Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 5. Another Fall



“*BHUK, BHUK, DHUK! (suara pukulan dan tendangan keras)”


“Argh!”


“Brengsek! Dia kuat banget!”


“Ki…Kita masih ada banyak! Ayo kita hajar dia!”


Cih! Masih banyak banget pasukannya!


Gue masih harus hajar pasukan-pasukan ini!


Masalahnya…


““…””


…nih 3 mahluk kenapa nontonin doang?!


“Woy! Lo kalo mau nonton doang, mending lari dari sini!”


“Ah… m-maaf, maaf. Ki-Kita bertiga cuma… kaget aja kalo lo sekuat ini—”


“Daripada nonton, mending lo bantuin gue, brengsek!”


““Y-Ya…””


*****! Harus diteriakin dulu baru—


“*Syut! (suara tembakan panah)”


“Sial! Dia masih bisa hindarin panah kita!”


Duh! Nyusahin banget sih yang pake panah!


Walaupun nyusahin, tapi…


“…”


…kok panahnya lambat banget, ya? Jadi gampang banget gue ngehindarinnya.


“Hajar dia!”


““Raaaaggghhh!””


Sekarang di depan gue muncul rombongan dateng bawa sambil macem-macem senjata tajem. Mulai dari pedang, pisau, tombak, sampe kapak.


Sama kayak sebelum-sebelumnya, gerakan mereka kerasa lambat banget. Makanya gue gampang ngehindarinnya, abis itu gue bisa serang balik mereka.


“Hrraaaaggh!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


““Uaarrgghhh!””


Buset! Gara-gara Si Monster ini tangannya gede banget, dia jadi bisa pukul 3 orang sekaligus!


“Wataw! Wataw, Wataw!”


““Arrrrggghh…””


Kalo Si Manusia Monyet itu terlalu lincah. Tambah lagi, kenapa dia kayak karate gitu ya suaranya?


((Earth Magic: Rock Spear))


““*Shrak! (suara tertancap batu tajam!)””


“Hah?!”


“Hm? Ada apa? Anda seperti baru pertama kali melihat ilmu sihir…”


Hah?! Sihir?! Emangnya ada kayak gituan jaman sekarang?!


Atau mungkin… yang kayak gituan tuh hal yang normal di dunia ini?!


“*Boom! (suara ledakan)”


Hah?! Apaan tuh?!


Kok tiba-tiba ada suara ledakan dari belakang?!


“Sepertinya ada bahaya di sana! Biar saya cari tahu terlebih dahulu!”


“Gue ikut!”


“Kalo gitu kita sama-sama ke sana saja!”


““…””


Hah?! Kenapa mereka liatin gue?!


Di kira gue mau ikut kali, ya?!


“Kalian berpikiran yang sama, kan?”


“Kayaknya iya!”


“Hmm! Hmm!”


Mereka ngomongin apaan sih?!


“Woy, Manusia Elf, mending lo cek yang ada di belakang sana! Biar kita yang jagain tahanan yang keluar!”


Hah?! Kenapa jadi gu—


“Ayo kita bergerak sekarang!”


““Ya!””


Dih! Brengsek! Kenapa gue malah disuruh-suruh kayak gini?!


“…”


Mereka udah lari aja ke arah luar.


“Haaaah… Dasar brengsek!”


Yaudah lah, mending gue balik lagi!


……………


Waktu gue balik, tiba-tiba gue liat ada yang berantem.


“Huff… huff… huff…”


Ternyata yang berantem sama-sama perempuan?!


Yang berantem itu ada Si Cewek Bertudung, yang satu lagi ada cewek yang rambutnya warna ungu.


Tapi di belakang perempuan itu ada…


“Meldek?!”


“…”


Tapi kayaknya dia pingsan. Dia udah berdarah-darah.


“Woy… huff… Lo orang… yang Meldek sebut Tuan Muda, kan?”


“I-Iya—”


“Bawa lari dia… dari sini!”


Bawa lari? Emangnya kenapa gue harus bawa di—


“*Swush! (suara ayunan pedang)”


Brengsek! Cepet banget serangannya!


Untung gue reflek hindarin ayunan pedang dari Cewek Bertudung ini!


“*Chring! (suara senjata tajam beradu)”


“Cepet bawa dia dari si—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh! Andai kondisi gue masih fit!”


Cewek itu langsung ditendang Si Cewek Bertudung—


((Ice Slash))


“*Shrak! (suara wajah tergores)”


Brengsek! Tadi tuh apaan! Kok dari pedangnya keluar es gitu?!


“…"


Urgh, dingin banget! Jangan-jangan cewek ini pake sihir juga?!


“…”


Tunggu…


Kenapa gue hampir nggak ngerasain sakit sama sekali?!


Tambah lagi, pipi gue yang kegores es tadi, tiba-tiba sembuh?!


Udah, nggak usah banyak mikir lagi!


Kalo gitu…


“Woy, anjing!”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Apa-apaan maksud lo tadi?!”


“…”


Hm?


Kenapa badannya kejang-kejang?


“Wo-Woy! Di-Dia keliatannya udah nggak bisa bergerak karena takut…! M-Mending kita pergi aja secepetnya dari sini…!”


“…”


“Cepetan!”


“Cih! Yaudah!”


Sial, gue masih belom sempet bales dia!


……………


Akhirnya gue gendong Meldek untuk keluar bareng cewek ini.


Selama kita lari, gue bisa ngeliat pasukan-pasukan yang udah tumbang. Pasti karena 3 mahluk aneh tadi.


“Ngomong-ngomong nama gue Styx. Karena Meldek, gue bisa selamat dari sini.”


Oh, Meldek ternyata bebasin dia?


Kok dia tau ada cewek ini di sana?


Haaaah… nggak perlu dipikirin deh. Mending balik aja dulu.


“Panggil aja gue Djinn.”


““…””


Kita lari terus sampe keluar tempat ini.


“…”


Tuh, kan?! Ternyata gue di dalem goa!


“Huff… huff…”


“…”


Ternyata masih banyak penjaga yang ada di luar!


“Tenang, biar gue aja!”


Hm? Cewek yang namanya Styx ini mau ngapain?


((Dark Flame: Extermicia))


““*Jlub! (suara banyak tusukan)””


“*Vwumm! (suara bakaran api)”


“Aaaarrghhh!”


“Hiikh! Hiikh! Panas!”


“Haakkh!”


Hah?! Kok tiba-tiba banyak pasukan yang ketusuk sama api gitu?!


Tambah lagi, itu api apaan?! Kenapa warnanya hitem?!


Jangan bilang itu sihir juga?!


“I…Itu…”


“Ya. Itu Klan Mistyx!”


“Pantes aja dia bisa gitu, pasti karena Iblis dalam badannya…”


“Kasian banget kita, ditolong Iblis…”


“Kalo gitu mending mati aja deh daripada utang nyawa sama Iblis!”


Serius mereka bilang gitu?! Dia selamatin nyawa mereka, loh!


Bukannya bilang makasih, mereka malah ngomongin dia?!


Kasian banget nih cewek!


Gue mau bodo amat, tapi gue udah nggak bisa nahan-nahan lagi!


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“PANTES LO SEMUA MAU DIJADIIN BUDAK!!!”


““!!!””


“DASAR NGGAK TAU DIRI!!!”


““…””


“BUKANNYA BILANG MAKASIH, MALAH NGOMONGIN ORANG YANG NYELAMATIN KALIAN!!!”


““…””


“DASAR SAMPAH!!! SADAR DIRI NGGAK KA—”


“*Tap…”


“Dj…Djinn…”


Lah, kok Styx tangannya gemeteran?


Berasa banget waktu diatepok pundak gue…


“I-Itu gak penting…! Ki-Kita masih harus lari dari sini…!”


“Ya, lo bener juga.”


Gue nggak tau kenapa, tapi keliatannya sih dia terima apa adanya aja dibilang gitu sama yang dia tolong.


Kasian gue sama dia…


Tapi kok waktu gue perhatiin, semua pada gemeteran ya?


“Semua masih bisa gerak, kan?”


“Ya.”


“Masih.”


“Bisa kok, bisa.”


Eh iya, kalo mau lari, kita lari kemana, ya?


“Pe-Permisi…”


“Hm?”


“Sepertinya kita berada di Mount Hocks. Jika kita berlari ke arah sana, seharusnya kita menemui Calmisiu Village. Saya anak dari Kepala Desa. Makanya saya tahu daerah ini.”


“Ok. Kita pergi kesana!”


“Horee!”


“Kita berhasil lari!”


Semuanya pada seneng karena tau bisa bebas dari tempat ini.


Akhirnya gue bareng Styx ini mimpin orang-orang ini lari dari sini.


……………


Kurang lebih kita jalan hampir setengah hari. Untungnya udah nggak ada lagi yang ngejar kita sampe di desa ini.


“Ayah! Ibu!”


“Cherry! Untung lah kamu selamat, nak!”


Semuanya pada seneng bisa masuk desa ini.


Dari total 29 orang yang ditahan, semuanya berhasil selamat.


Sebagian besar dari orang-orang yang diculik itu tinggal di desa ini.


Sementara untuk Meldek, dia harus dirawat.


Waktu gue mau jenguk, tiga mahluk yang mimpin tahanan yang keluar tadi pamit sama gue.


Ada yang mau balik ke kampungnya, ada yang mau pergi ke temen-temennya, ada juga yang mau nyari adeknya yang ilang.


“*Krieeek… (suara pintu terbuka)”


Gue masuk ke salah satu rumah di mana Meldek dirawat.


Waktu gue masuk, Styx masih ada disamping dia. Keliatannya dia berutang nyawa sama Meldek karena bisa bebasin dia.


“Tu-Tuan Muda, ma-maafkan saya atas tindakan saya! Saya siap menerima hukuman!”


Hah?! Nih orang seneng dihukum apa gimana, sih?!


“Itu nggak penting. Yang penting, lo gimana? Udah enakan?”


“Ya, Tuan Muda. Setidaknya kondisi saya sedikit membaik.”


Mungkin sekarang waktunya nanya tentang Djinnardio kali, ya?


“Mel, masih ada yang gu—”


“Kok lo bisa sih ngeluarin aura yang kuat banget kayak tadi?”


Hah? Aura?


“Maksudnya apa? Gue gak ngerti maksud lo.”


“Hah? Masa lo nggak tau aura—”


“Jika anda tidak tahu tentang aura, apakah itu berhubungan dengan hilangnya ingatan anda, Tuan Muda?”


“Hah?! Dia lupa ingetan?!”


Aduh, jangan bahas-bahas itu, dong!


Sebenernya itu bohong! Aslinya gue tiba-tiba masuk ke dunia ini!


“Ya ampun! Udah sial terus hidupnya, diculik, tambah lagi lupa ingetan! Kasian banget sih lo!”


“Hah? Kok lo—”


“Maafkan saya Tuan Muda, saya telah menceritakan masa lalu anda kepada Nyonya Styx, ketika kami hendak menyusul anda keluar dari tempat itu.”


Oh… pantesan dia tau.


Tapi, tadi Styx sebenernya kasian atau ngeledek?!


“Maafkan saya Tuan jika saya bertanya seperti ini. Apakah Tuan Muda tahu mengapa anda menjadi sangat kuat?”


“Nggak.”


“Apakah anda menggunakan Mana?”


“Nggak…”


“Apakah anda ingat bahwa anda tidak bisa menggunakan Ma—”


“Daritadi ada Mana ini, Mana itu. Sebenernya Mana itu apaan, sih?”


“…”


“…”


Kok mereka pada diem?


“Wah, ini bener-bener parah lupa ingetannya!.”


“Y-Ya, saya juga merasa seperti itu…”


Woi jawab woi! Apaan yang lo maksud Mana-Mana itu?!


“Artinya daritadi lo bisa serang sana-sini, tapi lo gak sadar kekuatannya dari mana?”


“Nggak!”


Aduh, kelewatan emosi gue gara-gara dibuat bingung—


“…”


Loh… kok gue tiba-tiba ngantuk, ya?


“Sebentar, maaf kalo gue pake ini, ya.”


“Hah? Pake ap—”


“…”


Eh?! Kok matanya berubah?!


“Ini gue pake sihir, namanya ((Devil’s Peek)).”


“Hah, emangnya ada—”


“Eh! Ngelangkah sedikit, lo bakal pingsan!”


“Hah?! Maksu… uud… lo…”


“*Bruk…(suara terjatuh)”


“Tu…Tuan Muda?”


“Haahhh…jangankan ngelangkah, ngomong aja udah pingsan…”