaki-chan! Satoshi-kun! Setidaknya Oba-chan masih ada di sini untuk menemani kalian! Kalian juga masih memiliki anak Oba-chan dan Miyako-nēsama, yang akan menemani kalian!”


Pantes aja Miyako nyantai banget manggil Ayasaki! Nggak kayak yang lain, yang harus sujud kalo ketemu dia—


……………


“*Tuk!”


“Urgh…”


Aaaaargh! Kenapa gue selalu nggak siap kalo ganti siaran?!


“Seratus sembilan puluh sembilan!”


“*Tuk!”


“Dua ratus!”


“*Tuk!”


“Huff! Huff! Huff!”


Eh! Itu kan adeknya Ayasaki!


Kok di siaran ini… dia tiba-tiba dipukul gitu punggungnya?!


Apa jangan-jangan dia lagi dihukum?!


“Satoshi. Apakah kau mengetahui kesalahanmu?”


“A-Aku… kalah… ketika menghadapi salah seorang Samurai dari Klan Akahonō… ayah—”


“*DHUMMMMMM……”


“Apakah kau sedang berbicara dengan ayahmu, Satoshi?!”


“M-Maafkan hamba, Shogun-sama! Hamba kalah ketika menghadapi anggota Klan Akahonō, Shogun-sama!”


G-Gila nih orang! Kok anaknya diperlakuin kayak prajurit?!


Gue kira dia dihukum karena ngelanggar sesuatu! Ternyata dihukum karena kalah?!


Tambah lagi, dia harus ngeluarin aura sebesar itu supaya anaknya takut?!


Sialan!


Nggak gue doang! Nggak Syllia sama adek-adeknya doang! Ternyata Ayasaki sama adeknya juga sama-sama punya bapak biadab!


“Jika kau selemah itu, bagaimana kau mau memimpin Kazedori Bakufu, Satoshi?! Bahkan Ayasaki lebih kuat


daripadamu!”


“M-Maafkan hamba, Shogun-sama.”


“…”


Ada bayangan dua Kitsune dari luar?


Siapa tuh yang di luar?


Mending gue keluar aja deh, daripada makan ati di sini!


“Cih! Dasar pria bajingan! Ia tidak layak kusebut ayah—”


“Hentikan bicaramu, Ayasaki-chan!”


“Oba-chan! Tidakkah ia memiliki perasaan?! Bagaimana ia menghukum anaknya sendiri karena kalah?!”


Makasih banyak, Ayasaki! Ternyata lo juga berpikiran yang sama kayak gue!


“Ayah macam apa yang—”


“Oba-chan mengerti dengan apa yang kau rasakan, Ayasaki-chan. Ia sangat berubah setelah kematian ibumu. Mungkin itulah yang membuatnya menjadi lebih keras terhadap kalian, agar kalian siap untuk memimpin Kazedori Bakufu, kelak ia pergi meninggalkan dunia ini.”


“A-Aku juga mengerti, Oba-chan! Tetapi—”


“Bersabarlah sedikit, Ayasaki-chan. Oba-chan selalu ada di sini menemanimu dan Satoshi-kun. Jika kalian sedang bersedih, bersandarlah pada pundak Oba-chan dan ceritakanlah keluh kesah kalian.”


“Terima kasih, Oba-chan! Walaupun kami kehilangan ibu, tetapi aku merasa bersyukur karena ada Oba-chan yang berada di tengah-tengah kami, sebagai ibu kami!”


“Sama-sama, Ayasaki-chan. Ini sudah menjadi tanggung jawab Oba-chan sebagai adik dari ibu kalian.”


Untung aja mereka berdua punya tante yang baik kayak dia. Jadinya mereka—


……………


“Apa kau bilang?! Menikahkannya dengan Calon Shogun dari Klan Aomizu?!”


Eh! Sialan! Ganti lagi siarannya—


“Ya. Demi memperkuat klan kita untuk menghadapi Klan Akahonō yang menyatu dengan Klan Kiirotsuchi, maka Aku akan berbuat hal yang sama, dengan menikahkan Ayasaki dengan Calon Shogun dari Klan Aomizu! Ini semua sudah sesuai dengan para Leluhur Klan kita!”


Gila nih orang ya?!


Emangnya ada masalah apa sih sama Klan Akahonō?! Bisa-bisanya dia seenaknya jodohin anaknya sendiri!


“Keterlaluan! Tidak akan kubiarkan dirinya menikah di luar keinginannya—”


“Aku adalah Shogun! Ayasaki adalah anak-Ku! Aku berkuasa atasnya! Tidak akan kubiarkan dirinya—”


“Hentikan bicara-Mu, Kazedori Takeshi! Ayasaki-chan memiliki kuasa atas dirinya sendiri!”


“Mengapa kau terus mencampuri urusan-Ku?! Mengapa kau terus berseteru dengan—”


“Jika Kau bisa memilih kakakku sebagai wanita yang kau cintai, mengapa Ayasaki tidak bisa—”


“Diamlah! Jika kau masih berani menentang-Ku, enyahlah kau dari hadapan-Ku! Akan Kulakukan semuanya, demi Kazedori Bakufu!”


Cih! Dasar bapak sinting!


“Menentang-Mu, Kau bilang? Baiklah. Kali ini aku benar-benar menentang-Mu!”


“Apa maksudmu—”


“Aku, Kazedori Kazue, akan menantang-Mu dalam Duel Maut!”


““!!!””


Nggak cuma bapaknya Ayasaki, bahkan orang-orang yang ada di sampingnya juga kaget!


“Baiklah! Aku, Kazedori Takeshi, menerima tantangan Duel Maut dari Kazedori Kazue!”


“…”


“*Chring, chring, chring…”


Katana mereka beradu.


{Kazedoryū: Haku}


{Kazedoryū: Hansha}


““*CHRINGGG!!!””


Mereka juga pake teknik khas Kitsune.


Walaupun ujung-ujungnya udah jelas…


“Pemenangnya adalah, Kazedori Takeshi!”


…kalo bapaknya Ayasaki yang menang.


“A-Asal kau tahu… Takeshi-san…! Kau telah merebut… kebebasan yang dimiliki—”


“Ya. Aku tahu.”


“*Shrak!”


“Tetapi Kulakukan ini semua untuk Kazedori Bakufu. Biarlah Ayasaki paham dengan situasi kita saat ini.”


“…”


Karena ini Duel Maut, makanya bibinya Ayasaki langsung dibunuh di tempat.


Sedangkan Ayasaki…


“Hiks! Hiks! Hiks!”


…pastinya sedih karena harus kehilangan figur ibunya.


“N-Nēsama…”


“…”


“Jika kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu.”


Untung bapaknya Tetsuo pengertian sama Ayasaki. Walaupun gue yakin kalo dia juga nggak akan bisa ngapa-ngapain.


“Andai saja… aku bisa—”


“Jangan berani-beraninya kamu lawan ayah kamu, Ayasaki-chan.”


“M-Miyako-nēsama…? Apa yang kau bicarakan—”


“Mending kamu hidup daripada mati sia-sia, kayak mama aku. Udah tau dia nggak akan bisa kalahin ayah kamu. Tapi karena tindakan impulsifnya, dia relain nyawanya—”


“*Phak!”


“Keterlaluan…! Ia adalah ibumu, Kazedori Miyako…! Tidak kusangka kau berbicara seperti itu kepada ibumu!”


G-Gue nggak sangka, kalo Miyako yang gue kenal beda banget sama Miyako yang dulu.


Wajar aja kalo Ayasaki tampar dia. Emangnya dia nggak sadar, kalo apa yang dilakuin ibunya itu untuk—


……………


“Jangan kau pikir kau bisa lari, Ayasaki-himesama!”


“Keuk…!”


Eh! Ini di mana?! Kok tiba-tiba bukan di dalam Tenshujū?!


“…”


Tambah lagi… Ayasaki lagi dikepung prajurit Bakufu?!


“Kami adalah anggota Kagebuntai terkuat! Kau tidak akan bisa melakukan apa-apa, Ayasaki-himesama!”


“Jika melawan, kami terpaksa membunuhmu! Kau hanya akan menambah beban bagi ayahmu, Ayasaki-himesama!”


“Janganlah melawan, selagi kami masih baik!”


Kagebuntai?


Oh! Ternyata mereka itu kayak Kitsune yang gue lawan bareng Myllo sama Dalbert!


“Persetan dengan semuanya! Aku tidak akan mau menikahi pria itu!”


“Ini semua demi Kazedori Bakufu! Jika kau melawan, kau berarti adalah musuh bagi Kazedori Bakufu!”


“Maka dari itu, kami harus membunuhmu—”


““*BRUK!!!””


““Uaaaargh!””


Eh…? Kok tiba-tiba tiga Kitsune itu ditabrak…?


“Aaaarrggh! Kurang ajar kau, Melchizedek! Mengapa kau melemparku seperti ini?!”


“Ahahahaha! Maafkan aku, Feyroq! Salahmu yang menguji kekuatanku! Tentu saja aku bisa menghempaskanmu!”


A-Aneh banget…


Kenapa nih orang tiba-tiba muncul…?


“M-Melchizedek… sepertinya orang-orang yang tertabrak oleh Feyroq itu… terlihat seperti sekumpulan prajurit…?”


“Oh ya! Kau benar, Syllia! Aaaaargh! Lagi-lagi kita membuat kekacauan!”


“S-Salah anda sendiri, Melchizedek!”


“Ah, benar juga! Hihihi!”


Mereka ada 5 orang.


Selain Melchizedek, Alfgorth, Syllia, sama orang yang namanya Feyroq itu, ada satu orang lagi yang pake topeng.


Ya! Gue inget dia! Dia selalu pake topeng!


“Kalian… siapa kalian…?”


“Kami adalah Perseus Party! Namaku Melchizedek!”


“S-Saya adalah Alfgorth Vamulran…”


““…””


“Hey! Perkenalkanlah diri kalian!”


Tau nih! Kok malah diem aja?!


“Tidak mau! Mengapa aku harus selalu memperkenalkan diriku?! Bertemu dengan kalian pun aku juga memperkenalkan diriku!”


“Ya! Lebih baik kau saja yang perkenalkan diri kami! Bukankah kau pemimpin kami?!”


“Benar, benar, benar! Aku setuju denganmu, Feyroq!”


Hah?! Masa kenalin diri aja harus Melchizedek?!


“…”


“Tolong bantu aku, Ofgurn—”


“HAAAACHIIIHIIIIHHH!!!”


““Pffttt!!! Ahahahaha!!!””


A-Aneh banget bersinnya…


T-Tapi kok gue juga mau ketawa ya denger dia bersin…?


Padahal kan bersin doang!


“T-Tunggu! Kalian… dipimpin oleh Manusia ini—”


“Jaga mulutmu, Kitsune! Apakah kau meremehkan Melchizedek?! Jika kau meremehkannya, lebih baik kau mati sa—”


“Cukup, cukup, cukup! Hentikan, Syllia!”


Gila juga nih cewek! Kenapa tiba-tiba disuruh mati?!


“Haaaaah…! Maafkan sahabat-sahabatku! Alangkah baiknya jika kukenalkan sekali la—”


“Melchizedek, Alfgorth, Syllia, Feyroq, serta Ofgurn. Benar itu nama kalian?”


“Ahahaha! Menarik sekali! Ternyata kau mendengar nama kami, kah?!”


““!!!””


Eh?! Kok semuanya pada kaget—


“M-Menarik sekali, katamu?!”


“M-Melchizedek…”


“Jangan, jangan, jangan!”


“Tunggu Melchizedek—”


“Ayo ikut berpetualang dengan kami, Kitsune! Sepertinya kau adalah wanita yang menarik! Hahahaha!”


““Haaaaaah…! Lagi-lagi ia asal merekrut saja…””


P-Pantesan pada kaget kayak gitu. Ternyata kalo dia ngomong menarik, artinya dia mau rekrut orang itu.


Persis banget kayak orang dongo yang gue kenal.


“Tidak bisa. Aku tidak bisa ikut denganmu.”


“Hm? Tidak bisa?”


“Ya. Aku sedang dikejar oleh ayahku, karena aku dipaksa menikah, tanpa adanya perhatian dariku. Oleh karena itu—”


“Tetapi bagaimana denganmu sendiri?”


“A-Apa maksud—”


“Apakah kau sebenarnya mau ikut dengan kami?”


“Mungkin aku tertarik hanya karena penasaran belaka. Tetapi—”


“Hihihi! Semua memang dimulai dengan rasa penasaran! Sama seperti mereka, yang ingin berpetualang bersamaku karena penasaran dengan rupa asli dunia ini!”


Bener banget!


Gue juga mau jadi Petualang karena didorong rasa penasaran!


“Baiklah! Kalau begitu, aku sudah tahu harus berbuat apa!”


“M-Melchizedek! Jangan bilang kau—”


“Siapa namamu, wahai Kitsune?!”


“Aku adalah Kazedori Ayasaki. Panggil nama belakangku, karena di tempat ini nama klanku ada di depan.”


“Baiklah, Ayasaki! Kalau begitu, aku akan mengalahkan ayahmu, agar kau bisa berpetualang bersamaku!”


Buset! Pede banget nih orang ngomongnya!


Tapi kok temennya nggak ada yang tahan di—


““Haaaaaahh… sudah kami duga…””


Hah?! Kami duga?!


Jadi gini cara Melchizedek ngerekrut Ayasaki?!