
Saat ini, Aquilla kembali berkumpul di Shelldrop milik Dreschya.
Setibanya mereka di sana, Garry memperhatikan Wakil Kapten-nya, Djinn, yang masih begitu waspada akan sekelilingnya.
“Djinn, kenapa sia teh masih waspada kitu? Emangnya teh masih ada yang ngikutin kita?”
“…”
Djinn terdiam ketika ditanya oleh Garry.
Ketika ia hendak menjawab, ia dikejutkan dengan keadaan di dalam kediaman milik Dreschya.
“Boooossss! Minta birnya lagi… hicc!”
Myllo yang tersadar dalam keadaan mabuk tiba-tiba berteriak dan mengejutkan rekan-rekannya.
Karena melihat tingkah laku Kapten-nya itu…
“*Tung!”
…Djinn kembali memukul kepalanya.
“Hah?! Siapa yang nyerang kita, Djinn?!”
Teriak Myllo yang benar-benar tersadar, walaupun salah mengira keadaan di sekitarnya.
““…””
Mereka bertiga hanya terdiam saja melihat aksi Myllo.
“Nggak ada yang nyerang! Mending sekarang lo duduk dulu!”
“Oh gitu? Hehe! Gue kira kita tiba-tiba diserang!”
““Haaaahhh…””
Balas Djinn dan Garry yang menghela nafas bersama setelah melihat kekonyolan Kapten-nya itu.
Setelah Myllo kembali tersadar, Djinn melanjutkan apa yang Dreschya bahas sebelum kembali ke kediamannya.
“Jadi, apa yang lo maksud Ocean Witch tadi? Apa bener kalo orang yang lo sebut tadi orang yang sama kayak yang
nyerang lo?”
“Kemungkinan sih iya.”
“Emangnya siapa dia?”
“…”
Dreschya pun menjawab pertanyaan Djinn dengan suatu cerita kuno yang masih dipercaya warga Clamista.
……………
Legenda Ocean Witch dan Hueyacoatl.
Ribuan tahun yang lalu, samudera begitu damai dan tentram.
Di dalamnya, terdapat Mahluk Abadi yang bernama Siren, yang hidup berdampingan dengan Merfolk, serta mahluk laut lainnya.
Kehidupan mereka begitu sejahtera.
Canda tawa dan cinta kasih yang berpadu dengan keindahan samudera.
Kedamaian yang begitu hangat.
Serta romansa yang menyejukkan hati.
Bahkan mahluk lain pun ingin hidup seperti mereka.
Namun, di mana ada cinta, pastinya ada kebencian, ketakutan, serta kedengkian.
Siren adalah Mahluk Abadi. Maka mereka bisa kapan saja memiliki keturunan. Abad maupun milenia tidak ada artinya bagi mereka.
Akan tetapi, sebagai Mahluk Fana, Merfolk terus memiliki keturunan. Jumlahnya menjadi sangat banyak, bahkan jumlah Siren seakan seperti seekor paus ditengah-tengah jutaan ikan kecil.
Dari sanalah, Siren menunjukkan supremasinya.
Pembantaian Siren atas Merfolk pun tidak terelakan.
Dengan Sea Serpent yang mereka jadikan tunggangan, mereka membantai sangat banyak Merfolk, sampai jumlah mereka akan habis.
Akan tetapi, secercah harapan datang bagi Merfolk.
Seorang penyihir yang sangat kuat datang untuk membalas kejahatan Siren.
Penyihir itu disebut Ocean Witch.
Dengan tombaknya, ia memerintahkan samudera untuk memusnahkan seluruh Siren jantan, hingga tidak tersisa.
Sedangkan sahabatnya, Hueyacoatl, yang merupakan seekor Spirit Beast, memusnahkan Sea Serpent.
Takut akan Ocean Witch dan Hueyacoatl, Para Siren betina pun bersembunyi, hingga tidak terlihat lagi sampai saat ini.
Bahkan kaum mereka pun hanya menjadi suatu legenda bagi penduduk Geoterra.
Para Merfolk bersorak atas kedatangannya.
Laut pun kembali damai.
Namun, kejahatan yang dibalas dengan kejahatan tetaplah kejahatan.
Karena kekuatannya yang sangat besar, Sang Dewa menghukum Ocean Witch dengan ajal.
Merasa ditinggalkan, Hueyacoatl pun terus menunggu akan sahabatnya, baik puluhan, ratusan, ribuan, bahkan untuk selama-lamanya, sampai tiba kembali kedatangan sahabatnya.
……………
“Haaaah… Jadi gitu cerita yang ada di desa ini!”
Kata Dreschya, sambil menghela nafas setelah bercerita dengan panjang lebar.
Akan tetapi…
“Zzzzz……”
…Myllo tertidur ketika mendengar cerita Dreschya.
Sedangkan Garry yang sedang berbaring di pangkuannya…
“Oh gitu ya, Teh Dreschya?! Pastinya mah ada lanjutan ceritanya atuh, ya?!”
…mengharapkan cerita yang lebih panjang, agar ia bisa berbaring lebih lama di paha Dreschya.
“*Krrrttt…”
“Atatatata!”
“Bangun dari pahanya!”
“Si-Sianying!”
Seru Garry dengan kesal karena Djinn berusaha menariknya.
“Oh iya, aing teh mau tanya atuh, Teh Dreschya.”
“Hmm?”
“Kalo yang teteh ceritakeun teh cuma sekedar legenda, kenapa teteh bisa sebut ada Ocean Witch yang serang teteh sama akang-nya teteh?”
Tanya Garry kepada Dreschya.
“Kalo itu sih, lagi ada laporan aneh yang beredar di desa ini.”
“Rumor?”
“Ya. Sebenernya sih laporan ini dateng dari Petualang.”
“Petualang?!”
“Ya. Ada laporan kalo beberapa Petualang yang selesai jalanin Quest untuk berburu Sea Serpent, tiba-tiba mereka pingsan atau mati. Waktu mereka bangun, hasil buruan mereka selalu hilang.”
Jelas Dreschya kepada Garry.
“Makanya itu, untuk pertama kalinya, gue ngerasain… aura yang gede banget, yang bahkan langsung bikin gue pingsan!”
“!!!”
Karena penjelasan dari Dreschya, ia tiba-tiba memegang erat kedua sikutnya dengan gemetar, seakan terlihat seperti ketakutan.
Itu semua karena satu hal.
Ia tidak bisa melupakan tekanan aura yang begitu besar, yang ia rasakan ketika menghadapi Narciel.
“Oh iya, aing teh mau tanya-tanya lagi atuh, Teh Dreschya.”
“Ya. Tanya aja, Garry.”
Garry pun terus bertanya-tanya kepada Dreschya tentang Ocean Witch dan monster yang bernama Hueyacoatl, yang menyerang Aquilla.
Namun, semakin lama mereka bertanya jawab, mereka menyadari ada yang aneh.
“Et, anying!”
“…”
“Djinn!”
“Hah?! Apaan?!”
“Sia teh kenapa diem wae daritadi?!”
“Oh, gue lagi mikirin sesuatu.”
“Mikirin sesuatu?”
Tanya Dreschya yang mendengar respon dari Djinn.
Djinn pun kembali terdiam dan berpikir.
“Mahluk Abadi, bersembunyi. Artinya Mahluk Abadi yang namanya Siren itu lagi sembunyi, bahkan dari ribuan *t*ahun yang lalu nggak pernah keliatan? Artinya…”
Setelah berpikir seperti itu…
“*Tung!”
…lagi-lagi ia mengetuk kepala Myllo.
“Aduh! Ada apa—”
“Mil! Ada petunjuk baru!”
““Petunjuk?””
Tanya Myllo, Garry, dan Dreschya secara bersamaan.
“Ya! Ada petunjuk tentang Hidden Dungeon yang baru!”
““!!!””
Mereka begitu terkejut dengan pernyataan Djinn.
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa tiba-tiba jadi Hidden Dungeon?! Kan gue ceritain legenda tadi cuma untuk bahas tentang orang yang ngikutin kita!”
“I-Iya, sih. Sorry kalo gue terlalu semangat.”
Balas Djinn, yang merasa sedikit bersalah.
“Tunggu, ada yang bikin gue heran.”
“Mm?”
“Lo bilang ada Witch di sini? Bukannya mereka udah punah?”
“???”
Dreschya menjadi penasaran dengan pertanyaan Myllo.
“Kalo ngomong soal Witch, yang gue tau sih mereka itu perempuan yang Jiwa-nya terkutuk. Ujung-ujungnya, mereka harus hancurin Jiwa mereka kalo mau terbebas dari kutukan itu.”
“Ah iya! Aing teh juga pernah denger tentang Witch! Kang Wilfred teh pernah cerita, karena Jiwa mereka terkutuk, ujung-ujungnya mah mereka harus pakai Curse Magic yang biasa dipakai Iblis! Rumornya tehmereka Jiwa mereka terkutuk karena ibu mereka diserang Iblis!”
Jelas Myllo dan Garry secara bergantian.
Mendengar mereka, Djinn pun menjadi penasaran.
“Mereka ada kaitannya sama Iblis, ya? Artinya, Witch yang lo sampein tadi ada kaitannya sama Children of—”
“Nggak. Mereka nggak ada niatan untuk dominasi dunia atau bawa masuk Iblis, kayak sekte sesat itu.”
Potong Myllo ketika Djinn hendak bertanya.
“Ada satu golongan Witch yang namanya Raven Sisters, yang mau buat “rumah” untuk semua Witch yang ada di dunia.”
“Maksudnya mereka mau bikin tempat tinggal khusus Witch?”
“Ya. Mereka jajah suatu kota. Banyak Witch yang pergi ke kota itu. Tapi ujung-ujungnya kota itu jadi maju. Ada perkembangan teknologi di sana. Bahkan rakyat yang bukan Witch pun sejahtera. Tapi…”
““…””
Semua terdiam ketika mendengar penjelasan Myllo yang terhenti.
Sebelum melanjutkan penjelasannya…
“Haaa… fuuuuhhh…”
…Myllo menghela nafas.
“Sekitar 9 tahun yang lalu, Centra Geoterra merasa kalo mereka itu bahaya untuk dunia. Makanya itu, pembantaian mereka pun dibuat dalam bentuk Quest Merah untuk Pahlawan.”
“!!!”
Djinn begitu terkejut dengan penjelasan Myllo.
“Mil, artinya…”
“Ya. Aquilla yang dipimpin Kak Sylv berhasil bantai mereka semua.”
““!!!””
Semua begitu terkejut dengan penjelasan Myllo terkait sejarah Witch dan Aquilla yang Sylvia pimpin.
Melihat reaksi mereka, Myllo pun berpikir…
“Makanya itu, gue nggak akan pernah mau jadi Pahlawan. Tapi gue harus jadi Petualang Nomor Satu di Dunia, supaya gue bisa buktiin, kalo jadi Petualang Nomor Satu itu masih punya hak untuk memilih.”
Setelah itu, keadaan pun menjadi hening.
Beberapa dari mereka masih berusaha untuk mengelola informasi yang mereka dapat.
Namun, Djinn bersikeras untuk tetap objektif.
“Dari cerita kalian berdua, gue bisa simpulin kalo Witch yang kalian berdua maksud tuh beda.”
“Beda…?”
“Ya. Mungkin Witch yang kalian maksud itu cinta damai, tapi Witch “versi Dreschya” itu bener-bener bantai Siren, sampe mereka kabur. Sedangkan Witch “versi Myllo” tuh nggak ada pembantaian dari mereka, bahkan penduduk pun seneng tinggal bareng mereka.”
“Artinya?”
“Gue nggak tau seberapa lama rata-rata umur dari Witch, tapi ada kemungkinan besar kalo Witch yang ngikutin kita itu Witch versi Dreschya.”
Jelas Djinn setelah menganalisa baik-baik cerita dari mereka berdua, sebelum melanjutkannya lebih jauh.
“Karena cerita dari Dreschya juga ada bahasan tentang Sea Serpent, makanya itu gue yakin Witch itu ada kaitannya sama Uler Raksasa itu.”
“Tapi teh apa hubungannya atuh, Djinn?”
Tanya Garry yang heran dengan penjelasannya.
“Untuk itu, kita masih nggak tau. Yang pasti, kita harus hati-hati aja.”
“Hehe! Kalo emang dia ada kaitannya sama Witch yang dilawan Kak Sylv, semoga aja gue bisa berteman baik sama dia! Karena emang itu yang diharapin Kak Sylv!”
“Sia teh bener, Djinn. Tapi kalo emang geulis mah… Ehehehe…”
“Hahahaha! Gue tau kalian kuat, Aquilla! Makanya itu, gue nggak perlu khawatir! Apalagi liat respon kalian yang kayak gini!”
Myllo, Garry, dan Dreschya terlihat begitu positif ketika mendengar peringatan Djinn.
Namun yang ada dipikirkan Djinn hanya satu.
“Kalo sampe Witch yang ngikutin kita tadi tuh ada kaitannya sama Narciel, bisa-bisa temen-temen gue kena masalah lagi karena gue!”