
Lemah.
Itu satu kata yang nggak akan pernah lepas dari aku.
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
“Gia! Kamu nggak apa-apa, nak?!”
“K-Kakek… kepala aku pu—”
“Yaudah! Kamu istirahat aja ya, nak!”
“T-Tapi kakek—”
“Nggak apa-apa! Biar kakek aja yang urus semuanya! Kamu tenang aja! Yang penting kamu sembuh!”
“Kakek…”
Semenjak hidup tanpa orang tua dari kecil, aku cuma selalu jadi beban kakek aja.
“Eh! Gia?! Kamu nggak apa-apa?!”
“L-Lorvah… a-aku udah nggak kuat untuk berdiri lagi…”
“Yaudah! Kita istirahat aja ya!”
Lorvah, yang rela untuk ajarin aku tentang ilmu pedang, juga kerepotan karena aku yang lemah. Kalo aku pikir-pikir juga, ilmu pedang aku dapetin dari dia tuh dikit banget. Karena dikit-dikit aku minta istirahat.
“HUUAAAAAHA!!! LORVAAAAHHH!!! AKU MAU MINUMAN DARI KAMUUUUU!!! AKU MENDING MINUM ITU DARIPADA KEHILANGAN KAMU, LORVAH!!! JANGAN TINGGALIN AKUUUU!!! HUAAAAAAAAA!!! LORVAAAAAH!!!”
Andai aku lebih kuat, mungkin Lorvah nggak harus terima nasib yang harus dia terima demi aku.
“Gia, Gia, Gia!”
“I-Iya? Ada apa, Myllo?”
“Ayo jadi Petualang! Ikut Party gue!”
Bahkan saking lemahnya, aku nggak punya nyali untuk tolak permintaan Myllo yang rekrut aku.
Bukan karena aku benci atau nggak suka Myllo.
Tapi aku…
Takut jadi beban karena lemah.
Andai aku seenggaknya kuat untuk tolak permintaan Myllo…
“Laporan untuk semua ketua grup! Kita diserang Dragonewt!”
“…”
…mungkin aku nggak perlu liat Shawn[1] yang mati karena aku sebagai Frontliner gagal selamatin nyawa dia dari Erkstern.
Sampai akhirnya, yang aku takutin bener-bener kejadian.
“Gi-Gimana cara kita bisa selamat dari—”
“Tenang…! Aku yang jagain kalian…!”
“Gia, jangan! Kamu masih belum—”
“…”
“Gia!”
Waktu ambil Private Quest dari Baron Bronski[2], Aku berlagak kuat. Padahal aku tau kalo aku udah nggak kuat. Sampai ujung-ujungnya, aku cuma ngerepotin Myllo, yang waktu itu kondisinya belum sembuh total[3].
Nggak cuma itu aja.
“*DHUMMM……”
“…”
Aku harus biarin Myllo sama Djinn bertarung lawan Malaikat yang namanya Narciel itu, cuma karena takut sama aura besarnya aja.
“*BWUUUUSSSSHHH!!!”
“…”
Aku harus “tinggalin” rekan-rekan aku, karena aku terlalu lemah untuk tahan serangan dari Jörnarr, sebelum kita
semua terdampar di Clamista.
“Myllo… M-Maafin aku…”
“Myllo! Sia teh nggak—”
“Hormatin pilihan Kapten kalian, Aquilla!”
“Djinn, tapi—”
“Percaya sama dia! Karena apapun yang dia pilih, gue yakin dia nggak akan mati sebelum jadi Petualang Nomor Satu di Dunia! Makanya itu sebagai anggotanya, kita harus pikirin cara bantu dia keluar dari anjing itu! ”
Aku terlalu lemah untuk terima kenyataan, kalo Myllo harus rela tinggalin kita demi Machinno. Andai aku lebih kuat, mungkin mereka berdua bisa selamat tanpa ada kejadian kayak gitu.
“*ZHUMMM……”
““!!!””
Aku terlalu lemah karena lebih takut untuk terima kenyataan, kalo Djinn punya Iblis yang bahaya di dalam Tubuh-nya, dibanding bantu dia untuk kontrol dirinya sendiri.
“Hiks! Hiks! Maafin gue, Gia…”
“…”
Kata-kata Djinn bikin aku sadar, kalo aku bakalan mati di kemudian hari. Makanya itu, aku takut untuk terima kenyataan itu.
Ya aku lebih takut.
Andai aja aku lebih kuat.
““LEPHTAAAA!!!””
“…”
Andai aku lebih kuat, mungkin aku bisa jaga Lephta, yang udah baik untuk a—
……………
“Gia! Sadar, Gia!”
“…”
Ah…
A-Aku—
“Ini waktunya kita untuk lawan Cthorach, Gi—”
“Aku… takut…! Hiks!”
““…””
Aku bahkan nggak bisa tahan tangisan aku karena sadar kalo aku ini nggak lebih dari orang yang lemah.
“Bahkan setelah keluar dari Postriard Island… aku nggak bisa bantu kamu yang diancam Centra Geoterra…! Aku juga pingsan keracunan di pulau ini dan harus bebanin Djinn! Tambah lagi… sekarang aku harus biarin Ivis mati!”
““…””
“AKU INI… LEMAH, MYLLO!!!”
Ternyata… untuk jadi Frontliner hebat kayak Lorvah… cuma angan-angan aja buat aku…! Andai aku—
“Hehe! Lo kira gue nggak tau?!”
Hah…?
B-Bahkan Djinn…?
“Maksud kamu apa, Myllo…?”
“Nggak ada kan bayi yang langsung bisa jalan dari lahir?! Bahkan Naga pun juga nggak bisa langsung terbang dari lahir! Semuanya pasti dimulai dari nol, loh! Tapi, bukan berarti kita nggak punya potensi untuk jadi kuat, bukan?! Lagian, kuat atau lemah, kita semua punya tekad sama bakat untuk jadi lebih dari yang lain, kan?!”
Tekad…?!
Bakat…?!
Kenapa… aku jadi inget sesuatu… waktu aku pertama kali latihan sama Lorvah…?
“Wuaaaah! Bagus, Gia! Kamu punya bakat untuk jadi Swordswoman, ya!”
Ya. Lorvah pernah bilang gitu ke a—
“Tapi satu hal yang harus lo inget, Gia!”
“*Tap…”
“Sebanyak-banyaknya kegagalan yang pernah lo alamin, jangan pernah lupain semua pencapaian yang pernah lo dapet!”
Pencapaian…?
“Maksud kamu… pencapaian kita di Erviga karena berhasil kalahin Narciel? Kalo itu kan… sebagian besar didapetin kamu atau Djinn—”
“Hehe! Kenapa juga harus pencapaian yang besar?! Inget aja dulu dari yang kecil!”
“E-Emangnya… apa…?”
“Masa lo lupa sih?! Kan dari semua orang, lo itu cewek satu-satunya yang berani ikut gue sama Djinn lawan Tarzyn di Hidden Dungeon[4]?! Tambah lagi, lo berhasil jaga warga Gazomatron dari Gazobot, kan?!”
“!!!”
Bener, ya.
Kenapa aku berani untuk ikut Myllo sama Djinn lawan Tarzyn…?
Terus, kenapa aku punya dorongan untuk lindungin warga negara Gazomatron dari perang di negara itu…?
“Hihihi!”
“…”
Ya.
Karena aku dipimpin Myllo.
Karena Myllo yang berani lawan Tarzyn, makanya aku berani untuk lawan dia.
Karena aku tau Myllo pasti prioritasin keselamatan warga Gazomatron, kalo dia ada di tengah-tengah peperangan di negara itu.
“Gia!”
“…”
“Intinya, lo itu perempuan yang kuat! Jujur aja, gue bersyukur banget punya Frontliner kayak lo!”
“…”
“Makanya itu, jangan takut! Gue ada di sini untuk pimpin lo! Pegang erat pedang besar lo itu dan pakai kekuatan lo untuk lawan monster itu bareng gue sama Dalbert! OK?!”
“OK, Myllo!”
Ya!
Aku ini perempuan berbakat!
Aku nggak boleh liat kegagalan aku terus! Karena itu semua cuma jadi penghambat untuk aku!
“RRRRRRR……”
“Maaf kalo gue ganggu kalian! Tapi keliatannya monster itu—”
“RRRRAAAAAAAAAUGH!!!”
“…”
Jangan takut, Gia!
Kamu pasti bisa lawan monster itu!
Karena kamu…
Punya bakat!
“Ya. Kau adalah wanita kuat.”
Eh…?
Siapa itu yang ngomong…?
“Ada apa, Gia?!”
“Nggak tau. Kesannya kayak ada yang ngomong di kepala a—”
“Pakailah aku, yang akan merupakan kekuatan alam milikmu. Karena engkau adalah wanita yang kuat.”
“!!!”
K-Kekuatan alam aku?!
M-Maksudnya… apa—
“………”
Ke-Kenapa… aku tiba-tiba denger… bisikan aneh di—
“*RRRRAAAUGH!”
“*SRUSHHH!!!”
“Sialan! Dia udah mulai nyerang kita—”
“Semuanya! Ke belakang aku! Biar aku lindungin kalian!”
Jangan kebanyakan mikir, Gia! Kamu harus lindungin temen-temen kamu…
“*Brrrrr…”
…SEKARANG JUGA!!!
“*Brrk…”
““!!!””
I-Ini tuh…
“HAAAAH?!?! K-Kenapa tiba-tiba ada berlian raksasa yang muncul dari bawah tanah?! Kalo nggak ada berlian itu, mungkin kita bertiga udah diserang sama monster itu!”
“Tunggu, Myllo! Jangan-jangan ini tuh kekuatannya…”
“((Diamond Magic)). Itu kekuatan alam aku!”
““!!!””
Karena aku udah punya kekuatan ini, aku jadi lebih percaya diri untuk lawan Cthorach!
____________
[1]Shawn Terrrox, Striker Kasta Biru, yang ikut dalam Joint Party bersama Djinn, Myllo, dan Gia (Chapter 65). Ia mati terbunuh di hadapan Gia (Chapter 71).
[2]Bangsawan dari Erviga Kingdom (Chapter 96), yang melakukan ekspedisi bersama para Petualang, karena dipaksa untuk membuka portal bagi House of Siegfried yang hendak menyerang rumah Garry (Chapter 114).[3]Myllo masih belum pulih sepenuhnya (Chapter 94), setelah menghadapi Tarzyn bersama Djinn, Göhran, dan Rakhzar (Chapter 83).
[4]Dari antara seluruh anggota Joint Party dan para Naga di Hidden Dungeon of Vision, hanya Gia saja yang berani membantu Myllo, seorang Saint, dan Djinn, seorang Pria Terjanji, untuk bertarung melawan Tarzyn (Chapter 82).